NovelToon NovelToon
Kaisar Abadi Penentang Surga

Kaisar Abadi Penentang Surga

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Sepuluh ribu tahun yang lalu, Kaisar Pedang Kekosongan, Jian Chen, dikhianati oleh tunangannya (Permaisuri Surgawi Luo Xue) dan saudara angkatnya saat mencoba menerobos ke Alam Ilahi Primordial. Jiwanya hancur berantakan. Namun, setetes Darah Primordial misterius yang ia temukan di Reruntuhan Kekacauan menyelamatkan satu fragmen jiwanya.

Sepuluh ribu tahun kemudian, Jian Chen terbangun di tubuh seorang pemuda bernama sama di Benua Bintang Jatuh (Dunia Fana terendah). Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Bawaan" yang meridiannya hancur. Dengan ingatan masa lalunya, pengetahuan alkimia tingkat dewa, dan teknik kultivasi terlarang Seni Melahap Surga Primordial, Jian Chen memulai kembali langkahnya dari bawah. Ia bersumpah untuk membelah langit, menghancurkan para pengkhianat yang kini telah menjadi Penguasa Surga, dan mengungkap rahasia sejati di balik Darah Primordial.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alun-Alun Bintang dan Monumen Kekuatan

Alun-Alun Bintang adalah pusat dari ibu kota Kerajaan Angin Langit. Luasnya mencapai puluhan hektar, dilapisi oleh ubin marmer putih yang memantulkan cahaya matahari pagi. Hari ini, alun-alun raksasa itu disesaki oleh puluhan ribu orang.

Ini adalah perhelatan tiga tahunan: Ujian Penerimaan Mahasiswa Baru Akademi Angin Langit. Hanya kultivator berusia di bawah delapan belas tahun dengan bakat luar biasa yang berhak mendaftar.

Jian Chen melangkah santai menyusuri kerumunan. Jubah hitamnya berkibar pelan, sementara di punggungnya, Pedang Penguasa Kosong yang besar, hitam, dan terlihat sangat jelek menarik banyak tatapan merendahkan. Namun, setiap kali seseorang mencoba menabrak bahunya secara tidak sengaja di tengah kerumunan yang padat, mereka justru terpental mundur seolah baru saja menabrak dinding baja tak kasat mata.

Dengan Seni Melahap Surga Primordial yang secara pasif menyamarkan fluktuasi Qi-nya, Jian Chen hanya terlihat seperti kultivator Tingkat Tiga atau Empat biasa. Di lautan jenius ibu kota, tingkat kultivasi seperti itu dianggap setara dengan rakyat jelata.

Di pusat alun-alun, sepuluh panggung batu didirikan. Di atas setiap panggung, berdiri sebuah pilar batu setinggi tiga meter yang memancarkan pendaran cahaya formasi. Itu adalah Monumen Kekuatan, alat uji tahap pertama.

"Dengar semuanya!"

Suara yang diperkuat oleh Qi yang sangat tebal menggema dari atas paviliun utama. Seorang pria paruh baya berjubah biru dengan lambang elang di dadanya melangkah maju. Auranya sangat menekan—ia berada di Alam Pembentukan Fondasi (Foundation Establishment) Awal!

"Saya adalah Penatua Zhao dari Akademi Angin Langit. Ujian Tahap Pertama adalah Ujian Kekuatan Fisik dan Dasar Qi. Pukul monumen di depan kalian dengan kekuatan penuh. Batas minimum untuk lulus adalah 1000 kilogram (empat tenaga banteng). Siapa pun yang gagal mencapai batas ini, silakan tinggalkan alun-alun. Ujian dimulai!"

Mendengar aturan itu, banyak pemuda dari kota-kota pinggiran yang langsung pucat pasi. 1000 kilogram? Untuk mencapai itu, seorang kultivator normal harus berada di puncak Tingkat Empat atau awal Tingkat Lima! Akademi benar-benar tidak menerima sampah.

Ribuan pemuda mulai mengantre di sepuluh panggung tersebut.

Jian Chen berdiri dengan tenang di antrean panggung ketujuh. Matanya setengah terpejam, ia bahkan menggunakan waktu mengantre ini untuk terus memadatkan Qi di dalam Meridian Primordial-nya.

Tiba-tiba, sebuah suara arogan memecah ketenangan dari belakangnya.

"Hei, Gelandangan. Minggir. Jangan menghalangi jalan Tuan Muda ini dengan pedang rongsokanmu yang jelek itu."

Jian Chen membuka matanya dan menoleh perlahan. Di belakangnya berdiri seorang pemuda berpakaian sutra keemasan, memegang sebuah kipas lipat. Ia memancarkan aura Kondensasi Qi Tingkat Enam Awal dengan sangat sombong. Di dada sutranya terukir lambang harimau putih—lambang Klan Bai, salah satu dari Empat Klan Besar di ibu kota.

Namanya adalah Bai Yunfei. Ia terbiasa mendapatkan jalan prioritas di manapun ia berada.

"Kau bicara padaku?" balas Jian Chen datar.

"Apakah ada pengemis lain yang menggendong lempengan besi karatan di sini selain dirimu?" Bai Yunfei mendengus jijik, menutup kipasnya. "Kultivasimu bahkan tidak terlihat melewati Tingkat Empat. Mengantre di sini hanya akan mempermalukan dirimu sendiri saat kau memukul monumen itu nanti. Mundur, dan biarkan aku yang mendaftar lebih dulu."

Beberapa orang di antrean itu mulai berbisik-bisik, mengenali identitas Bai Yunfei. Mereka menatap Jian Chen dengan pandangan kasihan, berharap pemuda berjubah hitam itu mengalah daripada harus mematahkan kakinya sebelum ujian dimulai.

Jian Chen tersenyum tipis. Senyuman yang tidak pernah berarti hal baik.

"Jika kau sedang terburu-buru menuju reinkarnasi, aku bisa mengirimmu sekarang. Tapi jika kau hanya ingin mengantre, belajarlah berdiri dengan tenang seperti anjing yang patuh," ucap Jian Chen, suaranya tidak keras, namun cukup untuk membuat seluruh antrean panggung ketujuh terdiam membeku.

Wajah Bai Yunfei memerah seketika. "Beraninya kau... Cari mati!"

Bai Yunfei tidak bisa menahan amarahnya. Tangannya yang diselimuti oleh Qi elemen angin langsung melesat ke depan, bermaksud mencengkeram kerah baju Jian Chen dan melemparnya keluar dari alun-alun.

Namun, sebelum jari-jarinya sempat menyentuh kain jubah hitam itu, Jian Chen hanya mengayunkan punggung tangannya dengan sangat santai, seolah sedang mengusir lalat yang mengganggu.

PLAAK!

Sebuah tamparan yang sangat jernih dan keras bergema.

Bai Yunfei, seorang jenius Tingkat Enam dari Klan Besar, terpental di udara dengan mulut memuntahkan darah dan dua gigi patah. Ia berputar dua kali sebelum mendarat dengan keras di atas lantai marmer, meluncur sejauh lima meter.

"Ugh..." Bai Yunfei memegangi pipinya yang membengkak hebat, matanya penuh dengan keterkejutan dan ketakutan. Ia bahkan tidak melihat bagaimana tangan itu bergerak!

Seluruh peserta di panggung ketujuh menahan napas. Penjaga ujian dari akademi yang berdiri di dekat sana menyipitkan matanya, namun tidak ikut campur. Selama tidak ada nyawa yang melayang, akademi selalu menutup mata terhadap persaingan antar pemuda.

"Selanjutnya!" teriak penjaga ujian itu, mengabaikan Bai Yunfei yang mengerang di lantai.

Kini giliran Jian Chen.

Ia melangkah perlahan menaiki tangga panggung batu. Penjaga ujian menatap pedang hitam raksasa di punggungnya.

"Lepaskan senjatamu sebelum memukul monumen. Kami mengukur kekuatan murni dari pukulan, bukan tebasan," kata penjaga itu dengan tegas.

Jian Chen mengangguk pelan. Ia menarik tali pengikat di dadanya, membiarkan Pedang Penguasa Kosong terlepas dari punggungnya.

Jian Chen tidak meletakkannya dengan hati-hati. Ia hanya membiarkan pedang itu jatuh ke lantai panggung yang terbuat dari batu granit kokoh.

DUAARRR!!!

Saat pedang hitam itu menghantam lantai, seluruh panggung batu berguncang hebat layaknya terkena gempa bumi kecil. Lantai granit di bawah pedang itu langsung retak dan hancur, menciptakan kawah sedalam mata kaki. Serpihan batu beterbangan ke segala arah.

Mata penjaga ujian itu hampir melompat keluar dari rongganya. Ia adalah kultivator Tingkat Tujuh, dan ia bisa melihat dengan jelas bahwa pemuda itu tidak menggunakan setetes pun Qi saat menjatuhkan pedangnya! Itu murni berat benda tersebut!

Berapa berat benda itu?! Lima ratus kilogram? Delapan ratus?! Dan bocah ini menggendongnya sepanjang hari seolah itu hanya sehelai jubah?! batin penjaga itu, keringat dingin mulai menetes.

Bai Yunfei yang baru saja bangkit berdiri kembali lemas dan jatuh terduduk saat melihat kawah di panggung itu. Ia baru menyadari bahwa tamparan yang ia terima tadi adalah sebuah "belas kasihan" yang sangat besar. Jika Jian Chen memukulnya dengan pedang itu, ia pasti sudah berubah menjadi pasta daging!

Mengabaikan keterkejutan semua orang, Jian Chen berdiri di depan Monumen Kekuatan.

Monumen itu terbuat dari batu kristal khusus yang akan menyala sesuai dengan kekuatan benturan. Cahaya putih berarti 1000 kg, biru 2000 kg, dan emas untuk 3000 kg ke atas. Di sejarah ibu kota, jarang ada peserta ujian berusia di bawah delapan belas tahun yang bisa memunculkan cahaya emas.

"Mari kita lihat seberapa rapuh batu ini," gumam Jian Chen.

Ia menarik tangan kanannya. Ia tidak menggunakan Meridian Primordial, ia juga tidak memasang kuda-kuda bela diri yang rumit. Ia hanya melepaskan pukulan lurus yang murni menggunakan tenaga fisiknya yang telah mencapai 2200 kilogram.

BAM!!!

Sebuah ledakan yang memekakkan telinga merobek panggung ketujuh. Gelombang angin meledak dari titik benturan, meniup jubah penjaga ujian dan membuat para peserta di antrean terhuyung mundur.

Monumen kristal itu bergetar hebat. Cahayanya meledak melewati warna putih, langsung melesat ke warna biru terang, dan terus merambat naik hingga akhirnya meletus dengan cahaya Emas yang sangat menyilaukan!

KRAAK...

Sebuah suara retakan pelan yang sangat mematikan terdengar. Di tengah-tengah pendaran cahaya emas itu, sebuah retakan tipis berbentuk jaring laba-laba muncul tepat di titik di mana tinju Jian Chen mendarat.

Keheningan mutlak menyelimuti panggung ketujuh.

Penjaga ujian menelan ludah dengan susah payah, melihat angka yang tertera di formasi monumen yang kini berkedip-kedip rusak.

"T-Tiga ribu... tiga ribu lima ratus kilogram... Cahaya Emas Ekstrem!" suara penjaga ujian itu bergetar, bergema di seluruh alun-alun dan langsung menarik perhatian Penatua Zhao dari paviliun utama.

Tiga ribu lima ratus kilogram! Itu adalah kekuatan fisik murni dari seorang jenius Tingkat Delapan! Dan pemuda berjubah hitam ini bahkan belum menggunakan senjatanya yang sangat berat itu.

Jian Chen menarik tinjunya dengan ekspresi bosan. Pukulan tadi bahkan tidak membuat ototnya terasa hangat. Jika ia menggunakan Qi Meridian Primordial, monumen ini pasti sudah hancur berkeping-keping menjadi debu.

Ia membungkuk, dengan santai mengangkat kembali pedang seberat 800 kilogram itu dengan satu tangan, dan menyangkutkannya kembali ke punggungnya, membiarkan kawah di lantai panggung sebagai bukti dominasinya.

"Apakah aku lulus?" tanya Jian Chen datar kepada penjaga ujian yang masih terpaku.

"L-Lulus... Namamu?" tanya penjaga itu, segera mengeluarkan medali giok kelulusan tahap pertama dengan tangan gemetar.

"Jian Chen. Dari Kota Daun Gugur."

Pemuda berjubah hitam itu mengambil medali gioknya dan berjalan turun dari panggung. Mulai detik ini, nama "Jian Chen dari Kota Daun Gugur" telah resmi terukir di benak para petinggi Ibu Kota Kerajaan Angin Langit sebagai anomali monster yang tidak masuk akal.

1
selenophile
lagi
Nanik S
Aturan baru sang Monster👍👍👍
Nanik S
Paman dan keponakan yang rakus
Nanik S
Maaantaaap dapat harta karun
Nanik S
Dapat cincin Gratis
Nanik S
Mantap Pooool 👍👍👍
Bambang Widono
👍👍👍💯💯💯💯💯💯👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏
Optimus prime
cerita nya bagus...TPI lebih bagus ga ush pake bahasa inggris thor...👍👍
Nanik S
Pulang menghadapi Anjing dan pieraanya
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Hadir dan cukup menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!