NovelToon NovelToon
Fake Boyfriend Real Husband

Fake Boyfriend Real Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / BTS
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Septiayani

bertemu dengan pria yang super duper nyebelin udah mah dia yang di tabrak ke mobil sekarang dia yang harus ganti rugi

itu yang di alami Ara bertemu dengan yoga pria yang paling nyebelin versi dia

ehh harus bertemu lagi dengan pria nyebelin dalam ikatan pacar(sewaan)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Septiayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

makan malam

Malam itu restoran terlihat cukup ramai. Lampu-lampu gantung menyala hangat, dan suara percakapan para tamu memenuhi ruangan.

Di depan pintu restoran, Arabella berdiri sambil merapikan gaun sederhananya. Ia terlihat sedikit gugup.

Ia menarik napas pelan lalu mengeluarkan ponselnya.

Aplikasi PairMe terbuka di layar.

Arabella melihat nomor klien yang diberikan padanya.

“Baiklah… semoga orangnya baik,” gumamnya.

Ia kemudian mengetik pesan.

Bela:

Saya sudah sampai di restoran.

Beberapa detik kemudian ponselnya bergetar.

Yoga:

Baik. Saya juga sudah di sini.

Arabella membaca pesan itu lalu membalas.

Bela:

Saya di dekat pintu masuk.

Di sisi lain restoran, seorang laki-laki berdiri sambil melihat ponselnya.

Laki-laki itu adalah Yoga.

Ia mengenakan kemeja hitam rapi. Wajahnya terlihat sedikit tidak sabar.

Di sampingnya, Rafi berdiri sambil tersenyum.

“Dia sudah sampai?” tanya Rafi.

Yoga mengangguk.

“Dia bilang di dekat pintu masuk.”

“Ya sudah, cari saja.”

Yoga menghela napas lalu berjalan menuju pintu restoran.

Sementara itu, Arabella juga mulai melihat ke sekitar ruangan, mencoba mencari orang yang mungkin sedang mencarinya.

Beberapa orang lewat di depannya, tetapi tidak ada yang terlihat seperti orang yang ia cari.

Ia kembali melihat ponselnya.

Tiba-tiba langkah seseorang berhenti di depannya.

Arabella mengangkat kepala.

Beberapa detik kemudian matanya langsung membesar.

“...Kamu?”

Di depan Arabella berdiri seorang laki-laki yang juga terlihat sangat terkejut.

“...Kamu?” kata laki-laki itu.

Itu adalah Yoga.

Beberapa detik mereka hanya saling menatap dengan kaget.

Wajah Arabella langsung berubah kesal.

“Kamu?!”

Yoga juga terlihat tidak percaya.

“Kamu pacar sew—”

Ia langsung berhenti bicara.

Arabella menyilangkan tangannya.

“Jadi kamu kliennya?”

Yoga menghela napas kesal.

“Tidak mungkin…”

Arabella mendengus.

“Kenapa? Tidak suka?”

Yoga menggeleng sambil memijat pelipisnya.

“Ini tidak bisa.”

“Apa maksudmu?”

Yoga langsung berkata tegas.

“Saya membatalkan perjanjian ini.”

Arabella langsung mengerutkan kening.

“Sekarang?”

“Iya.”

Arabella terlihat kesal.

“Kamu serius?”

Yoga menatapnya dingin.

“Saya tidak akan datang ke makan malam keluarga dengan seseorang yang baru saja bertengkar dengan saya di jalan.”

Arabella tertawa kecil sinis.

“Oh, sekarang kamu merasa terganggu?”

Yoga tidak menjawab.

Arabella menghela napas kesal.

“Kalau mau membatalkan, seharusnya kamu bilang dari tadi.”

Yoga terlihat ingin mengatakan sesuatu, tetapi tiba-tiba ponselnya berbunyi.

Ting!

Pesan dari ayahnya muncul.

Kami sudah menunggumu di dalam.

Yoga melihat pintu restoran menuju ruang keluarga.

Waktu sudah hampir habis.

Jika ia keluar sekarang untuk mencari orang lain, keluarganya pasti akan curiga.

Rafi yang berdiri agak jauh mendekat.

“Masalah?” tanya Rafi pelan.

Yoga menatap Arabella lagi dengan kesal.

Arabella juga menatapnya dengan ekspresi tidak kalah kesal.

Beberapa detik mereka saling diam.

Akhirnya Yoga menghela napas panjang.

“Baiklah.”

Arabella mengangkat alis.

“Baiklah apa?”

“Kita lakukan saja.”

Arabella langsung tersenyum sinis.

“Tadi katanya mau membatalkan.”

“Saya tidak punya waktu mencari orang lain.”

Arabella menggeleng kecil.

“Luar biasa.”

Yoga menatapnya tajam.

“Ini hanya beberapa jam.”

Arabella balas menatapnya.

“Kalau begitu jangan banyak aturan.”

Yoga menghela napas kesal.

“Dengarkan. Kita hanya perlu berpura-pura.”

Arabella mengangkat alis.

“Seolah-olah aku tidak tahu pekerjaanku.”

Rafi menahan tawa di samping mereka.

“Wah… ini akan jadi malam yang menarik.”

Arabella dan Yoga langsung menoleh ke arahnya bersamaan.

“Kamu diam saja!”

 kata mereka berdua.

Rafi hanya mengangkat kedua tangan menyerah.

Yoga lalu menatap Arabella lagi.

“Siap?”

Arabella mendengus pelan.

“Tidak. Tapi ayo selesaikan saja.”

Mereka kemudian berjalan bersama menuju ruang makan keluarga.

Namun suasana di antara mereka masih dipenuhi ketegangan.

Malam itu baru saja dimulai.

Yoga dan Arabella berjalan menuju ruang makan keluarga.

Suasana di antara mereka masih canggung. Bahkan mereka tidak saling berbicara sepanjang berjalan.

Di belakang mereka, Rafi mengikuti sambil menahan senyum.

Saat pintu ruang makan dibuka, beberapa orang langsung menoleh.

Di meja panjang itu sudah duduk beberapa anggota keluarga Yoga.

Seorang pria paruh baya yang terlihat tegas menatap Yoga.

“Yoga, akhirnya kamu datang juga,” katanya.

Pria itu adalah ayah Yoga.

Di sampingnya duduk seorang wanita yang wajahnya lembut, kemungkinan besar ibu Yoga.

Namun perhatian mereka langsung tertuju pada Arabella yang berdiri di samping Yoga.

Ibu Yoga tersenyum.

“Dan ini pasti perempuan yang kamu bicarakan.”

Yoga langsung terlihat sedikit kaku.

Arabella yang menyadari situasi itu segera tersenyum sopan.

“Selamat malam,” katanya.

Ibu Yoga langsung terlihat senang.

“Aduh, cantik sekali,” katanya ramah.

Arabella sedikit menunduk sopan.

“Terima kasih, Bu.”

Ayah Yoga mengamati Arabella beberapa detik.

“Namamu siapa?”

Arabella sempat melirik Yoga sebentar.

Yoga hanya menatapnya dengan ekspresi datar.

“Arabella,” jawabnya akhirnya.

“Nama yang bagus,” kata ibu Yoga.

Ia lalu menepuk kursi di sampingnya.

“Ayo duduk, jangan berdiri saja.”

Yoga dan Arabella pun duduk di kursi mereka.

Namun begitu mereka duduk, Arabella sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Yoga dan berbisik pelan.

“Kenapa keluargamu terlihat seperti sedang menilai aku?”

Yoga menjawab tanpa menoleh.

“Karena memang begitu.”

Arabella langsung menghela napas kesal.

“Bagus sekali.”

Di sisi lain meja, ibu Yoga masih memperhatikan Arabella dengan senyum ramah.

“Kalian sudah lama berpacaran?” tanyanya.

Yoga langsung hampir tersedak minumannya.

Arabella menoleh cepat ke arah Yoga.

Yoga membalas tatapan itu seolah berkata jawab saja.

Arabella lalu tersenyum kecil.

“Tidak terlalu lama, Bu.”

“Berapa lama?” tanya ibu Yoga penasaran.

Arabella berpikir cepat.

“Beberapa bulan.”

Yoga sedikit mengangguk kecil seolah mengiyakan.

Namun di bawah meja, tiba-tiba kaki Yoga menyenggol kaki Arabella.

Arabella langsung menoleh tajam.

“Apa?” bisiknya pelan.

“Kamu terlalu cepat menjawab,” bisik Yoga.

Arabella menahan kesal.

“Kalau aku tidak menjawab, kita akan dicurigai.”

Yoga menghela napas pelan.

Sementara itu ibu Yoga masih terus tersenyum melihat mereka.

“Kalian terlihat cocok,” katanya.

Arabella tersenyum sopan.

“Terima kasih, Bu.”

Namun di bawah meja, Arabella diam-diam menyikut lengan Yoga.

Yoga menoleh sedikit kesal.

“Jangan menyentuh saya,” bisiknya.

Arabella balas berbisik.

“Kalau kamu tidak bertingkah aneh, aku juga tidak akan melakukannya.”

Yoga menatapnya tajam.

“Ini semua gara-gara kamu.”

Arabella langsung membalas dengan cepat.

“Gara-gara aku? Kamu yang hampir menabrak aku di jalan!”

Yoga menutup mata sejenak, berusaha menahan kesal.

Di ujung meja, Rafi menatap mereka sambil menahan tawa.

Ia berbisik pelan,

“Pacaran kalian… unik sekali.”

Yoga dan Arabella langsung menatap Rafi dengan tajam.

“Diam!” bisik mereka bersamaan.

Namun di sisi lain meja, ibu Yoga justru terlihat semakin senang.

Ia menatap suaminya sambil berbisik pelan.

“Lihat? Mereka bahkan sudah seperti pasangan yang sering bertengkar.”

Ayah Yoga hanya mengangguk kecil.

Makan malam terus berlangsung.

Beberapa hidangan sudah disajikan di atas meja. Suasana terlihat hangat, meskipun bagi Yoga dan Arabella suasana itu terasa cukup menegangkan.

Ibu Yoga sesekali menatap Arabella dengan senyum senang.

“Kamu bekerja di mana, Arabella?” tanyanya.

Arabella menegakkan punggungnya sedikit.

“Saya bekerja di sebuah kafe kecil, Bu.”

“Oh begitu,” kata ibu Yoga dengan ramah. “Pasti melelahkan ya.”

Arabella tersenyum sopan.

“Tidak terlalu, Bu.”

Ayah Yoga yang sejak tadi lebih banyak diam akhirnya berbicara.

“Kamu tinggal di mana?”

“Di kos dekat pusat kota,” jawab Arabella.

Yoga yang duduk di sampingnya hanya diam sambil sesekali meminum air.

Namun di bawah meja, Arabella tiba-tiba menyikut lengannya pelan.

Yoga menoleh sedikit.

“Apa?” bisiknya pelan.

Arabella membalas berbisik,

“Kenapa kamu diam saja? Ini keluargamu.”

Yoga mendengus pelan.

“Karena kamu yang lebih pandai bicara.”

Arabella memutar matanya kesal.

Ibu Yoga memperhatikan mereka berdua dengan ekspresi senang.

“Kalian terlihat dekat sekali,” katanya.

Arabella langsung tersenyum.

Yoga terdiam beberapa detik, lalu tiba-tiba meletakkan tangannya di atas tangan Arabella di meja.

Arabella langsung menoleh kaget.

“Apa yang kamu lakukan?” bisiknya pelan.

Yoga membalas tanpa menoleh.

“Pura-pura romantis. Bukannya itu yang kamu inginkan?”

Arabella hampir menarik tangannya, tetapi ibu Yoga sedang memperhatikan mereka dengan senyum lebar.

Akhirnya Arabella terpaksa membiarkan tangan Yoga tetap di atas tangannya.

Di ujung meja, Rafi hampir tertawa melihat mereka.

“Wah, kalian benar-benar mesra,” katanya menggoda.

Arabella langsung tersenyum canggung.

Yoga hanya menghela napas.

Beberapa saat kemudian ibu Yoga kembali berbicara.

“Arabella.”

“Ya, Bu?”

“Kamu harus datang lagi ke rumah kami lain kali.”

Arabella sedikit terkejut.

“Ke rumah…?”

“Iya,” lanjut ibu Yoga. “Aku ingin mengenalmu lebih dekat.”

Yoga langsung menoleh cepat ke arah ibunya.

“Bu—”

Namun ibunya langsung memotong.

“Tidak ada alasan menolak.”

Arabella melirik Yoga.

Yoga menatapnya dengan ekspresi jangan jawab dulu.

Namun ibu Yoga masih menunggu jawaban.

Arabella akhirnya tersenyum sopan.

“Baik, Bu. Kalau ada kesempatan.”

Ibu Yoga terlihat sangat senang.

“Bagus sekali.”

Yoga memijat pelipisnya pelan.

Di bawah meja, ia berbisik pada Arabella.

“Ini semua semakin rumit.”

Arabella membalas pelan,

“Bukan salahku.”

Yoga menatapnya tajam.

“Kalau kamu tidak menerima pekerjaan ini—”

Arabella langsung memotong.

“Kalau kamu tidak hampir menabrakku kemarin—”

Yoga menghela napas panjang.

Rafi yang duduk tidak jauh dari mereka menyeringai.

“Tenang saja. Dari luar kalian terlihat seperti pasangan yang sangat cocok.”

Yoga dan Arabella langsung menoleh bersamaan.

“Kamu diam saja!” kata mereka berdua.

Namun di sisi lain meja, ibu Yoga justru semakin tersenyum melihat mereka.

“Lucu sekali,” katanya.

Ayah Yoga mengangguk kecil.

“Setidaknya sekarang Yoga akhirnya punya pacar.”

Yoga langsung terlihat semakin tidak nyaman.

Sementara Arabella hanya tersenyum tipis.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Makan malam akhirnya selesai.

Satu per satu anggota keluarga Yoga mulai berdiri dari meja. Suasana tetap hangat, terutama karena ibu Yoga terlihat sangat senang dengan kehadiran Arabella.

Saat mereka berjalan keluar restoran, ibu Yoga kembali menghampiri Arabella.

“Arabella, hati-hati di jalan ya,” katanya ramah.

Arabella tersenyum sopan.

“Baik, Bu. Terima kasih.”

Ibu Yoga lalu menoleh ke arah putranya.

“Yoga.”

“Ya, Bu?”

“Kamu antar Arabella pulang.”

Yoga langsung terlihat sedikit tidak nyaman.

“Bu, sebenarnya—”

Namun ibunya langsung memotong.

“Tidak ada alasan menolak.”

Arabella melirik Yoga sekilas, menahan senyum kecil.

Akhirnya Yoga hanya menghela napas.

“Baik.”

Beberapa menit kemudian mereka sudah berada di dalam mobil Yoga.

Suasana di dalam mobil terasa sangat sunyi.

Yoga menyalakan mesin mobil tanpa berkata apa pun.

Arabella duduk di kursi penumpang sambil melihat ke luar jendela.

Mobil mulai berjalan meninggalkan restoran.

Beberapa menit pertama tidak ada yang berbicara.

Akhirnya Arabella yang membuka suara.

“Restorannya bagus.”

Yoga menjawab singkat.

“Ya.”

Hening lagi.

Arabella mendengus pelan.

“Kamu selalu sesingkat itu kalau bicara?”

Yoga menoleh sekilas ke arahnya.

“Kita tidak perlu berbicara.”

Arabella langsung menatapnya kesal.

“Luar biasa. Kamu yang menyuruh aku pura-pura jadi pacarmu, tapi sekarang malah diam saja.”

Yoga menghela napas panjang.

“Saya tidak menyuruhmu. Kamu menerima pekerjaan itu.”

Arabella langsung memutar matanya.

“Karena aku butuh uang.”

Yoga terdiam sebentar.

Mobil terus melaju di jalan malam yang cukup sepi.

Beberapa detik kemudian Yoga berkata,

“Kamu cukup pandai berpura-pura.”

Arabella mengangkat alis.

“Itu pujian?”

“Anggap saja begitu.”

Arabella tertawa kecil.

“Padahal tadi kamu hampir membatalkan semuanya.”

Yoga mengingat kejadian di pintu restoran dan langsung mendengus.

“Kalau saya punya waktu mencari orang lain, saya pasti sudah membatalkannya.”

Arabella langsung menoleh tajam.

“Oh jadi kamu sangat tidak ingin terlihat bersama aku?”

Yoga juga menoleh sekilas dengan ekspresi datar.

“Kita baru bertemu dua kali, dan dua-duanya berakhir dengan pertengkaran.”

Arabella menyilangkan tangannya.

“Pertemuan pertama bukan salahku.”

Yoga mengerutkan kening.

“Kamu tiba-tiba menyeberang.”

Arabella langsung memotong,

“Lampunya merah!”

“Baik, baik,” kata Yoga cepat.

Arabella menggeleng kesal.

“Kamu benar-benar orang yang menyebalkan.”

Yoga menatap jalan di depannya.

“Kamu juga tidak kalah.”

Mobil berhenti di lampu merah.

Beberapa detik mereka saling diam.

Arabella kemudian berkata,

“Ngomong-ngomong, kenapa kamu harus menyewa pacar untuk makan malam keluarga?”

Yoga menghela napas.

“Keluargaku terus memaksaku untuk menikah.”

Arabella sedikit terkejut.

“Menikah?”

“Ya.”

“Dan kamu tidak mau?”

Yoga menjawab tanpa ragu.

“Tidak sekarang.”

Arabella mengangguk pelan.

Lampu lalu lintas berubah hijau, dan mobil kembali berjalan.

Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di depan kos Arabella.

Yoga menghentikan mobil.

“Sudah sampai.”

Arabella membuka pintu mobil, tetapi sebelum turun ia menoleh ke arah Yoga.

“Ngomong-ngomong…”

Yoga mengangkat alis.

“Apa?”

Arabella tersenyum tipis.

“Kamu tidak terlalu buruk saat berpura-pura jadi pacar.”

Yoga menatapnya datar.

“Itu bukan pujian.”

Arabella tertawa kecil lalu keluar dari mobil.

Namun sebelum ia menutup pintu, Yoga berkata,

“Tunggu.”

Arabella menoleh.

“Apa?”

Yoga terlihat berpikir sebentar sebelum akhirnya berkata,

“Ibuku serius tentang undangan ke rumah.”

Arabella menghela napas.

“Aku sudah menduga.”

Yoga menatapnya.

“Jadi… kita mungkin harus berpura-pura lagi.”

Arabella menyilangkan tangan.

“Itu berarti kamu harus membayar lagi.”

Yoga langsung mendengus pelan.

“Kita lihat saja nanti.”

Arabella tersenyum kecil.

“Selamat malam, tuan Yoga senang bekerja dengan anda.”

Ia lalu menutup pintu mobil dan berjalan masuk ke halaman kos.

Yoga tetap duduk di dalam mobil beberapa detik sambil menatap ke arah pintu kos itu.

"kau senang aku...sial"

Akhirnya yoga meninggalkan kos an Arabella menuju ke rumah nya

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Mobil Yoga akhirnya berhenti di halaman rumahnya.

Rumah itu cukup besar dan terlihat tenang di malam hari. Lampu di ruang tamu masih menyala, menandakan kedua orang tuanya belum tidur.

Yoga mematikan mesin mobil lalu keluar perlahan.

Saat ia membuka pintu rumah, suara ibunya langsung terdengar dari ruang tamu.

“Yoga? Kamu sudah pulang?”

Yoga berjalan masuk sambil melepas jam tangannya.

“Iya, Bu.”

Di ruang tamu, ayah dan ibunya masih duduk sambil minum teh.

Begitu melihat Yoga masuk, ibunya langsung tersenyum lebar.

“Arabella sudah pulang?” tanya ibunya.

Yoga mengangguk singkat.

“Sudah yoga antar.”

Ibunya terlihat sangat senang.

“Dia gadis yang sangat baik.”

Yoga langsung duduk di sofa sambil menghela napas pelan.

Ayahnya yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara.

“Ibumu benar.”

Yoga menoleh sedikit.

“Apa maksudnya?”

Ayahnya menyandarkan punggungnya ke sofa.

“Arabella terlihat sopan dan dewasa.”

Ibunya langsung mengangguk setuju.

“Dan dia juga cantik.”

Yoga hanya menggaruk pelipisnya.

“Iya… dia baik.”

Ibunya menatapnya penuh harap.

“Kamu harus menjaga dia dengan baik.”

Yoga langsung terdiam beberapa detik.

Ibunya kemudian berkata lagi,

“Ibu sudah lama tidak melihat kamu membawa seseorang ke rumah.”

Ayahnya ikut tersenyum kecil.

“Sepertinya kamu akhirnya serius.”

Yoga langsung menggeleng cepat.

“Tidak seperti itu.”

Ibunya terlihat sedikit bingung.

“Lalu seperti apa?”

Yoga menghela napas panjang.

“Kami baru saja mulai saling mengenal.”

Ibunya menatapnya curiga.

“Tapi kalian terlihat sangat dekat.”

Yoga mengingat kembali bagaimana mereka hampir bertengkar di bawah meja saat makan malam.

Ia langsung memijat pelipisnya pelan.

“Itu hanya… terlihat saja.”

Ibunya tersenyum.

“Ibu sudah bisa menilai orang, Yoga. Arabella gadis yang baik.”

Ayahnya lalu bertanya dengan santai,

“Jadi… kapan kalian akan menikah?”

Yoga langsung hampir tersedak.

“Ayah!”

Ibunya juga terlihat penasaran.

“Iya, kapan?”

Yoga menggeleng cepat.

“Kalian terlalu cepat.”

Ayahnya mengangkat alis.

“Cepat?”

Yoga menghela napas.

“Kami bahkan belum lama saling mengenal.”

Ibunya tersenyum kecil.

“Kalau begitu kenali lebih lama.”

Ayahnya menambahkan,

“Tapi jangan terlalu lama juga.”

Yoga hanya bisa menggeleng sambil tersenyum tipis.

“Masih banyak waktu.”

Ibunya menatapnya beberapa detik.

“Baiklah.”

Namun sebelum Yoga berdiri untuk pergi ke kamarnya, ibunya berkata lagi,

“Undang Arabella datang ke rumah minggu depan.”

Yoga langsung berhenti melangkah.

“Bu…”

Ibunya tersenyum.

“Ibu ingin makan bersama lagi dengannya.”

Ayahnya mengangguk kecil.

“Dia membuat suasana makan malam tadi jauh lebih menyenangkan.”

Yoga menatap kedua orang tuanya bergantian.

Ia lalu menghela napas panjang.

“Baiklah… nanti yoga pikirkan.”

Ia kemudian berjalan menuju tangga.

Namun dalam pikirannya, Yoga mulai menyadari satu hal.

Masalahnya sekarang bukan hanya soal pacar sewaan.

Masalahnya adalah…

kedua orang tuanya benar-benar sudah menyukai Arabella.

Dan itu bisa membuat semuanya menjadi jauh lebih rumit

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!