Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Krisis di Depan Pintu
Ardi tidak tidur semalaman.
Dia berbaring di ranjangnya sendiri malam itu, setelah Sari pulang, setelah Maya naik ke kamarnya dengan langkah berat. Ranjang terasa terlalu luas, terlalu dingin, terlalu sunyi. Di kepalanya, kalimat-kalimat yang akan dia ucapkan pada Sari besok terus berputar, dirangkai ulang, dibongkar, dirangkai lagi.
Sari, aku harus jujur.
Sari, aku mencintai orang lain.
Sari, maafkan aku.
Tidak ada yang terdengar benar. Tidak ada yang terdengar cukup.
Pukul tiga pagi, Ardi menyerah. Dia duduk di tepi ranjang, menatap gelap di luar jendela. Jakarta tidak pernah benar-benar gelap—selalu ada lampu jalan, lampu gedung, lampu mobil yang melintas jauh di bawah. Tapi malam ini, semuanya terasa redup. Seperti cahaya yang sedang padam perlahan.
Dia membuka jurnal, menulis sesuatu yang tidak akan pernah dia tunjukkan pada siapa pun. Lalu menutupnya, menyimpannya di laci.
Di luar, langit mulai berubah dari hitam pekat menjadi abu-abu gelap.
---
Pagi datang dengan langit yang tidak bersahabat.
Ardi turun pukul tujuh, setelah mendengar suara Yuni di dapur. Rambutnya tidak disisir rapi, bajunya kusut, matanya sembab. Tapi dia tidak peduli. Hari ini, dia tidak perlu berpura-pura rapi untuk siapa pun.
Yuni sedang menyiapkan sarapan ketika Ardi masuk. Wanita itu menoleh sekilas, lalu kembali membalik telur di wajan.
“Pagi, Pak Ardi.”
“Pagi.”
Ardi duduk di meja, mengambil gelas, menuang air putih. Tangannya gemetar—bukan karena takut ketahuan. Ini gemetar karena dia tahu, beberapa jam lagi, dia akan menghancurkan hati seseorang yang selama ini mencintainya dengan tulus.
“Pak Ardi kurang tidur?” tanya Yuni.
“Iya.”
Yuni meletakkan piring berisi telur dadar di depan Ardi. Senyum tipis yang tidak lagi ramah seperti dulu, tapi juga tidak bermusuhan. Hanya netral. Seperti penjaga gerbang yang sudah memutuskan untuk tidak ikut campur.
“Selamat makan,” katanya, lalu kembali ke dapur.
Ardi makan sendirian. Telur itu terasa hambar.
Maya turun lima belas menit kemudian. Wajahnya pucat, lingkaran hitam di bawah matanya lebih tebal dari kemarin. Rambutnya disisir rapi, pakaiannya rapi—tapi Ardi melihat tangannya yang sedikit gemetar ketika meraih gagang pintu.
“Pagi,” kata Maya.
“Pagi.”
Maya duduk di seberang Ardi, mengambil nasi, mulai makan tanpa bicara. Yuni sibuk di wastafel, membasuh piring yang sebenarnya sudah bersih. Suasana dapur terasa berat, seperti udara sebelum badai.
Setelah selesai, Ardi berdiri. “Aku ke kantor.”
Maya mengangguk. “Hati-hati.”
Ardi berjalan ke lorong, mengambil jaket. Di balik pintu dapur, dia mendengar Yuni berkata pada Maya dengan suara pelan.
“Ibu, kalau ada apa-apa, saya di sini.”
Ardi tidak mendengar jawaban Maya. Tapi dia merasakan sesuatu di dadanya—sesuatu yang mirip dengan rasa syukur, meskipun dia tahu dia tidak pantas mendapatkannya.
---
Ardi tidak pergi ke kantor.
Dia melaju ke apartemen Sari di Kuningan, mobilnya meliuk di antara kemacetan Jakarta yang sudah mulai menggumpal sejak pagi. Jari-jarinya mengetuk setir tidak sabar.
Dia memarkir mobil di basement, naik lift ke lantai 12. Koridor apartemen itu sunyi, karpet merah menyerap suara langkah kakinya. Satu pintu di ujung koridor yang sudah dia hafal bentuk dan warnanya.
Pintu apartemen Sari.
Ardi berdiri di depan pintu itu, tangan terangkat, tapi tidak bisa mengetuk. Jantungnya berdebar terlalu cepat, napasnya terlalu pendek. Dia membayangkan Sari di balik pintu ini—mungkin sedang menyiapkan sarapan, mungkin sedang berdandan, mungkin sedang tersenyum membaca pesan darinya yang tidak akan pernah dia kirim.
Dia ingin mundur. Ingin pulang ke rumah Menteng, berbaring di ranjang Maya, melupakan semua keputusan ini. Tapi Maya benar—dia tidak bisa terus mengambang.
Ardi mengetuk.
Pintu terbuka. Sari berdiri di ambang pintu, rambutnya masih basah, tubuhnya terbungkus jubah mandi berwarna krem. Wajahnya segar, matanya cerah—sampai dia melihat wajah Ardi.
“Di? Kamu kok ke sini? Aku kira kamu ke kantor.”
“Boleh masuk?”
Sari mengernyit, tapi minggir. “Ada apa? Kamu kelihatan pucat.”
Ardi masuk, berdiri di ruang tamu apartemen Sari yang rapi dan harum. Ada aroma sabun mandi dan parfum bunga, aroma yang dulu membuatnya tenang. Tapi hari ini, aroma itu hanya membuatnya ingin muntah.
Sari menutup pintu. “Kamu sudah sarapan? Aku buatin kopi.”
“Sari.”
Suara Ardi pelan, tapi Sari berhenti. Dia menoleh, matanya mulai gelisah.
“Ada apa, Di? Kamu bikin aku takut.”
Ardi menarik napas panjang. Kalimat-kalimat yang sudah dia rangkai semalaman berhamburan, tidak ada yang tersisa. Yang ada hanya kehampaan dan rasa takut yang membeku di dada.
“Aku harus bicara sesuatu.”
Sari berdiri diam, tangannya memegang gagang teko kopi yang belum sempat diangkat. Wajahnya berubah—bukan marah, bukan sedih. Hanya waspada.
“Apa?” bisiknya.
Ardi menatap Sari. Di bawah cahaya lampu apartemen yang lembut, wajahnya lembut, matanya jujur. Dia wanita yang mencintainya dengan seluruh hatinya. Dan sekarang, dia akan menghancurkan kepercayaan itu.
“Aku...” Ardi berhenti, napasnya tersendat. “Aku selama ini...”
Ponselnya bergetar.
Ardi mengabaikannya. Tapi ponselnya bergetar lagi. Dua kali, tiga kali. Sari menatap ponsel di saku Ardi.
“Angkat dulu. Mungkin penting.”
Ardi mengeluarkan ponsel, melirik layar sekilas. Pesan dari Maya. Dia membacanya cepat.
Sari ke rumah? Aku lihat mobilnya lewat.
Ardi menegang. Dia mengetik balasan cepat: Dia di apartemen. Aku di sini.
Bilang aku tunggu di rumah?
Nanti aku kabari.
Dia memasukkan ponsel ke saku. Sari menatapnya dengan mata yang tajam.
“Siapa?”
“Maya. Dia tanya kamu ke rumah.”
Sari menghela napas, berjalan ke sofa, duduk. “Kak Maya baik. Selalu perhatian.” Dia menatap Ardi. “Kamu mau bicara apa tadi?”
Ardi duduk di kursi seberangnya. Jari-jarinya menggenggam lutut, mencoba menghentikan gemetar.
“Sari, aku...”
“Kamu mau putus?” Sari memotong. Suaranya datar.
Ardi terdiam.
“Aku tahu,” lanjut Sari. “Aku tahu sejak beberapa minggu lalu. Kamu berubah. Jarang telepon. Jarang ketemu. Kalau ketemu, kamu seperti tidak ada di sini.” Dia menunjuk dadanya sendiri. “Matamu kosong, Di. Seperti orang yang sedang memikirkan orang lain.”
Ardi tidak bisa menjawab.
“Siapa?” bisik Sari. “Siapa perempuan itu?”
“Sari—”
“Katakan.” Matanya basah, tapi air mata tidak jatuh. “Setidaknya jujur. Setelah semua kebohongan ini, setidaknya kali ini kamu jujur.”
Ardi menunduk. Di kepalanya, satu nama berputar. Maya. Tapi dia tidak bisa mengucapkannya. Tidak sekarang. Belum.
“Bukan masalah siapa,” katanya akhirnya. “Aku yang salah. Aku yang berubah.”
Sari tertawa pahit. “Berubah? Atau selama ini kamu memang seperti itu? Dan aku terlalu bodoh untuk melihatnya?”
“Sari, aku minta maaf.”
“Maaf?” Sari berdiri, berjalan ke jendela, membelakangi Ardi. Bahunya naik turun cepat. “Kamu tahu, Di. Aku selalu percaya suatu hari kamu akan berubah. Aku pikir kalau aku setia, kalau aku sabar, suatu hari kamu akan sadar.”
Dia berbalik, matanya merah. “Tapi ternyata tidak. Kamu tidak akan pernah berubah.”
Ardi berdiri. “Aku tidak pantas untukmu. Seharusnya dari dulu aku sadar.”
Sari menatapnya lama. Lalu dia tersenyum—senyum yang patah, senyum yang tidak lagi berusaha kuat.
“Kamu benar,” bisiknya. “Kamu tidak pantas.”
Mereka berdiri berjauhan. Ardi di dekat sofa, Sari di dekat jendela. Jarak tiga meter terasa seperti tiga mil.
“Aku akan pergi,” kata Ardi.
“Ya. Pergi.”
Ardi berjalan ke pintu. Tangannya di gagang, tapi belum membukanya.
“Sari.”
“Apa?”
“Maafkan aku.”
Sari tidak menjawab. Ardi membuka pintu, melangkah keluar.
Di koridor, dia berdiri sebentar, menatap pintu yang tertutup. Di baliknya, tidak ada suara. Sari mungkin menangis, mungkin diam, mungkin sedang memeluk lutut di sofa.
Dia berjalan ke lift.
---
Di dalam mobil, Ardi duduk lama tanpa menyalakan mesin.
Ponselnya bergetar. Maya.
Gimana?
Ardi mengetik: Selesai.
Dia tahu?
Tidak. Aku belum bilang siapa.
Kenapa?
Ardi menatap layar, jari menggantung. Kenapa? Karena takut. Karena belum siap. Karena ketika Sari bertanya, kata Maya tidak bisa keluar dari mulutnya.
Nanti. Aku akan bicara nanti.
Maya tidak membalas.
Ardi menyalakan mesin, keluar dari basement, melaju pulang. Di setiap lampu merah, pikirannya melayang ke apartemen Sari. Dia membayangkan Sari duduk di sofa, ponsel di tangan, menunggu pesan yang tidak akan pernah datang.
---
Di rumah, Maya sedang duduk di ruang keluarga ketika Ardi masuk.
Jam menunjukkan pukul sebelas. Yuni sudah pulang. Rumah terasa sunyi, hanya suara jam dinding dan napas mereka berdua.
Maya menatap Ardi dari sofa, matanya mencari. “Kamu dari mana?”
“Apartemen Sari.”
“Dia tahu?”
“Dia tahu aku punya orang lain. Tapi dia tidak tahu siapa.”
Maya mengangguk pelan. Di pangkuannya, jari-jarinya menggenggam ujung rok, meremasnya tanpa sadar.
“Apa yang dia bilang?”
“Dia marah. Sedih. Tapi dia—” Ardi berhenti, mencari kata. “Dia tidak terkejut.”
Maya menunduk. “Apa kamu akan bilang siapa orangnya?”
“Nanti. Setelah—setelah semua ini lebih tenang.”
Maya mengangkat wajah, menatap Ardi. “Kau takut?”
Ardi tidak menjawab. Karena dia tahu Maya juga bertanya pada dirinya sendiri: apakah suatu hari Ardi akan melakukan hal yang sama padaku?
Tapi Maya tidak bertanya. Dia berdiri, berjalan ke dapur, kembali dengan segelas air. Meletakkannya di depan Ardi, lalu duduk kembali.
“Minum,” katanya.
Ardi mengambil gelas, menyesap. Air dingin mengalir di tenggorokan, menyegarkan, tapi tidak menghapus rasa bersalah yang menggumpal di dada.
“Aku akan telepon Sari,” katanya. “Nanti. Setelah—setelah aku tahu harus bilang apa.”
Maya mengangguk.
“Aku tidak tahu kenapa aku tidak bilang siapa dia,” ulang Ardi. “Aku pikir aku siap. Tapi ketika dia bertanya, kata-katanya tidak keluar.”
Maya meraih tangannya, menggenggam pelan. “Kau tidak perlu menjelaskan.”
“Tapi aku—”
“Aku tahu.” Suara Maya lembut. “Aku tahu kau tidak tahu kenapa. Itu tidak masalah.”
Ardi menatap tangan mereka yang bertaut, merasakan dingin jari Maya yang perlahan hangat oleh genggamannya.
Ponselnya bergetar di saku. Dia mengeluarkan, membaca layar.
Pesan dari Sari.
Aku nggak akan bilang apa-apa ke siapapun. Tapi jangan harap aku akan diam kalian bahagia. Aku hanya butuh waktu.
Ardi membaca sekali, lalu dua kali. Dia tidak membalas. Memasukkan ponsel ke saku.
Di luar, hujan mulai turun. Gerimis tipis yang membasahi jendela, membuat ruangan terasa redup.
Maya menatapnya. “Sari?”
“Dia bilang dia tidak akan bilang apa-apa.”
Maya menghela napas. Lega yang tidak bertahan lama.
“Aku takut,” bisik Maya.
“Aku juga.”
Maya mengangkat wajah, menatap Ardi. “Kalau suatu hari nanti Bram tahu. Kalau dia minta kau memilih antara aku atau semuanya. Apa yang akan kau lakukan?”
Ardi menatap Maya. Di bawah lampu ruang keluarga yang redup, bayangan Maya terlihat panjang di lantai.
“Aku sudah memilih,” katanya. “Sejak awal.”
Maya tersenyum. Senyum yang sama seperti dulu, ketika semuanya masih sederhana.
“Pilihan yang bodoh,” katanya.
“Aku tahu.”
Di luar, hujan semakin deras. Mereka duduk berdampingan, dalam keheningan yang tidak lagi nyaman, tapi tidak ada yang berani bergerak.
Ponsel Ardi bergetar lagi. Dia tidak membacanya. Tidak perlu.