Yu-nian adalah putri dari seorang bangsawan di kerajaan Tangyu, suatu ketika dia terpaksa mengantikan kakaknya yang kabur untuk menikah dengan seorang menteri yang sangat berkuasa. Berbeda usia membuat Yu-nian selalu berbeda pemikiran. dengan sang menteri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shafrilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awas pecah
Ketika Yu-nian berada di rumahnya dia berbincang dan berbincang dengan wanita tua yang selalu merawatnya. bukan orang tuanya yang merawat dirinya melainkan bibi yang selalu menjadi tempatnya berkeluh-kesah.
Semenjak Yu-nian kecil, Yun Mao dan nyonya Li-wei mementingkan bekerja daripada dua putrinya, mereka begitu berambisi untuk menjadi orang kaya, memiliki harta melimpah dengan semua cita-cita yang ada di otak mereka.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Yu-nian?" tanya Li-wei ketika melihat putrinya berada di rumahnya.
Yu-nian yang sedang bercanda dengan pengasuhnya nampak dia menoleh, menatap wanita yang sudah melahirkannya. bukan sapaan Selamat datang yang dia dapatkan, namun pertanyaan mengapa dia kembali dan apa yang dia lakukan di rumahnya.
"Apakah sambutan itu pantas untukku, Ibu? ini adalah rumahku, jadi aku juga berhak pulang kan?" dengan tatapan mata yang begitu kesal Yu-nian menatap ibunya.
Andaikata ibunya bersikap selayaknya seorang ibu yang mencintai putrinya.. Yu-nian tidak akan menjadi gadis bar-bar, suka kelayapan, selalu main judi taruhan, berkelahi bahkan dia suka melakukan perkelahian.
"Lekaslah kamu pulang, Aku tidak ingin mendapat masalah dari orang yang sudah membeli mu." jawabnya.
Tanpa berpikir dan menggunakan otak sama sekali Li-wei mengatakan sebuah kalimat yang begitu melukai hati putrinya. "Membeli mu" kata itu bagaikan sebuah kekejaman yang tidak akan pernah dimaafkan oleh Yu-nian sendiri.
"Hahaha..," Yu-nian tertawa saat mendengar ibunya mengatakan dia sudah dibeli. "Betapa buruk sifatmu itu, ibu. Kamu hanyalah wanita murahan yang berhasil menjual satu putrimu. Untung saja Airin sudah kabur terlebih dahulu, jika dia sampai berada di rumah ini, mungkin kamu akan menjualnya juga pada teman bangsawanmu yang sudah tua atau mungkin kamu menjualnya ke rumah pelacuran." kata Yu-nian dengan sangat pedas.
"Tutup mulutmu itu, Yu-nian!" seru Li-wei dengan sangat keras.
"Kenapa kamu harus marah, Ibu. Kamu bilang aku sudah dibeli. Aku ini bukan seorang pelacur, aku ini putrimu, anak yang sudah kamu lahirkan. Betapa teganya kamu mengatakan hal itu padaku, Apakah kamu mempunyai otak atau kamu itu sebenarnya memang dari dulu mempunyai pikiran jahat kepada kami?" tanya Yu-nian. kedua matanya tampak sedikit berkaca-kaca, dari dulu sampai sekarang orang tuanya tidak pernah berubah sama sekali.
"Masuklah dahulu, Yu-nian." pinta pengasuh.
"Tidak usah bi, aku ke sini cuma ingin melihat kabarmu saja. Namun saat aku berada di sini aku benar-benar tidak habis berpikir." ucapnya. antara bingung dan sakit hati Yu-nian tidak tahu apa salahnya dan Airin. Kenapa orang tuanya memperlakukan mereka bagaikan barang yang harus dijual dengan harga mahal.
"Ayo kita pulang, Sayang." Feng Shiyan masuk ke dalam rumah Yun Mao, ternyata dari tadi dia mendengar apa yang dikatakan oleh Li-wei.
Tak pernah terpikir ada orang tua yang bisa mengatakan hal itu kepada putrinya, wanita yang sudah melahirkannya dan memberi susu kepada putrinya. Namun sayangnya ternyata selama ini pemikirannya hanya untuk bisnis semata.
Fikiran Yu-nian benar-benar kacau, terasa hatinya benar-benar sakit. jantungnya terasa diremas, kedua bola matanya menatap Feng Shiyan yang sudah berada di sampingnya.
"Ayo kita pulang." dengan lembut Feng Shiyan meraih tangan istrinya.
"Mulai sekarang jangan pernah mencariku, Jangan pernah menganggap aku sebagai putrimu. Terima kasih karena kamu telah melahirkan ku, terima kasih karena kamu sudah memberikan luka yang begitu dalam padaku. Ini terakhir kalinya aku ke sini dan setelah ini kita tidak ada hubungan." ucapnya.
Setelah mengatakan itu Yu-nian pergi bersama Feng Shiyan, ingin sekali dia menangis, berteriak dengan semua perlakuan orang tuanya. ketika berada di dalam kereta kuda Yu-nian tampak terdiam, dia menatap di sekitar jalanan.
"Menangislah jika ingin menangis, tidak perlu kamu menahannya. Sesak yang terasa akan membuatmu semakin menderita, lepaskan bebanmu di dadaku." salah satu tangan Feng Shiyan meraih kepala Yu-nian kemudian memeluknya. "Menangislah." tak ada suara. Namun tiba-tiba saja air mata itu berlinang dalam kesendirian dan rasa sakit.
Gadis berusia 16 tahun itu berjuang untuk dirinya sendiri. "Aku.. aku ingin merasakan kasih sayang, aku ingin dihargai, Aku ingin dicintai, Aku ingin merasakan kebahagiaan. Tidak seperti ini." ucapnya lirih.
Pelukan Feng Shiyan semakin erat, dia tidak pernah mengira kalau gadis bar-bar yang merebut hatinya itu ternyata bisa lemah juga. "Tetaplah bersamaku, aku akan memberikan segalanya padamu. Aku akan mencintaimu, Aku akan selalu bersamamu dan aku akan selalu menjagamu seumur hidupku." bisik Feng Shiyan.
Entah mengapa kata-kata itu sangat berarti bagi Yu-nian, pria yang menebus kedua orang tuanya, pria yang sudah menikahinya
Ternyata pria yang memiliki sifat keras Namun ternyata lembut, kedua tangan Yu-nian tiba-tiba memeluk Feng Shiyan, dia menenggelamkan wajahnya di dada pria yang memeluknya. Terasa hangat, terasa semuanya bebannya sirna seketika.
Feng Shiyan mengajak Yu-nian pergi ke suatu tempat, Saat sampai di tempat itu dia membukakan pintu untuk istrinya. mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan istrinya dengan begitu erat. Begitu lembut penuh dengan kasih sayang.
Senyum yang ditunjukkan Feng Shiyan membuat Yu-nian merasa nyaman, sebagai wanita setegar apapun pasti mereka ingin dihargai, dicintai disayangi juga di bahagiakan.
"Selamat datang, tuan." sapa beberapa pelayan.
Belum banyak orang yang tahu kalau sekarang Feng Shiyan sudah menikah, gadis muda yang berada di sampingnya adalah gadis yang selalu dia puja.
Tidak ada jawaban dari pria itu, dia masuk ke dalam kediaman mendiang kakeknya dengan beberapa anak pengawal yang mengikutinya.
"Kamu beristirahat saja, aku akan menemui seseorang." ucap Feng Shiyan.
"Baiklah." jawab Yu-nian.
"Tuan, ada beberapa laporan yang sedikit bermasalah. Kemungkinan laporan dari beberapa prajurit." Fu Tian memberikan beberapa laporan istana.
"Kamu selesaikan semua masalah ini, Fu Tian. jangan lupa lakukan seperti yang sudah-sudah."
"Nyonya, apakah nyonya mau dibelikan sesuatu?" tanya Fu Tian.
"Nggak usah." jawab cuek Yu-nian.
Tok.. tok.. tok
Ruangan itu diketok oleh seseorang.
"Masuk." jawab Fu Tian.
Seorang wanita masuk dengan pakaian yang begitu mewah bahkan bagian dadanya terlihat begitu menonjol. seolah itu balon yang mau meletus, Yu-nian yang dari tadi tidak memperhatikan itu seketika dia menatap tajam pada wanita itu.
"Waduh, ini wanita siapa? pakaiannya Kok begitu amat?" guman Yu-nian dalam hati.
"Tuan." Panggil si wanita.
"Iya." jawab Feng Shiyan.
"Tuan ada beberapa laporan yang baru masuk." si wanita memberikan beberapa berkas kepada Feng Shiyan sembari sedikit membungkuk.
"Aduh jatuh, pecah itu.. Aduh duh..," ucap Yu-nian yang spontan. dia menatap dada si wanita yang begitu besar namun hanfunya terlalu ketat.
Feng Shiyan dan Fu Tian seketika menatap Yu-nian yang mengatakan sesuatu yang membuat mereka bingung, entah apa yang dia lihat hingga membuatnya seolah panik.
"Ada apa nyonya?" tanya Fu Tian.
"Itu, balonnya itu loh mau pecah." jawab Yu-nian sembari menunjuk dada si wanita yang ternyata adalah mata-mata suaminya.
Feng Shiyan dan Fu Tian sontak menatap si wanita, mereka benar-benar tidak habis pikir. tadi Yu-nian begitu sedih, begitu mengenaskan setelah bertemu dengan ibunya. sekarang Yu-nian malah dia tiba-tiba mengatakan sesuatu yang begitu konyol.
"Maksudnya apa, nyonya?" tanya Fu Tian.
"Itu loh, wanita itu siapa sih?" tanya Yu-nian menunjuk ke arah seorang wanita yang memang tubuhnya semelehoy.
"Dia mata-mata kami, nyonya." jawab Fu Tian.
"Benarkah?" kedua bola mata yunian membulat sempurna setelah itu dia menatap suaminya dan anak buahnya itu. "Wah... kalian pasti kenyang luar biasa, bahkan bisa dibilang kalian sampai muntah kekenyangan." ucap Yu-nian sembari menatap ke arah si wanita.
"Maksudmu apa?" tanya si wanita yang mengerti apa yang dibicarakan oleh Yu-nian.
"Hai Nona, nyonya atau siapa sih. Kamu itu tidak punya pakaian ya? pakaian yang kamu kenakan itu kok gitu banget sih, itu loh balonmu Itu loh.. kelihatan mau pecah. baju yang kamu kenakan itu kurang bahan ya?" jawab Yu-nian dengan kata-kata yang begitu lucu.
**Bersambung**