NovelToon NovelToon
CINTA DI TEPI DOSA

CINTA DI TEPI DOSA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dosen / Balas Dendam
Popularitas:637
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Nazwa Adzira Putri, atau sering di panggil Zira, adalah seorang wanita yang dulunya berselimut cahaya. Dengan nama pena Nana, dia menginspirasi banyak orang dengan kata-katanya yang bijak dan agamanya yang kuat. Namun, kebenaran pahit tentang ayahnya - seorang yang mengkhianati ibunya dengan perselingkuhan, merobek tirai kesucian itu. Luka itu membawanya ke jurang kegelapan, meninggalkan hijab dan agamanya, dan masuk ke dunia malam yang gelap. Tapi, di tengah-tengah badai itu, ada secercah harapan. Nathan Fernandez, anak kyai yang sholeh dan dingin, menjadi sosok yang menarik perhatiannya. Mata teduh dan menenangkan itu menjadi tempat pelariannya, dan tanpa disadari, cinta mulai tumbuh, membawa harapan baru di tengah-tengah kegelapan. Penasaran dengan kelanjutan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Tak Terduga

Pesta telah usai, dan Zira memutuskan untuk pulang. "Ya, gue pulang dulu yah, udah larut banget," ucap Zira dengan nada lelah.

Aliya mencoba membujuknya, "Gak nginep dulu? Zita juga mau nginep di tempat gue lohh."

Zira menolak, "Gak deh, lagi gak mood."

Aliya tidak menyerah, "Semangat dong, masih ada 2 Minggu lagi zir, semangat dong."

Zira tersenyum, "Iyah gue semangat kok, thanks yah guys."

Setelah berpamitan, Zira menuju mobilnya. Namun, dalam perjalanan pulang, mobilnya tiba-tiba mogok di tengah jalan. "Sial banget gue hari ini, udah cinta di tolak malah mobilnya tambah bocor lagi, ishhhh," ucap Zira dengan kesal.

Zira keluar dari mobil dan melihat ban yang kempes. Karena tidak tahu cara menggantinya, dia memutuskan untuk meminta pertolongan dari mobil yang sedang melintas.

"Berhenti dong," ucap Zira sambil melambaikan tangannya.

Mobil itu berhenti, dan Zira kaget ketika melihat bahwa itu adalah mobil Pa Nathan.

"Ada apa, kenapa gak pulang malah berdiri di jalan?" tanya Pa Nathan.

"Ban mobil saya kempes pa, saya gak tau cara gantinya gimana?" jawab Zira.

Pa Nathan tidak membalas ucapan Zira, melainkan langsung menuju area ban yang kempes dan menggantinya.

"Sudah saya ganti, sekarang kamu bisa pulang," ucap Pa Nathan.

Zira berterima kasih, "Terimakasih pak, maaf soal tadi di pesta gak usah nanggapi serius yah, saya tau jawabannya. Sekali lagi terimakasih, saya pamit pulang dulu, assalamualaikum."

Pa Nathan menjawab, "Waalaikumsalam."

Dalam perjalanan pulang, Zira kaget ketika melihat mobil Pa Nathan mengikuti mobilnya. "Demi apa itu mobil pak Nathan? Kalau iya, so sweet bangettt sihh, tapi jangan kegeeran dulu zir, barang kali satu jalan," ucap Zira pada dirinya sendiri dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan.

Keesokkan harinya Zira bangun dengan senyum yang ceria karena kejadian tadi malam. "Pagi, mah dek," sapa Zira ke Mama Sarah dan Aryan.

"Pagi sayang, tumben bangun-bangun ceria terus," ucap Mama Sarah.

"Iyah mah, pagi ini pagi yang indah bagi zira, yukk makan nanti telat berangkat kampusnya, dek kamu mau nebeng sama Kakak atau anter pa Yanto?" tanya Zira.

"Sama pa Yanto aja kak," jawab Aryan.

"Okey deh," Ucap Zira.

Setelah selesai makan, Zira berpamitan pada Mama Sarah dan Aryan. "Zira berangkat dulu mah, assalamualaikum," ucap Zira.

"Waalaikumsalam," jawab Mama Sarah.

Sesampainya di kampus, Zira tak sengaja berpapasan dengan Pa Nathan. "Pagi pa Nathan, terimakasih untuk tadi malam dan dianter sampai rumah," ucap Zira dengan senyuman yang ceria.

"Siapa yang anter kamu sampai ke rumah? Saya cuman kebetulan lewat situ," jawab Nathan sambil menutupi kebenarannya dan terus berjalan menuju kantor dosen.

"Pagi guys," sapa Zira ke dua sahabatnya.

"Ceria banget zir, tumben," Ucap Aliya.

"Iyah dong gue tadi malam dianter mas doi," Jawab Zira.

"Serius, demi apa?" tanya Aliya dan Zita dengan nada penasaran.

"Sebenarnya sih ban gue kempes dan di bantu pa Nathan untuk mengganti bannya dan pulangnya diam-diam pa Nathan buntuti mobil aku sampai rumah guys, ahh seneng banget aku," ucap Zira panjang lebar.

"Brarti ada kemajuan dong zir," ucap Aliya.

"Doa in aja yah guys," jawab Zira dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan.

Zira dan teman-temannya kemudian menuju kelas, sambil membahas tentang kemungkinan Pa Nathan memiliki perasaan terhadap Zira. Mereka semua berharap agar Zira bisa mendapatkan cinta yang dia inginkan.

Aliya dan Zita terus menggali informasi, "Zir, kamu harus lebih berani, siapa tahu dia juga suka sama kamu," ucap Aliya. Zira hanya tersenyum, "Aku gak tahu, guys, tapi aku merasa ada sesuatu yang berbeda."

Mereka terus berbincang sambil berjalan menuju kelas. Zira merasa sedikit gugup, tapi juga merasa ada harapan baru.

"Kalian tahu, aku merasa Pa Nathan sangat baik dan perhatian," ucap Zira.

"Iyah, itu benar, mungkin dia memang suka sama kamu," jawab Zita.

Zira merasa hatinya berdebar, "Tapi, aku gak tahu, guys, aku masih belum yakin." Aliya tersenyum, "Kamu harus yakin, zir, kamu layak mendapatkan yang terbaik."

Mereka kemudian memasuki kelas dan duduk di tempat masing-masing. Zira merasa sedikit lebih tenang, tapi hatinya masih berdebar. Dia tidak bisa berhenti memikirkan Pa Nathan dan kemungkinan mereka memiliki perasaan yang sama.

Kelas dimulai, dan Zira mencoba fokus pada pelajaran. Tapi, dia tidak bisa tidak melirik ke arah Pa Nathan yang sedang mengajar. Dia merasa ada sesuatu yang menariknya, dan dia tidak bisa menahan senyumnya.

Kelas menjadi sunyi, hanya suara Nathan yang terdengar, "Tolong fokus pada pelajaran, jangan ke yang tidak penting." Zira yang sedang melamun tidak menyadari bahwa Nathan sedang meliriknya. Aliya menyenggolnya, "Zir, Pa Nathan sindir kamu loh, udah khayal yang ngak-² deh," bisik Aliya.

Zira tersadar, wajahnya langsung memerah, "Eh, enggak kok," jawabnya dengan cepat. Nathan menutup pelajaran, "Ada yang mau ditanyakan sebelum kelas saya akhiri?" Tanya Nathan dengan senyum.

Zira yang masih dalam keadaan gugup, tanpa sadar mengucapkan, "I love you."  Kelas menjadi hening, semua mata tertuju pada Zira. Nathan sendiri terkejut, tidak menyangka Zira akan mengucapkan itu. Aliya dan Zita hanya bisa menutup mulut mereka, tidak percaya apa yang baru saja terjadi.

Zira langsung sadar, dia ingin menutup mulutnya sendiri, tapi sudah terlambat. Semua orang di kelas sudah mendengar ucapannya. Nathan hanya tersenyum, "Tidak ada pertanyaan lain? Baiklah, kelas selesai," ucapnya dengan santai.

"Yah di tolak lagi aku ya..." Ucap Zira dengan nada lesu. "Udah-udah jangan sedih, masih ada 2 Minggu tenang zir," jawab Aliya. "Kayaknya gua nyerah deh, susah taklukin Pa Nathan yang dinginnya melebihi kulkas 2 pintu," ucap Zira.

"Udah ah, mikirin itu nanti lagi, gue dah laper nihh," ucap Zita. Sesampainya di kantin, Rafa menyapa Zira, "Yang, disini disamping aku." Ucap Rafa. "Ogah, disana saja zir," ucap Zita sambil menunjuk meja yang kosong.

"Yang, tadi aku cemburu lohh, kamu ngatain kata Kramat itu ke Pa Nathan, kalau Kamu ucap itu ke aku pasti gak akan gue tolak suerr," ucap Rafa. "Lagian zira gak akan ngomong kaya gitu ke Lo sampai kapan pun, jangan khayal deh raf," ucap Zita.

"Lo kenapa sih zit, selalu nyautin ucapan gue ke zira, gue bicara sama ayang zira bukan sama Lo, jangan-jangan Lo suka yah ke gue, ngaku Lo," ucap Rafa. "Hmm, pd banget jadi orang," ucap Zita dengan nada gugup.

"Udah-udah, makanan dah datang, yukk makan keburu masuk kelas," ucap Zira, mencoba mengalihkan perhatian. Waktu pelajaran telah selesai, kini waktunya pulang. "Guys, gue pulang dulu yah, mau jemput Aryan," ucap Zira.

"Iyah, hati-hati zir," jawab Aliya dan Zita. Dalam perjalanan pulang, setelah menjemput sang adik, Zira dan Aryan turun dari mobil untuk membantu seorang ibu yang sedang menjadi korban copet. Zira, yang memiliki bakat bela diri, berhasil merebut tas ibu tersebut dari copet.

"Terimakasih nak, kamu gak papa?" tanya ibu tersebut. "Aku gak papa Tante." Jawab zira "Umi gak papa?," tanya sang anak dengan nada khawatir, "Umi gak papa kok, putri."

"Hmm, kamu bukannya adiknya Pa Nathan yah?" Ucap Zira. "Iyah, kak Zira yah, dunia emang sempit yah," ucap Putri. "Kalian sudah saling kenal?" ucap Umi Aisyah.

"Iyah umi, ini kak Zira yang beliin aku novel dan kak Zira orang menerima hijab itu umi," jawab Putri. "Owalah, nama cantik seperti orang," ucap Umi Aisyah. "Ouh yah, kak, kenalin ini umi Aisyah, uminya Putri dan Bang Nathan," ucap Putri.

"Salam kenal, Tante, Tante mau kemana?" jawab Zira. "Panggil umi aja seperti Putri, kami ingin pulang nak, lebih tepatnya rumahnya Nathan, karena kami sedang berkunjung ke Bang Nathan," jawab Umi Aisyah.

"Yaudah, bareng Zira aja," ucap Zira, dengan nada senang.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!