NovelToon NovelToon
Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Wanita perkasa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Dibakar hidup-hidup oleh suaminya sendiri, Aurelia kembali dari kematian dalam tubuh Elara, putri bangsawan lemah yang ia benci. Kini, ia terperangkap dalam tubuh rapuh yang trauma pada api, di istana yang sama tempat pembunuhnya bertahta.

Dikelilingi selir licik pemuja sihir hitam dan kaisar paranoid yang terobsesi padanya, Aurelia harus menggunakan sihir void terlarang untuk membalas dendam tanpa menghancurkan jiwanya sendiri. Di antara intrik racun dan rahasia kuno yang mengguncang dunia, sang Ratu harus memilih: takhta berlumur darah, atau keselamatan dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Dua Selir

Cahaya yang Menyakitkan

Sinar matahari pagi itu menghantam kornea mata Aurelia dengan kekuatan radiasi yang hampir membutakan, sebuah kontras yang brutal terhadap kegelapan total penjara. Setelah berhari-hari terkubur dalam kelembapan pengap sel bawah tanah, transisi mendadak menuju kemewahan pesta taman ini terasa seperti sebuah serangan fisik yang nyata. Ia menyipitkan matanya dengan paksa, merasakan perih yang tajam menusuk pupilnya saat ia diseret kasar oleh dua penjaga melalui ambang pintu kayu ek besar yang memisahkan dunia bawah tanah yang busuk dengan kemegahan dunia atas yang menipu.

Lantai batu yang dingin, berlumut, dan kasar kini berganti dengan hamparan rumput hijau yang dipangkas dengan presisi sempurna. Tekstur rumput yang masih basah oleh sisa embun pagi terasa sangat gatal dan kasar di bawah telapak kakinya yang dipenuhi luka lecet serta debu hitam. Aurelia menarik napas panjang, namun alih-alih menghirup kesegaran udara pegunungan, ia justru menghirup campuran aroma melati dan mawar yang terlalu pekat dan artifisial, seolah-olah seluruh istana ini sedang berusaha keras menutupi bau busuk pengkhianatan yang membusuk di bawah hidung mereka.

"Jalanlah lebih cepat, Elara! Jangan biarkan Kaisar membuang waktu berharganya hanya untuk menunggumu!" bentak salah satu penjaga sambil menyentakkan rantai besi di pergelangan tangannya hingga menimbulkan bunyi denting yang memilukan.

Aurelia membiarkan tubuhnya terhuyung dengan sengaja. Ia melemaskan otot-otot lehernya, membiarkan rambutnya yang kusam, kotor, dan kusut menutupi sebagian besar wajahnya. Ia harus terlihat benar-benar hancur secara fisik maupun mental. Ia memerankan sosok mayat hidup yang tidak lagi memiliki setetes pun keinginan untuk melakukan perlawanan.

"Nona... tolong pelan-pelan," bisik Rina yang berjalan di belakangnya dengan tangan terikat, dikawal oleh penjaga lain untuk dikembalikan ke departemen dapur bawah setelah tugas ini selesai.

Aurelia tidak memberikan jawaban verbal. Ia memfokuskan seluruh energinya pada sirkulasi batin. Void di dalam dirinya, yang baru saja mencapai ambang stabilitas di level nol titik tujuh setelah menyerap sisa-sisa energi panas obor semalam, mulai bergejolak merespons lingkungan sekitar. Ia merasakan resonansi aneh yang tidak menyenangkan saat langkah kakinya semakin mendekat ke pusat kerumunan para bangsawan. Ada sesuatu yang tidak wajar di udara—sebuah frekuensi energi yang dingin, hitam, dan sangat ia kenali sebagai jejak sihir terlarang.

"Lihatlah pemandangan itu... apakah itu benar-benar sosok sang Putri Elara dari Asteria?"

"Dia terlihat jauh lebih buruk daripada pengemis paling hina di pelabuhan selatan."

Bisikan-bisikan tajam yang penuh penghinaan mulai menghujamnya saat ia memasuki area taman utama. Para bangsawan yang mengenakan sutra warna-warni yang berkilau menatapnya dengan campuran rasa jijik dan kepuasan kemenangan. Mereka memegang gelas-gelas kristal berisi anggur merah mahal, sementara Aurelia berdiri tegak di tengah mereka dengan rantai berkarat yang melilit nadinya, menjadi tontonan yang menghibur bagi kaum pemenang.

"Berhenti di sini!" perintah penjaga dengan nada kasar.

Aurelia mendongak perlahan, menahan silau matahari. Di hadapannya, sebuah paviliun mewah dari marmer putih berdiri dengan megah. Di sana, di atas kursi kebesaran yang dilapisi beludru, duduk seorang wanita yang mengenakan gaun merah darah dengan sulaman benang emas yang membentuk pola jilatan api yang rumit. Elena.

Wangi Mawar yang Beracun

Elena bangkit dari kursinya, melangkah turun perlahan dengan keanggunan seorang predator yang baru saja berhasil menjatuhkan mangsa besarnya. Setiap langkah sepatunya yang berujung lancip menimbulkan bunyi klik yang teratur dan angkuh di atas lantai marmer. Ia berhenti tepat satu langkah di depan Aurelia, posisi yang cukup dekat sehingga aroma parfum mawarnya yang memuakkan menyerbu seluruh indra penciuman Aurelia secara agresif.

"Jadi, ini adalah sebuah pemandangan yang sangat mengagumkan untuk memulai pagi yang indah ini," ucap Elena dengan nada suara yang melengking rendah, penuh dengan racun kebencian yang disamarkan sebagai keramahan palsu.

Aurelia tetap membisu, kepalanya tertunduk seolah-olah berat oleh beban penghinaan.

"Angkat wajahmu, Tikus Kecil Asteria. Aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri apakah matamu masih memiliki sisa-sisa kesombongan yang dulu sering kau pamerkan di depan umum," perintah Elena dengan nada yang menuntut.

"Dia sudah kehilangan akal sehatnya, Nyonya Elena. Sepanjang malam dia hanya meracau dan menangis ketakutan di dalam sel," sela Martha, kepala pelayan yang berdiri di belakang Elena dengan wajah yang tidak kalah angkuhnya.

"Benarkah begitu, Martha? Sayang sekali. Padahal aku baru saja ingin mengajaknya berdansa di tengah pesta kemenangan suamiku ini," Elena tertawa kecil, sebuah suara tawa yang terdengar seperti gesekan logam tajam yang memilukan telinga.

Aurelia menghela napas pendek yang bergetar. Ia memaksa dirinya untuk mendongak secara perlahan, menyingkap rambut yang menutupi wajahnya. Saat matanya bertemu dengan mata Elena, ia tidak menunjukkan api kebencian yang meledak-ledak. Ia menjaga pandangannya tetap terlihat kosong, hampa, dan sedikit bergetar—sebuah akting yang sangat sempurna dari seorang wanita yang jiwanya telah hancur. Namun, di balik selaput matanya, sistem Void sedang bekerja dengan kecepatan tinggi. Ia sedang memetakan struktur aura energi Elena secara mikroskopis.

"Anda... Anda terlihat sangat cantik hari ini, Nyonya," bisik Aurelia dengan suara yang sengaja dibuat pecah, serak, dan penuh keputusasaan.

"Tentu saja aku cantik. Aku adalah masa depan yang bersinar bagi kekaisaran ini, sementara kau hanyalah butiran debu dari masa lalu yang lupa disapu oleh sejarah," Elena mendekatkan wajahnya, tersenyum lebar dengan sorot mata yang kejam.

"Bau mawar ini... sangat kuat dan menyesakkan," gumam Aurelia lagi, suaranya nyaris tenggelam oleh desau angin taman.

"Kenapa? Kau menyukainya? Ini adalah mawar langka dari taman pribadiku. Mawar yang tumbuh subur di atas tanah yang kau sebut sebagai negaramu dulu," ejek Elena dengan nada yang sangat menghina.

Aurelia merasakan denyut Void di area jantungnya meningkat tajam. Ia mendeteksi adanya ketidakteraturan pada struktur molekul energi Elena. Benar dugaannya sejak awal; wanita ini menggunakan sihir hitam yang bersumber dari entitas Void liar yang berbahaya. Kekuatannya bukan murni miliknya sendiri; itu adalah kekuatan pinjaman yang mulai mengikis integritas jiwanya sendiri secara perlahan namun pasti.

"Kau tahu, Elara? Valerius bahkan tidak bersedia untuk sekadar melihat wajahmu hari ini. Dia merasa terlalu jijik untuk menyaksikan betapa rendah dan kotornya kau sekarang," Elena meraih dagu Aurelia dengan jemarinya yang mengenakan cincin batu permata tajam, menekannya dengan kuat.

"Kaisar... dia pasti sangat mencintai Anda," sahut Aurelia, memberikan umpan psikologis yang sangat diinginkan oleh ego Elena.

"Dia tidak hanya mencintaiku. Dia memujaku melebihi apa pun. Dia menghancurkan duniamu yang kecil hanya untuk memberikan mahkota ini padaku," Elena menekankan kuku panjangnya ke kulit dagu Aurelia hingga meninggalkan bekas kemerahan yang perih.

"Lalu... mengapa Anda masih berada di sini? Mengapa tidak membiarkan saya mati membusuk di kegelapan sel itu?" tanya Aurelia, matanya kini menatap tepat ke dalam pupil mata Elena dengan intensitas yang aneh.

"Karena kematian yang cepat adalah sebuah anugerah tertinggi, dan aku sama sekali tidak memiliki niat untuk memberikan anugerah apa pun padamu," Elena melepaskan cengkeramannya dengan kasar. "Aku ingin kau menyaksikan dengan mata kepalamu sendiri bagaimana setiap inci dari kejayaanmu dulu kini secara sah menjadi milikku. Aku ingin kau merasakan bagaimana rasanya menjadi penonton yang tidak berdaya dalam hidupmu sendiri."

Aurelia merasakan dorongan batin untuk tertawa dingin, namun ia menahannya dengan kekuatan kehendak yang luar biasa. Martabatnya sebagai mantan permaisuri menjerit memprotes hinaan ini, namun sosok komandan di dalam dirinya memerintahkan untuk tetap bersabar dan mengikuti arus. Ia memperhatikan setiap detail perhiasan di tubuh Elena—emas-emas itu berkilau menyilaukan, namun bagi penglihatan spektrum Void Aurelia, emas itu dilapisi oleh energi hitam pekat yang berdenyut tidak stabil.

"Anda sudah memenangkan segalanya, Nyonya. Apa lagi yang sebenarnya Anda inginkan dari tawanan seperti saya?" tanya Aurelia dengan nada yang sengaja dibuat memelas.

"Aku menginginkan kehancuranmu yang absolut dan permanen. Secara fisik, mental, hingga ke akar jiwamu," Elena berbisik tepat di lubang telinga Aurelia. "Dan pesta megah ini hanyalah sebuah pembukaan kecil. Setelah ini, aku akan membawamu ke sebuah tempat yang jauh lebih hangat daripada penjara bawah tanah yang dingin itu."

Aurelia terdiam sejenak. Ia tahu persis apa yang dimaksud oleh Elena. Ruang penyiksaan fisik yang telah disiapkan secara khusus untuk memuaskan rasa haus akan penderitaan. Namun, Elena tidak menyadari bahwa semakin dekat ia berinteraksi fisik dengan Aurelia, semakin banyak data struktur sihir hitam yang berhasil diserap dan dianalisis oleh sistem Void di dalam tubuh Elara.

"Apakah Anda sebenarnya merasa takut pada saya, Nyonya Elena?" tanya Aurelia secara tiba-tiba dengan nada yang mendatar.

Pertanyaan itu membuat suasana meriah di sekitar paviliun marmer mendadak menjadi hening seketika. Para pelayan dan bangsawan di sekitar sana seolah menahan napas secara kolektif. Elena membelalakkan matanya yang dilapisi riasan tebal, lalu tertawa keras hingga bahunya berguncang hebat, sebuah tawa yang dipaksakan.

"Takut? Padamu? Makhluk malang yang bahkan tidak mampu untuk berdiri tegak tanpa bantuan rantai besi ini?" Elena menunjuk ke arah kaki Aurelia yang sengaja dibuat gemetar.

"Mata Anda... menunjukkan sebuah ketakutan yang dalam. Anda takut bahwa suatu hari nanti, bayangan saya akan menghantui setiap ciuman dan pelukan yang Anda berikan pada Kaisar," ucap Aurelia dengan nada yang tenang namun menusuk tepat ke titik lemah Elena.

Plak!

Sebuah tamparan yang sangat keras mendarat tepat di pipi Aurelia. Kepala Aurelia terlempar ke samping dengan hentakan kuat, rasa panas yang membakar dan denyutan nyeri segera menjalar di seluruh wajahnya. Sudut bibirnya pecah, mengeluarkan setetes darah segar yang berasa logam tembaga di lidahnya.

"Jaga bicaramu yang kotor itu, dasar budak tak berguna!" bentak Martha sambil melangkah maju ke depan dengan wajah merah padam.

Elena mengangkat tangannya, memberi isyarat otoriter agar Martha mundur. Dada Elena naik turun dengan cepat, napasnya memburu tidak teratur. Umpan psikologis itu berhasil. Keangkuhan Elena baru saja retak oleh secercah kebenaran yang dilemparkan Aurelia tepat di depan wajahnya.

"Kau pikir kau masih memiliki hak bicara soal bayangan? Kau sendiri adalah bayangan itu sendiri, Elara. Dan bayangan akan segera menghilang saat cahaya matahari benar-benar membakarnya hingga menjadi abu," Elena mencoba mengatur kembali ekspresi wajahnya yang sempat terlihat kacau balau.

"Matahari ini memang sangat indah, Nyonya. Tapi matahari juga memiliki kekuatan untuk membutakan mereka yang terlalu lama menatap ke arahnya dengan penuh keserakahan," balas Aurelia sambil menyeka darah di bibirnya dengan punggung tangan yang dirantai, matanya kini berkilat dengan kecerdasan yang disembunyikan.

Elena tersenyum sinis, sebuah senyuman yang menyembunyikan kegelisahan. "Kita lihat saja nanti, seberapa kuat lidah tajammu itu saat menghadapi api nanti malam. Martha, bawa dia kembali ke barisan tawanan utama. Pastikan dia berdiri tepat di titik terendah di bawah balkon saat Valerius memberikan pidato kemenangannya. Aku ingin suamiku melihat secara jelas sampah ini berada tepat di bawah kakinya."

"Baik, Nyonya Elena. Perintah Anda akan saya laksanakan dengan segera," sahut Martha dengan patuh.

Penjaga kembali menarik rantai di tangan Aurelia dengan gerakan yang sangat kasar, menyeretnya menjauh dari paviliun mewah tersebut. Aurelia membiarkan dirinya ditarik kembali, namun sebelum ia benar-benar menjauh, ia memberikan satu tatapan terakhir yang sangat dalam pada Elena. Kali ini, ia membiarkan sedikit energi Void-nya memancar secara sengaja di pupil matanya—sebuah kilatan ungu pucat yang sangat tipis dan hanya bisa dideteksi oleh sesama pengguna sihir yang peka seperti Elena.

Elena tersentak sesaat, tubuhnya sedikit goyah. Ia seolah melihat sesuatu yang sangat mengerikan dan kuno di balik mata tawanan yang ia anggap remeh itu, namun kilatan misterius tersebut hilang secepat ia muncul, meninggalkan keraguan di benak Elena.

"Kenapa, Nyonya? Apakah Anda merasa tidak enak badan?" tanya Martha dengan nada cemas saat melihat Elena terdiam mematung.

"Tidak ada apa-apa. Hanya bayangan matahari yang mendadak mengganggu penglihatanku saja," jawab Elena dengan nada suara yang mulai terdengar tidak tenang dan penuh kegelisahan.

Aurelia berjalan menjauh, langkahnya diseret menuju kerumunan tawanan lain yang meringkuk di pinggiran taman yang terik. Pesta ini baru saja dimulai, dan ia sudah berhasil mendapatkan apa yang paling ia butuhkan: struktur dasar dari kelemahan sihir hitam Elena dan konfirmasi bahwa wanita itu sudah mulai meragukan stabilitas mentalnya sendiri di hadapan bayangan masa lalu.

"Nona... apakah Anda benar-benar tidak apa-apa?" tanya Rina saat mereka berpapasan sejenak di jalur distribusi pelayan.

"Aku merasa sangat baik, Rina. Jauh lebih baik dari yang bisa kau bayangkan," jawab Aurelia dengan sebuah senyuman dingin yang tersembunyi di balik rambutnya yang kusam.

Ia menoleh ke arah atas, ke arah balkon istana yang megah dan menjulang tinggi. Di sana, sosok Valerius berdiri dengan tegak mengenakan seragam kebesaran kekaisaran. Mata mereka bertemu sejenak dari kejauhan yang memisahkan status sosial mereka. Aurelia bisa merasakan tatapan Valerius yang tajam, penuh dengan obsesi terpendam dan kebingungan yang nyata. Kaisar itu sedang mencari sesuatu di dalam diri Elara—sebuah serpihan jiwa yang seharusnya sudah mati terbakar di masa lalu, namun kini bangkit kembali untuk menagih hutang darah.

Gema Kemenangan yang Kosong

Aurelia kini berdiri mematung di antara barisan tawanan Asteria yang tersisa—jiwa-jiwa yang telah kehilangan rumah dan harapan. Tubuh-tubuh di sekelilingnya adalah bayang-bayang dari pria dan wanita yang dulunya bangga akan tanah air mereka, kini hanya tumpukan daging yang gemetar di bawah terik matahari Kekaisaran yang seolah membakar sisa martabat mereka. Di atas sana, pada balkon yang dihiasi panji-panji emas yang berkibar dengan angkuh, Valerius melangkah maju. Suasana taman yang tadinya bising oleh tawa para bangsawan seketika hening, menyisakan suara embusan angin yang memainkan kelopak bunga mawar secara ironis.

"Rakyatku, para ksatria yang perkasa, dan tamu-tamu kehormatan!" suara Valerius menggelegar, diperkuat oleh frekuensi kristal mana yang tertanam di pilar balkon marmer tersebut. "Hari ini kita tidak hanya merayakan penaklukan sebuah wilayah geografis. Kita merayakan akhir dari era kegelapan dan dimulainya cahaya tunggal yang absolut di bawah panji Kekaisaran!"

Sorakan membahana dari mulut-mulut yang penuh anggur, namun Aurelia hanya menatap lurus ke arah ujung sepatu bot militer Valerius yang berkilat. Ia bisa merasakan detak jantung para tawanan di sekitarnya yang berpacu kencang karena ketakutan yang bersifat osmotik.

"Kemenangan ini adalah bukti tak terbantahkan bahwa kekuatan sejati tidak pernah datang dari belas kasihan yang lemah, melainkan dari ketegasan untuk menghancurkan setiap benih pengkhianatan hingga ke akarnya yang paling dalam!" lanjut Valerius. Matanya menyapu kerumunan dengan otoritas seorang pemangsa, lalu berhenti tepat di koordinat posisi Aurelia berdiri.

Aurelia merasakan tekanan atmosfer yang luar biasa berat, seolah udara di sekitarnya mendadak memadat. Ia tahu Valerius sedang menatapnya dengan intensitas yang bisa melubangi baja. Ia memaksa bahunya untuk merosot lebih rendah, memberikan impresi visual seorang putri yang telah menyerah sepenuhnya pada nasib yang tragis.

"Elena, kemarilah," panggil Valerius dengan nada yang mengandung magnetisme gelap.

Elena melangkah maju dengan gemulai, menempatkan dirinya tepat di samping sang Kaisar. Ia melingkarkan lengannya di lengan Valerius dengan pose kemenangan yang provokatif, seolah ingin menunjukkan pada seluruh dunia—dan khususnya pada "Elara"—siapa pemilik sah dari takhta dan pria itu sekarang.

"Selirku yang tercinta telah menyiapkan sebuah pertunjukan kecil yang istimewa untuk menghormati para pahlawan kita yang telah kembali dari medan perang," ujar Valerius, suaranya sedikit melunak secara artifisial saat menyebut nama Elena, namun sepasang matanya tetap terkunci mati pada figur Aurelia.

"Kaisar, mereka yang kalah harus dipaksa untuk tahu di mana letak tempat mereka yang sebenarnya di dunia ini," suara Elena terdengar melalui pengeras mana, terdengar manis seperti madu namun memiliki substansi yang mematikan. "Putri Elara dari Asteria, majulah ke depan dan tunjukkan dirimu!"

Penjaga dengan kasar menyentak rantai besi Aurelia, menyeretnya melewati kerumunan hingga ia berdiri tepat di bawah bayangan balkon yang menjulang. Jarak vertikal mereka kini hanya terpaut beberapa meter. Aurelia mendongak perlahan, membiarkan matanya bertemu dengan mata Valerius dalam sebuah konfrontasi sunyi. Untuk sesaat, topeng paranoid sang Kaisar tampak retak di bawah sinar matahari. Ada keraguan yang melintas sekejap di sana, sebuah kilatan pengenalan yang menyakitkan yang segera ia coba tekan dengan kemarahan yang meluap.

"Berlututlah," perintah Valerius. Suaranya rendah, namun mengandung berat otoritas yang sanggup meremukkan tulang.

Aurelia merasakan darahnya mendidih hingga ke titik puncak. Martabat sebagai Permaisuri Asteria yang dulu bertahta dengan anggun di samping pria ini memberontak hebat di dalam jiwanya. Ia teringat dengan detail bagaimana Valerius dulu pernah berlutut dengan penuh puja di hadapannya hanya untuk memberikan sekuntum bunga lavender. Dan sekarang, pria yang sama menuntut penghancuran martabatnya secara total di depan publik yang haus darah.

"Kenapa, Elara? Apakah kakimu yang ringkih itu sudah terlalu lemah bahkan hanya untuk menyentuh tanah Kekaisaran yang mulia ini?" ejek Elena dari atas, tawanya berpadu dengan desau angin.

Aurelia perlahan-lahan menekuk lututnya dengan gerakan yang kaku dan menyakitkan. Satu per satu, hingga kedua lututnya menyentuh rumput yang kasar dan basah. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, membiarkan dahinya nyaris menyentuh tanah yang kotor.

"Saya... berlutut di hadapan keagungan Anda yang tanpa batas, Kaisar," bisik Aurelia. Suaranya yang serak dan pecah bergema di tengah keheningan taman yang mencekam.

"Bagus. Itulah posisi anatomis yang paling tepat untuk seekor tikus penjara," Elena tertawa kecil, menatap ke bawah dengan tatapan yang merendahkan. "Valerius, bukankah dia terlihat sangat pas berada di sana? Jauh lebih cocok daripada saat dia mencoba berlagak sebagai putri agung di negerinya yang kini sudah rata dengan tanah dan abu."

Valerius tidak ikut tertawa. Ia hanya diam mematung, menatap bagian belakang kepala Aurelia yang tertunduk. "Katakan padaku, Elara. Apa yang sebenarnya kau rasakan di dalam hatimu saat ini?"

Aurelia terdiam sejenak, mengumpulkan fokus Void-nya untuk memetakan frekuensi emosi Valerius. Ia merasakan sirkulasi mana sang Kaisar sedang tidak stabil; terombang-ambing antara obsesi masa lalu dan realitas masa kini. Ini adalah celah strategis yang sangat besar.

"Saya merasakan... sebuah kehampaan yang murni, Kaisar. Kehampaan yang mungkin sama persis dengan apa yang Anda rasakan setiap kali Anda mencoba menutup mata di kegelapan malam hari," jawab Aurelia dengan nada yang cukup keras hingga terdengar oleh para bangsawan di paviliun utama.

Wajah Valerius mendadak mengeras, seolah-olah ia baru saja ditampar oleh kenyataan yang tak kasat mata. Elena, yang menyadari perubahan atmosfer yang membahayakan posisinya, segera menyela dengan nada tinggi. "Beraninya kau bicara soal kehampaan di tengah kemakmuran yang agung ini! Kau hanyalah sampah yang menunggu waktu untuk dibuang!"

"Biarkan dia bicara, Elena," potong Valerius dengan tajam dan tanpa menoleh. Elena terkesiap secara fisik, bibirnya katup rapat dengan raut wajah yang penuh ketidakpercayaan dan kecemburuan yang mendidih.

"Lanjutkan bicaramu," perintah Valerius pada Aurelia, suaranya kini terdengar sangat haus akan jawaban.

"Anda mungkin memiliki segalanya saat ini, Kaisar. Takhta emas, kekuasaan yang absolut, dan wanita cantik di samping Anda. Namun, Anda tetap mencari sesuatu yang hilang secara fundamental, bukan? Anda mencari sebuah jiwa yang tidak akan pernah bisa Anda temukan kembali, meski Anda membakar seluruh dunia ini," Aurelia mendongak, memberikan tatapan mata yang begitu dingin dan tajam hingga beberapa bangsawan di barisan depan secara tidak sadar bergidik ngeri.

Valerius mundur satu langkah kecil secara impulsif. Tangannya yang memegang pagar balkon mengepal hingga buku-buku jarinya memutih dan bergetar halus. "Kau... kau sama sekali tidak tahu apa-apa soal apa yang sedang kucari."

"Mungkin memang tidak. Saya hanyalah seorang tawanan malang yang Anda anggap sudah kehilangan kewarasannya," Aurelia menarik sebuah senyum tipis yang penuh dengan sublimasi penderitaan. "Namun, kegilaan sering kali mampu melihat kejujuran yang sengaja disembunyikan oleh mereka yang mengaku waras."

Denting Gelas dan Retaknya Kedamaian

Elena, yang merasa kendali dan perhatian Valerius mulai teralihkan sepenuhnya dari dirinya, segera mengambil tindakan darurat. Ia mengangkat gelas kristalnya yang penuh anggur tinggi-tinggi ke udara. "Cukup dengan omong kosong dari tawanan ini! Mari kita bersulang untuk kejayaan abadi Kaisar Valerius!"

Para bangsawan segera mengikuti instruksi tersebut dengan antusias, mengangkat gelas mereka dan bersorak-sorai untuk menutupi ketegangan yang ada. Namun, bagi pendengaran Aurelia yang tajam, denting gelas kristal itu terdengar sangat sumbang dan palsu. Ia melihat dengan ekor matanya bagaimana Elena memberikan instruksi non-verbal melalui tatapan mata yang tajam kepada Martha. Martha kemudian mendekati seorang penjaga bertubuh besar dan membisikkan sesuatu yang terlihat sangat mendesak.

Aurelia menyempitkan matanya, menyadari bahwa strategi Third Option-nya sedang berjalan sesuai rencana. Dengan sengaja mengganggu stabilitas mental Valerius, ia berhasil memancing Elena untuk bertindak secara impulsif dan emosional. Elena sekarang merasa terancam secara eksistensial, dan dalam dunia politik istana, rasa takut akan memicu kesalahan fatal yang sangat dinantikan oleh Aurelia.

"Bawa dia pergi dari hadapanku!" teriak Elena dengan nada yang hampir menyerupai pekikan. "Pesta yang mulia ini tidak boleh dicemari oleh pemandangan menjijikkan seperti ini lebih lama lagi!"

Dua penjaga kembali menyeret Aurelia dengan gerakan yang jauh lebih kasar daripada sebelumnya. Saat tubuhnya ditarik menjauh, ia sempat melirik ke arah barisan pelayan yang berdiri di kejauhan. Di sana, Rina menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca, sebuah campuran antara rasa iba yang tulus namun juga ketakutan yang melumpuhkan. Aurelia memberikan satu isyarat mata yang sangat halus—sebuah perintah sunyi agar Rina tetap berada di posisinya dan waspada terhadap pergerakan Panglima Vane.

"Kau akan sangat menyesali setiap ucapan lancangmu tadi, Tikus Asteria," bisik penjaga yang menyeretnya dengan nada yang penuh antisipasi jahat. "Nyonya Elena sudah menyiapkan 'hadiah' yang sangat spesial untukmu di ruang interogasi bawah tanah malam ini."

Aurelia tidak memberikan respons apa pun secara verbal. Ia hanya merasakan sisa energi Void di seluruh nadinya berdenyut selaras dengan kemarahannya yang beku. Pesta taman ini hanyalah panggung sandiwara awal, dan ia baru saja menyelesaikan babak pertamanya dengan hasil yang memuaskan. Tubuhnya mungkin dipenuhi memar, wajahnya mungkin baru saja ditampar dengan keras, namun jiwanya kini memegang kendali atas gejolak emosi sang Kaisar.

Saat ia diseret melewati lorong-lorong istana yang megah menuju sel transit sebelum dipindahkan ke ruang penyiksaan, Aurelia memperhatikan setiap detail arsitektur yang telah diubah secara paksa. Valerius telah berusaha keras menghapus banyak jejak estetika kebudayaan Asteria, menggantinya dengan simbol-simbol militeristik yang kaku dan tanpa jiwa.

Ini bukan lagi rumah yang pernah kukenal dan kucintai, batinnya dengan rasa pahit yang mendalam. Namun, tempat ini akan segera menjadi kuburan mewah bagi mereka yang telah menghancurkannya.

Refleksi di Balik Bayangan

Kembali ke dalam dekapan kegelapan, kali ini di sebuah sel transit yang lebih sempit, pengap, dan berbau logam karat, Aurelia duduk meringkuk untuk menjaga suhu tubuhnya. Rasa perih di pipinya akibat tamparan Elena masih terasa berdenyut, namun ia justru sengaja menggunakan rasa sakit fisik itu sebagai jangkar sensorik untuk tetap menjaga fokus kognitifnya. Ia mulai melakukan teknik meditasi singkat untuk memproses sisa informasi energi yang ia serap dari kontak fisik dengan Elena di paviliun tadi.

"Sihir hitamnya... ia berakar sangat dalam pada emosi cemburu yang patologis dan haus kekuasaan yang tidak pernah terpuaskan. Struktur molekul energinya terlihat sangat rapuh di bagian inti pusatnya," analisis Aurelia dalam keheningan batinnya. "Jika aku mampu memicu lonjakan emosinya sekali lagi di depan publik, sihir itu akan mulai melakukan serangan balik dan memakan inangnya sendiri dari dalam."

Ia menarik napas panjang dan lambat, merasakan udara dingin penjara yang mulai menusuk hingga ke sendi-sendinya. Ia sadar sepenuhnya bahwa apa yang akan datang selanjutnya—fase penyiksaan api—adalah ujian terberat bagi traumanya sebagai korban pembakaran. Namun, setelah berhasil menghadapi Valerius dan Elena secara langsung hari ini, ia menyadari satu fakta krusial: Kebenciannya yang murni kini jauh lebih besar daripada rasa takutnya terhadap jilatan api.

"Aurelia... kau harus mampu bertahan melampaui batas kemanusiaanmu," bisiknya pada diri sendiri dalam kegelapan. "Gunakan setiap tetes rasa sakit ini sebagai bahan bakar untuk membakar balik mereka semua."

Suara langkah kaki yang berat dan teratur mulai terdengar mendekat dari ujung koridor. Itu bukan langkah kaki Rina yang ringan. Itu adalah langkah kaki penjaga yang membawa aroma menyengat dari belerang dan minyak tanah—bahan utama untuk sebuah penyiksaan. Aurelia membuka matanya yang kini berkilat dengan semburat ungu tajam yang mematikan di kegelapan.

"Waktunya untuk pindah, Tuan Putri. Nyonya Elena sudah menunggumu dengan sangat tidak sabar di bawah sana," suara penjaga itu terdengar penuh dengan nada jahat yang menjijikkan.

Aurelia berdiri tegak tanpa membutuhkan bantuan apa pun, rantai besinya berdenting dengan irama yang tenang. Ia tidak lagi menunjukkan getaran ketakutan. Ia melangkah keluar dari sel transit itu dengan punggung yang tegak sempurna, siap untuk memasuki babak paling menyakitkan dalam rencana strateginya. Di ujung lorong, ia sudah bisa melihat pantulan cahaya jingga yang menari-nari dari obor ruang bawah tanah—cahaya yang dulunya pernah membunuhnya, dan kini akan ia gunakan sebagai katalis untuk membangkitkan seluruh kekuatan Void-nya secara absolut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!