Dianggap sebagai sampah karena meridiannya yang hancur, Ling Tian hidup dalam penghinaan dan keputusasaan. Namun, takdirnya yang kelam berubah selamanya saat ia secara tak sengaja membangkitkan Mutiara Naga Kosmik, sebuah artefak ilahi yang menyimpan jiwa Naga Purba dan rahasia ruang-waktu.
Dengan warisan yang menentang langit ini, perjalanan Ling Tian dimulai. Dari seorang pemuda yang dicemooh, ia bangkit untuk membalas dendam, mengguncang sekte, dan menaklukkan kerajaan. Perjalanannya membawanya melintasi dunia fana menuju alam abadi, di mana setiap langkah adalah pertaruhan antara hidup dan mati. Ini adalah kisah tentang bagaimana seorang sampah bisa naik menjadi penguasa kosmos, mengungkap konspirasi universal, dan memegang takdir jutaan dunia di tangannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Sampah Klan Ling
Di Lapangan Latihan Klan Ling, Kota Awan Bambu, kerumunan orang berkumpul di bawah terik matahari pagi. Hari ini adalah hari Ujian Tahunan, sebuah acara di mana para junior klan akan menunjukkan kemajuan kultivasi mereka selama setahun terakhir. Ini adalah hari kemuliaan bagi para jenius dan hari penghakiman bagi yang tertinggal.
Di tengah lapangan, berdiri sebuah monolit hitam setinggi tiga meter yang disebut Batu Uji Qi. Permukaannya yang halus memantulkan wajah-wajah tegang para junior yang menunggu giliran.
"Selanjutnya, Ling Tian!"
Suara seorang tetua menggema, menyebabkan kerumunan yang tadinya riuh menjadi sunyi sesaat, sebelum akhirnya meledak dalam bisikan dan tawa kecil yang tertahan.
Dari barisan para junior, seorang pemuda kurus berusia enam belas tahun berjalan maju. Wajahnya pucat, pakaiannya sederhana, dan matanya menatap lurus ke depan, berusaha mengabaikan tatapan merendahkan dari sekelilingnya.
Inilah Ling Tian, aib terbesar Klan Ling. Tiga tahun yang lalu, ia adalah jenius nomor satu, berhasil mencapai tingkat ketiga Alam Pemurnian Qi pada usia tiga belas tahun. Namun, sebuah insiden misterius saat berlatih membuat meridian di seluruh tubuhnya rusak parah. Sejak saat itu, kultivasinya tidak hanya mandek, tetapi juga terus menurun. Kini, ia bahkan kesulitan untuk mempertahankan tingkat pertama Alam Pemurnian Qi.
"Lihat, si sampah itu berani muncul juga."
"Apa gunanya? Setiap tahun hasilnya sama. Dia hanya akan mempermalukan garis keturunan kita."
"Dulu jenius, sekarang sampah. Benar-benar ironis."
Ling Tian berpura-pura tuli. Ia menarik napas dalam-dalam, meletakkan telapak tangannya di permukaan Batu Uji Qi yang dingin, dan mencoba menyalurkan sisa-sisa Qi yang ada di Dantian-nya.
Bzzzt...
Batu Uji Qi bergetar samar. Sebuah cahaya putih yang redup dan menyedihkan muncul di permukaannya, tingginya tidak sampai sejengkal, sebelum akhirnya padam seperti lilin yang tertiup angin.
Hasil: Alam Pemurnian Qi, Tingkat Pertama - Awal.
Keheningan sesaat diikuti oleh tawa yang meledak tanpa ditahan-tahan lagi.
"Hahaha! Tingkat Pertama! Bahkan lebih buruk dari tahun lalu!"
"Dia benar-benar memecahkan rekor, rekor sebagai sampah paling konsisten dalam sejarah klan kita!"
Wajah Ling Tian memerah karena malu dan marah. Ia mengepalkan tangannya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, kuku-kukunya menusuk telapak tangannya hingga berdarah. Ia menundukkan kepalanya, tidak berani menatap wajah kecewa ayahnya, sang kepala klan, yang duduk di panggung utama.
"Cukup!"
Sebuah suara angkuh memotong tawa itu. Seorang pemuda tampan berjubah sutra berjalan maju dengan dagu terangkat. Dia adalah Ling Feng, sepupu Ling Tian dan jenius paling cemerlang di klan saat ini.
Ling Feng melirik Ling Tian dengan tatapan jijik. "Sepupu Ling Tian, kamu tidak perlu berkecil hati. Jalan kultivasi memang tidak untuk semua orang. Mungkin kamu lebih cocok menyapu halaman atau bekerja di dapur."
Kata-kata itu bagaikan tamparan keras di wajah Ling Tian.
Ling Feng tidak memedulikannya dan dengan percaya diri meletakkan tangannya di Batu Uji Qi.
WUUUSSSHH!
Seketika, cahaya putih yang menyilaukan meledak dari batu itu, membumbung tinggi hingga mencapai tanda satu setengah meter. Cahaya itu stabil dan murni, menandakan fondasi yang sangat kokoh.
"Alam Pemurnian Qi, Tingkat Keenam - Puncak! Astaga!"
"Jenius! Ling Feng benar-benar jenius!"
"Dia pasti akan diterima di Sekte Pedang Langit tahun depan!"
Pujian mengalir deras untuk Ling Feng. Ia menikmati momen itu, lalu menoleh kembali ke Ling Tian.
"Lihat, Ling Tian? Inilah perbedaan antara naga dan cacing. Sebaiknya kau terima saja nasibmu. Oh, aku hampir lupa," Ling Feng tersenyum sinis, "Nona Muda Murong dari Klan Murong sudah secara resmi membatalkan pertunangan kalian. Dia berkata, dia tidak mungkin menikah dengan seekor sampah yang tidak memiliki masa depan."
Boom!
Hinaan terakhir ini terasa seperti sambaran petir di siang bolong. Itu adalah penghinaan terbesarnya. Pertunangan itu adalah sisa terakhir dari harga dirinya sebagai mantan jenius.
"Ling Feng!" raung Ling Tian, matanya memerah karena amarah. Ia tidak bisa menahannya lagi dan menerjang maju, melayangkan tinju yang lemah ke arah Ling Feng.
Ling Feng hanya tersenyum dingin. Tanpa bergerak dari tempatnya, ia melepaskan gelombang Qi dari tubuhnya.
BAM!
Ling Tian terlempar ke belakang seolah-olah ditabrak seekor banteng liar. Ia jatuh dengan keras beberapa meter jauhnya, memuntahkan seteguk darah. Kekuatan tingkat pertama tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan tingkat keenam.
"Hmph, bahkan tidak bisa menahan auraku. Benar-benar sampah," cibir Ling Feng sambil membersihkan jubahnya yang bahkan tidak tersentuh.
Para tetua di panggung utama hanya menggelengkan kepala, tidak ada satupun yang membela Ling Tian. Di dunia ini, yang lemah tidak memiliki hak untuk berbicara.
Dengan susah payah, Ling Tian bangkit. Darah menetes dari sudut bibirnya, tetapi tatapan matanya tidak lagi dipenuhi keputusasaan. Rasa malu dan sakit yang membakar di dadanya telah berubah menjadi sesuatu yang lain—sebuah ketidakrelaan yang membara hingga ke tulang.
Aku tidak terima!
Jika langit ingin aku menjadi sampah, maka aku akan menentang langit! Jika takdir ingin aku hancur, maka aku akan menghancurkan takdir!
Sambil terhuyung-huyung, ia meninggalkan lapangan latihan di bawah tatapan penuh cemoohan. Ia tidak pergi ke kediamannya, melainkan berlari keluar dari kompleks Klan Ling, menuju satu-satunya tempat di mana ia bisa menemukan ketenangan: Hutan Kabut Hitam di belakang gunung.
Tanpa ia sadari, tetesan darah yang jatuh dari telapak tangannya saat ia mengepalkan tinju tadi, telah meresap ke dalam sebuah mutiara kusam berwarna keabu-abuan yang ia kenakan sebagai kalung—satu-satunya peninggalan dari ibunya yang telah meninggal.
Saat ia memasuki kedalaman hutan yang gelap, mutiara di lehernya tiba-tiba bergetar dan memancarkan cahaya redup yang hanya bisa dilihat oleh dirinya sendiri.