"Jangan dekat-dekat cowok lain, Cebol. Kau itu tanggung jawabku!"
Bagi Anvaya Dinakara, Narev Elvaro adalah tetangga raksasa setinggi 192 cm yang paling menyebalkan. Narev selalu mengawasi Vaya, melarangnya berteman dengan pria lain dengan alasan "menjaga titipan orang tua".
Namun, satu insiden di malam kelulusan melempar mereka sepuluh tahun ke masa depan. Vaya terbangun bukan di kamarnya, melainkan di pelukan Narev dewasa yang sangat memujanya. Lebih gila lagi, ada seorang bayi cantik bernama Miciella Aracelli yang memanggil mereka "Mama" dan "Papa".
Terjebak dalam pernikahan masa depan yang manis, mampukah mereka kembali ke masa lalu saat status mereka masih "musuh bebuyutan"? Atau justru Narev akan melakukan segala cara agar masa depan itu menjadi nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Menara Pengawas Berjalan
[POV: Vaya]
"Vaya, ini daftar pustaka buat tugas sosiologi kemarin, kan? Udah gue benerin, coba lo cek dulu."
Aku mendongak, menyipitkan mata karena sinar matahari senja yang menembus jendela koridor lantai dua tepat mengenai wajahku. Di depanku, Rian—salah satu teman sekelasku yang cukup ramah—menyodorkan beberapa lembar kertas.
"Oh, iya! Makasih ya, Yan. Aku cek sekarang—"
Belum sempat jemariku menyentuh kertas itu, sebuah bayangan besar tiba-tiba jatuh menutupi tubuhku. Seketika, suhu di sekitarku terasa turun beberapa derajat. Aroma sandalwood dan maskulin yang sangat familiar menyerbu indra penciumanku, membuat bulu kudukku berdiri tanpa sadar.
Sial. Si Raksasa datang.
"Minggir."
Suara itu rendah, berat, dan tidak menerima bantahan. Rian tersentak, kertas di tangannya hampir jatuh saat dia menoleh dan mendapati sosok tinggi menjulang berdiri tepat di belakangku.
Narev Elvaro. Dengan tinggi 192 cm, dia tidak hanya sekadar tinggi; dia adalah tembok berjalan. Kepalaku bahkan tidak sampai ke bahunya. Untuk menatap wajahnya saja, aku harus mendongak sampai leherku terasa ingin patah.
"Eh, Rev... ini, lagi bahas tugas—" Rian terbata.
Narev tidak menatap Rian. Mata abu-abunya yang dingin justru tertuju padaku, mengunci pergerakanku seperti predator yang sedang mengawasi kelinci. "Cebol," panggilnya dingin. "Pulang."
Aku menggeram, mencoba mengabaikan debaran jantungku yang tidak keruan karena kesal. "Nanti dulu, Narev! Aku lagi ada urusan sama Rian. Kamu kalau mau pulang, pulang aja duluan!"
Narev justru melangkah maju satu tahap. Perbedaan tinggi kami yang ekstrem membuatku terdesak hingga punggungku menempel pada deretan loker besi. Suara benturan tasku dengan loker bergema di koridor yang mulai sepi.
"Aku nggak suka mengulang kalimatku," ucap Narev. Dia melirik Rian sekilas dengan tatapan meremehkan. "Tugas sosiologi? Atau cuma alasan buat cari perhatian?"
"Jaga mulutmu, Narev!" potongku cepat. "Nggak semua orang punya pikiran kotor kayak kamu!"
Narev mendengus sinis. Dia tiba-tiba mengulurkan tangannya yang panjang, melewati kepalaku untuk menutup pintu loker di belakangku dengan suara dentuman yang keras. Aku terperangkap di antara kedua lengannya yang kokoh.
"Dengar, Rian," Narev bicara tanpa mengalihkan pandangan dariku. "Mulai besok, kalau mau kasih tugas, lewat ketua kelas saja. Jangan langsung ke dia. Paham?"
Rian, yang sepertinya tidak ingin berurusan dengan atlet basket sekolah yang temperamental ini, hanya mengangguk kaku lalu bergegas pergi meninggalkan kami.
"Narev! Kamu keterlaluan!" aku memukul dadanya yang keras seperti beton. "Kamu pikir kamu siapa, hah? Ayahku aja nggak seposesif ini!"
Narev menundukkan kepalanya, membuat wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahku. Aku bisa melihat pantulan diriku di matanya yang tajam. "Ayahmu menitipkanmu padaku selama mereka dinas di luar kota, Anvaya. Itu artinya, keselamatanmu—termasuk dari gangguan cowok-cowok nggak jelas—adalah tanggung jawabku."
"Aku bukan barang titipan!" balasku dengan suara bergetar karena emosi. "Kenapa sih kamu hobi banget ganggu hidupku? Kamu benci aku, kan? Kamu selalu bilang aku cebol, pendek, nggak becus. Kalau benci, ya udah, biarin aku sendiri!"
Narev terdiam sejenak. Rahangnya mengeras. Dia menarik kembali tangannya dan memasukkannya ke dalam saku celana, kembali ke posisi tegaknya yang luar biasa tinggi.
"Aku nggak benci kamu," gumamnya pelan, suaranya kini terdengar berbeda, sedikit lebih dalam namun tetap tajam. "Aku cuma... memastikan kamu nggak melakukan kebodohan."
"Kebodohan apa? Ngobrol sama temen itu bodoh?"
"Iya, kalau temannya punya maksud lain." Narev berbalik, mulai melangkah pergi dengan kaki panjangnya. "Jangan banyak protes. Lima menit lagi aku tunggu di parkiran. Kalau telat, aku seret kamu di depan umum."
Aku menatap punggungnya yang lebar dengan perasaan dongkol yang meluap-luap. Satu bulan lagi, batinku. Satu bulan lagi kelulusan. Setelah itu, aku akan kuliah sejauh mungkin dari raksasa gila ini. Aku nggak mau melihat wajah sombongnya lagi seumur hidupku!
...****************...
Aku tidak tahu, bahwa takdir punya cara yang sangat lucu sekaligus kejam untuk mempermainkan sumpahku itu.
G konsisten sma omongannya si vaya
ko pendek kali babnya panjangin dikit dong kaaaa