Liora dipaksa menikah dengan Kaedric Volther, pria yang dikenal kejam dan berbahaya. Namun sebelum pernikahan itu terjadi, Kaedric meninggal dunia. Liora mengira rencana pernikahan itu akan dibatalkan dan ia bisa kembali menjalani hidupnya seperti biasa.
Namun keputusan keluarga Volther berubah. Untuk menjaga kepentingan keluarga, Liora justru harus menikah dengan ayah Kaedric, Maelric Volther, seorang pria berkuasa yang jauh lebih tua darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Liora bisa memahami Ronan, Zevran, Paman Deris, bahkan Raphael, tapi ayahnya? Orang yang sama yang memaksanya menikah dua bulan lalu, sekarang berdiri di sini dan bicara soal mengakhiri pernikahan itu. Liora tidak percaya.
"Ini lelucon?" tanyanya, memastikan.
Tidak ada yang tertawa.
"Tentu saja bukan, Adikku." Ronan berdiri dan menghampirinya dengan senyum di wajahnya. "Akhirnya kamu bebas dari tiran itu."
Seharusnya Liora merasa lega. Seharusnya ia melompat kegirangan. Tapi rasionalitasnya tidak mengizinkan itu. Maelric sudah pernah memperingatkannya, ia tidak akan pernah membiarkan Liora pergi. Tidak semudah itu.
"Ekspresimu tidak menunjukkan kegembiraan," komentar Ronan, memperhatikan wajahnya.
Liora menghindarinya dan duduk di kursi. Pikirannya berputar.
"Pernikahan itu tadinya berguna buat kalian. Apa yang berubah sampai persekutuan dengan Maelric tiba-tiba tidak lagi penting?" Ia belum menyebut kemungkinan yang paling nyata, bahwa mereka mungkin juga harus bersiap menghadapi perang. Maelric mungkin tidak mencintainya, tapi ia sudah menganggapnya miliknya. Dan orang seperti itu tidak mudah melepaskan apa yang ia anggap haknya.
"Hampir tidak ada manfaat yang kami dapat darinya," jawab Anzari akhirnya.
"Bisa lebih jelas?" Liora tidak tahan dengan cara mereka berbicara berputar-putar. Bahkan Maelric lebih to the point darinya. "Aku tidak suka ditebak-tebak."
"Tidak perlu kamu pikirkan hal-hal seperti itu," potong Raphael. Liora menggertakkan giginya, menahan kata-kata yang sudah antri di ujung lidahnya. Seksisme yang menjengkelkan. "Yang penting kamu tidak perlu kembali ke sana."
Liora menatap mereka satu per satu dengan pandangan yang tidak menyembunyikan apa pun.
"Betapa mudahnya. Kalian sudah panjang lebar bilang betapa pentingnya ia dan sekarang, semudah itu, kalian memutuskan pernikahan ini akan dibubarkan?"
"Ya," jawab Ronan, seolah itu adalah hal paling sederhana di dunia.
Liora menatap langit-langit sebentar. Entah aku yang bodoh, atau mereka yang tidak berpikir panjang. Dan dengan berat hati, ia semakin condong ke kesimpulan kedua.
"Liora, kami serius," kata Paman Deris. "Kamu harus diperjuangkan. Dan ia jelas tidak melakukan apa-apa untuk kami."
Kalimat itu menghantam dengan caranya sendiri. Liora sadar betul bahwa sejak awal ia tidak lebih dari alat tukar, tapi mendengarnya diucapkan dengan begitu terang-terangan tetap saja menyakitkan. Mereka tidak melihatnya sebagai manusia. Mereka melihatnya sebagai investasi yang perlu dievaluasi ulang.
"Harusnya kalian memikirkan ini sebelum pernikahan itu terjadi."
"Yang lalu sudah berlalu," kata Anzari, mengalihkan topik.
Liora menunggu ia melanjutkan, menunggu kata-kata maaf, aku salah nak, tapi tidak datang. Anzari tidak pernah pandai mengakui kesalahan. "Yang terpenting, sekarang kamu tinggal di sini."
"Maaf, tapi aku tidak percaya ini akan berhasil." Liora memandang mereka bergantian. "Dan kalau rencana kalian gagal di tengah jalan, akulah yang paling menanggung akibatnya." Ia tidak mau membayangkan bagaimana Maelric akan bereaksi jika ia harus kembali ke rumah itu setelah semua ini. Mungkin nyawanya aman tapi hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
"Kamu tidak akan menanggung apa pun," sela Ronan, "karena kamu baru saja diculik dan tidak punya pilihan lain selain tetap di sini."
Liora menatapnya, lalu perlahan membuka tasnya dan mengeluarkan ponsel, ponsel yang baru saja dikembalikan Maelric kemarin. Ia meletakkannya di atas meja.
"Beberapa jam lagi ia akan menelepon. Dan aku tidak berniat menjelaskan apa pun padanya."
"Bisa diurus," kata Paman Deris enteng.
"Aku juga membawa orang bersamaku." Liora melirik ke arah Ronan, memastikan pesannya sampai. Ronan langsung mengerti, ia berdiri, mengeluarkan pistol dari holsternya, dan menatapnya dengan ekspresi yang tidak menyembunyikan niatnya.
Liora tidak menentang kali ini. Gio tahu terlalu banyak. Kematiannya justru menguntungkannya.
"Itu tidak perlu," kata Anzari tiba-tiba. "Antarkan saja ia pulang."
"Tapi Ayah—" Ronan hendak membantah.
"Lakukan yang aku bilang." Nada Anzari tidak memberi ruang. "Kita memutus persekutuan, bukan memulai perang."
Liora menahan diri untuk tidak berkomentar bahwa perang kemungkinan besar sudah tidak bisa dihindari. Ia sudah terlalu lelah bicara.
"Aku ke kamar," katanya, berdiri dan meninggalkan ruangan tanpa menunggu respons siapa pun.
**
Kamarnya terasa asing.
Liora berjalan mondar-mandir, tidak tahu harus duduk di mana. Aneh, tidak lama lalu ruangan ini adalah tempat yang paling membuatnya tenang. Sekarang justru terasa sempit dan tidak nyaman. Dan dengan rasa tidak suka yang ia akui hanya pada dirinya sendiri, ia menyadari bahwa yang ia rindukan justru adalah rumah Maelric.
Rupanya manusia memang bisa terbiasa dengan apa saja. Bahkan hal-hal yang buruk.
Ketukan pelan di pintu memutus lamunannya.
"Boleh masuk?" suara Raphael.
Liora mengangguk meski tahu kakaknya tidak bisa melihatnya. "Masuk."
Raphael masuk dan duduk di sofa ungu di sudut kamar, tempat yang sudah bertahun-tahun tidak berubah.
"Aku tahu ini berat bagimu." Raphael berbicara dengan tenang, tidak seperti biasanya yang sering terkesan menggurui. "Kamu baru saja mulai menyesuaikan diri, dan sekarang semuanya berubah lagi."
Liora menatapnya. Jarang sekali Raphael bicara seperti ini, seperti ia benar-benar memahami.
Sayang sekali aku tidak menyadari ini lebih awal.
"Jujur saja, kamu percaya rencana ini akan berhasil?" tegasnya. "Jangan basa-basi."
Raphael diam sebentar. "Kemungkinannya kecil. Aku sendiri heran Ayah mau ikut-ikutan gagasan Paman Deris dan Ronan. Meski..." ia menghela napas "...ada juga kemungkinan semuanya berjalan lancar dan kamu tidak perlu kembali ke sana. Kamu bisa bebas lagi."
"Bebas?" Liora tertawa kecil, pahit. "Kapan aku pernah bebas, Kak? Kapan aku pernah punya hak memilih? Aku dijual seperti kuda di pasar." Suaranya naik di kalimat terakhir sengaja, karena ia butuh melepaskan sesuatu.
Raphael menerimanya dengan diam yang tidak defensif.
"Mungkin kamu tidak melihatnya," katanya akhirnya, "tapi semua yang kami lakukan untuk melindungimu. Di dunia seperti ini, cara kami menjaga agar tanganmu tetap bersih adalah dengan mengambil semua keputusan itu."
Liora ingin menjawab bahwa itu tidak selalu benar. Bahwa tangannya sudah tidak bersih sejak lama.
Tapi sebelum kata-kata itu keluar, teriakan keras dari bawah memecah segalanya.
Raphael langsung berdiri. "Tetap di sini."
Ia berlari keluar. Liora berdiri mematung sebentar, lalu akal sehatnya kalah, seperti biasa, dan ia melangkah keluar kamar. Cukup sampai di ujung koridor, cukup untuk bisa mendengar.
Suara itu terdengar jelas dari bawah.
"Tanpa Liora, aku tidak akan pergi dari sini!"