Lucky Caleb adalah definisi kesempurnaan di Berlin—seorang penyanyi dan aktor papan atas dengan kekayaan melimpah dan popularitas yang menggila.
Namun, di balik kemewahan hidupnya, Lucky adalah pria yang terjebak di masa lalu. Kesuksesan lagu-lagu hitsnya sebenarnya merupakan rahasia yang ia simpan bersama Renata Brox, kekasih masa SMA yang juga merupakan penulis lirik di balik jeniusnya musik Lucky.
Tiga tahun lalu, saat mereka berusia 19 tahun, Renata memilih mundur. Muak dengan tekanan industri dan merasa tidak lagi menjadi prioritas di tengah kesibukan Lucky yang egois, Renata menghilang dan memulai hidup baru sebagai mahasiswi hukum yang cerdas di London.
Di tengah kesepian dan kegagalannya untuk move on, Lucky hanya memiliki Freya, asisten pribadinya yang setia. Freya adalah satu-satunya orang yang mampu menghadapi sisi dingin dan manja Lucky, sosok yang mengatur seluruh hidup sang bintang dan menjadi jangkar di tengah badai ketenaran.
Selamat Bacaaaa 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#4
Studio foto di kawasan Kreuzberg itu tampak sibuk. Kabel-kabel lampu melintang di lantai beton, sementara para kru berlarian membawa properti dan pakaian dari desainer ternama. Di tengah keriuhan itu, sebuah ruangan khusus di sudut gedung menjadi benteng pertahanan terakhir bagi Lucky Caleb.
Ruang ganti itu tertutup rapat, hanya orang-orang dengan akses khusus yang boleh masuk.
Di dalam, Lucky duduk di depan cermin besar yang dikelilingi lampu-lampu pijar putih. Ia mengenakan kemeja sutra hitam yang kancing atasnya sengaja dibiarkan terbuka. Wajahnya yang biasanya terpampang di papan reklame raksasa kini sedang berada di bawah jemari terampil Freya.
Freya, seperti biasa, tampak seperti bayangan yang efisien. Ia mengenakan hoodie kebesaran warna abu-abu yang menenggelamkan bentuk tubuhnya.
Rambutnya diikat asal ke atas dengan sebuah scrunchie hitam. Namun, yang paling mencolok adalah masker kain hitam yang menutupi hampir seluruh wajahnya, ditarik tinggi hingga nyaris menyentuh kelopak mata bawahnya. Hanya matanya yang jernih dan tajam yang terlihat, fokus pada setiap detail riasan di wajah Lucky.
Bagi dunia luar, Freya adalah misteri. Tidak ada satu pun foto paparazzi yang berhasil menangkap wajah asisten pribadi Lucky Caleb. Saat berada di publik, Freya selalu menjadi sosok yang tak terlihat di balik masker dan topi, atau berdiri di titik buta kamera. Penggemar fanatik Lucky sering berspekulasi di internet tentang siapa Gadis Masker yang selalu ada di samping sang idola, namun identitasnya tetap terkunci rapat. Hanya para petinggi agensi dan manajer senior yang pernah melihat wajah aslinya saat penandatanganan kontrak di ruang tertutup.
"Luc, diam sebentar. Aku harus memperbaiki eyeliner-mu," ucap Freya lembut, suaranya sedikit teredam oleh masker.
Lucky, bukannya menurut, malah sengaja memajukan bibirnya. Ia manyun, membuat pipinya sedikit menggembung seperti anak kecil yang sedang protes. Jika ada kamera media di sini, mereka akan menyebut ekspresi ini sebagai tatapan menggoda yang bisa membuat jutaan penggemar pingsan. Namun bagi Lucky, ini adalah cara paling sederhana untuk menggoda Freya.
"Frey, aku mengantuk," keluh Lucky dengan suara sengaja dibuat manja. Pipi yang digembungkan itu membuat Freya sulit mengaplikasikan kuasnya.
"Lucky, jangan cembungin pipi begitu. Nanti garisnya tidak rata," tegur Freya, meski matanya menyiratkan senyum yang tersembunyi di balik masker.
Lucky justru semakin menjadi-jadi. Ia menatap Freya dengan mata sayu, bibirnya masih manyun, menantang kesabaran asistennya. Ia tahu betul Freya tidak suka jika jadwal mereka mundur, tapi ia juga tahu Freya adalah satu-satunya orang yang tidak akan memarahinya dengan kasar.
Karena tidak ada kamera dan orang lain di ruangan itu, Freya menghela napas panjang. Ia menurunkan Maskernya, mendekatkan wajahnya ke arah Lucky hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Tanpa peringatan, Freya meniup bibir Lucky yang sedang manyun itu dengan hembusan napas yang hangat.
Puff.
Lucky langsung menutup mulutnya, terkejut sekaligus geli. Sebuah senyuman lebar akhirnya merekah di wajah dingin sang bintang. Ia tertawa pelan, menundukkan kepalanya sejenak. Ini adalah ritual kecil mereka, sebuah kode rahasia yang hanya dimengerti oleh keduanya di ruang-ruang ganti yang sunyi.
"Nah, sekarang diam," perintah Freya lagi, kali ini dengan nada sedikit lebih tegas namun tetap penuh kasih.
"Kenapa kau selalu pakai masker itu, Frey? Bahkan saat kita hanya berdua seperti ini?" tanya Lucky tiba-tiba, suaranya kembali normal namun penuh rasa ingin tahu. Ia menatap pantulan Freya di cermin. "Kadang aku heran, kau punya wajah yang bisa membuat karirku terancam karena orang-orang akan lebih melihatmu daripada aku, tapi kau malah memilih sembunyi."
Freya terdiam sejenak. Jemarinya kembali bergerak lincah menyapukan kuas di tulang pipi Lucky. "Dunia ini sudah cukup berisik dengan wajahmu, Luc. Biarkan aku jadi orang yang tenang di belakangmu saja. Lagi pula, memakai masker ini memberiku kekuatan super."
"Kekuatan apa?"
"Kekuatan untuk pergi ke supermarket tanpa ada yang mengejarku untuk minta tanda tanganmu," jawab Freya enteng.
Lucky terkekeh. "Kau benar-benar tidak ingin jadi model? Ayahku bilang agensi di Paris bertanya tentang 'asisten misterius' Caleb."
"Jawabannya tetap tidak," Freya menyelesaikan sentuhan terakhirnya. Ia mengambil botol setting spray dan menyemprotkannya ke wajah Lucky. "Sudah selesai. Sekarang ganti sepatumu. Kita keluar dalam dua menit."
Lucky berdiri, namun langkahnya tertahan. Ia menatap Freya yang sedang sibuk merapikan alat-alat make-up. "Kadang aku merasa bersalah, Frey. Kau menghabiskan waktumu untuk mengurus hidupku yang berantakan, sementara kau sendiri seperti tidak punya hidup di luar masker itu."
Freya menghentikan aktivitasnya. Ia mendongak, menatap mata Lucky langsung. Selama beberapa detik, suasana di ruang ganti itu terasa sangat intens. "Hidupku tidak sepi, Luc. Aku melihat dunia lewat cara yang berbeda. Aku melihatmu saat kau sedang lelah, saat kau sedang senang, dan saat kau sedang... manja seperti tadi. Bagiku, itu lebih dari cukup."
Ia kemudian berjalan menuju pintu, membelakangi Lucky agar pria itu tidak melihat binar aneh di matanya. "Ayo, bintang besar. Saatnya bekerja."
Di area pemotretan, suasana langsung berubah menjadi formal. Lucky Caleb yang manja di ruang ganti telah menghilang, digantikan oleh sang profesional yang memiliki tatapan mata tajam dan aura yang mengintimidasi. Setiap kali lampu kilat menyala, Lucky berganti pose dengan presisi yang menakjubkan.
Fotografer ternama dari Paris itu terus memuji, "Magnifique! Lucky, tatap kamera seolah kau sedang merindukan sesuatu yang sangat jauh!"
Lucky melakukannya dengan mudah. Ia hanya perlu memikirkan Renata, dan kesedihan itu akan muncul secara alami di matanya.
Di sudut ruangan, tersembunyi di balik bayangan peralatan pencahayaan, Freya berdiri diam. Maskernya masih terpasang rapat. Ia melipat tangan di dada, mengawasi setiap gerak-gerik Lucky. Ia memperhatikan jika ada helai rambut yang berantakan atau jika keringat mulai muncul di dahi Lucky, siap untuk melompat masuk dan memperbaikinya dalam hitungan detik.
Beberapa staf agensi berbisik-bisik saat melihat Freya. Mereka mengagumi bagaimana gadis itu bisa bertahan dengan sikap dingin Lucky selama bertahun-tahun. Mereka juga penasaran, kecantikan seperti apa yang sebenarnya disembunyikan di balik masker kain hitam itu? Mengapa seseorang yang memiliki postur tubuh seperti model papan atas memilih untuk menjadi bayangan?
Namun, bagi Freya, pujian atau rasa penasaran orang lain tidak ada artinya. Fokusnya hanya satu: memastikan Lucky Caleb tetap tegak berdiri.
Saat sesi istirahat pertama, Lucky langsung berjalan menuju tempat Freya berdiri, mengabaikan asisten fotografer yang mencoba memberinya minum. Ia merampas botol air mineral dari tangan Freya dan meminumnya dengan rakus.
"Aku haus sekali," keluh Lucky setelah mengosongkan setengah botol. Ia mendekat ke arah Freya, merendahkan suaranya agar tidak terdengar staf lain. "Frey, pipiku pegal karena terus-menerus berpose seperti orang depresi."
Freya mengambil tisu dari sakunya dan menepuk-nepuk lembut dahi Lucky. "Itu tuntutan pekerjaan, Luc. Sebentar lagi selesai. Setelah ini kita bisa pulang dan kau bisa tidur sepuasnya."
"Kau akan membuatkan aku pasta?" tanya Lucky dengan nada penuh harap, pipinya kembali sengaja digembungkan sedikit.
Freya memutar matanya, namun tangannya tetap bekerja dengan telaten merapikan riasan di sela-sela pemotretan. "Iya, pasta dengan saus tomat ekstra. Sekarang kembali ke sana. Fotografernya sudah menunggumu."
Lucky tersenyum tipis, sebuah senyum yang hanya ditujukan untuk Freya. Ia berbalik dan kembali ke tengah set, energinya seolah terisi kembali.
Di balik maskernya, Freya menarik napas dalam. Menjadi asisten Lucky Caleb bukan hanya soal mengatur jadwal atau memoles wajah, tapi tentang menjadi satu-satunya tempat bagi sang bintang untuk jatuh tanpa merasa malu. Dan selama Lucky masih membutuhkannya, Freya akan tetap menjadi rahasia yang paling terjaga di Berlin—bayangan yang selalu setia, meskipun wajahnya tak pernah dikenal dunia.
Pemotretan berlanjut hingga larut malam. Berlin mulai mendingin di luar sana, namun di dalam studio itu, sebuah ikatan tanpa nama terus terjalin di antara kilatan cahaya dan bisikan rahasia di balik masker hitam.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
smngt Thor ceritanya bgus bgt