NovelToon NovelToon
Suami Untuk Istri Ayahku

Suami Untuk Istri Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Andra Secret love

Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Krisis di Depan Pintu

Ardi tidak tidur semalaman.

Dia berbaring di ranjangnya sendiri malam itu, setelah Sari pulang, setelah Maya naik ke kamarnya dengan langkah berat. Ranjang terasa terlalu luas, terlalu dingin, terlalu sunyi. Di kepalanya, kalimat-kalimat yang akan dia ucapkan pada Sari besok terus berputar, dirangkai ulang, dibongkar, dirangkai lagi.

Sari, aku harus jujur.

Sari, aku mencintai orang lain.

Sari, maafkan aku.

Tidak ada yang terdengar benar. Tidak ada yang terdengar cukup. Karena tidak ada kata-kata yang cukup untuk membenarkan kebohongan yang sudah dia lakukan selama berbulan-bulan.

Pukul tiga pagi, Ardi menyerah. Dia duduk di tepi ranjang, menatap gelap di luar jendela. Jakarta tidak pernah benar-benar gelap—selalu ada lampu jalan, lampu gedung, lampu mobil yang melintas jauh di bawah. Tapi malam ini, semuanya terasa redup. Seperti cahaya yang sedang padam perlahan.

Dia membuka jurnal.

Besok aku akan bicara pada Sari. Aku tidak tahu bagaimana reaksinya. Aku tidak tahu apakah dia akan menangis, marah, atau diam. Tapi aku harus jujur. Setidaknya pada satu orang, aku harus berhenti berbohong.

Aku monster. Tapi aku tidak ingin menjadi monster yang terus menerus melukai orang yang mencintaiku.

Maya bilang dia tidak akan menunggu selamanya. Aku tidak ingin kehilangan Maya. Tapi aku juga tidak ingin Sari terus-terusan terluka karena kebohonganku.

Aku tidak tahu apakah keputusan ini benar. Tapi aku tahu, mempertahankan kebohongan ini akan menghancurkan kita semua.

Ardi menutup jurnal, menyimpannya di laci. Di luar, langit mulai berubah dari hitam pekat menjadi abu-abu gelap. Fajar akan datang dalam satu atau dua jam. Dan dengan datangnya fajar, semuanya akan berubah.

 

Pagi datang dengan langit yang tidak bersahabat.

Ardi turun pukul tujuh, setelah mendengar suara Yuni di dapur. Rambutnya tidak dia sisir rapi, bajunya kusut, matanya sembab. Tapi dia tidak peduli. Hari ini, dia tidak perlu berpura-pura rapi untuk siapa pun.

Yuni sedang menyiapkan sarapan ketika Ardi masuk. Wanita itu menoleh sekilas, lalu kembali membalik telur di wajan.

"Pagi, Pak Ardi."

"Pagi."

Ardi duduk di meja, mengambil gelas, menuang air putih. Tangannya gemetar—tapi kali ini bukan karena takut ketahuan. Ini gemetar karena dia tahu, beberapa jam lagi, dia akan menghancurkan hati seseorang yang selama ini mencintainya dengan tulus.

"Pak Ardi kurang tidur?" tanya Yuni tanpa menoleh.

"Iya."

"Tadi malam Ibu Maya juga gelisah. Saya dengar beliau bolak-balik ke kamar mandi."

Ardi tidak menjawab. Yuni meletakkan piring berisi telur dadar di depan Ardi, tersenyum tipis. Senyum yang tidak lagi ramah seperti dulu, tapi juga tidak bermusuhan. Hanya netral. Seperti penjaga gerbang yang sudah memutuskan untuk tidak ikut campur.

"Selamat makan," kata Yuni, lalu kembali ke dapur.

Ardi makan sendirian. Telur itu terasa hambar, tidak seperti biasanya. Atau mungkin memang tidak ada yang terasa benar pagi ini.

Maya turun lima belas menit kemudian.

Dia berdiri di ambang pintu dapur, menatap Ardi sebentar. Wajahnya pucat, lingkaran hitam di bawah matanya lebih tebal dari kemarin. Rambutnya disisir rapi, pakaiannya rapi—tapi Ardi melihat tangannya yang sedikit gemetar ketika meraih gagang pintu.

"Pagi," kata Maya.

"Pagi."

Maya duduk di seberang Ardi, mengambil nasi, mulai makan tanpa bicara. Yuni sibuk di wastafel, membasuh piring yang sebenarnya sudah bersih. Suasana dapur terasa berat, seperti udara sebelum badai.

Ardi menatap Maya dari balik mangkuk. Dia ingin mengatakan sesuatu, ingin mengatakan bahwa hari ini semuanya akan berubah. Tapi Maya sepertinya sudah tahu. Matanya berbicara—aku di sini, apapun yang terjadi.

Mereka makan dalam diam. Yuni tidak bertanya apa-apa, tidak melontarkan sindiran halus, tidak memberikan peringatan. Hanya diam yang tegang, diam yang terasa seperti penghakiman.

Setelah selesai, Ardi berdiri.

"Aku ke kantor," katanya, seperti biasa.

Maya mengangguk. "Hati-hati."

Ardi berjalan ke lorong, mengambil jaket di gantungan. Di balik pintu dapur, dia mendengar Yuni berkata pada Maya dengan suara pelan.

"Ibu, kalau ada apa-apa, saya di sini."

Ardi tidak mendengar jawaban Maya. Tapi dia merasakan sesuatu di dadanya—sesuatu yang mirip dengan rasa syukur, meskipun dia tahu dia tidak pantas mendapatkannya.

 

Ardi tidak pergi ke kantor.

Dia melaju ke apartemen Sari di Kuningan, mobilnya meliuk di antara kemacetan Jakarta yang sudah mulai menggumpal sejak pagi. Jari-jarinya mengetuk setir tidak sabar, matanya sesekali melirik ponsel yang diletakkan di kursi penumpang.

Tidak ada pesan dari Maya. Mungkin dia sedang menunggu. Atau mungkin dia sedang mempersiapkan diri untuk kehilangan.

Ardi memarkir mobil di basement apartemen Sari, naik lift ke lantai 12. Koridor apartemen itu sunyi, karpet merah menyerap suara langkah kakinya. Dua pintu ke kanan, tiga pintu ke kiri—dan satu pintu di ujung koridor yang sudah dia hafal bentuk dan warnanya.

Pintu apartemen Sari.

Ardi berdiri di depan pintu itu, tangan terangkat, tapi tidak bisa mengetuk. Jantungnya berdebar terlalu cepat, napasnya terlalu pendek. Dia membayangkan Sari di balik pintu ini—mungkin sedang menyiapkan sarapan, mungkin sedang berdandan, mungkin sedang tersenyum membaca pesan darinya yang tidak akan pernah dia kirim.

Dia ingin mundur. Ingin pulang ke rumah Menteng, berbaring di ranjang Maya, melupakan semua keputusan ini. Tapi Maya benar—dia tidak bisa terus mengambang. Dia tidak bisa terus melukai orang yang mencintainya dengan kebohongan.

Ardi mengetuk.

Pintu terbuka sepuluh detik kemudian. Sari berdiri di ambang pintu, rambutnya masih basah setelah keramas, tubuhnya terbungkus jubah mandi berwarna krem. Wajahnya segar, matanya cerah—sampai dia melihat wajah Ardi.

"Di? Kamu kok ke sini? Aku kira kamu ke kantor."

"Boleh masuk?"

Sari mengernyit, tapi minggir memberi jalan. "Ada apa? Kamu kelihatan pucat."

Ardi masuk, berdiri di ruang tamu apartemen Sari yang rapi dan harum. Ada aroma sabun mandi dan parfum bunga, aroma yang dulu dia sukai, yang dulu membuatnya tenang. Tapi hari ini, aroma itu hanya membuatnya ingin muntah.

Sari menutup pintu, berjalan ke dapur kecil. "Kamu sudah sarapan? Aku buatin kopi."

"Sari."

Suara Ardi pelan, tapi Sari berhenti. Dia menoleh, matanya mulai gelisah.

"Ada apa, Di? Kamu bikin aku takut."

Ardi menarik napas panjang. Di kepalanya, kalimat-kalimat yang sudah dia rangkai semalaman berhamburan, tidak ada yang tersisa. Yang ada hanya kehampaan dan rasa takut yang membeku di dada.

"Aku harus bicara sesuatu."

Sari berdiri diam di depan dapur, tangannya memegang gagang teko kopi yang belum sempat diangkat. Wajahnya berubah—bukan marah, bukan sedih. Hanya waspada. Seperti seseorang yang tahu badai akan datang, tapi tidak tahu seberapa besar.

"Apa?" bisik Sari.

Ardi menatap Sari. Di bawah cahaya lampu apartemen yang lembut, wajahnya lembut, matanya jujur, bibirnya sedikit menggigit—kebiasaannya ketika gugup. Dia wanita yang mencintainya dengan seluruh hatinya, yang percaya padanya, yang tidak pantas dibohongi. Dan sekarang, dia akan menghancurkan kepercayaan itu.

"Aku..." Ardi berhenti, napasnya tersendat. "Aku selama ini..."

Ponselnya bergetar.

Ardi mengabaikannya. Tapi ponselnya bergetar lagi. Dan lagi. Tiga kali berturut-turut, seperti pesan beruntun yang dikirim dalam kepanikan.

Sari menatap ponsel di saku Ardi. "Angkat dulu. Mungkin penting."

Ardi mengeluarkan ponsel, melirik layar sekilas. Pesan dari nomor tidak dikenal. Empat pesan masuk dalam satu menit.

Dia hampir mengabaikannya, hampir mengembalikan ponsel ke saku. Tapi mata Sari menatapnya tajam, dan Ardi tahu jika dia mengabaikan ponsel sekarang, Sari akan semakin curiga.

Dia membuka pesan itu.

Foto 1: Ardi dan Maya di dapur pagi tadi. Maya tertawa, tangan Ardi memegang pinggangnya. Jarak mereka terlalu dekat untuk sekadar anak dan ibu tiri.

Foto 2: Ardi dan Maya di lorong rumah, dua hari yang lalu. Wajah mereka berhadapan, Maya tersenyum, Ardi menunduk, bibir mereka hampir bersentuhan.

Pesan: "Kalau tidak ingin Pak Bram tahu… kita perlu bicara."

Pesan: "Kopi di apartemen Sari? Atau kita bicara di tempat yang lebih privat?"

Pesan: "Aku tunggu konfirmasi. Kalau tidak, semua foto ini akan sampai ke Pak Bram sore ini."

Ardi membeku.

Darahnya terasa membeku, jari-jarinya dingin, matanya tidak bisa lepas dari layar ponsel. Foto-foto itu—bagaimana? Siapa yang mengambil? Yuni? Atau orang lain? Di dapur, mereka pikir tidak ada yang melihat. Di lorong, mereka pikir rumah kosong.

Ternyata tidak.

"Di?" Suara Sari terdengar jauh, seperti dari ujung terowongan. "Kamu kenapa? Pucat sekali."

Ardi mengangkat wajah, menatap Sari. Wajahnya kabur, seperti dilihat dari balik air. Dia ingin bicara, ingin mengatakan semua yang sudah dia rencanakan. Tapi kata-kata itu tidak keluar. Yang keluar hanya napas pendek yang tersendat.

"Siapa yang kirim pesan?" Sari mendekat, matanya mulai panik. "Di, kamu bikin aku takut. Ada apa?"

Ardi menutup ponsel, memasukkannya ke saku. "Tidak ada. Hanya—pekerjaan."

Sari menatapnya. Tidak percaya.

"Jangan bohong, Ardi." Suara Sari berubah, tidak lagi lembut. Ada ketegangan di sana, ketegangan yang sudah lama terpendam. "Wajahmu seperti melihat hantu. Siapa yang kirim pesan?"

"Sari—"

"Kamu mau bicara sesuatu, kan? Tadi kamu bilang mau bicara sesuatu." Sari mendekat, tangannya meraih lengan Ardi, menggenggam erat. "Bicara. Aku dengar."

Ardi menatap Sari. Di bawah cahaya lampu yang lembut, matanya basah, bibirnya gemetar. Dia tahu. Atau setidaknya dia curiga. Dan sekarang dia menunggu kebenaran yang akan menghancurkannya.

Ponsel di saku Ardi bergetar lagi.

Sari melepaskan lengan Ardi, mundur selangkah. Wajahnya berubah—bukan marah, bukan sedih. Hanya kosong. Kosong seperti orang yang baru saja kehilangan semua ilusi.

"Kamu tidak perlu bicara," bisik Sari. "Aku tahu."

Ardi menegang. "Tahu apa?"

"Aku tahu tentang kamu dan Maya."

Ruangan terasa berputar. Ardi berdiri diam, kakinya terpaku di lantai. Sari tahu. Sari sudah tahu. Dan dia masih di sini, masih menatapnya dengan mata yang basah, masih menggenggam tangannya di apartemen yang dulu terasa seperti rumah.

"Sejak kapan?" suara Ardi keluar parau.

"Sejak—" Sari berhenti, menelan ludah. "Sejak beberapa minggu lalu. Aku lihat cara kamu memandangnya. Cara kamu menyentuhnya. Cara kamu berbohong padaku."

Ardi tidak bisa menjawab. Tidak ada kata-kata yang cukup.

Sari tertawa pahit, air mata mulai jatuh di pipinya. "Aku pikir aku gila. Aku pikir aku terlalu cemburu. Tapi ternyata—" dia menghela napas, tangannya melepaskan genggaman Ardi perlahan. "Ternyata benar."

"Sari, aku—"

"Jangan." Sari mengangkat tangan, menghentikannya. "Jangan minta maaf. Jangan bilang kamu menyesal. Karena kalau kamu menyesal, kamu tidak akan melakukannya berulang kali."

Ardi diam. Sari benar. Dia tidak menyesal mencintai Maya. Dia hanya menyesal telah menyakiti Sari.

"Kenapa?" bisik Sari. "Kenapa dia? Kenapa bukan aku?"

Ardi menatap Sari. Dia ingin mengatakan sesuatu yang masuk akal, sesuatu yang bisa menjelaskan mengapa dia memilih Maya, mengapa dia rela menghancurkan segalanya untuk wanita yang bahkan bukan istrinya. Tapi tidak ada penjelasan yang cukup. Tidak ada kata-kata yang bisa membuat Sari mengerti.

"Aku tidak tahu," jawab Ardi jujur.

Sari menatapnya lama. Lalu dia tersenyum—senyum yang patah, senyum yang tidak lagi berusaha kuat.

"Kau tahu, Di," bisiknya. "Aku selalu berpikir, jika suatu hari kamu selingkuh, aku akan marah. Aku akan membenci kamu. Tapi sekarang—" dia menghela napas, tangannya mengusap air mata yang terus mengalir. "Sekarang aku hanya lelah."

"Sari—"

"Pergi."

Ardi berdiri diam. Sari menatapnya, matanya merah, bibirnya gemetar, tapi suaranya tegas.

"Pergi, Ardi. Sebelum aku berubah pikiran dan melakukan sesuatu yang akan aku sesali."

Ardi ingin bicara, ingin menjelaskan, ingin memperbaiki. Tapi tidak ada yang bisa diperbaiki. Dia sudah menghancurkan semuanya.

Dia berjalan ke pintu, membukanya, melangkah keluar.

"Ardi."

Dia berhenti, menoleh. Sari berdiri di tengah ruangan, wajahnya basah, tubuhnya gemetar.

"Aku berharap kamu bahagia," bisiknya. "Tapi aku juga berharap suatu hari nanti kamu merasakan apa yang aku rasakan sekarang."

Pintu apartemen tertutup.

Ardi berdiri di koridor, menatap pintu yang baru saja tertutup. Di balik pintu itu, Sari menangis sendirian. Dan dia tidak bisa melakukan apa pun untuk menghiburnya.

Ponselnya bergetar lagi.

Pesan dari nomor tidak dikenal: "Aku tunggu sampai jam 12. Kalau tidak, semuanya akan sampai ke Pak Bram."

Ardi menutup mata, kepala bersandar di dinding koridor. Di dalam, Sari menangis. Di rumah, Maya menunggu. Dan di suatu tempat, seseorang memegang rahasia yang bisa menghancurkan mereka semua.

Dia membuka ponsel, mengetik pesan singkat.

"Jam 10. Di kafe Sentral, Kuningan."

Jika kalian suka dengan ceritanya,jangan lupa disave ya agar ngga ketinggalan updatean terbarunya oke...,aku juga minta dukungan kalian likenya ya

1
Ida nyoman Subagia
🙏
Ida nyoman Subagia
👍👍
Ida nyoman Subagia
😍😍
andra
oke ,apa ada yang berani seperrti ardi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!