Sora Kalani menghabiskan hidupnya di antara detak mesin jam, menunggu satu detik di mana Ezrael Vance akan menoleh ke arahnya. Namun bagi Ezra, Sora hanyalah pelabuhan tenang tempatnya bersandar sebelum ia kembali berlayar mengejar Liora—balerina yang menjadi pusat dunianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firsty aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Warisan yang Berdenyut
Gemuruh aula Kesenian Nasional perlahan memudar, digantikan oleh kesunyian yang mencekam saat petugas kepolisian menggiring Ezra Vance keluar menembus kerumunan jurnalis yang beringas. Cahaya lampu kilat kamera masih meledak-ledak di kejauhan, namun bagi Sora Kalani, dunia seolah menyempit hanya seluas telapak tangannya. Di sana, The Chronos Heart terbaring diam, namun getaran frekuensi tingginya masih terasa merayapi ujung saraf jemarinya.
Hael melingkarkan lengannya di bahu Sora, melindunginya dari tatapan para kolektor yang kini memandang Sora dengan campuran rasa hormat dan ngeri. "Ayo kita pergi dari sini, Sora. Detektif Januar sudah mengamankan lokasi, dan jam ini... secara teknis adalah barang bukti, tapi aku sudah menjamin bahwa hanya kamu yang boleh menyentuh mekanismenya."
Sora mengangguk tanpa suara. Mereka berjalan keluar melalui pintu samping, menghindari kekacauan di karpet merah. Hujan masih turun, namun kali ini terasa seperti basuhan yang membersihkan sisa-sisa kotoran sepuluh tahun terakhir.
Mereka tidak kembali ke bengkel biasa. Hael membawa Sora ke ruang bawah tanah toko antiknya—sebuah bunker restorasi kedap suara yang dilengkapi dengan peralatan horologi paling mutakhir di dunia. Di tengah ruangan, sebuah meja kerja dari baja bedah menunggu di bawah lampu halogen yang sangat terang.
Sora meletakkan The Chronos Heart di atas bantalan beludru. Ia menarik napas panjang, menstabilkan detak jantungnya sendiri. "Aku harus membongkarnya, Hael. Aku harus membebaskan The Infinite Spring dari penjara emas putih ini."
"Lakukanlah," bisik Hael sambil menyiapkan seperangkat obeng magnetik dan mikroskop elektron. "Ini adalah momen yang Ayahmu tunggu selama sepuluh tahun."
Sora mulai bekerja. Tangannya bergerak dengan kecepatan dan presisi yang hampir tidak manusiawi. Ia melepaskan pelindung safir biru yang selama ini menyembunyikan identitas asli mesin itu. Saat lapisan terluar terangkat, sebuah pemandangan yang menyayat hati terlihat.
Mesin The Infinite Spring karya ayahnya tidak sekadar dipasang di sana. Ia dipaksa, dipotong di beberapa bagian porosnya agar muat ke dalam cangkang sempit milik keluarga Vance. Ada bekas las kasar yang ditutupi oleh plat emas, seolah-olah seseorang telah mencoba "menjinakkan" kejeniusan Aris Kalani agar patuh pada estetika horologi konvensional.
"Lihat ini, Hael," Sora menunjuk ke arah roda gigi utama yang berputar tanpa henti tanpa bantuan pegas rambut tradisional. "Ayahku menggunakan prinsip magnetisme cair. Ia tidak butuh gesekan untuk menghasilkan energi. Tapi Vance... mereka menambahkan hambatan buatan di sini agar jam ini tetap butuh diputar sesekali, supaya mereka bisa berpura-pura bahwa ini adalah teknologi mekanik biasa."
Sora terus menggali lebih dalam. Ia melepaskan plat penyangga terakhir yang bertuliskan angka seri AK-1988. Namun, saat plat itu terangkat, ia menemukan sesuatu yang tidak ada dalam skema yang pernah ia pelajari.
Di bawah jantung mesin itu, tersembunyi sebuah silinder logam kecil seukuran sebutir beras. Silinder itu terhubung langsung ke poros pusat.
"Apa itu?" tanya Hael, ikut membungkuk di depan lensa mikroskop.
"Ini bukan bagian dari mesin jam," gumam Sora heran. Ia menggunakan pinset vakum untuk mengangkat silinder itu dengan sangat hati-hati. "Ini adalah kapsul penyimpanan data kuno... sebuah micro-drive mekanis."
Sora menghubungkan silinder itu ke sebuah alat pembaca analog yang ada di meja kerja Hael. Layar monitor di dinding mulai menampilkan garis-garis grafik yang kemudian berubah menjadi gelombang suara yang terdigitasi secara kasar.
Sebuah suara mulai terdengar. Suara yang berat, hangat, dan sedikit terengah-engah karena napas yang pendek. Suara yang membuat air mata Sora akhirnya tumpah tanpa bisa dibendung lagi.
"Sora... putriku tercinta. Jika kamu mendengarkan ini, berarti keajaiban telah terjadi, atau tragedi telah menimpaku lebih dulu. Aku tahu Ezra Vance tidak sejujur yang kamu kira. Aku melihatnya menyelinap ke bengkel malam-malam, mengambil foto skema-skemaku. Aku tahu waktuku tidak lama lagi."
Sora menutup mulutnya dengan tangan, isaknya pecah di antara keheningan laboratorium itu.
"Aku sengaja membiarkan dia mengambil prototipe ini, Sora. Tapi aku menanamkan sesuatu di dalamnya. Mesin ini tidak akan pernah benar-benar sempurna di tangan orang yang mencuri. Ia dirancang untuk hancur jika disentuh oleh tangan yang penuh keserakahan. Hanya sentuhanmu—frekuensi dari gerakan jemarimu yang aku latih sejak kecil—yang bisa membuka kunci terakhir di dalam poros pusat ini."
Rekaman itu terjeda oleh suara batuk yang parah.
"Di bawah dudukan roda gigi ketiga, ada sebuah kunci enkripsi menuju brankas digital di Swiss. Itu adalah seluruh kekayaan intelektualku, paten-paten yang akan memastikan kamu tidak pernah lagi harus melayani orang lain untuk bertahan hidup. Sora, jangan biarkan waktu menguasaimu. Kamulah yang harus menguasai waktu. Ayah mencintaimu... lebih dari setiap detik yang pernah tercipta."
Suara itu menghilang, digantikan oleh desis statis yang panjang.
Sora jatuh terduduk di kursi kerja. Tubuhnya berguncang hebat. Hael segera memeluknya dari belakang, membiarkan Sora menumpahkan seluruh duka, amarah, dan kerinduan yang selama sepuluh tahun ini tersumbat oleh kebohongan Ezra.
"Dia tahu, Hael," bisik Sora di sela tangisnya. "Ayahku tahu dia akan dikhianati, dan dia melakukan ini semua untuk melindungiku. Dia menjadikan dirinya umpan agar aku punya masa depan."
Hael mencium puncak kepala Sora. "Dia adalah seorang maestro sejati, Sora. Dia tidak hanya menciptakan mesin jam yang abadi, dia menciptakan perlindungan yang abadi untukmu."
Malam itu berganti menjadi subuh yang sunyi. Sora tidak tidur. Ia menghabiskan sisa malamnya untuk memulihkan mesin The Infinite Spring. Tanpa beban untuk menyembunyikan kebenaran lagi, ia membuang cangkang emas putih milik Vance ke tempat sampah logam. Ia merakit kembali mesin ayahnya ke dalam sebuah wadah kaca murni yang transparan—membiarkan setiap roda gigi, setiap aliran magnet cair, dan setiap ukiran AK-1988 terlihat dengan jelas oleh dunia.
Jam itu kini berdetak dengan suara yang berbeda. Bukan lagi dengungan protes yang menyakitkan, melainkan ritme yang damai dan megah. Ia tidak lagi "bernyanyi" karena dipaksa, ia berdetak karena ia akhirnya pulang ke rumahnya yang sebenarnya.
"Apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Hael sambil menyodorkan segelas kopi pahit saat cahaya matahari pertama mulai masuk melalui celah ventilasi.
Sora menatap jam murni di depannya. Matanya kini tidak lagi tampak lelah. Ada cahaya kemandirian yang begitu kuat di sana. "Aku akan membuka pendaftaran paten atas nama Aris Kalani. Aku akan membersihkan namanya secara internasional. Dan setelah itu..."
Sora menoleh ke arah Hael, memberikan sebuah senyum yang tulus. "Aku akan membangun sebuah akademi. Aku ingin melatih anak-anak yang memiliki bakat horologi agar mereka tidak pernah terjebak di ruang tunggu hati seseorang yang salah. Aku ingin mereka tahu bahwa waktu adalah milik mereka untuk diciptakan, bukan untuk dicuri."
Hael tersenyum, hatinya terasa penuh. "Lalu bagaimana dengan toko antikku? Siapa yang akan memperbaiki jam-jam rongsokanku jika kamu sudah menjadi direktur akademi?"
Sora tertawa kecil, melangkah mendekati Hael dan merapikan kerah kemejanya yang berantakan. "Aku akan selalu punya waktu untukmu, Hael. Karena kamu adalah satu-satunya orang yang tidak pernah memintaku untuk mempercepat atau memperlambat detak jantungku. Kamu membiarkanku berdetak apa adanya."
Di luar sana, kota mulai terbangun. Berita tentang penangkapan Ezra Vance dan penemuan warisan Aris Kalani mulai meledak di setiap stasiun televisi. Namun di dalam ruang bawah tanah itu, waktu seolah berhenti demi memberikan penghormatan pada sebuah kemenangan yang manis.
Warisan itu kini tidak lagi berdenyut di bawah tekanan. Ia berdenyut karena kebebasan. Dan Sora Kalani, sang nakhoda waktu, siap untuk mengarungi sisa hidupnya dengan setiap detik yang kini sepenuhnya adalah miliknya sendiri.