Bagi Azzalia Caesarea, mencintai Regas Adhitama adalah sebuah keberanian sekaligus kesalahan. Regas adalah sang "Pangeran Teknik" yang sempurna, sementara Lia hanyalah mahasiswi Sastra pemegang beasiswa yang hidup sebatang kara.
Saat restu orang tua Regas menjadi dinding tinggi yang tak mungkin dipanjat, Lia memilih mundur. Ia meletakkan tanda titik pada kisah mereka, menolak lamaran Regas, dan pergi mengejar mimpinya ke luar negeri demi harga diri yang sempat diinjak-injak.
Tahun-tahun berlalu, Lia kembali sebagai sosok wanita yang baru dan sukses. Namun, semesta memang senang bercanda. Di sekolah internasional tempatnya mengajar, ia kembali dipertemukan dengan mata tegas itu. Regas berdiri di sana, tetap mempesona, namun dengan satu kejutan yang menyesakkan napas: seorang putri kecil yang memanggilnya "Papa".
Siapkah Lia membuka kembali buku lama yang sudah ia tutup rapat?Dan rahasia apa yang sebenarnya disimpan Regas selama bertahun-tahun kepergian Lia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Malam di pesisir Bali Utara terasa lebih sunyi dari biasanya. Hanya ada suara jangkrik yang bersahut-sahutan dengan deburan ombak yang pecah di kejauhan. Di dalam gubuknya, Lia duduk bersila di depan laptop. Cahaya dari layar monitor menerangi wajahnya yang lelah namun penuh tekad.
Jemarinya mulai menari di atas keyboard. Kata-kata yang selama ini tersumbat oleh rasa takut, kini mengalir deras seperti air bah. Ia tidak lagi menulis tentang kesedihan atau perlakuan dingin keluarga Adhitama. Kali ini, ia menulis tentang ketegaran karang, tentang pelaut yang tak takut badai, dan tentang perempuan yang menemukan rumahnya sendiri di dalam bait-bait sajak.
Namun, tanpa ia sadari, sebuah sajak tercipta dari sudut hatinya yang paling dalam:
"Ada yang tertinggal di gubuk bambu,
Aroma kayu manis dan janji yang semu.
Lilin padam, tapi bara itu tetap menyala,
Membakar sisa harga diri yang tak lagi bersuara."
Lia terhenti. Ia menatap bait itu dengan napas tertahan. Ia segera menghapusnya dengan kasar. "Tidak, Lia. Jangan tulis tentang dia," bisiknya pada diri sendiri.
Ia menggantinya dengan sajak yang lebih kuat. Ia menuangkan seluruh pengetahuannya sebagai sarjana sastra terbaik untuk menciptakan diksi yang tajam namun indah. Baginya, setiap baris kalimat adalah senjatanya untuk tetap berdiri tegak. Jika Regas punya kekuasaan dan harta, maka ia punya kata-kata yang tak bisa dibeli.
Hampir tengah malam, saat naskah awalnya mulai terbentuk, sebuah pesan masuk ke email-nya dari Radit.
"Lia, pihak penerbit sudah melihat draf kasarmu yang tadi kamu lampirkan. Mereka terkesan! Besok tim mereka akan berangkat ke Bali untuk menemuimu. Mereka ingin proses ini cepat. Oh ya, mereka juga mengirimkan uang muka kontrak ke rekeningmu malam ini. Cek ya!"
Lia segera mengecek m-banking-nya. Matanya membelalak melihat angka yang tertera. Itu jumlah yang sangat besar bagi seorang guru sukarelawan sepertinya. Dengan uang ini, ia bisa memperbaiki atap sekolah pesisir dan membeli buku-buku baru untuk anak-anak nelayan tanpa perlu mengharap bantuan siapa pun.
Di saat yang sama, di Jakarta, Regas sedang berdiri di balkon rumah sakit, menatap langit malam yang mendung. Ia memegang ponselnya yang kini tak bisa lagi menghubungi nomor Lia.
"Kamu pikir memutus komunikasi akan membuatku berhenti, Lia?" gumam Regas pelan. Ia tidak tahu bahwa Lia sedang membangun dunianya sendiri yang mungkin akan membuatnya sulit untuk digapai kembali.
Pagi harinya, Lia terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Suara ombak yang biasanya terdengar seperti rintihan, kini terdengar seperti musik penyemangat. Ia segera merapikan gubuknya, menyembunyikan tumpukan buku sastra dan membuang sisa-sisa mawar putih yang mulai mengering ke laut. Ia ingin tempat ini steril dari segala hal yang berbau Regas Adhitama.
Sekitar pukul sepuluh pagi, sebuah mobil van putih berhenti di ujung jalan setapak desa. Radit turun dengan senyum lebar, diikuti oleh dua orang pria berkacamata yang membawa tas kerja.
"Lia! Kamu terlihat... jauh lebih segar dari yang kubayangkan!" seru Radit sambil memeluk singkat temanya nya itu.
"Terima kasih, Dit. Ayo masuk, maaf gubuknya sempit," Lia mempersilakan mereka duduk di teras bambunya.
Kedua orang dari Penerbit Aksara Nusantara itu segera membuka laptop dan menunjukkan draf tata letak buku. "Ibu Azzalia, kami sudah membaca naskah tambahan yang Anda kirim semalam. Sangat kuat. Kami ingin judul bukunya adalah 'Sajak Pesisir: Tentang Pulang dan Menghilang'. Bagaimana?"
Lia mengangguk setuju. Diskusi berlangsung profesional. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Lia merasa dihargai karena otaknya, karena bakatnya sebagai sarjana sastra terbaik, bukan karena kecantikannya yang menarik perhatian anak konglomerat.
"Kami ingin peluncurannya dilakukan di Jakarta, bulan depan," ucap salah satu staf penerbit.
Lia terdiam sejenak. Jakarta. Kota yang ingin ia lupakan, namun kini justru memanggilnya kembali sebagai sosok yang berbeda. "Apakah harus di Jakarta?"
"Tentu. Media sastra dan kritikus ada di sana. Ini panggungmu, Lia. Kamu tidak bisa bersembunyi di balik pasir Bali selamanya jika ingin dunia mendengar suaramu," dukung Radit meyakinkan.
Sementara itu, di sebuah rumah sakit di Jakarta, Regas baru saja keluar dari ruang perawatan Elena. Wajahnya tampak kuyu. Ia menghampiri Abimana yang sedang menunggu di lorong.
"Bagaimana?" tanya Regas pendek.
"Nomor barunya sudah aktif, gas . Tapi sepertinya azzalia sedang sibuk. Radit, teman kuliahnya, terdeteksi berada di Bali bersama tim penerbit. Sepertinya azzalia akan segera menerbitkan bukunya," lapor Abimana pelan.
Regas menyandarkan punggungnya ke dinding rumah sakit. Sebuah senyum bangga tersungging di bibirnya yang pucat. "Bagus. Biarkan dia terbang dengan sayapnya sendiri dulu. Aku tidak akan mengganggunya... sampai waktunya tiba."