NovelToon NovelToon
RATU X PEMUDA MISKIN JADI KAYA

RATU X PEMUDA MISKIN JADI KAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / CEO / Anak Genius
Popularitas:293
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

lanjutkan Jek adalah seorang yang terlahir di keluarga
kurang mampu namun ia memiliki kecerdasan dan kejeniusan tentang dunia apa saja karena ia memiliki
sistem yang dapat membuat ia kaya mendadak dalam percintaan ia menemukan ratu yang mencintainya dengan tidak kenal kondisi suka maupun duka bagaimana kelanjutan langsung ajaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 19

Jek menatap mata Rara yang berkaca-kaca di tengah kepulan uap medis. Ia bisa merasakan detak jantung Rara yang cepat, selaras dengan dengung frekuensi yang kini memenuhi kepalanya. Logika murninya telah mati, digantikan oleh naluri pelindung yang jauh lebih tajam.

"Vane," suara Jek terdengar seperti gesekan logam yang berat. "Kau bicara tentang pilihan, tapi kau lupa satu hal. Aku bukan lagi sistem yang bisa kau prediksi."

Vane menyeringai, jemarinya menegang di atas tombol eksekusi. "Langkah sekecil apa pun, Jek, dan dia akan lumpuh selamanya!"

Namun, Jek tidak melangkah maju. Ia justru memejamkan mata dan menghentakkan telapak tangannya ke lantai logam. Aliran energi perak tidak melesat ke arah Vane, melainkan merambat masuk ke dalam struktur kursi medis yang mengikat Rara. Dalam hitungan milidetik, Jek menciptakan medan elektromagnetik yang sangat kuat di sekitar tubuh Rara—sebuah perisai tak kasat mata yang membekukan semua sirkuit robot medis di sekelilingnya.

"Sekarang, Danu!" teriak Jek.

Danu, dengan mata yang menyala oleh dendam bertahun-tahun, tidak meledakkan tangki bahan bakar. Sebaliknya, ia melemparkan pemantik apinya ke arah sistem ventilasi yang telah ia sabotase sebelumnya dengan gas metana dari limbah bawah tanah.

BOOM!

Ledakan di langit-langit menciptakan guncangan hebat yang melempar Vane ke dinding. Tablet di tangannya terlepas, hancur berkeping-keping sebelum sempat mengirimkan perintah terakhir.

Jek melesat dalam sekejap mata. Tangannya merobek pengikat logam di kursi Rara seolah-olah itu hanya terbuat dari kertas basah. Ia memeluk Rara, melindungi tubuh istrinya dari reruntuhan plafon yang berjatuhan.

"Jek... kamu kembali," bisik Rara, suaranya gemetar namun penuh kelegaan.

"Selalu, Ra," jawab Jek.

Di sudut ruangan, Vane merangkak bangun, masker tempurnya retak. "Kalian... tidak akan keluar dari sini hidup-hidup. Benteng ini akan menjadi kuburan kalian!"

Vane menarik tuas darurat di dinding. Suara sirine melengking memekakkan telinga, dan dinding-dinding baja mulai bergeser, mengunci seluruh blok tersebut. Namun, Danu tertawa parau di tengah kepulan asap.

"Kau salah, Vane," Danu menunjuk ke arah generator utama yang kini mulai bergetar tidak stabil karena energi yang ditarik paksa oleh Jek tadi. "Jek tidak hanya menarik daya. Dia meninggalkan 'virus' statis di dalam inti generatormu. Dalam tiga menit, tempat ini akan menjadi kembang api terbesar di Jakarta."

Jek menatap Danu. "Kita harus pergi, sekarang! Bawa orang-orangmu, Danu!"

"Lari saja, Jek," Danu menyandarkan punggungnya ke tangki cadangan, napasnya tersengal. "Aku sudah terlalu lama hidup di dalam dinding ini. Aku akan memastikan Vane tetap di sini untuk menyaksikan matahari buatanku sendiri."

Jek ragu sejenak, namun Rara menarik lengannya. "Jek, kita harus menyelamatkan warga di luar. Jika benteng ini meledak tanpa kendali, gelombang kejutnya akan menghancurkan kamp!"

Jek mengangguk berat. Ia menggendong Rara dan berlari menuju jalur keluar rahasia yang tadi ditunjukkan Danu. Di belakang mereka, suara teriakan Vane tertutup oleh dentum ledakan-ledakan kecil yang mulai menjalar di sepanjang koridor.

Saat mereka berhasil melompat keluar dari jendela palka di sisi dermaga, sebuah ledakan cahaya putih yang menyilaukan membubung tinggi dari jantung benteng Ares. Gelombang panasnya menyapu permukaan air, namun anehnya, saat energi itu menyentuh Jek, ia mampu membelokkan tekanannya sehingga mereka mendarat di atas pasir dengan selamat.

Benteng baja itu runtuh, melesap ke dalam laut bersama semua ambisi Ares.

Maya dan warga menyambut mereka dengan sorak-sorai di kejauhan. Langit kini benar-benar terang oleh fajar yang asli. Tidak ada pendar ungu, tidak ada awan sirkuit. Hanya matahari yang hangat menyentuh reruntuhan kota.

Jek berdiri di samping Rara, menatap puing-puing benteng yang kian tenggelam. Ia merasakan kekosongan di dalam kepalanya, namun hatinya terasa penuh. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok, atau apakah kaum Pesisir akan kembali menagih janji.

"Jek," panggil Rara lembut. "Tanganmu... cahayanya sudah hilang."

Jek melihat telapak tangannya. Bekas luka bakar itu kini tampak seperti luka biasa. Energi itu telah habis, digunakan seluruhnya untuk menghancurkan kegelapan besi tersebut.

"Baguslah," Jek tersenyum, menarik Rara ke dalam pelukannya. "Sekarang, bisakah kita mencari warung itu? Aku benar-benar ingin mencoba teh yang kamu ceritakan."

Di tengah dunia yang baru dan aneh ini, di mana alam dan sisa teknologi mulai mencari keseimbangan baru, Jek dan Rara melangkah maju—bukan sebagai penguasa, tapi sebagai dua manusia yang akhirnya menemukan jalan pulang.

Jek menarik napas dalam, merasakan aroma tanah basah dan garam yang kini lebih dominan daripada bau hangus kabel. Ia membiarkan kakinya terkubur sedikit di dalam pasir pantai, menikmati sensasi tekstur bumi yang nyata di bawah kulitnya. Tidak ada lagi desingan data, tidak ada lagi kalkulasi probabilitas di sudut matanya. Hanya hening.

"Tehnya mungkin tidak akan se निकmat dulu, Jek," Rara berseloroh sambil menyeka debu di keningnya, meski matanya masih berkaca-kaca. "Kita harus memetik daunnya sendiri sekarang, dan entah apa yang sudah dilakukan Jaringan Hijau pada kebun-kebun di puncak bukit."

"Asal bukan daun yang bisa bicara padaku, aku tidak keberatan," Jek terkekeh, suara tawa yang terdengar sangat murni hingga Maya yang berdiri tak jauh dari mereka pun ikut tersenyum tipis.

Namun, di balik senyum itu, Maya menatap ke arah garis cakrawala laut yang tenang. Pendar hijau dari kaum Saksi Fajar telah menghilang, tapi ia tahu mereka tidak benar-benar pergi. Mereka hanya sedang beradaptasi, sama seperti manusia.

"Kita punya banyak pekerjaan, Jek," Maya mendekat, menunjukkan sisa-sisa kristal garam di sakunya. "Benteng Ares sudah hancur, tapi pengetahuan mereka tentang bagaimana bertahan hidup di dunia baru ini harus kita kumpulkan dari puing-puingnya. Kita harus menjadi pelindung bagi warga, bukan dengan kekuatan, tapi dengan pemahaman."

Jek mengangguk. Ia melihat Bakri dan warga lainnya mulai mendekat, membawa sisa-sisa bahan makanan yang berhasil diselamatkan sebelum gerbang pelabuhan runtuh. Mereka menatap Jek dengan rasa hormat yang baru—bukan sebagai 'Kaisar' yang jauh, tapi sebagai rekan yang berjuang di baris depan.

"Tuan Jek," Bakri bicara, suaranya mantap. "Kami menemukan beberapa bibit tanaman yang sepertinya tidak terinfeksi di gudang bawah tanah. Jika kita menanamnya di tanah yang sudah kita beri garam..."

"Lakukan, Bakri," potong Jek ramah. "Dan mulai sekarang, panggil saja aku Jek. Aku bukan tuan bagi siapa pun."

Saat matahari semakin tinggi, menyinari sisa-sisa Jakarta yang kini tampak seperti kota hutan yang megah, Jek menggandeng tangan Rara. Mereka mulai berjalan menjauh dari pantai, menuju ke arah kota—ke arah masa depan yang belum terpetakan.

Di kedalaman laut yang baru saja tenang, jauh di bawah reruntuhan benteng Ares yang tenggelam, sebuah detak kecil mulai muncul. Bukan detak jantung biologis, bukan pula denyut listrik sirkuit. Itu adalah gabungan keduanya—sebuah benih baru yang tercipta dari ledakan energi perak Jek yang bersinggungan dengan teknologi Ares dan biologi laut.

Benih itu berdenyut sekali, lalu terdiam, menunggu waktu yang tepat untuk tumbuh.

Tapi bagi Jek, itu adalah masalah untuk hari yang lain. Untuk saat ini, ia hanya ingin berjalan di samping wanita yang ia cintai, merasai hangat matahari di kulitnya, dan mencari tahu apakah dunia baru ini masih memiliki tempat untuk secangkir teh hangat dan sebuah cerita pendek tentang kedamaian.

"Jadi," Jek menoleh ke arah Rara saat mereka melewati sebuah pohon beringin yang kini akarnya meliuk membentuk bangku alami. "Tentang warung itu... apakah mereka punya pisang goreng juga?"

Rara tertawa, suara yang bagi Jek jauh lebih berharga daripada seluruh kode di dunia. "Kita lihat saja nanti, Jek. Kita lihat saja nanti."

Jek menghentikan langkahnya sejenak, menatap bayangan mereka yang memanjang di atas tanah. Ada rasa syukur yang ganjil saat ia menyadari bahwa ia tidak lagi bisa melihat aliran data di balik dedaunan atau mendengar bisikan frekuensi dari tiang listrik yang tumbang. Dunia terasa lebih sempit tanpa Sistem, namun jauh lebih padat dan nyata.

"Pisang goreng dengan taburan garam laut mungkin akan jadi menu baru kita," Rara menyahut pelan, jemarinya mempererat kaitan pada lengan Jek. "Tapi kurasa kita harus mulai membangun tungku api dulu. Listrik mungkin akan jadi kemewahan yang tidak ingin kita sentuh untuk waktu yang lama."

Maya berjalan di sisi lain mereka, matanya tetap waspada memindai sekeliling. "Garam akan jadi mata uang baru kita, Jek. Bukan hanya untuk mengusir infeksi Jaringan Hijau, tapi untuk memurnikan air dan mengawetkan apa yang tersisa. Kita harus mengajari warga cara menambang kristal dari pesisir tanpa menarik perhatian kaum Saksi Fajar."

Jek mengangguk, namun pikirannya melayang pada Danu yang memilih tetap tinggal di jantung ledakan. Ada harga yang harus dibayar untuk setiap kebebasan, dan ia bersumpah tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan itu.

"Kita akan membangunnya perlahan, Maya," ucap Jek. "Tanpa ambisi untuk menguasai, tanpa keinginan untuk menjadi sistem yang baru. Cukup sebuah tempat di mana orang bisa tidur tanpa takut bermimpi dalam bahasa kode."

Saat mereka melewati sisa-sisa halte bus yang kini tertutup lumut beludru, Jek melihat sebuah benda kecil tergeletak di antara akar. Sebuah arloji mekanik tua yang kacanya sudah retak, namun jarum detiknya masih bergerak dengan suara tik-tok yang jujur. Ia memungutnya, membersihkan debu yang menempel, dan melingkarkannya di pergelangan tangannya.

"Waktu yang sesungguhnya," gumam Jek sambil tersenyum ke arah Rara. "Bukan lagi milidetik yang diatur oleh server."

Rara menyandarkan kepalanya di bahu Jek saat mereka terus mendaki reruntuhan jalan menuju area yang lebih tinggi, tempat di mana mereka bisa melihat seluruh kota yang kini sedang bersiap untuk terlahir kembali. Di ufuk timur, burung-burung asli—yang entah bagaimana berhasil selamat dari mutasi—mulai terbang rendah, berkicau menyambut hari pertama di dunia yang baru.

"Lihat itu, Jek," Rara menunjuk ke arah sebuah tunas pohon jati kecil yang tumbuh di tengah retakan aspal. Tunas itu berwarna hijau segar, tanpa pendar ungu, tanpa serat optik. Benar-benar organik. "Dunia ini sedang mencoba memaafkan kita."

Jek memeluk bahu Rara, merasakan kehangatan yang menjalar di hatinya. Kehilangan ingatan mungkin telah menghapus kejayaannya sebagai sang Kaisar Bayangan, tapi ia sadar bahwa ia justru mendapatkan kembali bagian terpenting dari dirinya: kemampuan untuk merasakan harapan tanpa perlu menghitung probabilitasnya.

"Mari kita pulang, Ra," bisik Jek. "Ke mana pun itu, asal bersamamu, itu adalah rumah."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!