Nomella Kamiyama, mahasiswi pindahan dari New York, tiba di California dengan satu misi: mempertahankan kesempurnaan hidupnya—mulai dari penampilan, kecerdasan, hingga kontrol diri yang absolut.
Namun, panggung sempurnanya terusik oleh kehadiran Zeus Sterling, pria paling populer di kampus yang dikenal sangat hangat, narsis, dan gemar menebar pesona.
Di mata Nomella, Zeus hanyalah gangguan visual yang "sok ganteng," sementara bagi Zeus, Nomella adalah tantangan bagi egonya yang setinggi langit.
Namun, di balik senyum menawan dan keramahan yang luar biasa, Zeus menyimpan rahasia kelam. Ia adalah pria yang aslinya dingin dan hancur, yang kini hidup dalam "identitas" kakaknya, Zayn, yang tewas dalam kecelakaan balap tragis. Zeus menolak semua wanita dan hanya ingin langsung menikah, sebuah bentuk duka ekstrem yang ia jalani demi memenuhi ekspektasi orang tuanya dan dunia.
Ketegangan memuncak saat Nomella mulai membongkar topeng Zeus, memicu sisi gelap sang pria yang berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di atas Tahta
Angin di rooftop gedung utama Universitas California berembus lebih kencang, membawa aroma garam dari Samudra Pasifik yang jauh. Di sana, di balik tangki air raksasa dan beton yang mulai memudar warnanya, Zeus Sterling berdiri menyandar pada pagar pembatas. Ia sedang menatap garis cakrawala dengan tatapan kosong—sosok Zeus yang asli, yang dingin dan tak tersentuh oleh drama duniawi.
Namun, begitu ia mendengar bunyi pintu besi yang berderit terbuka, rahangnya otomatis mengendur. Ia kembali menegakkan punggung, menyugar rambutnya dengan gaya narsis yang menjadi ciri khasnya, dan memasang senyum kemenangan.
"Aku tahu kau akan datang, Mella. Tidak ada yang bisa menahan diri untuk tidak mencariku setelah apa yang terjadi di parkiran," ujar Zeus tanpa menoleh. Suaranya kembali hangat, kembali menjadi 'Zayn'.
Nomella Kamiyama melangkah maju. Sepatu hak tingginya tidak lagi mengeluarkan bunyi klak-klak yang anggun, melainkan langkah yang pasti dan mengintimidasi. Ia tidak mengenakan gaun putihnya yang telah dikotori oleh memori di parkiran. Kini, ia mengenakan setelan serba hitam; celana kulit yang ketat dan jaket blazer yang terstruktur. Rambutnya diikat sangat rapi, menonjolkan fitur wajahnya yang tajam dan tak kenal ampun.
"Kau pikir aku datang ke sini untuk menangis, Zeus?" tanya Nomella. Ia berhenti tepat tiga langkah di belakang pria itu.
Zeus berbalik, senyumnya semakin lebar. "Lalu apa? Ingin merasakan sentuhanku lagi? Aku tidak keberatan memberikan sesi kedua jika kau memohon dengan cara yang benar."
Nomella tidak membalas dengan kemarahan yang meluap. Sebaliknya, ia tersenyum. Sebuah senyuman yang sangat tenang hingga membuat Zeus sedikit menyipitkan mata. Nomella mengeluarkan sebuah benda kecil dari saku jaketnya: sebuah alat perekam digital kelas profesional dan sebuah ponsel yang menyala.
"Kau suka bermain kotor, kan? Merendahkan wanita, menginjak harga diri orang lain untuk menutupi ketakutanmu sendiri," Nomella melangkah mendekat, masuk kembali ke dalam ruang personal Zeus tanpa ragu.
"Aku belajar di New York bahwa jika kau ingin menyingkirkan hama, kau jangan hanya menyemprotnya. Kau harus menghancurkan sarangnya."
Zeus tertawa hambar. "Perekam suara? Kau pikir itu cukup untuk menjatuhkanku? Di kampus ini, suaraku adalah hukum. Orang akan menganggap kau yang menggodaku."
"Oh, aku tidak bicara soal suara yang tadi di parkiran," Nomella menekan tombol play pada ponselnya.
Suara yang keluar bukan suara Zeus. Melainkan suara seorang wanita yang terdengar sedang menangis, berbicara dengan seseorang yang disebut 'Dokter'. Itu adalah rekaman percakapan tentang seorang pasien bernama Zeus Sterling yang mengalami delusi identitas pasca-kematian kakaknya.
Wajah Zeus yang tadinya penuh senyum narsis, perlahan memudar. Warna kulitnya berubah pucat.
"Dari mana kau mendapatkan itu?" desis Zeus. Suaranya kembali jatuh ke titik beku. "Kau mencuri data medis?"
"Aku punya cara, Zeus. Aku mahasiswi pindahan dengan koneksi yang tidak kau bayangkan. Dan aku punya lebih dari sekadar rekaman medismu," Nomella melangkah selangkah lagi, hingga dada mereka hampir bersentuhan. Ia mendongak, menatap mata Zeus yang kini dipenuhi kengerian.
"Aku tahu apa yang terjadi di arena balap itu. Aku tahu siapa yang sebenarnya memacu mobil itu terlalu cepat sebelum Zayn mengambil alih kemudi di lap terakhir."
Tubuh Zeus menegang sehebat-hebatnya. Tangannya yang tadi memegang pagar pembatas kini bergetar.
"Kau menggunakan pelecehan itu untuk membungkamku karena kau takut aku akan mengatakan pada dunia bahwa 'Matahari California' mereka sebenarnya adalah seorang pengecut yang sedang menjalani hukuman seumur hidup dalam tubuh kakaknya sendiri," bisik Nomella.
Tiba-tiba, Nomella melakukan sesuatu yang tidak terduga. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh leher Zeus dengan cara yang sama seperti Zeus mencekiknya tadi pagi. Namun, sentuhan Nomella lebih lambat, lebih merayap, dan lebih menghina. Ia mengusap rahang Zeus dengan ibu jarinya, lalu dengan cepat, ia menampar wajah tampan itu dengan keras.
PLAK!
Suara tamparan itu bergema di seluruh rooftop.
"Itu untuk harga diriku," ujar Nomella dingin.
Sebelum Zeus bisa bereaksi, Nomella menarik kerah baju Zeus, memaksa pria itu untuk menunduk hingga wajah mereka sejajar.
"Tanganmu yang tadi menginjak-injakku? Aku akan memastikan tangan itu tidak akan pernah bisa menyentuh siapa pun lagi tanpa rasa gemetar. Kau ingin bermain kotor? Mari kita mulai."
Nomella melepaskan kerah baju Zeus seolah-olah ia baru saja menyentuh sampah. "Aku sudah menyiapkan sebuah artikel yang akan terbit di koran kampus dan blog alumni besok pagi. Isinya bukan tentang pelecehanmu padaku—karena bagiku, itu terlalu kecil. Isinya adalah tentang bagaimana seorang Zeus Sterling yang malang sedang dirawat karena gangguan jiwa serius dan bagaimana ia memanipulasi seluruh kampus dengan identitas kakaknya yang sudah mati."
"Kau tidak akan berani," suara Zeus pecah.
"Coba aku," tantang Nomella. Ia mengeluarkan selembar tisu dari sakunya, lalu mengusap punggung tangan Zeus, tangan yang digunakan Zeus untuk melecehkannya tadi—dengan gerakan yang penuh kejijikan. "Aku akan membersihkan sisa-sisa keberadaanmu dari hidupku, Zeus. Dan aku akan memulainya dengan melihatmu jatuh dari tahta palsumu ini."
Nomella berbalik, berjalan menuju pintu keluar rooftop tanpa menoleh ke belakang. Ia telah membalikkan keadaan. Jika tadi pagi ia adalah korban yang gemetar, sekarang ia adalah algojo yang siap menarik tuas eksekusi.
Zeus Sterling tetap berdiri di sana, sendirian di bawah langit California yang mulai menggelap. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang tadi disentuh Nomella dengan penuh kebencian. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, topeng "Zayn" tidak bisa ia panggil kembali. Ia merasa telanjang di hadapan dunia.
Di ambang pintu, Nomella berhenti sejenak. "Satu hal lagi, Zeus. Jangan pernah berpikir untuk menyentuhku lagi. Karena jika kau melakukannya, aku tidak hanya akan menghancurkan matahari mu, aku akan memastikan orang tuamu tahu bahwa putra mereka yang masih hidup... sebenarnya sudah mati sejak lama."
Pintu besi itu tertutup dengan dentuman keras, meninggalkan Zeus dalam kesunyian yang mencekam.
Di tangga gedung, Nomella menyandarkan punggungnya pada dinding semen. Jantungnya berdegup kencang, tangannya sendiri pun gemetar. Ia baru saja melakukan hal yang paling kotor dalam hidupnya—menggunakan duka seseorang sebagai senjata. Namun, saat ia teringat bagaimana rasanya tangan Zeus di balik gaunnya, rasa kasihan itu menguap.
"Kita sama-sama kotor sekarang, Zeus," bisiknya pada kegelapan tangga. "Tapi setidaknya aku masih punya namaku sendiri."
Nomella melangkah turun, siap untuk melihat keruntuhan sang matahari palsu esok hari.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰