NovelToon NovelToon
Cinta Ribuan Duri

Cinta Ribuan Duri

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / CEO
Popularitas:463
Nilai: 5
Nama Author: bidadari

“Alasan untuk mencintaimu hanyalah soal sosial.”

Kalimat itu menghantam hatiku seperti ribuan duri. Aku terdiam, seakan waktu menarikku kembali ke masa lalu.Andai saja saat itu aku tidak menuruti egonya.
Andai saja aku lebih berani mengikuti kata hatiku… untuk menolak perjodohan itu. Mungkin sekarang, hatiku tidak akan dipenuhi luka.

— Cinta Ribuan Duri —

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 Siapa aku?

Ardila, Terbangun karena Suara Alarm yang ia sengaja pasang. Tangannya mematikan alarm tersebut ia menoleh ke sampingnya, kosong tidak ada bekas seseorang tidur rapi tidak tersentuh membuatnya terdiam,

Ia menurunkan Kaki Nya satu persatu, dari ranjang ia menatap lekat — ke Fram foto yang berisi foto pernikahannya yang begitu romantis namun, tidak seromantis yang ia alami. Dengan langkah gontai ia masuk ke dalam kamar mandi setelah itu melaksanakan kegiatan subuh, Seorang umat muslim

" Kamu sudah bangun toh! " Kata laras saat Ardila Memasuki Ruang makan, " Ya ma"

" Menantu lelet, bukannya bantu bi Asmi sama yang lainnya. Malah enak- enakan tidur " Hardik Laras sembari memberikan secangkir kopi ke sang suami, " Kalau jadi, Perempuan itu toh ada gunanya. Jangan cuman nyusahkan dan bisanya tidur doang! " Sindir Ardeo Tajam membuat Ardila menundukkan kepalanya.

" Kamu, itu hanyalah atribut bagi suami mu harusnya kamu siap dong! " Cibir Laras membuat hati Ardila Mencelemos, sakit yang tidak terkira " Maaf ma.. Pa"

" Hari ini kamu tidak boleh makan!, Kamu makan sisa kita saja! " Perintah Andreo sembari meletakkan garpu dan pisau di sisi piringnya, membuat kedua manik Ardila menatapnya tidak percaya

" Maksud papa apa? " Tanya Ardila tidak percaya ia berharap. Ia salah memcerna perkataan sang mertua,

" Papa mau, kamu tidak usah makan Dila untuk hari ini sampai seterusnya kamu makan - makanan sisa kami! " Jelas Laras dengan suara agak menyindir. " Maksud mama?, aku harus Makan setiap sisaan dari kalian? " Laras menganggukkan kepalanya. " Kita tidak boleh mubazir! " Tegas Andreo lalu bangkit dari duduknya membuat Dila menatap papa mertuanya dengan tatapan campur aduk,

" Tap-"

" Jangan ada tapi- tapi! " Potong Laras lalu, beranjak dari duduknya. Ardila menghela napas panjang begitu sesak sekali Dadanya

Ia mengambil ponselnya, lalu mengetik sebuah pesan singkat untuk sang mama entah kenapa rasa rindu membelenggu kuat dadanya — rasa rindu itu menyelusup masuk ke rongga-rongga dadanya,

Mama 🤍

𝘈𝘴𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮𝘶'𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘶𝘮 𝘮𝘢, 𝘨𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘣𝘢𝘳 𝘮𝘢𝘮𝘢?

Dila menghela napas panjangnya, Kala melihat dua garis abu-abu dipesan yang ia kirim ke sang mama. Ardila beranjak dari duduknya ia dengan lincah membereskan bekas makan kedua mertuanya,

" YaAllah neng, biar bibi aja ! " Bi Asmi yang melihat Dila dengan kedua tangan penuh, piring bekas membuat bi Asmi dengan cekatan mengambil nya. " Bi biar Dila aja! "

" Ngga usah neng, sana sarapan! " Bi Asmi langsung berlalu ke Arah dapur membuat Dila mengigit bibirnya, matanya memandang lekat setiap sudut rumah yang besar tersebut.

Kesunyian, Merayap di setiap ruangan di rumah besar tersebut — Dingin itu yang Dila rasakan kala kakinya melangkah di ruang keluarga yang seharusnya. Terdengar suara Tawa Kebahagiaan yang ada hanyalah kesunyian yang menenggelamkan Semua kehangatan,

" 𝘚𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢, 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘪? "

" 𝘚𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢, 𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪? "

" 𝘚𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘢𝘯 𝘔𝘢𝘴 𝘙𝘢𝘧𝘢, 𝘴𝘦𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘈𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘴𝘰𝘴𝘪𝘢𝘭 𝘴𝘢𝘫𝘢? "

" 𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶? "

Dila mengigit bibir dalamnya, Rasa nyeri menyetrum Dadanya ia menatap langit-langit rumah tersebut seolah mencari cahaya diantara ribuan malam yang senyap dan sunyi,

" 𝘈𝘬𝘶, 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢.. 𝘒𝘦𝘵𝘢𝘩𝘶𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺 𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩 𝘱𝘦𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵, 𝘗𝘦𝘳𝘩𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯! "

" 𝘈𝘬𝘶..... 𝘐𝘵𝘶 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢! "

𝗧𝗿𝗶𝗻𝗴!

Suara notifikasi ponselnya, memecahkan keheningan yang berada di sekitarnya ia mengambil ponselnya. Yang berada di saku celana nya itu ia membuka Aplikasi Pesan lalu, membaca pesan yang baru saja masuk.

Mas Rafa

𝘉𝘦𝘳𝘬𝘢𝘴 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘢𝘯!

𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘬𝘦𝘴𝘪𝘯𝘪?

𝘉𝘦𝘳𝘬𝘢𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘔𝘢𝘴?

𝘔𝘢𝘱 𝘸𝘢𝘳𝘯𝘢 𝘏𝘪𝘫𝘢𝘶 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘢𝘬𝘶!

𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘦𝘴𝘪𝘯𝘪?

𝘠𝘢, 𝘮𝘢𝘴 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘯𝘢!

𝘖𝘬𝘦,

Dila mengigit bibirnya, tidak ada kata ' 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩?' bukankah ia perlu satu kata itu dari bibir. Suami nya itu Dila menggeleng cepat ia Bergegas masuk ke dalam ruang kerja sang suami,

Tangannya meraba setiap, Berkas-berkas yang tertumpuk rapi ia tersenyum kala melihat sebuah Map berwarna hijau. Tetiba senyumannya Patah kala melihat sebuah surat yang jatuh dari dalam map tersebut

" Hm, 𝘙𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘚𝘦𝘵𝘺𝘰 𝘫𝘢𝘺𝘢? " Gumam Ardila Ia menaruh Map berwarna hijau tersebut. Lalu ia membuka Lipatan Surat yang Ia temukan tadi,

Kedua maniknya membaca, Naik turun 𝘋𝘶𝘢 kata yang paling menusuk dadanya yaitu.

“ 𝘗𝘰𝘴𝘪𝘵𝘪𝘧 𝘏𝘢𝘮𝘪𝘭 " Dila mengerjapkan matanya, tangannya bergerak mengambil ponsel lalu memotretnya. Ia melipat kembali Surat tersebut ia menaruhnya di tempat aslinya

" 𝘈𝘭𝘦𝘯𝘢 𝘞𝘪𝘫𝘢𝘺𝘢, 𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘪𝘵𝘶?.. 𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘢 - 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘩𝘰𝘵𝘦𝘭 𝘪𝘵𝘶? " Gumam Ardila sembari melangkah keluar dari Ruangan sang suami, " 𝘚𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘴?, 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪? " Pikiran itu melayang di setiap langkahnya

\*\*\*\*

“ 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩𝘮𝘶, 𝘓𝘢𝘯𝘵𝘢𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘒𝘶 𝘙𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘮𝘶? "

𝘈𝘳𝘥𝘪𝘭𝘢 2026 -

𝘣𝘺 : 𝘣𝘪𝘥𝘢𝘥𝘢𝘳𝘪

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!