Hwang zin bukanlah orang dari era ini,dia lahir di tahun 2028 dan berusia 30 tahun,dia yatim piatu,Dia bekerja keras selama hidupnya.
Dia menjadi koki , petugas pengangkutan barang, bartender,pelayan restoran dan lainnya,dia hidup dengan menghemat banyak uang saat tabungannya mencapai 100 juta dalam 15 tahun hidupnya.
Hwang zin membeli bangunan toko kecil yang lengkap penuh dengan barang-barang grosir dari barang orang tua hingga anak-anak dan makan pokok dan sejenisnya.
dia akan mulai berbisnis tapi siapa kira saat dia dalam perjalan pulang justru mobilnya tertabrak truk dan bangun disini .....bukannya mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dermaga
" Zin.an...!" Hwang zin berbalik dan melihat Zhang peng dan kelompoknya berjalan kearahnya.
.".....Kakak Zhang!"Dia berjalan menghampiri mereka.
".....Kenapa kamu bisa disini,apa yg kamu bawa berat sekali?" Tanyanya saat melihat keranjang bambu dipundak anak itu dan kotak kayu ditanganya.
Hwang zin tertawa."...aku membeli barang bagus.. benar' kalian mau kemana?"
".....Kami akan pergi ke pondok untuk istirahat, pekerjaan telah selesai..."Ucapnya,sambil mengambil kotak kayu ditanganya.
"Baguslah,aku membawakan mu beberapa makanan..."Dia menepuk keranjang bambu yang dibawanya.
"Ayo-ayo segera pergi! Cepat kembali!" Mata Zhang Peng dan rekan-rekannya berbinar saat mendengar nya.
Diwaktu bersamaan Gong Yin baru saja naik ke atas dan melihat Rombongan Zhang Peng pergi dengan seorang pemuda.
Dia menyipitkan matanya. Apa itu Hwang zin.?
Saat sampai ditempat tinggal sementara di dermaga,Hwang zin terkejut ternyata tempat tinggal dermaga tak seburuk yg dia kira. Itu seperti pondok-pondok kecil mungkin ada lebih dari 20 pondok.
Zhang Peng membawa kotak kayu milik Hwang zin bejalan bersama ke pondoknya. 4 rekannya mengikuti dibelakang dengan tertawa dan mengobrol bersama.
Sampai mereka berhenti di pondok di tengah ,rekan lain' segera membukanya pintu untuk mereka masuk ,dan didalam tak ada banyak ruang.
Hanya ada ranjang -ranjang kayu sebanyak 5 buah dan meja makan kecil yg muat 2 orang. Banyak barang dipojok ruangan.
" Duduklah disana dulu,kami akan pergi mencuci tangan....." Ucapnya. Hwang zin mengangguk bejalan ke arah meja kecil dan menarik bangku untuk duduk.
Sedangkan Zhang Peng dan rekan-rekannya keluar untuk membersihkan diri ke sumur pondok.
Hwang zin melihat bahwa meja itu berdebu,dia melihat apa yg bisa membersihkan namun tak ada jadi dia mengambil lap basah diruang dan membersihkan meja.
"......."Lalu ingat sepertinya bangku juga kotor.Dia menghela nafas , melempar lap kotor ke dalam ruang. Lalu mulai menata barang-barang di meja.
Dia mengeluarkan tabung bambu yg masih terasa panas. Dia mengambil mangkuk kayu,dia hanya membawa 5 ,dia menaruhnya dimeja dan membuka tutup bambu .
Bau masakan tercium,dia menuangkannya dengan hati-hati. Tambung bambu berisi bubur buah yg masih hangat.
Didalam tabung masih tersisa,dia menaruhnya dulu,lalu mengambil kotak kayu susun 3 yg berisi bakpao isi daging dan menaruhnya dimeja.
Tak lama orang-orang kembali. Mereka mencium bau enak dan bergegas ke arah meja makan.
Ada bubur dimangkuk yg masih berasap.
"Kakak apa kamu punya mangkuk lagi? Aku hanya membawa 5 ...."tanyanya dengan canggung.
"Aku akan meminta ke dapur...Zin.an kamu butuh beberapa?"tanya pria yg datang dengan Zhang Peng ke kedainya.
"1 saja...." Pria mengangguk dan segera berlari keluar. Saat itu Hwang zin memberikan mangkuk pertama pada Zhang zen lalu pada yg lainnya.
Mereka semua duduk di ranjang dan Zhang peng yg duduk berhadapan dengan Hwang di satu meja. mereka makan dengan baik,bubur terasa enak dan sedikit manis.
Tak lama Pria itu kembali, Hwang zin mengambil bubur ditabung dan menuangkannya ke dalam mangkuk, lalu memberikannya pada pria itu .
Pria itu berterima kasih,dan duduk dengan rekannya. Hwang zin menutup tabung kosong dan menaruhnya dikeranjang bambu.
Melihat dia tak makan Zhang Peng merasa tak enak."..Zin.an apa kamu mau separuh buburku?"
Rekan-rekan Zhang Peng menghentikan sendok mereka. Mendongak untuk melihat bahwa anak itu tak makan.
Saat mereka datang ke kedai mereka hanya ber 5 dengan Zhang Peng jadi anak ini hanya membawa 5. Tapi siapa kira ada 1 orang lagi dalam grupnya.
Mereka merasa malu. pria dengan janggut diwajahnya segera berkata dengan cepat." .....Zin.an aku akan membagikan setengah nya juga!"
Hwang zin melambaikan tangannya.".. tidak kalian makan saja,aku sudah makan sebelum kemari...cepat habiskan aku membuat banyak bakpao daging untuk semua orang...."
" Hei kenapa kamu repot-repot bubur ini saja sudah cukup...." Zhang Peng mengerut alisnya tak setuju.
Hwang zin menyentuh hidungnya tersenyum kecil."Saudara ku ,aku belum memberitahu bahwa mu sesuatu...."
"Ada apa?"tanyanya , sambil makan buburnya.
".....Aku membeli rumah dikota dan akan membuka toko seperti didesa..."ucap Hwang melihatnya hampir membuatnya tersedak karena terkejut.
Zhang Peng batuk, sebelum menelan dengan kuat.melihatnya tak percaya."Kamu.... Kenapa kau baru berkata sekarang,apa kamu pindahkan sendiri...?"
Hwang zin tertawa."Tidak apa-apa, semuanya sudah selesai aku mengurusnya sendiri...kamu ajak yg lain kesana untuk makan-makan bersama jika kalian sempat......"
"Kami pasti datang! Adik kecil masakan mu sangat enak!" Sahut pria agak gemuk dengan antusias yg langsung mendapatkan tendangan dari rekan-rekannya.
"Kamu hanya tau makan! Makan dan makan!"
Hwang zin tertawa. Melihat semuanya sudah menghabiskan buburnya,dia membuka kotak kayu,bau bakpao isi daging yg harum tercium.
Pria-pria kasar ini menelan ludah,bubur dengan mangkuk yg tak sebesar tangan mereka tak akan bisa menganjal perut.
Hwang zin membuat 20 Bakpao. Dia memberi masing-masing 2 Bakpao ukuran sedang. Jika satu mungkin tak kenyang jadi dia langsung memberikan dua.
"Kakak dimana Tuan Gong?" Tanya pada Zhang Peng.
" Dia mungkin masih didermaga...."Jawabnya.namun rekannya yg mengambil sendok didapur memberi tau tuan mereka sudah kembali.
"Tidak ..dia sudah kembali ke pondoknya...aku tak sengaja berpapasan saat mengambil mangkuk..."
"...Kakak tolong antarkan 10 Bakpao ke tempat nya setelah kamu selesai makan......" Dia menutup 10 bakpao yg tersisa.
"Kita akan menemuinya bersama...." ucap Zhang Peng dengan pipi penuh. Hwang zin terdiam sesaat sebelum mengangguk setuju.
Gong Yin saat ini juga sedang makan siang dengan 2 bawahannya dipondok,mereka makan bubur hambar dengan sayur asin.
Hidangan ini hampir sejak musim dingin menjadi makanan pokok.
Pintu pondoknya diketuk,lalu suara Zhang Peng terdengar dari luar." Tuan Gong apa anda didalam!"
"Masuklah...."ucapnya .lalu dua pria masuk,dan seperti yg dia duga ,Hwang zin ada disini ,dia tersenyum padanya."..kamu disini..."
" Tuan..."sapa Hwang zin membungkuk sopan. Dia melambaikan tangannya padanya."Zin.an duduklah..."
"Tidak... saya akan segera kembali...ini ada sedikit makanan...." Dia mengangkat kotak ditanganya.
Gong Yin meminta bawahnya mengambil kotak itu dari anak itu."Aku berterima kasih, makanan disini membuat lidah ku mati rasa...."
Mereka berbicara beberapa kata, sebelum Hwang zin dan Zhang Peng berpamitan pergi.Pria itu mengantarkan pemuda itu ke gerbang dermaga.
Hwang zin kembali dengan kereta yg distop oleh kakak Zhang. Dia kembali pukul 2 siang dan langsung gurita kedalam bak kayu besar .
Gurita itu masih hidup dan menggeliat penuh tinta.Hwang zin pergi memanaskan air untuk merebus.
Dia tak pandai membunuh gurita jadi ayo langsung direbus saja dan dicuci setelahnya.
Daging gurita tak bisa terlalu lama dimasak karena aka keras seperti karet. Jadi dia hanya merebusnya selama beberapa menit dan tak lupa memberi irisan jeruk agar tak amis.
Selama itu dia membuka kulkas untuk menyiapkan bumbu pedas. Saat sudah cukup,dia mematikan api mengambil gurita itu dan memasukannya ke air dingin di wadah besar.
Lalu dia membawanya ke sumur untuk dicuci ,setelah itu dia menaruhnya dimeja dan memotongnya kecil-kecil.
Tak lupa dia membersihkan penggorengan bekas merebus dan mulai menyalahkan api kembali. Saat sudah panas dia memasukan minyak dan bumbu untuk menumis.
Bau tercium,dia lalu menambahkan sedikit air dan memasukan potongan gurita ke wajan dan mengaduknya.
Tak lupa menambahkan cabe bubuk,daun bawang dan bumbu lainnya lalu menutupnya.Hwang zin mengambil nasi hangat dipanci dan menaruhnya dimeja dapur.
Beberapa saat dia membuka kuali dan mematikan api,dia mengambil gurita pedas ke dalam piring dan membiarkan sisanya tetap diwajan,dia menutupnya kembali.
Dia mengambil mangkuk nasi dan piring ditanganya ke ruang makan yg bersebelahan dengan dapur.
Dia menaruhnya di atas meja dan membuka pintu geser yg menghadap ke taman kecil dengan kolam ikan. Ada pohon jeruk ditengah taman.
Dan diujung sana ada ruangan kerja yg terhubung ke ruang tamu.
Gedung ruang tamu dan ruang kerja berada ditengah disisi kanan adalah dapur dan sisi kiri adalah kamar.
Matahari sangat terik jadi udara tak begitu dingin,Hwang duduk untuk makan dengan tenang.
Rasanya pas pedas yg menggugah selera,dia tak memasak semaunya,hanya per 20% saja. Sisa daging dia masukkan ke dalam wadah kedap udara dan menaruhnya di freezer.
Hwang zin hanya duduk dimeja makan menikmati suasana. Sampai dia cukup bosan dan kembali ke rumah,tak lupa dia mengambil piring kotor dan menaruhnya didapur.
Lalu dia ingat soal paman Lin ,jadi dia mengambil mangkuk untuk mengambil tumis gurita untuk diberikan pada keluarga paman Li.
Dia hanya memasak kepala gurita hari ini,jadi tampilannya tak akan aneh untuk dilihat. setelahnya dia menutupnya dengan kain dan pergi ke rumah paman Li yg berjarak hanya 2 rumah dari rumahnya.
Namun saat dia sampai dan akan mengetuk pintu,pintu terbuka dari dalam dan seorang pemuda yg masih usia 15 tahun terkejut melihatnya.
"....Apa paman Li ada?"tanyanya dengan canggung.
Anak itu tersadar, telinganya memerah,Dia mempersilahkan Hwang zin masuk, sebelum berbalik kedalam rumah." ...... Ayah seseorang mencarimu!"
".....Siapa?" Teriak suara dari dalam rumah, sebelum langkah kaki terdengar,paman Li melihat putra bungsunya berdiri dengan seorang pria muda lainnya.
Matanya berbinar,dia menghampiri mereka."oh ini Zin.an...ayo ayo duduklah...."
"....Tidak perlu paman,aku datang kesini hanya untuk memberikan ini pada mu untuk dicoba...."Hwang zin memberikan mangkok yg tertutup kain Padanya.
"Hei kenapa repot-repot...." Paman Li menerimanya dengan senang. Anak paman Li hanya berdiri untuk melihat penasaran pada isi mangkuknya.
Hwang zin tak lama dia segera berpamitan pergi,Paman Li meminta anaknya menutup pintunya dan kembali kerumah.
Istinya yg sedang duduk dihalaman tengah melihat suaminya datang dengan sesuatu ditanganya."...apa yg kamu bawa?"
" Ini dari anak yg membeli rumah kami,coba ayo lihat apa yg dia berikan...." Paman Li menaruhnya dimeja dekat istrinya,saat kain dibuat keduanya terkejut.
"Dia memberikan lauk pada kita sebanyak ini apa tak apa-apa ...." Tanya tak enak pada istrinya.
Wanita tua itu mencium bahwa baunya sangat enak.
"Dia sudah memberikannya apa perlu ditolak,jika kamu merasa tak enak kamu bisa memberikannya persik kering yg ada dirumah untuk nya......"
"Baiklah baiklah....." Paman Li mengangguk,lalu istrinya memintanya membawanya ke meja makan untuk dihangatkan untuk mereka makan nanti malam.