Entah sejak kapan Alessia tumbuh menjadi gadis cantik mempesona. Sepuluh tahun menjaganya sebagai adik, ia baru menyadari debaran jantungnya yang tak karuan. Nathaniel sang anak angkat mulai mendambakan adik angkatnya. Adik yang keluarganya telah menyelamatkan Nathaniel dari jurang keterpurukan. Pantaskah Nathaniel bersanding dengan adiknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sinclair Adalah Namamu
Alessia duduk di balik meja kerjanya yang luas, menatap layar tablet yang menampilkan draf desain showroom dari Noah. Ia telah memberikan catatan merah pada beberapa bagian aksen lampu yang dianggapnya terlalu mencolok dan bisa merusak estetika minimalis Sinclair Mall.
Pintu ruangannya terbuka, dan sosok Nathaniel muncul dengan langkah tegapnya yang biasa. Wajahnya tampak segar meski jadwalnya sangat padat sejak pagi buta.
"Bahan rapat sudah siap?" tanya Nathaniel, suaranya kembali ke mode profesional yang tegas. Ia baru saja kembali dari lantai bawah setelah meninjau operasional supermarket pasca belanja mereka kemarin sore.
"Sudah, Kak. Catatanku untuk Noah sudah final. Bagaimana dengan hasil rapat di supermarket tadi?" tanya Alessia balik, mencoba mengalihkan fokusnya dari rasa kantuk sisa makan pasta semalam.
Nathaniel menarik kursi di depan meja Alessia, meletakkan map laporan di sana. "Berjalan lancar. Mereka setuju untuk menyediakan rak tambahan khusus bagi pengusaha kecil untuk menitipkan dagangannya. Tentu saja dengan syarat kualitas produknya harus tetap premium dan lulus kurasi kita," jelas Nathaniel singkat namun padat.
Alessia menghela napas panjang, ia menyandarkan punggungnya ke kursi kebesarannya sambil menatap langit-langit ruangan. "Kadang aku bingung kenapa Ayah bersikeras sekali menjadikanku penerus utama Sinclair. Padahal, anak laki-lakinya yang satu ini sudah semahir dan sehebat ini," gerutu Alessia tulus.
Mendengar dirinya disebut secara gamblang sebagai "anak laki-laki Sinclair" oleh Alessia, Nathaniel tertegun sejenak. Kata-kata itu seolah bergema di kepalanya, menembus lapisan pertahanan yang selama ini ia bangun.
Sebegitu besarnya kepercayaan keluarga ini, pikirnya. Alessia tidak hanya menganggapnya sebagai pelindung atau karyawan, tapi benar-benar sebagai saudara yang setara. Hal itu membuat Nathaniel terdiam cukup lama; rasa syukur yang luar biasa itu bercampur dengan getir yang halus. Pengakuan Alessia justru membuatnya merasa tidak berani mendambakan hal lain di luar status "keluarga" yang sudah sangat sakral ini.
"Jangan bicara begitu, Alessia," suara Nathaniel melembut, tidak lagi sedingin tadi. "Sinclair adalah namamu, identitasmu. Tugas saya hanya memastikan transisinya berjalan sempurna sampai kamu benar-benar siap berdiri sendiri."
Alessia memutar kursinya, menatap Nathaniel dengan senyum tipis. "Tapi tanpa Kakak, Sinclair mungkin tidak akan sekuat sekarang. Ayah tahu itu, dan aku pun tahu."
Nathaniel berdeham, mencoba mengalihkan suasana yang mulai melankolis. "Sudah, simpan pujianmu untuk nanti. Noah dan tim Maverick sudah ada di lobi. Pastikan kamu tidak luluh hanya karena dia membawa kopi kesukaanmu lagi."
Alessia tertawa lepas. "Tenang saja, Kak! Kali ini, Direktur Alessia Sinclair akan sangat kejam soal desain lampu itu!"
Suasana di koridor menuju ruang rapat eksekutif terasa formal namun hangat. Alessia berjalan dengan dagu terangkat, membalas sapaan para staf dengan senyum ramah yang menjadi ciri khasnya. Di sampingnya, Nathaniel melangkah dengan wibawa yang tak tergoyahkan, tangannya membawa tablet berisi draf final yang akan mereka bicarakan.
Begitu pintu ruang rapat terbuka, Noah sudah berdiri di sana. Penampilannya hari ini sedikit lebih santai namun tetap berkelas, seolah ingin menunjukkan sisi kreatif dari Maverick Automotive.
"Alessia, you look so gorgeous today!" puji Noah spontan, matanya berbinar menatap Alessia yang tampak sangat profesional dalam setelan kerja yang pas di tubuhnya.
Alessia tertawa kecil, sedikit tersanjung namun tetap menjaga batas. "Noah bisa saja deh, but of course... terima kasih pujiannya," jawab Alessia asik, lalu segera duduk di kursi utama.
Tanpa membuang waktu untuk basa-basi yang terlalu lama, Alessia langsung membuka dokumen di hadapannya. "Noah, ada beberapa desain lampu yang menurutku mengganggu gaya mall Sinclair. Sudah aku tandai bagian mana saja yang tidak sinkron dan aku beri komentar kekurangannya di mana. Kita ingin modern-luxury, bukan gaya futuristik yang terlalu bising," jelas Alessia tegas.
Noah mengangguk-angguk, menerima tablet yang disodorkan Alessia dengan serius. "Oke! Terima kasih masukannya, Al. Aku akan segera minta tim teknis untuk menyesuaikan suhu warnanya agar lebih hangat."
Namun, setelah urusan pekerjaan itu sejenak mereda, Noah kembali mencondongkan tubuhnya ke depan. "Omong-omong, kamu ada agenda apa setelah ini? Aku dengar ada pameran seni kontemporer baru di lantai 4 mall ini. Mau mampir sebentar?" tanya Noah dengan nada mengajak.
Nathaniel, yang sejak tadi hanya diam mengamati, tiba-tiba berdeham keras. Suaranya yang bariton memecah suasana akrab tersebut.
"Tuan Noah, jika Anda berencana mengajaknya pergi lalu mendadak meninggalkannya sendirian di sana seperti kemarin, mending tidak usah keluar sama sekali," peringat Nathaniel dengan tatapan mata yang tajam dan dingin. Ia belum lupa bagaimana Alessia harus menunggu taksi di tengah kemacetan karena ditinggal oleh pria di depannya ini.
Noah tersentak, wajahnya sedikit memerah karena merasa tersindir telak. Ia segera menoleh ke arah Nathaniel dengan raut bersalah.
"Maaf, Kak... soal kemarin itu benar-benar urusan mendadak dari pusat. Aku tidak bermaksud meninggalkan Al begitu saja," jawab Noah tulus, mencoba membela diri di depan "kakak" yang sangat protektif ini.
Alessia melirik Nathaniel, lalu kembali menatap Noah dengan senyum simpul.
"Sudahlah, Noah. Kak Nathaniel hanya tidak ingin jadwal kerjaku berantakan lagi. Jadi, bagaimana kalau kita fokus selesaikan revisi desain ini dulu?"
Nathaniel menyandarkan punggungnya, meski diam, kehadirannya di ruangan itu seolah menjadi pengingat bagi Noah bahwa setiap langkahnya terhadap putri Sinclair akan selalu diawasi dengan sangat ketat.
———
Di lorong-lorong kantor yang biasanya hanya diisi suara langkah sepatu pantofel yang terburu-buru, kini suasana terasa berbeda. Desas-desus hangat mulai menyebar di antara para staf, mulai dari divisi administrasi hingga tim kreatif di lantai bawah.
"Pernah terpikir tidak? Kantor kita terasa jauh lebih 'manusiawi' sejak Ms. Alessia aktif masuk setiap hari," bisik seorang staf humas saat mereka sedang mengantre di mesin kopi.
"Setuju. Aku tidak menyangka putri seorang konglomerat seperti Tuan William bisa seloyal dan sepeduli itu pada kami. Kemarin dia bahkan menanyakan kabar ibuku yang sedang sakit saat kami berpapasan di lift," timpal staf lainnya dengan nada kagum.
Bagi mereka, kehadiran Alessia bukan hanya membawa kesegaran visual, tapi juga meruntuhkan tembok kaku yang selama ini dibangun oleh gaya kepemimpinan Nathaniel yang ultra-profesional. Jika Nathaniel adalah "otak" yang dingin dan presisi, maka Alessia adalah "hati" yang memberikan denyut kehidupan pada Sinclair Mall.
Alessia, yang tidak sengaja mendengar potongan pembicaraan itu saat hendak menuju pantry, hanya bisa tersenyum simpul. Ia tidak merasa melakukan hal yang luar biasa; baginya, menghargai orang-orang yang membantu bisnis keluarganya adalah hal yang wajar.
Namun, saat ia kembali ke ruangannya, ia mendapati Nathaniel sedang berdiri di dekat jendela, memandangi kesibukan staf di luar sana dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kamu dengar apa yang mereka bicarakan?" tanya Nathaniel tanpa menoleh.
"Soal apa, Kak?" tanya Alessia pura-pura tidak tahu.
"Soal kantor yang menjadi lebih 'manusiawi' karena kehadiranmu," Nathaniel berbalik, menyandarkan pinggulnya di tepian meja kerja. "Sepertinya selama sepuluh tahun ini, aku terlalu sibuk menjadi mesin sampai lupa kalau orang-orang di sini juga butuh senyuman, bukan hanya instruksi."
Alessia berjalan mendekat, meletakkan berkasnya di meja. "Bukan begitu, Kak. Tanpa kedisiplinan Kak Nathan, mereka tidak akan punya standar kerja yang tinggi. Aku hanya menambahkan sedikit 'warna' saja. Kita ini kerja tim, kan?"
Nathaniel menatap Alessia cukup lama, lalu mengangguk pelan. "Mungkin kamu benar. Kadang aku lupa kalau Sinclair bukan hanya soal angka dan kontrak, tapi soal orang-orang di dalamnya."
Tiba-tiba, pintu ruangan diketuk. Seorang asisten masuk dengan wajah sedikit tegang namun antusias. "Maaf mengganggu, Ms. Alessia, Tuan Nathaniel. Tuan William sudah menunggu di lobi bawah. Beliau mengatakan ingin mengajak kalian berdua, dan juga Tuan Noah yang kebetulan masih ada di bawah, untuk makan malam bersama."
Nathaniel mengernyitkan dahi. "Noah ikut juga?"
Alessia menahan tawa melihat ekspresi kaku mentornya itu. "Ayolah, Kak. Ayah hanya ingin bersikap ramah pada mitra bisnis baru. Jangan pasang wajah seram begitu, nanti gosip 'manusiawi' tadi langsung hilang!"