NovelToon NovelToon
RATU X PEMUDA MISKIN JADI KAYA

RATU X PEMUDA MISKIN JADI KAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / CEO / Anak Genius
Popularitas:294
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

lanjutkan Jek adalah seorang yang terlahir di keluarga
kurang mampu namun ia memiliki kecerdasan dan kejeniusan tentang dunia apa saja karena ia memiliki
sistem yang dapat membuat ia kaya mendadak dalam percintaan ia menemukan ratu yang mencintainya dengan tidak kenal kondisi suka maupun duka bagaimana kelanjutan langsung ajaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 8

 pinggiran kota Jakarta tidak lagi bising oleh polusi suara mesin tua, melainkan oleh dengungan halus transportasi berbasis magnetik yang melayang rendah. Langitnya biru bersih, tanpa lapisan jerebu yang dulu menghalangi pandangan ke arah Gunung Salak di kejauhan.

Di sebuah sudut jalan yang kini asri dengan pepohonan rindang, berdiri sebuah bangunan sederhana yang tetap mempertahankan bentuk aslinya: sebuah warung kopi kayu. Di depannya, sebuah papan kecil bertuliskan "Warung Kopi Nurani".

Jek duduk di kursi kayu yang sama, tempat ia dulu sering berhutang. Ia mengenakan kemeja flanel sederhana, tanpa jam tangan mewah atau perangkat hologram yang terlihat. Di depannya, Rara sedang menuangkan teh hangat ke dalam dua cangkir tanah liat.

"Sistem melaporkan bahwa reboisasi di Kalimantan sudah mencapai 90% keberhasilan, Jek," ucap Rara sambil tersenyum, melirik ke arah cincin perak di jari manisnya—bukan berlian, tapi logam purba yang ditempa kembali.

Jek menyesap tehnya, matanya menatap anak-anak kecil yang berlarian di taman seberang jalan. "Biarkan Sistem yang mengurus itu, Ra. Aku sudah mematikan akses langsung ke saraf optikku sejak dua tahun lalu. Aku lebih suka melihat dunia dengan mata telanjang sekarang."

Tiba-tiba, sebuah mobil listrik mungil berhenti di depan warung. Maya turun dengan membawa beberapa dokumen digital yang terpancar dari gelang di tangannya. Ia tampak lebih dewasa, dengan ekspresi yang jauh lebih tenang dibanding saat ia pertama kali bertemu Jek di anjungan minyak.

"Jek, Rara," Maya menyapa sambil duduk di samping mereka. "Dewa Ekonomi global yang baru—maksudku, dewan perwakilan rakyat dunia—ingin meminta saranmu tentang ekspansi energi kuantum ke wilayah kutub untuk stabilisasi iklim."

Jek terkekeh pelan, lalu menggeleng. "Katakan pada mereka, Maya, Jek yang mereka cari sudah pensiun. Yang ada di sini hanyalah seorang pemilik warung kopi yang sedang menikmati masa tuanya lebih awal."

"Tapi mereka bilang, tanpa 'Kaisar Bayangan', mereka takut kehilangan arah," desak Maya, meski ada nada bercanda di suaranya.

Jek menatap Rara, lalu kembali ke Maya. "Arahnya sudah ada di sana, di dalam sistem yang sudah kita berikan 'hati'. Jika mereka masih butuh kaisar untuk membuat keputusan benar, berarti kita gagal mendidik mereka. Biarkan mereka belajar memimpin dengan nurani mereka sendiri."

Maya mengangguk, memahami jawaban itu. Ia mematikan gelangnya dan memesan segelas es kopi susu. Di warung itu, tidak ada yang tahu bahwa tiga orang yang sedang duduk santai tersebut adalah arsitek di balik runtuhnya sistem perbudakan finansial dunia.

Saat matahari mulai terbenam, membiarkan rona oranye menyelimuti Jakarta yang baru, Jek menggenggam tangan Rara di bawah meja kayu itu.

"Dulu aku pikir saldo tidak terbatas adalah segalanya, Ra," bisik Jek pelan.

"Lalu sekarang?" tanya Rara lembut.

Jek melihat ke sekelilingnya—ke kedamaian di jalanan, ke tawa anak-anak, dan ke wanita yang tetap bersamanya saat ia tidak punya apa-apa hingga ia memiliki dunia.

"Sekarang aku sadar, kekayaan yang sesungguhnya adalah saat kita tidak lagi merasa perlu memiliki dunia, karena dunia sudah cukup baik untuk kita semua."

Sistem di suatu tempat di jaringan global mungkin masih berdenyut, menjaga keseimbangan energi dan pangan secara otomatis, namun di warung kopi itu, waktu seolah berhenti. Jek, sang pria yang pernah mengguncang bursa saham dalam hitungan detik, kini hanya ingin memastikan bahwa teh di cangkirnya tidak menjadi dingin sebelum ia sempat menikmatinya bersama satu-satunya orang yang memberinya alasan untuk tetap menjadi manusia.

Kisah Jek dan Rara berakhir di tempat semuanya bermula, namun kali ini, dengan dunia yang sudah jauh lebih ramah di luar pintu warung mereka.

Saat Maya akhirnya pergi untuk kembali ke pusat kota, suasana di warung kopi itu menjadi semakin tenang. Cahaya lampu jalanan yang bertenaga surya mulai menyala otomatis, memberikan pendar keemasan yang lembut di sepanjang trotoar.

"Jek," panggil Rara memecah kesunyian, matanya masih menatap ke arah jalanan. "Apa kamu pernah merindukan 'Sistem' itu? Maksudku, sensasi saat kamu bisa melihat segala sesuatu sebelum itu terjadi?"

Jek terdiam sejenak, merasakan angin malam yang sejuk menerpa wajahnya. "Terkadang. Ada perasaan berkuasa saat kita tahu setiap pergerakan angka dan niat manusia. Tapi itu seperti melihat dunia melalui kamera infra merah, Ra. Kamu bisa melihat panasnya, tapi kamu tidak bisa merasakan kehangatannya."

Ia menatap tangannya sendiri, yang kini sedikit kasar karena sering membantu warga memperbaiki taman di sekitar pemukiman mereka.

"Dulu, saat Sistem itu aktif, aku selalu menghitung probabilitas masa depan kita. Tapi sekarang, aku lebih suka terkejut oleh apa yang akan kamu katakan besok pagi, atau rasa kopi yang sedikit berbeda karena suhu air yang tidak pas. Ketidakpastian itu... itu yang membuatku merasa hidup."

Rara tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Jek. "Kamu tahu, di kota satelit tadi siang, orang-orang mulai menyebut namamu lagi. Bukan sebagai 'Kaisar', tapi sebagai 'Sang Penanam'. Mereka bilang, ada seorang pria misterius yang selalu muncul saat sistem irigasi warga bermasalah, memperbaikinya dengan tangan kosong, lalu pergi begitu saja."

Jek terkekeh, sedikit malu karena penyamarannya ternyata tidak sesempurna yang ia kira. "Aku hanya memastikan 'nurani' yang aku tanam di mesin-mesin itu bekerja dengan benar. Mesin tetaplah mesin, Ra. Kadang mereka butuh sentuhan manusia agar tidak kembali menjadi dingin."

Tiba-tiba, ponsel tua Jek—ponsel biasa tanpa modifikasi—bergetar. Sebuah pesan singkat masuk. Jek membukanya dan tersenyum lebar.

"Dari siapa?" tanya Rara penasaran.

"Dari panti asuhan tempat kita dulu," jawab Jek. "Anak-anak mengirim foto. Mereka baru saja memanen padi di lahan hidroponik yang kita buat. Mereka bilang, mereka ingin kita datang akhir pekan ini untuk makan nasi baru bersama mereka."

Jek menutup ponselnya dan berdiri, lalu mengulurkan tangannya kepada Rara. "Dulu aku membangun kerajaan untuk mengalahkan musuhku. Sekarang, aku hanya ingin membangun kenangan untuk orang-orang yang kucintai."

Rara menyambut tangan Jek, berdiri dan mulai merapikan kursi-kursi warung mereka. "Itu adalah misi yang jauh lebih sulit daripada meretas Ares Prime, Jek."

"Benar," jawab Jek sambil mengunci pintu kayu warungnya. "Tapi hasilnya jauh lebih manis."

Mereka berjalan kaki pulang menuju rumah kecil mereka di belakang warung, dua orang sederhana di tengah kota masa depan yang megah. Di langit malam yang bersih, satu titik cahaya bergerak perlahan—mungkin sebuah satelit, atau mungkin sisa-sisa 'Ares' yang kini bertugas menjaga bumi dari luar sana. Namun bagi Jek, bintang paling terang malam itu tetaplah senyum wanita di sampingnya.

Perjalanan sang Kaisar Bayangan telah usai, dan kehidupan Jek, sang manusia biasa, baru saja dimulai dengan indah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!