Di kehidupan sebelumnya, Jiang Chen adalah Kaisar Alkemis terhebat di Alam Dewa, mampu menciptakan pil legendaris yang bisa menghidupkan orang mati dan memberikan keabadian. Namun, karena terlalu percaya, ia dikhianati oleh murid kesayangannya sendiri yang bersekongkol dengan istrinya. Mereka meracuninya, merebut "Kuali Primordial Semesta" miliknya—artefak ilahi tertinggi—dan membunuhnya tepat saat ia akan mencapai terobosan ke Alam Penguasa Surgawi.
Namun, Kuali Primordial Semesta yang legendaris itu memiliki kesadarannya sendiri. Alih-alih membiarkan jiwa Jiang Chen lenyap, Kuali itu membawa serpihan jiwanya melintasi ruang dan waktu, bereinkarnasi ke dalam tubuh seorang pemuda bernama sama di dunia fana rendahan, ribuan tahun kemudian.
Ironisnya, tubuh barunya ini adalah "sampah" terkenal di klannya, dengan meridian yang hancur dan bakat kultivasi nol. Kini, dengan ingatan dan pengetahuan seorang Kaisar Alkemis, Jiang Chen memulai perjalanannya kembali ke puncak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Memasuki Hutan Binatang Kabut
Pagi hari Turnamen Akbar Kota dimulai, alun-alun utama Kota Awan Bambu dipenuhi oleh lautan manusia. Puluhan ribu warga berkumpul untuk menyaksikan acara tahunan terbesar ini. Di tengah alun-alun, sebuah panggung tinggi telah didirikan, tempat Penguasa Kota dan para petinggi dari berbagai keluarga besar duduk.
Di bawah panggung, lebih dari seratus pemuda dan pemudi dari berbagai keluarga berdiri dengan gugup dan bersemangat. Mereka adalah para peserta, bunga-bunga dari generasi muda Kota Awan Bambu.
Di antara kerumunan peserta, ada beberapa kelompok yang menarik perhatian. Kelompok terbesar adalah dari keluarga Zhang, dipimpin oleh seorang pemuda berwajah dingin bernama Zhang Wei. Matanya yang tajam sesekali menyapu kerumunan, seolah mencari seseorang. Di sampingnya, beberapa junior keluarga Zhang lainnya juga memancarkan aura permusuhan.
Tidak jauh dari sana, Hong Mengyao berdiri sendirian, ekspresinya sedingin es. Gaun putihnya membuatnya tampak seperti bunga lili di tengah kerumunan, tetapi aura tingkat lima yang tajam darinya membuat tidak ada yang berani mendekat. Matanya sesekali melirik ke arah kelompok keluarga Zhang, lalu ke gerbang alun-alun.
Tiba-tiba, kerumunan menjadi sedikit riuh.
Jiang Chen berjalan memasuki alun-alun dengan langkah santai. Ia tidak mengenakan jubah mewah seperti peserta lain, hanya pakaian hitam sederhana. Wajahnya tenang, seolah ia bukan peserta yang akan memasuki pertarungan hidup dan mati, melainkan seorang turis yang sedang menikmati pemandangan.
Kehadirannya langsung menarik semua perhatian.
"Itu Jiang Chen!"
"Dia benar-benar berani datang!"
"Lihat tatapan keluarga Zhang, mereka seperti ingin memakannya hidup-hidup!"
Tatapan Zhang Wei terkunci pada Jiang Chen, dipenuhi kebencian yang membara. Hong Mengyao menatap Jiang Chen dengan ekspresi yang sangat kompleks; ada sedikit keterkejutan melihat ketenangannya, sedikit amarah, dan jejak emosi lain yang bahkan ia sendiri tidak mengerti.
Jiang Chen mengabaikan semua tatapan itu. Ia berjalan ke area pendaftaran seolah tidak ada orang lain di sana.
"Nama." Petugas pendaftaran, yang tahu siapa dia, bertanya dengan nada sedikit gemetar.
"Jiang Chen."
"Afiliasi keluarga?"
"Tidak ada."
Jawaban "Tidak ada" itu menyebabkan gelombang bisikan lain. Ia benar-benar telah meninggalkan keluarga Jiang dan berpartisipasi sebagai seorang kultivator independen. Ini adalah tamparan telanjang bagi wajah keluarga Jiang.
Setelah mendaftar, Jiang Chen berdiri di sudut yang sepi, memejamkan mata dan beristirahat, sama sekali tidak terpengaruh oleh suasana tegang di sekitarnya.
Tak lama kemudian, Penguasa Kota Feng Wuying berdiri. Auranya yang kuat menenangkan seluruh alun-alun.
"Selamat datang di Turnamen Akbar tahunan Kota Awan Bambu!" suaranya menggema. "Seperti yang telah diumumkan, tahap pertama tahun ini akan berbeda. Kalian semua akan memasuki Hutan Binatang Kabut!"
Ia menunjuk ke arah hutan lebat yang menjulang di luar kota, yang sebagian puncaknya tertutup kabut.
"Aturannya sederhana," lanjutnya. "Kalian punya tiga hari. Di dalam hutan, hidup dan matimu ada di tanganmu sendiri. Kalian harus berburu monster dan mengumpulkan inti mereka. Tiga hari dari sekarang, seratus peserta dengan nilai inti tertinggi akan maju ke babak berikutnya. Nilai inti didasarkan pada tingkat monster. Ingat, kerja sama diizinkan, begitu pula... merebut dari peserta lain."
Kalimat terakhir itu membuat banyak mata berbinar licik. Ini berarti pertarungan antar peserta secara resmi diizinkan.
"Setiap dari kalian akan diberi sebuah suar sinyal. Jika kalian berada dalam bahaya mematikan atau ingin menyerah, tembakkan suar itu. Tim penyelamat dari Kediaman Penguasa Kota akan datang menjemputmu, tetapi itu juga berarti kau didiskualifikasi. Sekarang... bersiaplah!"
Dengan lambaian tangannya, gerbang kota yang besar perlahan terbuka, memperlihatkan jalan setapak yang menuju langsung ke mulut Hutan Binatang Kabut.
"Turnamen dimulai!"
Swoosh! Swoosh! Swoosh!
Dalam sekejap, para peserta melesat maju seperti anak panah yang dilepaskan, semua berlomba untuk mendapatkan posisi awal yang baik. Kelompok keluarga Zhang, dipimpin oleh Zhang Wei, melesat ke satu arah, jelas sudah memiliki rencana. Peserta lain membentuk kelompok-kelompok kecil dengan teman-teman mereka.
Jiang Chen tidak terburu-buru. Ia berjalan dengan kecepatan normal. Hong Mengyao meliriknya sekilas sebelum melesat ke arah lain sendirian.
Begitu memasuki hutan, kanopi pohon yang lebat langsung menghalangi sinar matahari, menciptakan suasana yang redup dan lembap. Suara serangga dan auman monster yang samar dari kejauhan menciptakan perasaan bahaya yang nyata.
Sebagian besar peserta tetap berada di pinggiran hutan, berburu monster tingkat satu atau dua yang lebih lemah. Hanya para ahli sejati yang berani masuk lebih dalam.
Jiang Chen, bagaimanapun, berjalan lurus menuju ke kedalaman hutan tanpa ragu-ragu.
Pinggiran hutan tidak memiliki tantangan apa pun baginya. Selain itu, ia tahu bahwa keluarga Zhang pasti akan mencoba menjebaknya di sana. Ia lebih suka pergi ke tempat yang lebih berbahaya di mana ia bisa berlatih dengan benar.
Setelah berjalan selama sekitar satu jam, ia tiba di area yang lebih gelap. Pohon-pohon di sini jauh lebih tua dan lebih besar.
Tiba-tiba, dari semak-semak di sampingnya, lima sosok melompat keluar, mengepungnya. Mereka semua mengenakan lambang keluarga Zhang.
"Jiang Chen! Akhirnya kami menemukanmu!" kata pemimpin kelompok kecil itu, seorang pemuda tingkat empat. "Hari ini adalah hari kematianmu!"
Mereka adalah kelompok umpan yang sengaja ditinggalkan oleh Zhang Wei untuk mencari dan menahan Jiang Chen.
Jiang Chen bahkan tidak berhenti berjalan. "Menyingkir, atau mati."
"Sombong!"
Kelima orang itu menyerang secara bersamaan dari lima arah, teknik bela diri mereka menciptakan jaring serangan yang rapat.
Jiang Chen menghela napas, seolah kecewa. Saat serangan itu hampir mencapainya, tubuhnya tiba-tiba bergetar.
Langkah Bayangan Berkabut.
Dalam sekejap, ia meninggalkan lima bayangan di tempatnya berdiri. Tubuh aslinya muncul di belakang salah satu penyerang.
Pukulan Fondasi Agung.
Sebuah pukulan sederhana menghantam punggung pemuda itu.
KRAK!
Tulang punggungnya patah seketika. Ia jatuh tanpa sempat berteriak, suar sinyal di sakunya hancur berkeping-keping.
Sebelum yang lain bisa bereaksi, Jiang Chen bergerak lagi. Sosoknya berkelip seperti hantu di antara mereka. Empat pukulan lagi terdengar dalam suksesi cepat.
Plak! Plak! Plak! Plak!
Empat sosok lainnya jatuh ke tanah, entah pingsan atau mati, semuanya dikalahkan dalam satu gerakan. Seluruh pertarungan tidak berlangsung lebih dari tiga detik.
Jiang Chen bahkan tidak melirik mereka. Ia mengambil inti monster yang sudah mereka kumpulkan—beberapa inti tingkat satu yang menyedihkan—dan memasukkannya ke dalam kantongnya.
"Terlalu lambat," gumamnya pada dirinya sendiri sambil terus berjalan lebih dalam ke dalam hutan.
Di kejauhan, di atas sebuah pohon tinggi, Zhang Wei dan beberapa anggota inti keluarga Zhang menyaksikan adegan itu dengan teropong khusus.
Wajah Zhang Wei menjadi sangat gelap. "Kekuatannya... dia bahkan lebih kuat dari yang dilaporkan! Kelompok umpan itu bahkan tidak bisa menahannya selama lima detik!"
"Kakak Wei, apa yang harus kita lakukan?" tanya seorang junior di tingkat lima.
"Biarkan dia masuk lebih dalam," kata Zhang Wei dengan dingin. "Semakin dalam dia masuk, semakin sedikit tempat baginya untuk lari. Kita akan memburunya seperti binatang. Aku sudah menyiapkan jebakan yang tidak akan bisa ia hindari. Hari ini, Hutan Binatang Kabut akan menjadi kuburannya."