Arsy Raihana Syahira percaya hidupnya akan sempurna. Pernikahan yang tinggal menghitung hari mendadak batal, setelah ia memergoki calon suaminya sendiri berselingkuh dengan sahabat yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati.
Belum sempat Arsy bangkit dari keterpurukan, cobaan lain kembali menghantam. Ayahnya mengalami serangan jantung dan terbaring kritis setelah mengetahui pengkhianatan yang menimpa putri kesayangannya. Dalam satu waktu, Arsy kehilangan cinta, kepercayaan, dan hampir kehilangan orang yang paling ia cintai.
Di tengah kehancuran itu, datanglah Syakil Arrafiy—CEO sekaligus teman semasa sekolah, dan lelaki yang diam-diam telah mencintai Arsy sejak lama. Mendengar kabar tentang Arsy, Syakil datang ke rumah sakit tanpa ragu. Di hadapan ayah Arsy yang terbaring lemah, Syakil mengucapkan sebuah permohonan yang tak pernah Arsy bayangkan sebelumnya: melamar Arsy sebagai istrinya.
Maukah Arsy menerima lamaran pernikahan dari laki laki yang telah lama mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Tanpa menunggu lagi, Syakil berbalik dan membuat Omar mengikuti di belakangnya. Langkah mereka terlihat cepat saat menyusuri lorong rumah sakit. Sepatu pantofel mahal Syakil terdengar mantap di lantai keramik. Beberapa keluarga pasien yang duduk di kursi lorong menoleh saat ia lewat. Wajahnya serius. Rahangnya mengeras. Semakin mendekati ruang IGD, detak jantungnya semakin terasa di telinganya.
Bagaimana kondisi Pak Rahman? Dan yang lebih penting, Di mana Arsy sekarang? Ruang IGD terlihat jelas di ujung lorong. Syakil mempercepat langkahnya dan membuat Omar harus menambah kecepatan langkah kakinya agar tidak tertinggal.
Sesampainya di depan ruang IGD, Syakil tidak berhenti lama. Tanpa ragu, ia membuka pintu dan masuk ke dalam dan diikuti oleh Omar. Ruangan itu terasa dingin. Bau obat-obatan yang tercium kuat, menusuk indra penciuman Syakil. Pandangan Syakil langsung tertuju pada satu ranjang di tengah ruangan, dimana seorang pria paruh baya terbaring lemah di sana.
Pak Rahman.
Tubuhnya tampak jauh lebih kurus dari yang pernah Syakil lihat dulu saat masa sekolah. Wajahnya pucat. Selang oksigen terpasang di hidungnya. Kabel-kabel medis menempel di dada dan lengannya. Monitor jantung menampilkan garis yang naik turun tidak stabil. Syakil berhenti beberapa langkah dari ranjang.
Untuk sesaat, dadanya terasa berat. Ia pernah bertemu dengan pak Rahman beberapa kali dulu. Pria yang tegas tapi hangat. Yang selalu menjemput Arsy dengan motor tua di depan sekolah. Yang wajahnya selalu terlihat bangga saat menatap putrinya. Melihat pria itu kini terbaring tak berdaya seperti ini membuat sesuatu mengeras di dada Syakil. Kondisinya benar-benar mengkhawatirkan.
Syakil melangkah lebih dekat. Ia berdiri di sisi ranjang untuk memperhatikan kondisi ayah Arsy dari dekat.
“Ya tuhan, kenapa orang sebaik ini harus menderita?” gumam Syakil pelan hampir tak terdengar.
Omar yang berdiri sedikit di belakangnya, juga ikut memandang pak Rahman dengan wajah prihatin. Perawat yang berjaga sempat melirik mereka, namun melihat penampilan dan sikap Syakil yang tidak sembarangan, membuatnya tidak berani untuk menegur. Beberapa saat kemudian Syakil akhirnya menarik kursi yang ada di samping ranjang dan duduk. Kursi itu masih sedikit hangat. Seolah baru saja diduduki seseorang.
Arsy.
Pikiran itu langsung muncul di benak Syakil dan membuatnya mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruang IGD untuk mencari keberadaan Arsy, namun Syakil sama sekali tidak melihatnya.
Ke mana Arsy? Bukankah tadi informannya menyebutkan kalau ia ada di sini. Ia pasti tidak mungkin meninggalkan ayahnya sendirian dalam kondisi seperti ini. Syakil berdiri lagi dan berjalan beberapa langkah ke sisi lain ruangan. Pandangannya menyapu setiap sudut dengan cemas. Ia berdiri di dekat ranjang Pak Rahman cukup lama. Terlalu lama, sampai Omar yang sejak tadi memperhatikannya akhirnya berdeham pelan.
“Tuan,” panggil Omar dengan suara rendah, mencoba tidak mengganggu suasana ruang IGD yang sudah cukup tegang.
Syakil tidak langsung menoleh. Tatapannya masih tertuju pada monitor jantung yang berbunyi ritmis tapi tidak stabil. Garis-garis itu naik turun, seolah sedang mempermainkan harapan siapa pun yang melihatnya.
“Tuan,” ulang Omar yang kali ini memutuskan untuk mendekati Syakil. “Mungkin sebaiknya Tuan duduk dulu. Nona Arsy kemungkinan akan kembali ke sini.”
Syakil akhirnya menoleh. Sorot matanya tajam, tapi jelas terlihat kegelisahan yang tidak bisa ia sembunyikan.
“Dia nggak mungkin pergi jauh dari ayahnya,” gumam Syakil lebih ke dirinya sendiri. “Tapi kenapa dia nggak ada di sini?”
Omar menarik kursi di dekat Syakil, lalu mendorongnya pelan.
“Duduklah sebentar, Tuan. Berdiri mondar-mandir seperti ini tidak akan menyelesaikan apa pun.”
Syakil menghela napas panjang. Ia tahu Omar benar. Tapi tubuhnya seperti menolak untuk diam. Setiap detik terasa menyiksa. Setiap bunyi langkah kaki di luar ruang IGD membuat jantungnya berdebar, berharap itu Arsy yang kembali. Namun akhirnya, dengan enggan, Syakil duduk kembali di kursi yang tadi ia tinggalkan. Tangannya bertumpu di lututnya. Jarinya saling mengait, lalu terlepas lagi. Ia merasa tidak tenang.
“Dia pasti sendirian,” ucap Syakil tiba-tiba, suaranya pelan tapi penuh keyakinan. “Kalau ayahnya seperti ini, Arsy pasti menanggung semua kesedihannya sendiri.”
Omar menatap tuannya sekilas. Ia sudah lama bekerja untuk Syakil. Ia tahu kapan Syakil sedang berpikir sebagai seorang pengusaha, dan kapan ia berpikir sebagai seorang laki-laki yang sedang jatuh cinta.
“Apakah tuan ingin saya carikan informasi tentang nona Arsy lagi?” tanya Omar dengan hati-hati.
Syakil menggeleng pelan. Ia berdiri lagi. Kali ini lebih mantap, seolah sudah mengambil keputusan.
“Tidak, Aku sendiri yang akan mencarinya.” jawab Syakil yang membuat Omar berdiri mengikutinya.
“Tuan—”
“Aku nggak bisa menunggu di sini, Omar.” potong Syakil. “Kalau Arsy sedang merasa putus asa, aku harus tahu. Aku harus ada di dekatnya.”
Tanpa menunggu jawaban, Syakil melangkah keluar dari ruang IGD. Pintu tertutup di belakang mereka, kembali menyisakan Pak Rahman yang terbaring tak berdaya di bawah pengawasan alat-alat medis. Lorong rumah sakit terasa lebih dingin dari sebelumnya. Lampu-lampu putih memantul di lantai keramik dan menciptakan suasana yang asing sekaligus menyesakkan. Syakil melangkah cepat, matanya menyapu setiap wajah yang lewat. Setiap perempuan yang berpapasan membuatnya refleks menoleh, berharap itu Arsy. Tapi setiap kali ia menyadari kalau orang yang ditemuinya itu bukanlah Arsy, harapan itu runtuh lagi.
“Permisi,” ucap Syakil akhirnya kepada seorang perawat yang sedang berdiri di dekat ruang perawat.
Perawat itu menoleh, sedikit terkejut melihat sosok tinggi berwibawa dengan setelan jas rapi berdiri di hadapannya.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?”
“Saya mencari keluarga pasien atas nama Pak Rahman Syahira,” kata Syakil langsung ke inti pembicaraan. “Anak pak Rahman yang Arsy Raihana Syahira, apakah dia masih berada di rumah sakit ini?” tanya Syakil yang membuat perawat itu tampak berpikir sejenak, lalu mengangguk.
“Oh, mbak Arsy, dia tadi dipanggil dokter ke ruang konsultasi di lantai ini, ujung lorong sebelah kanan.”
Jawaban itu membuat dada Syakil sedikit mengendur. Setidaknya sekarang ia tahu Arsy tidak menghilang.
“Terima kasih,” ucapnya singkat.
Syakil langsung melangkah ke arah yang ditunjuk oleh perawat itu, sementara Omar mengikuti Syakil dari belakang sembari menjaga jarak. Ia bisa merasakan ketegangan di tubuh tuannya semakin meningkat seiring langkah mereka mendekati ruang dokter. Namun belum sempat mereka sampai, pintu salah satu ruangan di ujung lorong itu terbuka.
Dan di sanalah Syakil berhenti.
Beberapa meter di depannya, seorang perempuan melangkah keluar dengan langkah yang nyaris terseret. Perempuan itu adalah Arsy. Untuk sesaat, dunia Syakil seperti berhenti berputar. Perempuan itu terlihat jauh berbeda dari Arsy yang ia simpan dalam ingatannya. Tidak ada senyum di bibirnya. Tidak ada tatapan cerah yang biasa ia lihat di kedua matanya. Wajah perempuan itu terlihat pucat dan nyaris tanpa darah. Matanya sembab, memerah, dan jelas baru saja menangis dalam waktu yang lama. Bahunya turun, seolah menanggung beban yang terlalu berat untuk tubuh sekecil itu.
dpsng alat monitor jantung, aku yg bntu jaga di rs tiap mlm/Pray//Cry/
Lihat anakmu pak😭
Kami lah nyalahin si Radit