NovelToon NovelToon
Pewaris Tubuh Suci Legendaris

Pewaris Tubuh Suci Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan / Fantasi Timur / Roh Supernatural
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Pewaris Tubuh Suci Legendaris adalah novel fantasi kultivasi yang mengikuti perjalanan Shou Wei, seorang pemuda yang sejak kecil dianggap biasa, lemah, dan tidak menonjol, tetapi ternyata menyimpan rahasia besar dalam tubuhnya. Di balik kehidupannya yang penuh penindasan dan kehilangan, tersimpan benih kekuatan langka yang perlahan membawanya ke jalan berbahaya: jalan warisan kuno, formasi legendaris, tubuh naga, dan konflik antar dunia.

Cerita ini menyuguhkan banyak tempat skala dunia: sekte-sekte manusia, negeri demon, pulau-pulau melayang, kerajaan asing, hingga dunia lain yang memiliki teknologi, formasi, dan kekuatan jauh melampaui bayangan manusia biasa. Pertarungan yang dihadapinya bukan lagi sekadar soal hidup dan mati, melainkan soal masa depan banyak dunia.

Perpaduan cerita antara kultivasi, pertarungan, formasi, warisan kuno, intrik politik, dunia demon, perjalanan lintas dunia, dan rahasia takdir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalan Keluar dari Stone Reed Town

Malam itu Shou Wei tidak langsung menyentuh marker kayu di atas peti.

Ia duduk cukup lama dalam gudang belakang Mud Heron Inn, lampu minyak kecil menyala di sampingnya, sementara kota di luar tetap hidup dengan suara biasa: tawa mabuk, langkah tergesa, dan bunyi rantai perahu dipindahkan di tepi sungai. Semuanya terdengar normal.

Tapi ia tahu malam ini tidak lagi normal.

Di tangan Han Lu kini ada:

peta sungai tua,tiga pelat hitam,river pulse bead,dan kesadaran bahwa kapal karam di Broken Reed Bend bukan barang biasa.Di tangan Wei Kuan ada:

marker pertama,dan kecurigaan bahwa orang lain juga sudah menyentuh jalur yang sama.Sedangkan di tangannya sendiri ada marker kedua.

Tiga orang berbeda.

Satu rahasia yang mulai membuka diri.

Shou Wei menatap marker itu lama. Pola melingkar di permukaannya tetap pudar, tapi sekarang ia tahu pola itu bukan hiasan mati. Ia bagian dari sesuatu yang lebih besar—mungkin jalur sungai tersembunyi, mungkin penanda pintu array bawah air, mungkin sisa warisan yang belum sepenuhnya tenggelam.

Namun satu hal lain juga jelas:

kalau ia tetap terlalu lama di Stone Reed Town, cepat atau lambat semua jalur itu akan bertabrakan di tempat yang terlalu sempit.

Dan tempat sempit jarang memberi ruang pada orang lemah.

Akhirnya ia bergerak.

Dari bawah tumpukan kain, ia mengeluarkan satu wadah kecil berisi air sungai yang ia simpan sejak pulang dari Broken Reed Bend. Bukan air biasa. Air itu diambil tepat dekat lambung kapal tua, saat darah naganya bereaksi paling kuat. Lalu ia mengambil sebutir batu roh kecil kualitas rendah.

Shou Wei tidak punya river pulse bead seperti yang ada di tangan Han Lu. Tapi ia ingin menguji satu hal sederhana:

apakah marker ini benar-benar hanya benda mati,

atau masih menyimpan resonansi terhadap aliran air tua.

Ia menjalankan Mistwater Breathing Method perlahan.

Tarik.

Tahan.

Turunkan.

Putar.

Lepaskan.

Qi tipis bergerak ke ujung jarinya. Tidak banyak. Hanya cukup untuk membangunkan simpul luar kalau masih ada sisa napas di dalam marker itu. Ia menaruh marker di tengah peti, memercikkan tiga tetes air sungai ke permukaannya, lalu menyentuh tepi pola dengan qi setipis benang.

Tidak ada yang terjadi.

Shou Wei tidak kecewa. Ia justru menurunkan alirannya lebih halus lagi, mengikuti arah melingkar yang pernah ia lihat di bayangan cakram kayu gelap milik Wei Kuan. Bukan lurus masuk. Tapi memutar di pinggir. Mengalir seperti arus yang membelai batu, bukan menghantam.

Marker itu mendadak dingin.

Satu garis kecil di sisi bawah menyala sesaat.

Lalu padam.

Mata Shou Wei menajam.

Ia mencoba sekali lagi.

Kali ini setelah garis kecil itu menyala, air sungai di atas permukaan kayu bergerak tipis—bukan mengalir bebas, melainkan membentuk satu lengkung setengah lingkar, seperti menunjuk ke arah tertentu sebelum buyar.

Barat laut.

Napas Shou Wei melambat.

Bukan halusinasi.

Marker ini masih hidup. Sangat lemah, tapi hidup.

Dan arah itu hampir pasti menunjuk lebih jauh ke cabang utara sungai.

Ia segera menghentikan percobaan. Jangan serakah. Jangan paksa lebih banyak malam ini. Marker tua seperti ini bisa mati kalau diperlakukan seperti utility mark pasar.

Ia membungkusnya lagi dengan kain dan menyimpannya di balik lapisan papan bawah peti.

Lalu ia duduk lama dalam diam.

Sekarang ia punya pilihan:

masuk lebih dalam ke rahasia Broken Reed Bend sekarang,

atau membawa pengetahuan ini ke tempat yang lebih besar, di mana ada orang, manual, dan rumah lelang yang benar-benar mampu menilai nilainya.

Untuk pertama kalinya sejak keluar dari tambang, Shou Wei tidak langsung condong ke arah bahaya.

Ia justru memikirkan kota yang lebih besar.

Tempat dengan:

lebih banyak formasi,

lebih banyak barang rusak bernilai,

lebih banyak manual,

dan lebih banyak kesempatan untuk tumbuh tanpa harus berebut langsung dengan orang seperti Wei Kuan di rawa sempit.

Pikiran itu tinggal di kepalanya sampai pagi.

Han Lu datang saat matahari belum terlalu tinggi.

Ia tidak datang sendirian. Guo Fen ada di belakangnya, memikul karung beast kering, wajahnya tetap sama masamnya seperti biasa. Begitu masuk gudang belakang, Han Lu langsung menutup pintu dan meletakkan sesuatu di atas peti kayu.

Itu salah satu dari pelat logam hitam dari peti sungai.

“Kami tidak bisa membaca barang seperti ini,” katanya. “Aku ingin dengar pendapatmu.”

Shou Wei menatap pelat itu.

Dari dekat, detailnya lebih jelas. Permukaannya tidak diukir untuk utility mark biasa. Garisnya lebih padat, lebih tua, dan punya lubang kecil di ujung seolah pernah dipasang sebagai pengunci atau penghubung antarbagian. Jika marker kayu adalah penunjuk arah, maka pelat logam ini lebih seperti penstabil atau penjepit node.

“Ini bukan barang pasar biasa,” kata Shou Wei pelan.

Han Lu mengangguk. “Aku tahu sebanyak itu. Sisanya?”

“Kalau peta itu benar, dan marker kayu memang titik penanda...” Ia berhenti sejenak. “Pelat seperti ini mungkin bagian dari array route. Sesuatu yang dipakai untuk menjaga jalur atau pintu tetap selaras.”

Guo Fen mengerutkan dahi. “Bahasa yang lebih sederhana?”

“Itu berarti kalau satu bagian hilang, yang lain mungkin tidak bisa bekerja sempurna.”

Han Lu menatapnya lama. “Jadi barang dari peti itu saling berhubungan.”

“Ya.”

“Dan orang yang datang sebelum kita?”

“Mungkin sudah tahu setengahnya.”

Guo Fen mengumpat lirih. “Aku tidak suka kata ‘setengah’. Biasanya artinya orang akan saling bunuh untuk sisa yang belum mereka tahu.”

Han Lu tidak membantah.

Ia justru mengambil pelat logam itu kembali dan menyelipkannya ke dalam baju. “Aku juga berpikir begitu.”

Lalu ia mengeluarkan gulungan peta dari kantongnya, tapi tidak membukanya penuh. Hanya sebagian, cukup memperlihatkan tanda pusaran dan garis sungai utara.

“Dengar baik-baik, Wei Shou. Kalau aku lebih muda dan lebih bodoh, mungkin aku akan langsung kembali ke Broken Reed Bend hari ini juga.” Ia mengetuk simbol pusaran di peta. “Tapi sekarang aku sudah cukup hidup lama untuk tahu kapan sungai menyimpan sesuatu yang terlalu besar untuk dipegang sendirian.”

Itu membuat Shou Wei mengangkat kepala.

Han Lu melanjutkan, “Stone Reed Town terlalu kecil untuk barang seperti ini. Kalau rumor bocor lebih jauh, orang-orang di sini akan saling gigit sampai usus keluar. Dan kalau benar ada jalur tua atau pintu array di utara, maka cepat atau lambat orang yang lebih besar akan datang.”

“Lalu?” tanya Shou Wei.

Han Lu menatapnya lurus. “Lalu aku tidak akan menjual peta ini di sini.”

Guo Fen mengangguk cepat. “Bagus. Reed Hall akan menawar seperti pencuri setengah lapar.”

“Aku akan bawa salah satu barang dan salinan peta ke Lanhe City,” kata Han Lu. “Di sana ada rumah lelang lebih besar, penilai barang yang benar-benar paham, dan orang kaya yang mau membayar tinggi untuk rahasia sungai.”

Nama itu baru pertama kali Shou Wei dengar, tapi langsung terasa berat.

Kota besar.

Rumah lelang lebih besar.

Itulah arah yang ia butuhkan.

Han Lu tampaknya membaca sedikit dari matanya, karena ia menambahkan, “Jangan terlalu senang dulu. Aku belum mengajakmu.”

“Kenapa datang ke sini kalau begitu?”

Guo Fen mendengus seperti hampir tertawa.

Han Lu menyandarkan tubuh ke dinding bambu. “Karena aku butuh dua hal sebelum berangkat. Pertama, utility mark tahan lembap dan stabil yang lebih baik. Kedua, seseorang yang bisa membaca sedikit pola tua tanpa membuka mulut ke orang salah.”

Shou Wei diam beberapa detik, lalu bertanya, “Kapan?”

“Dua hari lagi. Aku ikut perahu barang ke utara, lalu pindah jalur darat ke Lanhe City. Perjalanan tidak pendek, tapi lebih aman daripada menyusuri semua cabang rawa.”

Jantung Shou Wei bergerak sedikit lebih cepat.

Inilah pintu keluarnya.

Stone Reed Town telah memberinya cukup:

uang awal,

pelanggan awal,

manual awal,

dan sentuhan pertama pada rahasia sungai tua.

Kalau ia tetap tinggal di sini sekarang, perkembangan selanjutnya justru sempit. Tapi kalau ia ikut ke Lanhe City, dunia di depannya akan jauh lebih besar.

Namun ia tidak langsung mengangguk.

“Kalau aku ikut,” katanya tenang, “aku bukan buruh pengangkat karung.”

Guo Fen menoleh cepat, lalu terkekeh pendek. “Bocah ini berani.”

Han Lu justru tampak puas. “Bagus. Kalau kau langsung mengiyakan tanpa syarat, aku akan ragu membawamu.”

Ia berpikir sejenak, lalu berkata, “Kau ikut sebagai pembantu barang khusus. Menjaga peti tahan lembap, melihat segel, dan menilai barang sungai yang kami temukan di jalan. Makan ditanggung. Tempat tidur seadanya. Dan jika barang dari Broken Reed Bend laku tinggi di Lanhe City, kau dapat bagian yang masuk akal.”

“Berapa ‘masuk akal’?”

“Kalau aku bilang sekarang, kau akan pikir aku bohong.” Han Lu mengeluarkan satu keping kayu kecil dengan cap gelombang hitam. “Tapi ini tanda ikut rombongan barangku. Kalau kau datang sebelum fajar lusa, berarti kita jalan bersama. Kalau tidak, aku anggap kau memilih kubangan kecil ini.”

Han Lu meletakkan keping itu di atas peti, lalu bangkit. “Pikirkan cepat. Kota besar tidak suka menunggu.”

Setelah keduanya pergi, gudang kembali sunyi.

Shou Wei menatap keping kayu gelombang hitam itu cukup lama.

Lanhe City.

Nama itu seperti membuka pintu di kepalanya.

Kota lebih besar.

Rumah lelang lebih besar.

Manual dan pelat formasi yang jauh lebih baik.

Orang-orang yang benar-benar tahu nilai benda tua.

Dan mungkin, di sana juga ada jalan untuk membuat marker kayu ini berbicara lebih banyak.

Tapi semakin besar kota, semakin besar pula bahayanya.

Itu tidak menakutinya.

Justru membuat langkah selanjutnya terasa benar.

Sore itu, Shou Wei menyelesaikan dua hal sekaligus.

Pertama, ia menemui Mu Qinglan dan memberitahunya bahwa ia mungkin akan pergi dari Stone Reed Town segera. Wanita itu tidak terkejut.

“Bagus,” katanya sambil menimbang akar hijau pahit. “Kota ini terlalu kecil untuk orang yang mulai berpikir lebih cepat dari pasar.”

“Kau tidak tanya ke mana?”

“Kalau kau ingin memberitahu, kau sudah memberitahu.” Mu Qinglan menaruh satu kantong kecil ke meja. “Ini serbuk penahan busuk. Untuk perjalanan lembap. Anggap tukar dengan dua mark yang belum kubayar penuh.”

Itu bukan benar-benar tukar seimbang.

Lebih seperti hadiah perpisahan yang pura-pura disebut transaksi.

Shou Wei menerimanya. “Terima kasih.”

“Jangan mati di kota besar,” jawabnya datar. “Orang sepertimu biasanya mati bukan karena kurang bakat, tapi karena terlalu cepat merasa dirinya tak lagi kecil.”

Kalimat itu menempel kuat.

Kedua, ia menemui Jin Pel di gudang timur.

Pria itu sedang memeriksa daftar kiriman saat Shou Wei datang. Begitu mendengar bahwa bocah itu mungkin akan pergi ke Lanhe City bersama jalur barang sungai, Jin Pel hanya mendengus pelan.

“Masuk akal,” katanya. “Stone Reed Town bagus untuk cari makan, bukan untuk tumbuh.”

Ia mengeluarkan secarik kertas kecil bersegel setengah. “Bawa ini. Nama seorang penjaga gudang di Lanhe City, Tao Ren. Jangan bilang aku temanmu. Cukup bilang kau pernah bekerja utility marks untuk gudang timur. Kalau dia sedang butuh orang kecil yang tidak bodoh, mungkin kau dapat pintu masuk.”

Itu lebih berharga dari uang tembaga.

Shou Wei menerimanya hati-hati.

Jin Pel menatapnya sekali lagi, lalu berkata, “Di kota besar, jangan terlalu cepat menunjukkan semua yang kau bisa. Di sini orang cuma mencuri barang. Di sana, orang mencuri masa depan.”

Itu mungkin kalimat paling serius yang pernah keluar dari mulutnya.

Malam terakhir sebelum keputusan, Shou Wei pergi ke tepi sungai sendirian.

Bukan ke dermaga utama. Bukan ke jalan ramai. Tapi ke celah batu tempat ia dulu menyembunyikan sebagian uangnya. Ia memeriksa simpanannya, mengambil semua, lalu duduk di atas batu besar yang menjorok ke air. Kabut tipis turun. Arus sungai bergerak tenang di bawah langit gelap.

Ia mengeluarkan marker kayu itu sekali lagi.

Dengan sangat hati-hati, ia menjalankan sedikit qi melingkar di pinggirnya. Garis kecil yang sama menyala sesaat, dan tetes air di permukaannya membentuk lengkung samar ke arah utara-barat laut.

Masih sama.

Broken Reed Bend tetap memanggil.

Tapi untuk pertama kalinya, Shou Wei tidak merasa harus menjawab panggilan itu sekarang juga.

Kadang jalan menuju rahasia tidak ditembus dengan berdiri paling dekat ke pintunya.

Kadang justru harus memutar:

ke kota yang lebih besar,

ke rumah lelang yang lebih besar,

ke manual yang lebih baik,

ke kekuatan yang cukup untuk kembali dan membuka pintu tanpa jadi mangsa.

Ia menutup tangan di sekitar marker itu.

“Lanhe City dulu,” bisiknya pelan.

Keputusan itu terasa benar.

Bukan pengecut.

Bukan mundur.

Hanya memilih medan yang lebih baik untuk tumbuh.

Fajar lusa datang dingin dan abu-abu.

Di dermaga utara, Han Lu sudah menunggu dengan perahu barang kecil yang lebih kokoh dari sebelumnya. Guo Fen memikul karung, mengumpat pada tali yang kusut. Dua peti tertutup rapat sudah diikat di dasar perahu. Salah satunya pasti berisi barang dari Broken Reed Bend, pikir Shou Wei.

Ia datang membawa:

alat ukir formasidua manual tipisbeberapa utility marksuang hasil Stone Reed Townsalep dan serbuk dari Mu Qinglancatatan kecil dari Jin Peldan marker kayu tua tersembunyi rapatHan Lu memandangnya sekali, lalu mengangguk.

“Jadi kau memilih jalan.”

“Ya.”

Guo Fen mendengus. “Bagus. Aku sudah malas mengangkat barang kalau nanti cuma aku yang dilempar ke rawa.”

Mereka pun menaiki perahu.

Saat Stone Reed Town perlahan tertinggal di belakang mereka, Shou Wei tidak menoleh terlalu lama. Kota kecil itu sudah memberinya cukup. Ia bukan rumah, bukan tujuan besar, dan bukan tempatnya tumbuh sampai tinggi.

Ia hanyalah batu pijakan pertama.

Di depan sana ada Lanhe City.

Kota yang lebih besar.

Rumah lelang yang lebih besar.

Formasi yang lebih tinggi.

Orang-orang yang lebih berbahaya.

Dan mungkin, salah satu pintu menuju kekuatan yang benar-benar akan mengubah jalannya.

Shou Wei duduk di perahu, membiarkan kabut sungai pagi menyentuh wajahnya.

Stone Reed Town mengecil di belakang.

Jalan ke utara justru mulai membesar.

1
Muhammad Arsyad
ini...kapan saktinya...lama amat🤭🤭
Simon Semprul
nie cerita pendekar apa misterii si thor /Gosh/
Daryus Effendi
ada b.ingrisnya jadi gak enak bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!