sepuluh tahun lalu,Aldric veynheart kehilangan segalanya
ia kehilangan ayahnya di singgasana dengan pedang patah ditangan.
Ia kehilangan ibunya yang ditikam dari belakang saat berlindung.ia kehilangan adiknya - Liana enam tahun yang dilempar dari menara tertinggi.
dan dimalam yang sana,dibalik tirai,ia melihat Elera ,istri yang dinikahinya sebulan lalu,bersandar mesra di dada Darius veynheart ,Kaka tirinya.
senyum Elera,saat menatap Darius adalah paku terakhir di peti mati hati Aldric sebelum ia sempat berteriak,sebelum tendangan menghantam punggungnya.
Tubuhnya meluncur ke jurang maut - jurang tak berdasar di bawah istana ,tempat ribuan monster dan roh penasaran bercokol. Tempat tak seorangpun kembali tapi Aldric bisa kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: JEJAK DARAH
Matahari terbit di ufuk timur, menyinari lereng gunung yang berlumuran darah.
Mayat-mayat bergelimpangan seperti bunga merah di atas hamparan salju putih. Anjing-anjing neraka yang selamat mulai menghilang satu per satu, kembali ke dunia bawah—tanda bahwa Varyn menarik mereka. Yang tersisa hanyalah keheningan yang berat, hanya dipecahkan oleh desiran angin dingin.
Aldric berdiri di tengah semua itu, tubuhnya berlumuran darah—sebagian miliknya, sebagian milik musuh. Luka di dadanya sudah menutup, meninggalkan bekas luka merah yang akan menjadi kenangan permanen. Matanya yang abu-abu kini memiliki semburat merah yang lebih jelas—tanda bahwa iblis di dalamnya tidak pernah benar-benar tidur.
Elara memegang tangannya, tidak mau melepaskan. Tangannya dingin, tapi genggamannya kuat.
"Kita harus pergi dari sini," kata Sera sambil menggendong Ren yang masih lemas. "Bau darah akan menarik pemangsa—pemangsa biasa dan yang tidak biasa."
Aldric menganggung. Ia menatap ke bawah gunung, mencari jalan turun yang aman. Di kejauhan, samar-samar terlihat kepulan asap—mungkin desa, mungkin kampung kecil.
"Ke sana," katanya, menunjuk. "Kita butuh tempat berlindung."
Perjalanan turun gunung memakan waktu hampir setengah hari. Tubuh mereka semua terasa berat—kelelahan, lapar, dan luka-luka kecil yang belum sempat sembuh. Ren harus digendong bergantian oleh Sera dan Elara karena Aldric terlalu lemah setelah pertempuran.
Menjelang sore, mereka sampai di sebuah lembah kecil yang tersembunyi di antara bukit-bukit. Di sana, berdiri sekumpulan rumah kayu sederhana—mungkin sekitar tiga puluh rumah—dengan ladang-ladang kering di sekitarnya. Kampung kecil yang tidak ada di peta mana pun.
"Kampung apa ini?" bisik Elara.
Aldric menggeleng. "Tidak tahu. Tapi kita harus coba."
Mereka mendekati gerbang kampung—pagar kayu sederhana yang sudah lapuk. Seorang pria tua dengan cangkul di tangan berjaga di pintu masuk. Begitu melihat mereka—empat orang compang-camping, berlumuran darah—matanya membelalak.
"Dewa-dewa..." gumamnya. "Kalian... kalian dari pertempuran di gunung?"
Aldric mengangguk hati-hati. "Kami butuh bantuan. Ada tempat untuk berteduh?"
Pria tua itu mengamati mereka satu per satu. Matanya berhenti lebih lama di wajah Aldric—mungkin mengenali sesuatu, mungkin hanya curiga. Tapi akhirnya ia mengangguk.
"Masuk. Tapi jangan bawa masalah ke kampung kami."
Kampung itu bernama Dusun Willow—nama yang tidak pernah didengar Aldric sepanjang hidupnya di istana. Penduduknya hanya sekitar seratus orang, kebanyakan petani dan penggembala domba. Mereka hidup terpencil, jauh dari hiruk-pikuk kerajaan, dan bangga akan isolasi mereka.
Seorang wanita paruh baya—Kepala Dusun Willow, bernama Nenek Greta—memberi mereka sebuah gubuk kosong di pinggir kampung. Gubuk itu sederhana: satu ruangan dengan perapian kecil, dua dipan jerami, dan meja kayu lapuk. Tapi setelah berminggu-minggu tidur di hutan dan gunung, tempat ini terasa seperti istana.
"Kalian bisa istirahat di sini," kata Nenek Greta. Matanya yang tajam mengamati Aldric dengan curiga. "Besok pagi, aku akan bertanya siapa kalian sebenarnya. Malam ini, kalian aman."
Ia pergi, meninggalkan mereka berempat.
Sera segera merebahkan Ren di dipan, menyelimuti anak itu dengan kain kering. Ren sudah tidur—kelelahan luar biasa setelah menjadi saluran Varyn. Napasnya lemah tapi teratur.
Elara duduk di samping Aldric di dekat perapian. Api kecil yang dinyalakan Sera mulai menghangatkan ruangan.
"Apa yang terjadi padamu di gunung?" tanyanya lirih. "Saat kau... berubah."
Aldric menatap api. "Aku hampir kehilangan diriku. Iblis di dalam ingin mengambil alih sepenuhnya. Jika kau tidak memanggilku..."
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi." Elara meraih tangannya. "Aku sudah kehilanganmu sekali. Tidak akan lagi."
Mereka diam, menikmati kehangatan api dan kehadiran satu sama lain.
Dari luar, suara samar-samar terdengar—penduduk kampung yang berbisik-bisik, mungkin membicarakan kedatangan mereka. Aldric menajamkan indra, mencoba mendengar.
"...wajahnya mirip dengan pengumuman..."
"...hati-hati, bisa jadi buronan..."
"...tapi bawa anak kecil, masa buronan bawa anak?"
Desas-desus. Kecurigaan. Itu yang akan mereka hadapi besok.
Malam berlalu tanpa insiden.
Pagi harinya, Nenek Greta datang dengan semangkuk bubur hangat dan roti gandum. Ia duduk di depan mereka tanpa permisi, matanya menatap tajam ke arah Aldric.
"Aku tahu siapa kau," katanya tanpa basa-basi.
Aldric menegang. Tangannya meraba belati di pinggang.
"Jangan," Nenek Greta menggeleng. "Aku tidak akan melaporkanmu. Tapi aku ingin tahu—apa yang kau cari di sini?"
Elara dan Sera saling pandang. Aldric menghela napas.
"Aku mencari perlindungan. Untuk mereka." Ia menunjuk Elara, Sera, dan Ren. "Mereka tidak bersalah."
Nenek Greta mengamati Elara. "Kau janda pangeran yang katanya diculik?"
Elara mengangguk hati-hati. "Aku pergi sukarela. Darius memaksaku menikah."
"Dan kau?" Nenek Greta menatap Sera.
"Aku korban dunia bawah. Bersama anakku." Sera memeluk Ren erat. "Mereka menyelamatkan kami."
Nenek Greta diam lama. Matanya yang tua—tapi bijak—bergerak dari satu wajah ke wajah lain. Lalu ia menghela napas panjang.
"Aku percaya kalian," katanya akhirnya. "Bukan karena aku bodoh. Tapi karena matamu, Pangeran. Matamu jujur."
Aldric terkejut. "Kau percaya begitu saja?"
"Aku sudah hidup tujuh puluh tahun. Aku bisa membedakan pembohong dan orang jujur." Nenek Greta tersenyum tipis. "Dan aku juga tahu tentang ayahmu."
"Ayah?"
"Raja Aldous pernah menyelamatkan kampung ini. Tiga puluh tahun lalu, saat wabah melanda. Ia mengirim tabib dan obat-obatan, gratis. Tidak meminta imbalan apa pun." Matanya berkaca-kaca. "Aku tidak akan melupakan kebaikan itu. Dan aku tidak akan mengkhianati putranya."
Aldric merasa dadanya hangat. Kebaikan ayahnya—kebaikan yang dulu dianggap kelemahan oleh Darius—ternyata masih dikenang. Masih berbuah.
"Terima kasih, Nenek."
"Jangan berterima kasih dulu." Nenek Greta bangkit. "Kalian bisa tinggal di sini selama yang kalian mau. Tapi ada satu syarat."
"Apa itu?"
"Ceritakan semuanya padaku. Apa yang sebenarnya terjadi di istana. Siapa musuh kalian. Dan apa yang akan kalian lakukan selanjutnya." Ia menatap Aldric tajam. "Karena aku ingin membantu. Tapi aku perlu tahu apa yang aku hadapi."
Sore itu, Aldric bercerita.
Tentang kudeta, tentang kematian keluarganya, tentang jatuh ke jurang, tentang transformasinya, tentang Varyn, tentang Shadow Council, tentang Kael the Destroyer, tentang pertempuran di gunung. Semuanya. Tidak ada yang disembunyikan.
Nenek Greta mendengarkan dengan diam, sesekali menghela napas, sesekali menggeleng. Ketika Aldric selesai, wanita tua itu termenung lama.
"Jadi," katanya akhirnya, "kau tidak hanya berperang melawan Darius, tapi juga melawan iblis-iblis kuno?"
"Dan Shadow Council mereka," tambah Elara.
Nenek Greta tertawa—tawa getir. "Kampung kecil ini tidak pernah membayangkan akan terlibat dalam perang sebesar ini."
"Kau tidak perlu terlibat," kata Aldric cepat. "Kami bisa pergi—"
"Diam." Nenek Greta memotong. "Aku tidak bilang tidak mau terlibat. Aku hanya bilang ini di luar dugaanku." Ia berpikir sejenak. "Tapi mungkin... mungkin aku tahu seseorang yang bisa membantu."
Siapa?"
"Penyihir tua di hutan barat. Namanya Master Elian. Konon ia pernah menjadi penasihat raja—bukan ayahmu, tapi kakekmu. Ia tahu banyak tentang dunia lain, tentang iblis-iblis kuno." Nenek Greta menatap Aldric. "Jika kau ingin tahu cara mengalahkan Kael dan saudara-saudaranya, ia orang yang tepat."
Aldric bertukar pandang dengan Elara. Harapan baru—meskipun samar.
"Di mana kami bisa menemukannya?"
"Di barat, tiga hari perjalanan dari sini. Tapi hati-hati—hutan itu angker. Banyak yang masuk, sedikit yang keluar." Nenek Greta bangkit. "Besok pagi, aku akan sediakan perbekalan untuk kalian. Malam ini, istirahatlah."
Malam itu, saat yang lain tidur, Aldric duduk di luar gubuk menatap bintang.
Langit malam di Dusun Willow jernih, tanpa polusi cahaya. Ribuan bintang bertaburan, lebih indah dari yang pernah ia lihat di istana. Di kejauhan, suara jangkrik dan serigala terdengar sayup—suara alam yang damai.
"Apa yang kau pikirkan?"
Elara keluar, duduk di sampingnya.
"Tentang besok. Tentang perjalanan. Tentang... apakah ini akan berakhir."
Elara meraih tangannya. "Aku tidak tahu apakah ini akan berakhir. Tapi aku tahu satu hal—aku akan bersamamu, apa pun yang terjadi."
Aldric menoleh, menatap wanita di sampingnya. Rambut merah apinya tergerai lembut, wajahnya bersih meskipun lelah. Di matanya, ia melihat keteguhan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
"Maaf," katanya tiba-tiba.
"Maaf untuk apa?"
"Untuk semua ini. Kau seharusnya hidup tenang, bukan lari-larian dari kejaran."
Elara tersenyum—senyum yang membuat dunia terasa lebih ringan. "Aku tidak pernah mau hidup tenang, Aldric. Aku hanya mau hidup bersamamu."
Mereka berpelukan di bawah bintang-bintang.
Dari dalam gubuk, Ren bermimpi tentang Varyn—tapi kali ini mimpi indah, bukan mimpi buruk. Iblis tua itu tersenyum padanya.
"Jaga dia, Nak," bisiknya. "Jaga Aldric. Karena ia akan menjaga kalian semua."
Pagi harinya, Nenek Greta menepati janjinya. Tiga ekor kuda kecil—kuda kampung yang biasa dipakai membajak sawah—disiapkan dengan pelana sederhana. Perbekalan: roti kering, daging asap, air dalam kantong kulit, dan selimut tebal.
"Kuda ini tidak cepat, tapi setia," katanya. "Mereka akan membawa kalian ke tepi hutan. Setelah itu, kalian jalan kaki."
"Terima kasih, Nenek." Aldric menunduk hormat. "Kami tidak akan lupa kebaikanmu."
"Jangan lupa. Tapi juga jangan terlalu cepat kembali." Nenek Greta tersenyum. "Bawa kabar baik, Pangeran. Bawa kemenangan."
Mereka menaiki kuda—Elara sendiri, Sera dengan Ren di depan, Aldric sendiri. Perlahan, mereka meninggalkan Dusun Willow, menuju barat, menuju hutan angker, menuju harapan baru.
Di belakang mereka, penduduk kampung berkumpul, melambai pelan. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi mereka berdoa untuk keselamatan para pengungsi.
Di depan mereka, hutan lebat membentang—gelap, misterius, penuh dengan bisikan-bisikan yang tidak bisa didengar manusia biasa.
Tapi Aldric bukan manusia biasa.
Dan ia tidak akan menyerah.
Bukan sebelum melihat Darius mati di kakinya.
Bukan sebelum Elara benar-benar aman.
Bukan sebelum semua hutang lunas.
--- BERSAMBUNG KE BAB 21: PENYIHIR DI HUTAN BARAT ---
Tiga hari perjalanan melewati padang rumput dan bukit-bukit kecil akhirnya membawa mereka ke tepi Hutan Barat—hutan tertua di kerajaan, tempat di mana pepohonan menjulang setinggi seratus meter dan kabut tidak pernah benar-benar pergi.
Di dalam, konon tinggal seorang penyihir tua yang sudah hidup ribuan tahun. Ia tahu rahasia para iblis, kelemahan para dewa, dan nama-nama yang tidak boleh disebut.
Tapi ia juga dikenal tidak suka tamu.
Banyak yang masuk mencarinya, tapi sedikit yang keluar dengan waras.
Saat mereka memasuki hutan, kabut langsung menyelimuti. Suara-suara aneh terdengar dari segala arah. Ren mulai menggigil—bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang lain.
"Om," bisiknya, "di sana ada yang lihat kita."
Aldric menajamkan pandangan. Di balik kabut, samar-samar, ia melihat bayangan-bayangan—bukan manusia, bukan iblis, tapi sesuatu di antaranya.
Penjaga hutan.
Dan mereka tidak terlihat ramah.