NovelToon NovelToon
SERABI LEMPIT

SERABI LEMPIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

lanjutkan seorang gadis cantik baru lulus dan sedang mencari kerja dan menemukan masalah karena orangtuanya berhutang dengan lintah darat namun ada bos muda yang membantunya namun bos itu jatuh hati kepadanya gadis cantik itu bernama Mira dan bos besar grup Nusantara itu Romano Kusuma dan ia menginginkan gadis cantik itu dan mengejaran dimulai ...... lanjutkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 13

Pembersihan di tingkat dewan direksi ternyata hanyalah badai kecil sebelum tsunami yang sebenarnya. Keluarga besar Kusuma—para pemegang saham pasif yang selama ini hidup mewah dari dividen Nusantara Group—mulai gerah. Bagi mereka, Romano bukan lagi seorang pemimpin, melainkan pengkhianat yang menyerahkan mahkota keluarga kepada "anak kampung".

Dua minggu setelah konfrontasi dengan Hasan, sebuah undangan makan malam tiba di meja Mira. Bukan dari Romano, melainkan dari Sofia Kusuma, ibu tiri Romano yang selama ini dikenal sebagai "Ratu Es" di kalangan sosialita Jakarta.

"Jangan pergi," ucap Romano pendek saat ia menemukan undangan itu di tangan Mira. Mereka sedang berada di kantor baru Mira yang menghadap langsung ke pasar Sektor Tujuh.

Mira menyesap tehnya, matanya tetap tenang. "Jika aku tidak pergi, mereka akan terus menyerang lewat jalur belakang. Sofia memegang sisa 15% saham yang bisa menjadi penentu jika mereka mencoba melakukan kudeta di rapat umum pemegang saham bulan depan."

Romano berjalan mendekat, merenggut undangan itu dan meremasnya. "Sofia bukan Wijaya, Mira. Dia tidak menggunakan preman pasar. Dia menggunakan racun yang lebih halus—reputasi, skandal, dan hukum yang dipelintir. Dia akan menghancurkanmu di depan publik agar warga Sektor Tujuh malu memiliki pemimpin sepertimu."

"Kalau begitu, aku harus menunjukkan padanya bahwa aku tidak punya rasa malu untuk sesuatu yang benar," Mira berdiri, merapikan blazernya. "Dan kau akan menemaniku, Romano. Sebagai CEO, dan sebagai anak yang ingin dia hancurkan juga."

Makan malam di kediaman utama Kusuma terasa seperti perjamuan di sarang ular. Meja panjang itu dipenuhi perak dan kristal, namun suasana di sana begitu dingin hingga napas pun terasa berat. Sofia duduk di ujung meja, mengenakan gaun sutra hitam dengan tatapan yang bisa membekukan darah.

"Jadi, inilah gadis yang membuat putraku kehilangan akal sehatnya," suara Sofia lembut, namun tajam seperti silet. "Mira, bukan? Aku harus mengakui, kau punya keberanian. Tapi keberanian tanpa silsilah hanyalah... kenekatan yang menyedihkan."

Mira membalas tatapan itu tanpa berkedip. "Saya tidak butuh silsilah untuk memahami angka laba rugi, Nyonya Kusuma. Dan saya yakin, silsilah Anda juga tidak membantu saat Nusantara Group hampir bangkrut karena korupsi Wijaya yang Anda lindungi."

Dentuman sendok yang diletakkan Sofia bergema di ruangan yang sunyi itu. Romano, yang duduk di samping Mira, hanya tersenyum tipis, menikmati setiap detik ibunya kehilangan kendali.

"Romano," desis Sofia. "Kau membiarkan wanita ini menghina keluargamu di rumahmu sendiri?"

"Dia bukan menghina, Ibu. Dia sedang menyatakan fakta," sahut Romano santai. "Dan secara teknis, ini bukan lagi rumahku. Aku sudah mengalihkan kepemilikan bangunan ini ke atas nama Yayasan Rahayu sebagai jaminan denda administratif kemarin."

Sofia terbelalak. Wajahnya yang biasanya kaku kini memerah karena amarah yang luar biasa. "Kau... kau memberikan rumah keluarga ini pada yayasan kumuh itu?!"

"Rumah ini dibangun di atas air mata orang-orang Sektor Tujuh, Nyonya," sela Mira, suaranya naik satu oktav namun tetap terkendali. "Sekarang, rumah ini akan menjadi sekolah kejuruan bagi anak-anak mereka. Anda punya waktu satu minggu untuk mengemas barang-barang Anda."

Sofia berdiri, tangannya gemetar. "Kalian pikir kalian sudah menang? Aku punya bukti bahwa pengalihan saham itu dilakukan di bawah ancaman. Aku akan membawa ini ke pengadilan internasional. Aku akan memastikan kalian berdua berakhir di penjara karena konspirasi!"

Mira mengeluarkan sebuah amplop kecil dari tasnya—bukan dokumen hukum, melainkan salinan catatan transfer gelap dari Sofia kepada Arkan enam bulan lalu. "Anda yang mendanai Arkan untuk menyabotase proyek ini sejak awal, bukan? Anda ingin Romano gagal agar Anda bisa menempatkan keponakan Anda sebagai CEO."

Mira meletakkan amplop itu di atas piring Sofia. "Jika Anda menyebut kata 'konspirasi' sekali lagi di depan jaksa, dokumen asli ini akan sampai ke tangan mereka lebih cepat daripada pengacara Anda bisa mengetik pembelaan."

Sofia jatuh kembali ke kursinya, seluruh keangkuhannya luruh dalam sekejap. Di ruangan itu, hanya ada keheningan yang memekakkan telinga.

Saat Mira dan Romano berjalan keluar menuju mobil, udara malam Jakarta terasa lebih segar. Romano berhenti di depan pintu mobil, menatap Mira dengan ekspresi yang sulit diartikan.

"Kau benar-benar mengusirnya dari rumah ini," gumam Romano. "Aku bahkan tidak pernah berani memikirkan hal itu."

"Aku tidak mengusirnya," balas Mira, menatap gerbang megah yang sebentar lagi akan berubah fungsinya. "Aku hanya mengembalikan apa yang seharusnya tidak pernah mereka miliki."

Romano menarik napas panjang, lalu tiba-tiba ia menarik Mira ke dalam pelukannya. Bukan pelukan posesif seperti biasanya, melainkan pelukan seseorang yang akhirnya merasa bebas dari beban masa lalu. Mira sempat membeku, namun perlahan ia membalasnya, menyandarkan kepalanya di bahu pria yang kini menjadi satu-satunya orang yang benar-benar memahami kegelapan di hatinya.

"Kita sudah menghancurkan segalanya, Mira," bisik Romano di telinganya. "Sekarang, apa yang tersisa?"

Mira melepaskan diri perlahan, menatap mata Romano yang kini tampak lebih manusiawi. "Yang tersisa adalah membangun sesuatu yang tidak perlu kita sembunyikan di gudang bawah tanah, Romano."

Transformasi Nusantara Group menjadi wajah baru kapitalisme yang berhati nurani mulai memicu riak di pasar saham. Namun, ketenangan itu terusik saat sebuah laporan investigasi dari media ekonomi terkemuka merilis tajuk utama: "Aliansi Berdarah: Apakah Kejayaan Baru Nusantara Group Dibangun di Atas Skandal Pembunuhan?"

Seseorang telah membocorkan sebagian isi gudang arsip. Meski tidak lengkap, narasi yang terbentuk di publik adalah Mira dan Romano bekerja sama untuk menutupi jejak kriminal masa lalu demi menguasai saham perusahaan.

"Ini bukan Sofia. Dia terlalu pengecut untuk membakar rumahnya sendiri," ucap Romano, berdiri di balkon kantor Mira sambil menatap kerumunan wartawan di bawah.

Mira duduk di mejanya, jemarinya bergerak cepat di atas papan ketik. "Ini kompetitor. Globalindo. Mereka menggunakan sisa-sisa koneksi Arkan untuk menyerang kita saat kepercayaan investor sedang tinggi-tingginya."

Mira berdiri, berjalan menuju Romano. "Kita harus melakukan konferensi pers. Sekarang. Sebelum berita ini menghancurkan reputasi Sektor Tujuh."

"Mira, jika kau membuka kebenaran tentang ibumu sekarang, kau akan menghancurkan Hasan. Dan jika Hasan jatuh sebagai pengkhianat, seluruh moral warga Sektor Tujuh akan runtuh. Mereka akan merasa perjuangan mereka selama ini dipimpin oleh seorang algojo," Romano memperingatkan, tangannya mencengkeram pagar balkon.

"Aku tahu. Itulah sebabnya kita tidak akan membuka semuanya," Mira menatap Romano dengan mata yang berkilat tajam. "Kita akan memberikan mereka satu kepala untuk dikorbankan, tapi bukan kepala yang mereka harapkan."

Satu jam kemudian, lobi Nusantara Group dipenuhi lampu kilat kamera. Mira berdiri di podium, didampingi oleh Romano. Di barisan depan, Hasan duduk dengan wajah pucat, tangannya gemetar hebat. Ia tahu ini adalah saat di mana Mira bisa menghancurkannya.

"Semua rumor yang Anda dengar tentang kecelakaan ibu saya adalah benar," Mira memulai, suaranya menggema tanpa keraguan. Napas seluruh ruangan seolah tertahan. "Itu bukan kecelakaan. Itu adalah sabotase yang diperintahkan oleh rezim lama Nusantara Group."

Mira menjeda, melirik ke arah Hasan yang sudah memejamkan mata, siap menerima vonisnya. Namun, Mira melanjutkan dengan nada yang berbeda.

"Namun, bukti yang kami temukan menunjukkan bahwa pelaksana di lapangan juga merupakan korban pemerasan. Nama-nama mereka telah kami serahkan ke pihak kepolisian pagi ini—semuanya adalah mantan staf keamanan yang sudah lama meninggal atau menghilang. Adapun Tuan Hasan, sebagai perwakilan warga, adalah orang yang selama dua puluh tahun ini menyimpan bukti tersebut secara rahasia karena ancaman nyawa terhadap keluarganya."

Mira menoleh pada Hasan, memberinya isyarat untuk berdiri. "Tuan Hasan adalah pahlawan yang menunggu waktu yang tepat. Dan hari ini, atas kerja sama beliau, Nusantara Group secara resmi mengakui kesalahan masa lalu dan akan memberikan kompensasi penuh kepada seluruh keluarga korban dari era tersebut."

Hasan terpana. Ia menatap Mira dengan tatapan tak percaya. Mira tidak menghancurkannya; ia justru memberinya topeng pahlawan yang baru—sebuah penjara moral yang lebih berat daripada jeruji besi, karena kini Hasan harus mengabdikan sisa hidupnya untuk menjaga kebohongan mulia itu demi kebaikan warga.

Setelah konferensi pers selesai dan massa bubar, Romano menarik Mira ke ruang privat. "Kau baru saja memberikan amnesti kepada pembunuh ibumu, Mira. Kenapa?"

"Karena dendam tidak akan memberi makan warga Sektor Tujuh, Romano," Mira menyandarkan punggungnya ke pintu, tampak sangat lelah. "Jika aku memenjarakan Hasan, pasar akan tutup, kepercayaan akan hilang, dan kita akan kembali ke titik nol. Aku memilih untuk mengubah seorang pendosa menjadi pelayan yang setia. Itu adalah keadilan yang paling menguntungkan."

Romano mendekat, menyentuh pipi Mira dengan lembut. "Kau jauh lebih menakutkan daripada ayahku, Mira. Dia membunuh musuhnya, tapi kau... kau mencuri jiwa mereka dan membuat mereka bekerja untukmu."

Mira memejamkan mata, menikmati sentuhan tangan Romano yang hangat. "Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan agar api ini tetap menyala."

"Api itu tidak akan padam," bisik Romano. Ia kemudian mengeluarkan sebuah cincin perak sederhana dari saku jasnya—bukan berlian mahal, melainkan cincin dengan ukiran motif batik yang sama dengan pasar Berdikari. "Keluarga Kusuma sudah mati bagiku. Nusantara Group sekarang milikmu. Tapi aku... aku ingin tahu apakah masih ada ruang bagi pria yang membantumu membakar masa lalu ini?"

Mira melihat cincin itu, lalu menatap Romano. Tidak ada lagi kontrak bisnis, tidak ada lagi dendam sejarah. Hanya ada dua orang yang telah melihat kegelapan terdalam masing-masing dan memilih untuk tetap tinggal.

"Cincin itu tidak akan menjadikanku tawananmu, kan?" tanya Mira dengan senyum tipis.

"Tidak," jawab Romano, menyematkan cincin itu di jari manis Mira. "Itu akan menjadikanku pengawalmu. Karena seorang ratu seperti kau butuh seseorang yang berani mengotori tangannya agar tanganmu tetap bersih."

Di luar, hujan mulai turun membasahi Jakarta, membersihkan debu-debu konstruksi di Sektor Tujuh. Di dalam menara yang dulu angkuh itu, sebuah era baru telah benar-benar dimulai—era di mana cinta dan ambisi berpadu dalam aliansi yang paling mematikan sekaligus paling indah yang pernah ada.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!