Dijodohkan dan bertunangan sejak putih abu membuat Naka dan Shanum menyembunyikan hubungan keduanya dari orang lain termasuk teman-temannya. Terlebih, baik Naka ataupun Shanum tak pernah ada di daftar putih masing-masing.
Tapi siapa menyangka, diantara usaha keduanya, perasaan cinta justru hadir mengisi setiap ruang hati satu sama lain. Siapakah yang akan duluan menyatakan cintanya?
Say, love you too....
Katakan, aku juga cinta kamu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Gibahin Naka
"Rapat tentang apa sih?" tanya Jemima menyedot teh kotak miliknya yang sudah berbunyi--srrot--sroot tanda jika isinya sudah tandas.
Chika masih sibuk memilah milih bagian sayur hijau yang ada di mie ayam miliknya lalu ia masukan ke dalam mangkuk Pandu, memang Pandu ini spek cowok tempat sampah diantara squad Ceriwis ini, si paling tempat pembuangan akhir.
"Biasa lah, cuma rapat kerja biasa aja...yang sebenernya ngga perlu sampe rapat seminggu 3 kali juga. Itu mah si Naka cuma kangen aja disumpahin sama bawahan." Jawab Pandu.
Adit mengangguk, "Naka kan gatel kalo ngga ngerjain staf pengurus OSIS kaya---hidupnya tuh hampa."
Frizka tertawa sampai hampir tersedak kuah nyemek yang pedas, "bisa gitu ya...istimewa sekalehhh ketos SMA Budi Pekerti X, sampe para Jo ngos nurut lagii..."
Shanum turut tersenyum geli dan tertawa gemas, ia sama sekali tak keberatan teman-temannya mengumpati Naka, sebab...memang kenyataannya begitu, ia sudah pernah melihat dan mengalaminya sendiri, dan memang Naka semenyebalkan itu, "sukur-sukur tiap rapat ngga disuruh bikin burcang ijo juga Lo, Ndu..."
Frizka kembali menahan tawanya, hampir tersedak kembali, "bukan sie kaderisasi yang begitu juga kali Num, si Pandu."
Jemima ikut tertawa, "penimbangan balita kali ah! Pake batik sono lu..."
Chika merengut, "hah! Tepatnya bukan cuma kita aja sih, dia kalo lagi mode singa Barong begitu cewek cantik aja dibikin cemberut..."
Adit menggebrak meja sekali cukup membuat mereka kaget, "inget gue, yang waktu rapat hari Senin itu kan? Waktu si Rea tiba-tiba datang pas Naka lagi khotbah di depan. Diusir tanpa senyuman dong!"
Shanum menaikan kedua alisnya dan membulatkan matanya, "oh iya?"
"Iya. Tapi anehnya cewek-cewek justru makin keblinger buat ngejar..." lanjut Adit kini menggigiti tulang ayam yang masih tersisa daging di sela-selanya, persis guguk.
"Kandidat yang kuat tetep dipegang Airani sih kalo menurut gue." Kini Chika yang bicara, memantik alis Shanum untuk naik, "kok bisa?"
"Lah, saban waktu bareng Naka, sekertaris OSIS. Gimana aja Lo sama Juna. Ditambah, OSIS kan sering banget ketemunya, lah Airani nempel banget, dijajah Naka aja dia iya-iya aja...mau disuruh ketik ulang proposal setebel buku anak teknik juga dia mau-mau aja. Kalo gue sih bakal langsung alesan tipes .." Pandu yang berbicara.
Namun kemudian Jemima menggeleng, "Kalo gue sih pegang Rea Nayana...coba deh Lo cocokologi, Naka--Naya...see, dari nama aja udah jodoh tuh!"
"Departemen perhaluan, alias ngarang!" sembur Chika.
Jemima kekeh dengan tebakannya, "engga ya, taun kemaren kan Naka sama si Rea Nayana pernah masuk kandidat Abang none...seleranya kayanya Naka banget tuh Rea. Siapa juga yang ngga suka Rea, cewek bisa main biola kesannya tuh lembut gitu, keren pada porsinya. Cocok lah sama Naka yang well, gue sebenernya males mengakui tapi emang Naka tuh the best tauuu!"
Shanum sudah selesai dengan makannya, tapi pembicaraan tentang Naka ini bukan sebuah dessert yang pas rasanya sebab mendadak ia malas sekali mendengarnya, andai teman-temannya tau jika sebenarnya pemuda yang sejak tadi mereka bicarakan, gosipkan dan hina-hina itu sudah memiliki tunangan yang saat ini sedang mendengarkan mereka menggibahi Naka.
"Iya kan, Num?" tanya Jemima lagi pada Shanum, yang--ha? Ngga tau, iya kali...
Masih asik mereka menghabiskan waktu yang tinggal 5 menit lagi itu, beberapa langkah memasuki kantin. Disaat anak-anak lain sudah berangsur meninggalkan area foodcourt itu, mereka justru baru akan duduk.
"Si Naka tuh pokoknya-----" Adit langsung menghentikan bicaranya dengan reaksi terkejut, takut dan panik, "Naka!" ia langsung memberikan gestur menghindari tatapan dengan menyedot teh kotak miliknya, membuat pandangan seisi meja otomatis tertuju ke arah datangnya keempat siswa.
"Ndu oy! Keburu makan mie ayam juga Lo?" Savero, ia melambaikan tangannya ke arah meja Shanum. Bukannya menjauh, ia justru mendekat membuat yang lain mengekorinya ke meja Shanum termasuk Naka dengan makanan yang sudah di tangan, oke----jadi ketos sekolah mereka itu cuma numpang makan doang di kantin.
"Keburu lah, gue udah terlatih makan mode vacum cleaner!" cebik Pandu ditertawai Savero, "gue tebak, sejak masuk OSIS dan jadi anak buah Naka?!" tembaknya terang-terangan, memang hanya Savero, Canza dan Lutfi saja yang berani.
Tanpa rasa bersalahnya, Naka duduk begitu saja bersama yang lain, memberikan sensasi tegang dan yap! Tak sesantai tadi.
Shanum memutus tatapnya dari Naka, begitupun Naka.
Roti sandwich coklat dan onigiri dengan rasa yang selalu sama, ayam pedas, makanan kemasan minimarket serta air putih botol nan dingin yang menjadi andalannya mengisi perut.
"Ka, gue sebelumnya mau ijin dulu nih sama lo, buat kamera kebetulan punya gue lagi dibawa Abang...jadi nanti dokumentasi----" Adit justru bersuara yang membuat wajah kawan-kawannya muak, terlebih Chika, "Lo kalo mau nanya kenapa ngga sekalian tadi sih Dit?" wajahnya begitu muak, seolah--- Adit!! Yang bener aja ya Lo, masih juga bahas tugas OSIS di luar jam kerja sama rapat....ah gila Lo kalo sama Naka kesirep!
"Nanti pake punya gue aja." Jawabnya kalem membuka serta bungkusan onigiri lalu melahapnya dengan khusyuk dan suapan besar.
Canza melempar tatapnya pada Shanum dan anggota MPK lainnya, "Num, proposal anggaran subsidi bantuan buat OSIS udah masuk kita belum?"
Shanum mengangguk, "udah, tadi pagi. Tapi gue belum sempet kasih ke Juna, baru kasih tau Frizka...berhubung dia disini juga."
Frizka mengangguk.
"Jangan dinanti-nanti Num, acara OSIS bakalan butuh biaya ngga sedikit tapi mesti dihemat-hemat." Kini Naka yang bersuara setelah menjeda suapannya, tapi belum ia melahap kembali, Savero sudah merebut sisa onigiri milik Naka dan melahapnya. Definisi sahabat seiya sekata, "denger kan Num? Jinakin dulu si Juna...jangan banyak protes jangan banyak debat...toh kita ngga mungkin korup atau salah sasaran tuh dana. Ada Abang ketua komisi disiplin yang ngawasin, jadi jembatan!" kekeh Vero menepuk pundak Canza.
Shanum mengangguk malas lalu menyanggah dagunya di atas meja.
"Nih ketua komisi lebih pro ke OSIS, lah dikeroyok sama Lo pada..." tunjuk Jemima pada Lutfi, Savero dan Naka.
"Ngga lah! Kita mah temenan ya temenan aja, ya...Nza? Mana ada Canza kita keroyok kalo ngga pro OSIS....yang ada ntar balik kita tunggu di perempatan." Jawab Savero.
Dan obrolan santai yang kini mengalir tak menyurutkan acara curi-curi pandang Naka pada Shanum, begitupun sebaliknya.
Mainaka
Jangan lupa acara makan malam, malam ini. Mama sama bunda kamu nyuruh datang berdua.
Shanum notice dengan getaran ponselnya, setelah Naka berhasil memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celana, kini Shanum yang mengambil ponsel miliknya dari saku.
Ia melirik sebentar pemuda yang saat ini justru menyimak obrolan teman-temannya yang berujung pada nepotisme dan entahlah----koalisi, mereka bicara ngaler ngidul tak jelas berawal dari circle pertemanan Naka, Canza, Lutfi dan Savero dimana hanya Canza anggota MPK seorang diri.
.
.
.
.
devinisi buah jatuh sepohon" nya
karakter naka plek ketiplek kayak pap ganes cuma agak kaleman dikit ngk gedebak gedebuk modelan anomali 30 an 🤭 semangat kk💪