NovelToon NovelToon
Yakusoku No Mirai

Yakusoku No Mirai

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Akira Ren hidup dalam dua dunia yang berbeda. Di sekolah, ia adalah siswa kelas 12 yang tampak acuh tak acuh dan sering membolos. Namun di balik pintu dapur restoran bintang lima "Ren’s Cuisine", ia adalah koki jenius yang mewarisi ketajaman rasa ayahnya dan ketangguhan fisik ibunya, seorang mantan atlet bela diri dunia.
​Ren hanya ingin menjalani masa mudanya dengan tenang tanpa sorotan. Namun, takdir berkata lain saat satu per satu wanita di hidupnya—mulai dari guru matematika yang kaku hingga teman masa kecil yang kompetitif—mulai melihat celah di balik topengnya. Dengan bantuan "Insting" yang tajam (Sistem), Ren harus menyeimbangkan antara ambisi kuliner, janji masa lalu, dan perasaan tulus yang mulai tumbuh. Ini bukan sekadar cerita tentang memasak; ini adalah tentang bagaimana sebuah rasa bisa menyatukan masa depan yang retak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30.Sabotase di Tengah Malam

Hening malam di kawasan Jenggala terasa sangat menindas. Hanya suara tetesan air dari pipa tua di sudut gudang dan dengkur halus Hana yang tertidur di atas tumpukan karpet usang di sudut dapur. Yuki juga sudah terlelap di samping laptopnya yang masih menyala, menampilkan grafik analisis suhu protein yang belum selesai ia kerjakan.

Ren adalah satu-satunya yang masih terjaga. Ia duduk di depan meja marmer, perlahan mengasah Seruni Hitam dengan batu asahan alami yang ia bawa dari Karasu. Suara gesekan logam dan batu itu terdengar seperti bisikan ritmis di tengah kegelapan.

Tiba-tiba, telinga Ren menangkap sesuatu. Bukan suara tikus atau derit bangunan tua. Itu adalah suara gesekan logam halus di pintu besi depan—suara seseorang yang mencoba membobol lubang kunci dengan alat profesional.

Ren membeku. Tangannya berhenti mengasah, namun ia tidak langsung berdiri. Ia mematikan lampu meja kecil di depannya, membiarkan ruangan tenggelam dalam kegelapan total. Dengan gerakan yang sangat halus, ia mendekati tempat Hana dan Yuki tidur, menyentuh bahu mereka dengan tekanan lembut namun tegas untuk membangunkan mereka tanpa suara.

Hana tersentak, matanya yang masih mengantuk melebar saat melihat telunjuk Ren menempel di bibir. Yuki langsung waspada, ia menutup layar laptopnya agar cahayanya tidak membocorkan posisi mereka.

"Ada orang di luar," bisik Ren, nyaris tak terdengar.

Di balik pintu besi, terdengar suara klik pelan. Pintu itu terbuka sedikit, membiarkan seberkas cahaya lampu jalan masuk ke dalam ruangan yang berdebu. Tiga sosok bayangan berpakaian hitam masuk dengan langkah yang sangat terlatih. Mereka tidak membawa senjata tajam, melainkan tabung gas kecil dan botol-botol cairan kimia.

Target mereka jelas: peti pendingin tempat Ren menyimpan stok teripang pasir hitam dan ekstrak jeruk nipis liar dari hutan Karasu—bahan-bahan yang tidak mungkin didapatkan di ibu kota.

"Cepat. Semprotkan cairan ini ke dalam pendinginnya. Pastikan semua bahannya terkontaminasi bakteri agar mereka didiskualifikasi karena alasan kesehatan besok pagi," bisik salah satu penyusup.

Mendengar itu, darah Ren mendidih. Ini bukan lagi sekadar persaingan kuliner; ini adalah upaya penghancuran masa depan mereka secara licik. Saat para penyusup itu mendekati peti pendingin, Ren melangkah keluar dari bayangan pilar beton.

"Ibu kota memang tidak pernah tidur, ya?" ucap Ren datar, suaranya menggema di ruangan yang luas itu.

Ketiga penyusup itu tersentak hebat. Mereka segera menyalakan senter taktis yang sangat terang, mengarahkannya tepat ke wajah Ren untuk membutakannya sesaat. Namun, Ren sudah memprediksi itu; ia memejamkan mata dan mengandalkan pendengarannya.

Hana tidak bisa tinggal diam. Ia meraih sebuah panci besi berat dari rak terdekat dan melemparkannya ke arah salah satu senter tersebut. Prang! Panci itu menghantam lantai, menciptakan suara denting yang memekakkan telinga dan mengalihkan perhatian lawan.

"Yuki, amankan peti pendingin!" teriak Ren.

Yuki dengan tangkas berlari di balik meja marmer, menempatkan dirinya di depan peti bahan makanan mereka sementara Ren merangsek maju. Meskipun Ren seorang koki, fisiknya yang terlatih karena kerja keras di dapur Karasu membuatnya jauh lebih kuat dari yang terlihat.

Ia menghindari semprotan gas dari salah satu penyusup, lalu menggunakan teknik kuncian tangan yang sama seperti di dermaga Karasu dulu. Ia memutar pergelangan tangan lawan hingga tabung gas itu jatuh ke lantai.

"Siapa yang mengirim kalian? Soichiro? Atau Ryuji sendiri?" tanya Ren sambil menekan lututnya ke punggung penyusup yang sudah tersungkur.

Dua penyusup lainnya mencoba mengepung Ren, namun Hana kembali beraksi. Kali ini ia membawa dua botol cuka pekat yang ia buka tutupnya. "Jangan mendekat, atau matamu akan perih seminggu!" teriak Hana dengan wajah yang sangat serius namun terlihat menggemaskan di saat yang bersamaan.

Keberanian Hana yang tak terduga itu memberikan celah bagi Ren. Ia melepaskan lawannya dan berdiri tegak di tengah ruangan. "Kalian bisa merusak dapur ini, kalian bisa mencoba meracuni bahan kami, tapi kalian tidak akan pernah bisa mencuri rasa yang sudah ada di kepala kami."

Salah satu penyusup yang tampaknya adalah pemimpin mereka, tertawa sinis. "Kami tidak butuh mencuri rasamu, Akira Ren. Kami hanya perlu memastikan kamu tidak pernah sampai ke meja juri."

Tiba-tiba, lampu gudang menyala terang benderang. Arata muncul dari pintu belakang dengan napas sedikit memburu, memegang sebuah tongkat besi. Melihat Arata, ketiga penyusup itu segera mundur. Mereka tahu bahwa Arata bukan lawan yang sembarangan.

"Pergi. Katakan pada tuanmu, taktik pengecut ini hanya membuktikan betapa takutnya mereka pada anak ini," ucap Arata dengan suara yang menggelegar.

Para penyusup itu segera melarikan diri melalui pintu depan, menghilang ke dalam kegelapan gang Jenggala. Suasana kembali hening, namun kali ini penuh dengan sisa adrenalin yang memuncak.

Hana terduduk lemas di lantai, masih memegang botol cukanya. "Ren... aku... aku hampir saja menyiram mereka," bisiknya dengan suara gemetar.

Ren mendekati Hana, ia berlutut di depannya dan mengambil botol cuka itu dari tangan Hana yang dingin. Ia menatap wajah Hana yang pucat, lalu perlahan menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Kemistri di antara mereka di tengah dapur yang berantakan itu terasa sangat dalam. Ren bisa merasakan tubuh Hana yang gemetar perlahan menjadi tenang dalam dekapannya.

"Terima kasih, Hana. Kamu sangat berani tadi," gumam Ren.

Yuki memeriksa peti pendingin dengan teliti. "Semuanya aman, Ren. Mereka belum sempat menyemprotkan apapun ke dalam. Bahan-bahan kita masih murni."

Arata berjalan mendekati mereka, wajahnya tampak sangat menyesal. "Maafkan aku. Aku terlalu meremehkan jangkauan mata-mata Soichiro. Mulai sekarang, kita tidak boleh meninggalkan dapur ini tanpa penjagaan satu orang pun."

Ren melepaskan pelukannya dari Hana, berdiri dengan tatapan yang jauh lebih tajam dari sebelumnya. Sabotase ini bukannya membuat mentalnya jatuh, justru menjadi pengingat bahwa jalan menuju puncak nasional akan penuh dengan duri beracun.

"Mereka takut, Yuki. Hana," ucap Ren sambil menatap kedua temannya. "Asuka Group sedang panik. Mereka tahu 'Seruni Hitam' sudah ada di Jakarta, dan mereka tahu kita punya sesuatu yang tidak bisa mereka beli."

Ia mengambil kembali pisau Seruni Hitam-nya yang tergeletak di meja marmer. Cahaya lampu neon memantul di bilahnya yang berkilat. "Latihan malam ini berakhir. Kita butuh istirahat. Besok adalah pendaftaran resmi, dan aku ingin mereka melihat wajah kita sebagai pemenang, bukan sebagai korban yang ketakutan."

Malam itu, meski ketakutan masih membayangi, sebuah ikatan baru yang lebih kuat dari baja Damaskus telah terbentuk di antara mereka. Di dapur tua yang berdebu ini, mereka menyadari bahwa musuh mereka bukan hanya soal masakan, tapi soal mempertahankan martabat dari sebuah rasa.

1
Jack Strom
Cerita yang cukup menarik. Namun saya cukup aneh dengan lokasi cerita, kota Jayapura-Indonesia, tapi tokoh dan cerita ala Jepang??? 😁
Jack Strom
Owalah... Ngaku banyak uang, tapi masih main sabotase segala... Pengecut!!! 😁
Jack Strom
Oh, ini tentang rasa dan keahlian memasak toh..? Mantap mantap mantap!!! 😁
Jack Strom
Halah... Modus!!! 😁
Jack Strom
Wow... Betul² kosong!!? 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!