NovelToon NovelToon
Dibuang Pacar Dinikahi Guru Tampan

Dibuang Pacar Dinikahi Guru Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Dunia Masa Depan
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Aliya sofya Putri

"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.



Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29

Bel tanda masuk kelas

berbunyi, Dara dan Bebi yang

memang sejak tadi sudah ada di

dalam kelas pun langsung

mengeluarkan buku pelajaran

kimia yang memang ada di jam

pertama di hari itu.

Keduanya melihat Renita yang

berjalan masuk ke kelas sambil

melipat kedua tangan di dada. Bebi

mengepalkan tangannya kala dia

mengingat kejadian tadi, dia

diturunkan begitu saja oleh Renita

dan ibunya di jalan saat hendak

berangkat ke sekolah.

Dara mengusap lembut kepalan

tangan Bebi, menggelengkan

kepala sebagai tanda kalau dia tidak

boleh membuat Renita curiga.

Bebi menghembuskan napas

perlahan, mulai membuka buku

saat guru kimia sudah masuk dan

langsung memulai pelajaran.

Sedangkan di kelas lain, Rafa

sedang mengajar di kelas sebelas.

Guru tampan itu mengajar sambil

keliling dengan buku materi di

tangannya. Sesekali dia menepuk

meja agak keras saat melihat murid

yang nampak ngobrol atau

menguap.

"Yang barusan ngobrol, coba

gantiin saya nerangin di depan!"

ujar Rafa dengan tegas.

Senyap, suasana kelas langsung

hening seketika. Semua murid

menunduk, tidak ada yang berani

membuka suara. Beberapa dari

mereka saling pandang, mencari

siapa yang akan berani maju

menghadapi guru tampan namun

tegas tersebut.

Mata Rafa menatap tajam

setiap murid yang ada di kelas

tersebut. Sebagai guru, ia tahu

bahwa kelas ini membutuhkan

pendekatan yang lebih tegas agar

murid-muridnya bisa lebih fokus

dan disiplin dalam belajar.

"Kenapa diam? Bukannya tadi

pas saya nerangin kalian malah

ikut-ikutan ngobrol?" tanya Rafa,

raut wajahnya dingin dan aura

ketegasannya terpancar jelas.

Beberapa murid mulai resah,

mereka tahu bahwa guru mereka

itu tidak akan memberi mereka

kelonggaran.

"Mau maju sendiri atau saya

tunjuk orangnya langsung?" tanya

Rafa.

Akhirnya, seorang murid yang

tadi sedang ngobrol berani

mengangkat tangannya.

"Maaf, Pak."

"Apa ada sesuatu yang lebih

menarik dari pelajaran yang sedang

saya terangkan?" tanya Rafa.

Murid perempuan tadi

menunduk dan kembali meminta

maaf. Rafa menghembuskan napas

berat, dia berdiri di depan meja

murid yang ada di barisan paling

depan dan kedua tangannya

bertumpu di sana.

"Kamu duduk lagi," titah Rafa

pada murid yang tadi. Suaranya

juga sudah tidak setegas tadi.

"Saya mengerti kalau

matematika mungkin tidak

menarik bagi semua orang," Rafa

memulai, suaranya lembut namun

tegas. "Tapi, kalian harus paham

bahwa setiap pelajaran di sini

penting untuk masa depan kalian.

Mengobrol saat saya menerangkan

bukan hanya tidak sopan, tapi juga

mengganggu teman-teman kalian

yang ingin belajar."

"Mengobrol itu ada waktunya.

Setelah ini juga kalian ada istirahat

jam pertama. Kalian bebas mau

ngobrol apa aja nanti."

"Kalian di sini sekolah gak

murah, apa gak kasian sama orang

tua kalian yang sudah susah payah

mencari uang untuk biaya sekolah

kalian?"

Rafa kembali menghembuskan

napas berat dia kembali ke kursinya

lalu duduk. "Lain kali, kalau ada

yang ketahuan sedang mengobrol di

kelas saya, saya gak akan ngasih

keringanan seperti barusan!"

ucapnya.

 

Teng! Teng! Teng!

Bel tanda istirahat kedua

berbunyi. Hampir semua murid di

kelas berbondong-bondong keluar

untuk pergi ke kantin.

Termasuk Renita yang

tersenyum miring saat melewati

Bebi. Dia yakin kalau saudara

tirinya itu tidak akan bisa jajan

karena uangnya sudah dia ambil

semua tadi.

"Kantin yuk! Laper banget."

Dara mengusap perutnya yang

memang terasa perih. Tadi istirahat

pertama dia gak jajan karena masih

belum lapar.

Bebi menggeleng. "Emm ...

enggak deh. Gue di kelas aja," tolak

Bebi.

Dara mengernyitkan keningnya

bingung. "Emang lo gak laper?"

tanyanya heran.

Bebi kembali menggeleng.

"Uang jajan gue diambil semua

sama Renita tadi pagi."

Dara mengepalkan tangannya.

Bener-bener kesal sama si Renita

itu.

"Gue traktir. Ayo!" ajak Dara.

Bebi yang sejak tadi menunduk

pun mengangkat kepalanya

seketika. "Tapi...."

"Gak ada tapi-tapian. Gue gak

mau temenan sama lo, kalau lo jadi

kurus kerempeng nanti," ujar Dara.

"Tenaang, uang jajan gue

banyak!" Dara menepuk saku

seragamnya.

Jelas banyak, kartu ATM yang

diberikan oleh Rafa saja isinya

masih banyak.

Sudah di kantin, sudah pesan

juga, mereka langsung duduk

menunggu pesanan datang. Untung

masih ada bangku yang kosong,

karena sebagian murid juga ada

yang suka jajan ke warung belakang

gedung sekolah. Belum lagi katanya

anggota OSIS sedang rapat, jadi

sedikitnya populasi murid di kantin

sedikit berkurang.

"Dara, gue penasaran tapi lupa

dari tadi mau nanya sama lo," ucap

Bebi.

Dara yang sedang berbalas

pesan dengan suaminya pun

menatap bingung ke arah Bebi.

"Apaan?"

"Tadi pagi, kamu manggil Pak

Rafa pake sebutan 'Mas'. Kalian

emang deket banget ya?" tanya Bebi.

Deg!

Gerakan jari Dara yang sedang

mengetik balasan itu pun terhenti

seketika. Dia diam mencari alasan

yang tepat.

"Ya... iya. Kan Pak Rafa saudara

sepupu gue. Kalau di rumah

manggilnya emang 'Mas Rafa',"

jawabnya.

"Di rumah? Kalian tinggal

serumah?" tanya Bebi lagi.

Dara merutuki kebodohannya.

Selama ini dia bilang pada Bebi

kalau rumah mereka deketan,

bahkan kelewat kalau Rafa mau

pergi ke sekolah, jadi suka sekali

ikut berangkat bareng.

"Maksudnya kalau lagi

ngumpul."

Bebi membulatkan mulutnya

dan mengangguk. Dia tidak

bertanya lagi karena makanan yang

mereka pesan sudah datang.

Di ruang guru, Rafa pun sedang

makan bersama dengan guru lain.

Ada salah satu guru yang sedang

berulang tahun dan mentraktir

makan siang.

"Pak Rafa, ayo ambil yang

banyak," ujar Bu Nindi yang ikutan

makan siang bersama.

Rafa mengangguk. "Terima

kasih, tapi saya sudah kenyang,"

tolaknya.

Setelah selesai, dia kembali ke

mejanya, mengambil ponsel dan

mengirim pesan kepada Dara.

[Fotoin makan sama apa!] send

Mylove.

Dara yang baru selesai

menuang sambal ke bakso nya pun

menghela napas pelan kala melihat

tanda seru diakhir kalimat pesan

yang dikirimkan oleh Rafa. Tanda

kalau dia tidak bisa menolak dan

harus menuruti keinginan

suaminya itu.

Dara memfoto semangkuk

bakso dengan taburan sambal

merah agak banyak itu lalu

mengirimkannya kepada sang

suami.

Rafa sampai men-zoom foto

yang dikirimkan oleh Dara. Dia

mendesis dan buru-buru mengirim

balasan.

"Dia itu makan bakso pake

sambel atau sambel pake bakso?"

batinnya kesal.

[Kamu mau ma-ti muda dan

ninggalin aku? Buang itu sambelnya

atau pesen yang baru!]

Dara melotot dan hampir

tersedak membaca balasan pesan

dari Rafa.

[Mas Rafa nyumpahin aku biar

cepet ma-ti muda?]

Dara juga mengirimkan stiker

marah dan nangis.

"Ck. Dasar!" ucap Rafa tanpa

sadar. Dia melirik ke arah para guru

yang memperhatikannya.

"Maaf, saya lagi balas pesan,"

ucapnya tersenyum kikuk.

Berasa tidak leluasa berada di

sana, Rafa pun pamit keluar dulu.

Dia kini berdiri di depan ruang

guru, bersandar pada tiang tembok.

[Bukan gitu maksudku. Kamu

kebanyakan sambelnya, nanti sakit

perut gimana?]

Satu menit, dua menit, Dara

tidak ada lagi membalas pesannya.

Istri kecilnya itu pun tertera sudah

tidak online lagi. Rafa berdecak

dalam hati dan akhirnya

memutuskan untuk menyusul ke

kantin saja.

"Ra ih, Lo itu bibir sampe

merah begitu. Sambelnya gak kira-

kira," omel Bebi.

Dara mengusap kening dan

hidungnya yang berkeringat lalu

minum jus mangga miliknya.

"Biasanya gak pedes kayak gini lho,"

ucapnya lalu mengipasi bibirnya

yang teras panas.

Saat sedang kembali meminum

jus nya, Dara tersedak kala melihat

Rafa yang berdiri di depan lemari

pendingin dan menatap ke arahnya.

Uhuk! Uhuk! Uhuk!

"Kaan. Ih dibilangin juga!" Bebi

kembali mengomel, dia

memberikan beberapa lembar

tissue kepada Dara.

"Dia ke sini? Ngapain?" batin

Dara.

Kedua matanya membola

dibarengi kepala yang menggeleng

saat melihat Rafa yang berjalan ke

arahnya.

Duk!

Rafa menyimpan botol air

mineral dingin ke atas meja. Dia

menatap tajam pada Dara juga

kepada semangkuk bakso yang sisa

setengahnya lagi. Kuahnya merah

merona dan itu membuat Rafa

sedikit begidik melihatnya.

"Pak Rafa," sapa Bebi.

"Ayah kamu lagi dirawat, kamu

mau ibu kamu nanti ikut repot

ngurus kamu yang sakit perut?"

tanya Rafa dengan nada judes.

Dara menunduk. "Ya maaf.

Biasanya juga segitu gak terlalu

pedes."

Bibir merah Dara yang bukan

karena lipstik itu manyun. Rafa

yang melihatnya pun langsung

melirik sekitar yang untungnya

murid pria hanya ada beberapa dan

itu pun duduk di belakang Dara.

"Bandel!" ucap Rafa kemudian

pergi.

Dara menghembuskan napas

lega. Dia kembali makan bakso itu

sampai habis dan minum air

mineral pemberian Rafa.

"Pak Rafa orangnya kayak cuek

tapi ternyata perhatian sama lo,"

ucap Bebi.

"Ya iya lah! Orang gue is-" Dara

tersadar dan tidak melanjutkan

ucapannya.

"Is apa?" tanya Bebi.

"Hah? Em... Maksud gue, ya

orang gue sodaranya. Dia emang

kelihatan jutek sama cuek ke orang

lain. Tapi kalau ke keluarga,

enggak," jawab Dara. Dia berdoa

dalam hati supaya Bebi gak banyak

nanya lagi.

"Ooooh. Iya." Bebi menyimpan

garpu dan sendok ke mangkuk yang

sudah kosong dan membersihkan

mulutnya menggunakan tissue.

Dara kembali menghembuskan

napas lega. Hampir saja dia

keceplosan mengatakan kalau dia

adalah istrinya Rafa.

Dara melirik ke ponselnya yang

bergetar lalu mengambilnya.

Membuka pesan yang dikirimkan

oleh Rafa. Ada dua pesan dan yang

satunya pesan yang udah dikirim

beberapa menit yang lalu.

[Sekali lagi kamu manyun di

tempat ramai kayak barusan, aku

bakal cium kamu di sana saat itu

juga!]

"Astaga!" gumam Dara. Gadis

cantik itu tersenyum tipis. Dia

kembali manyun menghadap

kamera dan memfotinya lalu

mengirimkannya pada Rafa.

Dara tertawa pelan setelahnya.

Dia sedang membayangkan reaksi

Rafa setelah melihat fotonya.

"Kenapa sih? Lo dari tadi

chattingan sama siapa?" tanya Bebi

yang sejak tadi kepo.

"Sama ibu. Nanti gue mau ke

rumah sakit, soalnya ibu mau

pulang dulu ke rumah," jawab Dara

bohong.

"Ya ampun, maaf ya. Gue belum jenguk bokap lo," ucap Bebi dengan

wajah menyesal.

"Gak apa-apa. Paling dua hari

lagi juga pulang kok," sahut Dara.

Rafa sendiri sudah kembali ke

ruang guru, dia sedang menyiapkan

buku materi yang akan dia bawa

mengajar sebentar lagi. Kebetulan

sekarang jadwalnya di kelas Dara.

Dia mengajar di kelas XII IPA

empat kali dalam seminggu. Senin,

selasa, kamis dan jum'at.

Ponselnya bergetar dan dia

langsung mengambilnya dengan

cepat. Rafa langsung memegangi

dadanya yang berdebar cepat saat

melihat kiriman foto dari Dara.

Sudut bibirnya terangkat

membentuk senyuman.

Rafa menyimpan kembali

ponselnya ke atas meja. Dia

menunduk dan kedua tangannya

berada di tengkuknya. Diam-diam

tersenyum lebar tanpa ada orang

lain yang tahu.

Rafa merasa dirinya benar-

benar sudah gila. Dia gila karena

cinta. Hihi.

Gemas, dia sungguh gemas

kepada istri kecilnya itu. "Awas aja

kamu. Habis nanti di rumah

olehku!" batinnya.

 

Rafa sudah masuk ke dalam

kelas. Pandangannya langsung

tertuju pada sosok Dara yang

wajahnya nampak seperti sedang

cekikikan.

Rafa melengos, dia tahu kalau

istri kecilnya itu sedang meledek

dirinya.

Selama proses mengajar, Rafa

terus berusaha untuk tidak

menatap istrinya. Apalagi Dara

malah dengan sengaja sesekali

memanyunkan bibirnya.

Rafa mencoba berkonsentrasi

pada materi pelajaran yang sedang

diajarkannya. Namun, sulit baginya

untuk tidak terganggu oleh

keusilan Dara.

"Astaga. Dia ini benar-benar!"

geram Rafa campur gemes.

Teng! Teng! Teng!

Hingga akhirnya bel tanda

pelajaran usai pun berbunyi. Rafa

menghembuskan napas lega.

Sungguh, proses mengajarnya

barusan sangat penuh dengan

godaan.

"Tugas barusan harus sudah

ada di meja saya besok pagi!" ujar

Rafa sebelum keluar dari kelas. Dia

melirik sebentar ke arah Dara yang

mengedipkan sebelah matanya.

Rafa menggelengkan

kepalanya, barulah saat sudah

sampai di luar kelas, dia senyum-

senyum sendiri.

"Mau pulang bareng?" tawar

Dara saat mereka sedang berjalan

menuju gerbang. Dia khawatir

kalau Bebi nantinya akan kembali

diturunkan di tengah jalan oleh ibu

tirinya.

Bebi menggeleng. "Enggak,

usah. Gue gak apa-apa, kok. Lagian

lo kan harus buru-buru ke rumah

sakit. Kasian nyokap lo udah

nungguin," tolaknya.

"Inget, pas masuk ke mobil

nanti, lo cepet-cepet aktifin aplikasi

perekamnya. Biar ke rekam juga

nanti kalo ibu tiri lo yang jahat itu

nurunin lo di tengah jalan," ucap

Dara mengingatkan.

Dara mengeluarkan uang dari

saku seragamnya. Dia

memasukkannya ke saku seragam

Bebi. "Buat jaga-jaga."

Kedua mata Bebi berkaca-kaca.

Dia memeluk Dara merasa sangat

bersyukur di saat dia punya

masalah kayak gini, ada Dara yang

jadi sahabatnya.

"Makasih banyak. Gue gak tau

kalau gak ada lo bakal kayak

gimana," ucap Bebi.

Dara mengusap punggung Bebi

dengan lembut. Mereka kemudian

pamit dan Bebi pergi lebih dulu ke

gerbang sekolah karena mobil

hitam milik ibu tirinya sudah

terlihat.

Dara menghembuskan napas

berat, dia lalu berjalan ke arah

parkiran di mana Rafa sudah

menunggunya.

Saat masuk, Rafa tidak ada

bicara sama sekali. Pria tampan itu

langsung menyalakan mesin dan

mengemudikan mobilnya keluar

dari pelataran sekolah.

Dara diam-diam melirik ke

arah suaminya. Dia jadi berpikir

kalau Rafa sedang marah padanya

karena tadi dia mengusili suaminya

itu pas sedang mengajar di

kelasnya.

"Mas Rafa kenapa?" tanya Dara.

"Gak apa-apa," jawab Rafa tanpa

menoleh.

Bibir Dara mengerucut. Dia

memilin ujung rok yang

dipakainya. Hingga akhirnya heran

saat mobil berhenti padahal jarak

ke rumah sakit masih lumayan

jauh.

"Kenapa ber-hmmp." Dara

langsung menutup mulutnya saat

wajah Rafa sangat dekat dengan

wajahnya.

Dia melirik sekitar, mereka ada

di bahu jalan yang agak sepi.

"Kamu tau tadi itu gak adil buat

aku, Dara. Aku tetap harus

profesional saat mengajar tapi

kamu terus mengganggu

konsentrasiku," ujar Rafa.

Dara perlahan menurunkan

telapak tangan yang dia gunakan

untuk menutup mulutnya. Matanya

mengerjap pelan dan itu membuat

Rafa tambah gemas saja.

"Ya, maaf. Habisnya Mas Rafa

serius banget wajahnya tadi. Aku

cuman pengen liat Mas Rafa

senyum dikit kalau lagi ngajar,"

sahut Dara.

Dara mengulum bibirnya saat

Rafa terus menatap ke arahnya.

"A-aku..."

Cup!

Kedua mata Dara melotot saat

bibir Rafa mendarat di bibirnya.

Hanya menempel tapi agak lama.

Dara meneguk ludah dengan

keadaan wajah yang bersemu

merah saat Rafa kembali

menjauhkan wajahnya. Tidak ada

kalimat yang terucap dari Dara, dia

diam melihat manik mata Rafa

yang juga terus menatapnya.

"Jangan sekali-sekali manyun

lagi di tempat ramai kayak tadi,"

ucap Rafa.

"Kamu juga harus bisa jaga pola

makan kamu, Dara. Aku gak mau

kamu sampai sakit," sambungnya.

Dara mengangguk patuh.

Bibirnya seakan kesulitan terbuka

untuk sekedar berkata 'iya'.

Sepertinya ciuman Rafa tadi

mengandung lem.

Setelahnya, Rafa kembali

menyalakan mesin mobilnya dan

tersenyum tipis saat melihat Dara

yang mengusap bibirnya sendiri.

Malamnya, Bebi yang hendak mengambil air minum ke dapur tiba-tiba penasaran saat melihat pintu ruang kerja papa nya yang sedikit terbuka.

Bebi melihat keadaan sekitar, sepi karena dia dengar Renita ada di kamarnya sedang mendengarkan musik barusan.

Beruntung tadi dia tidak diturunkan di tengah jalan. Karena saat naik, sang papa menelepon dan mengobrol dengannya sampai dia tiba di rumah.

Dengan langkah pelan, Bebi berjalan menuju ruang kerja sang papa dan membuka pintunya sedikit lebih lebar.

Kedua matanya melebar saat melihat Rere sedang jongkok di repan brankas milik sang papa.

"Tante Rere ngapain di sana?!" tegur Bebi.

1
falea sezi
enak bgt si aldi najis pas sakit ke istri pas seneng2 ke. selingkuh an jangan. bego erina np erina di buat bloon sih
falea sezi
erina mending cerai duda tua banyak ngapain suami mu bekas. jalang lu mau
Ikky
dipersilahkan
Ikky
3
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!