NovelToon NovelToon
Polisi & Dokter

Polisi & Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Action
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Akmaludd

Davino Narendra seorang polisi yang trauma akan masa lalunya justru terikat dengan sebuah perjanjian perjodohan dimasa yang akan datang. Perjodohan itu mempertemukan Davino Narendra dengan seorang Dokter, yakni Alisa Widanata.

Kehidupan rumah tangga mereka tentu sangat teruji, karena di balik pernikahan tanpa didasari cinta serta dua bangsal yang berbeda harus menyatukan dua insan tersebut.

bagaimana kelanjutannya??? ikuti kisahnya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaludd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

​Kedatangan Bunda Ratna ke rumah besar milik Vino dan Alisa membawa perubahan atmosfer yang sangat terasa. Rumah yang tadinya terasa sangat modern, maskulin, dan terkadang sedikit sunyi saat Vino bertugas, kini mulai dipenuhi aroma masakan rumah yang menggugah selera. Sejak pagi buta, Bunda Ratna sudah sibuk di dapur, sesuatu yang jarang dilakukan Alisa karena kesibukannya sebagai dokter.

​Vino turun dari tangga dengan seragam lengkap, namun langkahnya terhenti di ruang makan. Ia menghirup aroma sambal goreng ati dan ayam opor yang sangat khas.

​"Selamat pagi, Bunda," sapa Vino dengan senyum tulus. Ia mendekat dan mencium tangan ibu mertuanya itu.

​Bunda Ratna menoleh, wajahnya yang teduh dihiasi senyum lebar. "Eh, menantu Bunda sudah siap tugas. Ayo duduk, Vino. Bunda tadi bangun kepagian, jadi langsung ke dapur. Alisa mana? Masih di kamar?"

​Vino terkekeh pelan. "Alisa tadi bilang katanya kepalanya agak pening sebentar, mungkin karena kurang tidur semalam. Tapi sekarang sedang mandi, Bunda."

​Bunda Ratna menatap Vino dengan pandangan penuh arti, sebuah tatapan khas seorang ibu yang bisa membaca situasi. "Pening ya? Atau jangan-jangan... sudah ada tanda-tanda?"

​Vino tersenyum malu-malu, mengerti arah pembicaraan Bunda. "Belum tahu, Bunda. Doakan saja yang terbaik."

​Tak lama kemudian, Alisa muncul dengan gaun terusan berwarna pastel. Wajahnya tampak lebih segar meskipun ia sempat mengeluh lemas tadi subuh. Melihat Bundanya ada di dapur, Alisa langsung berlari kecil dan memeluk Bunda Ratna dari belakang.

​"Bunda... Alisa kangen banget masakan ini," rengeknya manja.

​"Hush, sudah jadi istri orang kok masih manja begini. Malu sama suamimu, Alisa," tegur Bunda lembut, meski tangannya terus mengelus lengan anaknya.

​"Mas Vino nggak keberatan kok, iya kan Mas?" Alisa mengerling ke arah Vino.

​Vino hanya mengangguk sambil menyuap nasi. "Justru saya senang Bunda di sini. Alisa jadi ada temannya kalau saya harus ke kantor pusat atau ada panggilan mendadak di lapangan."

​Suasana sarapan itu terasa sangat hangat. Bunda Ratna bercerita banyak tentang acara keluarga di Surabaya, tentang kerabat-kerabat lama yang menanyakan kabar Alisa, dan betapa bangganya mereka mendengar Alisa sudah menikah dengan seorang perwira polisi. Namun, di tengah tawa itu, ada satu hal yang belum tersampaikan.

​"Alisa, Vino..." suara Bunda Ratna merendah, "Bunda ke sini juga karena kangen sama Ayah kalian. Semalam Bunda mimpi Ayah tersenyum di taman rumah kita yang dulu. Bunda rasa, kita harus segera ziarah."

​Alisa terdiam. Matanya berkaca-kaca. Ayah adalah cinta pertamanya, dan ia merasa sangat bersalah karena beberapa bulan terakhir sangat sibuk dengan urusan rumah tangga dan rumah sakit hingga jarang mengunjungi makam.

​"Tentu, Bunda. Hari ini Mas Vino sedang tidak ada jadwal lapangan yang padat, kan Mas?" tanya Alisa.

​Vino meletakkan sendoknya. "Aku sudah atur jadwal. Pagi ini aku antar kalian ke pemakaman, lalu setelah itu aku ke kantor sebentar. Nanti sore aku jemput lagi untuk makan malam di luar. Bagaimana?"

​"Terima kasih, Mas," ucap Alisa tulus.

​Perjalanan menuju Taman Pemakaman Umum (TPU) berlangsung cukup hening. Bunda Ratna duduk di kursi belakang sambil memegang buku Yasin dan beberapa bungkus bunga tabur serta air mawar. Alisa duduk di samping Vino, tangannya tak lepas menggenggam jemari suaminya. Ada rasa haru yang membuncah di hati Alisa; ia merasa sangat beruntung karena suaminya begitu menghormati orang tuanya.

​Sesampainya di makam, matahari mulai sedikit naik, namun angin sepoi-sepoi membuat suasana tetap sejuk. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak hingga sampai di sebuah pusara dengan nisan marmer bertuliskan nama Ayah Alisa.

​Bunda Ratna adalah yang pertama bersimpuh. Ia mengusap nisan itu dengan penuh kasih sayang, seolah-olah suaminya masih ada di sana. "Mas... ini aku datang. Aku bawa anak kita, Alisa. Dan lihat, ini menantumu, Vino. Dia menjaga Alisa dengan sangat baik, Mas."

​Alisa tak kuasa menahan tangis. Ia berlutut di samping Bundanya, sementara Vino berdiri tegap di belakang mereka sebelum akhirnya ikut bersimpuh di sisi Alisa. Vino merangkul bahu istrinya, memberikan kekuatan.

​Mereka mulai membacakan doa. Suara Bunda Ratna yang bergetar saat melantunkan ayat suci Al-Qur'an menambah suasana magis dan haru. Alisa memejamkan mata, membayangkan wajah Ayahnya yang selalu memberikan dukungan saat ia masih menempuh pendidikan kedokteran yang berat.

​Setelah doa selesai, Alisa mulai menaburkan bunga di atas pusara. "Ayah... Alisa sekarang sudah bahagia. Mas Vino orang baik, Yah. Alisa janji akan jadi istri yang hebat seperti Bunda. Ayah istirahat yang tenang ya di sana..."

​Vino kemudian mengambil air mawar dan menyiramkannya dengan perlahan. Ia berbisik pelan, hampir tak terdengar oleh Alisa, namun penuh penekanan. "Yah... titip anakmu padaku. Aku akan menjaganya dengan nyawaku sendiri. Terima kasih sudah membesarkannya menjadi wanita yang luar biasa."

​Bunda Ratna yang mendengar itu tersenyum haru. Ia tahu, pilihannya dan almarhum suaminya (lewat wasiat keluarga) untuk menikahkan Alisa dengan Vino tidaklah salah. Meskipun awalnya mereka melalui jalan yang terjal, namun cinta itu kini tumbuh lebih kuat dari siapapun.

​Setelah ziarah, suasana hati mereka menjadi jauh lebih tenang. Seolah-olah ada beban berat yang terangkat setelah berkomunikasi dengan 'Ayah'.

​Vino mengantar mereka kembali ke rumah sebelum ia berangkat ke kantor. "Bunda, Alisa... aku berangkat dulu ya. Kalau mau jalan-jalan ke mal atau kemana, pakai sopir mang Asep saja yang tadi aku telepon. Jangan menyetir sendiri, Alisa sedang lemas kan?"

​"Iya Mas, siap. Bawel banget sih," goda Alisa sambil mencium tangan Vino.

​Di kantor, Vino disambut oleh Alvin yang tampak sedang melamun di depan komputernya. Vino menepuk bahu bawahannya itu hingga Alvin tersentak.

​"Kenapa? Masih terbayang-bayang makan siang sama Dokter Fani kemarin?" tanya Vino sambil duduk di kursinya.

​Alvin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ah, lu bisa saja. Enggak, Vin. Cuma... saya sedang berpikir, apa saya tidak terlalu agresif ya? Takutnya dia ilfeel."

​Vino tertawa. "Alvin, wanita seperti Fani itu butuh kepastian. Kamu polisi, bukan detektif swasta yang cuma ngintip-ngintip. Kalau suka, ya kejar. Tapi ingat, tetap sopan. Tadi saya lihat Alisa chat Fani, katanya Fani senyum-senyum sendiri setelah makan siang sama kamu."

​Mata Alvin berbinar. "Serius, vin? Wah... saya jadi makin semangat."

​Vino menggelengkan kepala melihat tingkah Alvin. Namun di balik itu, ia merasa bahagia. Hidupnya kini dikelilingi oleh orang-orang yang mulai menemukan kebahagiaannya masing-masing.

​Sore harinya, di rumah Alisa, suasana semakin ramai. Alisa dan Bunda Ratna sedang melihat-lihat album foto lama di ruang keluarga. Mereka tertawa melihat foto Alisa saat masih kecil yang ternyata sangat mirip dengan Bunda Ratna.

​"Alisa," panggil Bunda Ratna lembut.

​"Iya Bunda?"

​"Bunda senang sekali melihatmu sekarang. Kamu lebih dewasa. Pesan Bunda cuma satu, hargai suamimu. Vino itu pria yang tanggung jawabnya besar. Kadang dia akan pulang terlambat, kadang dia akan sangat lelah. Tugasmu adalah menjadi tempat dia pulang yang paling nyaman."

​Alisa mengangguk dalam, menyandarkan kepalanya di bahu Bunda. "Iya Bunda. Alisa belajar banyak dari Bunda. Alisa juga senang Bunda tinggal di sini. Rasanya seperti dulu lagi, cuma sekarang ada Mas Vino."

​Tiba-tiba, suara mobil terdengar di depan. Vino pulang lebih awal dari yang dijanjikan. Ia membawa beberapa kantong plastik yang ternyata berisi martabak kesukaan Bunda Ratna dan bunga mawar putih untuk Alisa.

​Malam itu, mereka bertiga makan malam bersama di teras belakang yang menghadap ke kolam renang. Lampu-lampu taman yang hangat menyala, menciptakan suasana yang sangat damai. Kehadiran Bunda Ratna benar-benar menjadi pelengkap puzzle kehidupan Alisa dan Vino yang sempat hilang.

​Alisa menatap suaminya dan ibunya secara bergantian. Ia tahu, di manapun ia berada, asalkan bersama mereka, itulah definisi rumah yang sebenarnya.

Bersambung

1
Rian Moontero
mampiiirr/Bye-Bye/👍👍
Akmaluddin: makasih kak, jangan lupa like kaka👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!