"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.
Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Bel tanda masuk kelas
berbunyi, Dara dan Bebi yang
memang sejak tadi sudah ada di
dalam kelas pun langsung
mengeluarkan buku pelajaran
kimia yang memang ada di jam
pertama di hari itu.
Keduanya melihat Renita yang
berjalan masuk ke kelas sambil
melipat kedua tangan di dada. Bebi
mengepalkan tangannya kala dia
mengingat kejadian tadi, dia
diturunkan begitu saja oleh Renita
dan ibunya di jalan saat hendak
berangkat ke sekolah.
Dara mengusap lembut kepalan
tangan Bebi, menggelengkan
kepala sebagai tanda kalau dia tidak
boleh membuat Renita curiga.
Bebi menghembuskan napas
perlahan, mulai membuka buku
saat guru kimia sudah masuk dan
langsung memulai pelajaran.
Sedangkan di kelas lain, Rafa
sedang mengajar di kelas sebelas.
Guru tampan itu mengajar sambil
keliling dengan buku materi di
tangannya. Sesekali dia menepuk
meja agak keras saat melihat murid
yang nampak ngobrol atau
menguap.
"Yang barusan ngobrol, coba
gantiin saya nerangin di depan!"
ujar Rafa dengan tegas.
Senyap, suasana kelas langsung
hening seketika. Semua murid
menunduk, tidak ada yang berani
membuka suara. Beberapa dari
mereka saling pandang, mencari
siapa yang akan berani maju
menghadapi guru tampan namun
tegas tersebut.
Mata Rafa menatap tajam
setiap murid yang ada di kelas
tersebut. Sebagai guru, ia tahu
bahwa kelas ini membutuhkan
pendekatan yang lebih tegas agar
murid-muridnya bisa lebih fokus
dan disiplin dalam belajar.
"Kenapa diam? Bukannya tadi
pas saya nerangin kalian malah
ikut-ikutan ngobrol?" tanya Rafa,
raut wajahnya dingin dan aura
ketegasannya terpancar jelas.
Beberapa murid mulai resah,
mereka tahu bahwa guru mereka
itu tidak akan memberi mereka
kelonggaran.
"Mau maju sendiri atau saya
tunjuk orangnya langsung?" tanya
Rafa.
Akhirnya, seorang murid yang
tadi sedang ngobrol berani
mengangkat tangannya.
"Maaf, Pak."
"Apa ada sesuatu yang lebih
menarik dari pelajaran yang sedang
saya terangkan?" tanya Rafa.
Murid perempuan tadi
menunduk dan kembali meminta
maaf. Rafa menghembuskan napas
berat, dia berdiri di depan meja
murid yang ada di barisan paling
depan dan kedua tangannya
bertumpu di sana.
"Kamu duduk lagi," titah Rafa
pada murid yang tadi. Suaranya
juga sudah tidak setegas tadi.
"Saya mengerti kalau
matematika mungkin tidak
menarik bagi semua orang," Rafa
memulai, suaranya lembut namun
tegas. "Tapi, kalian harus paham
bahwa setiap pelajaran di sini
penting untuk masa depan kalian.
Mengobrol saat saya menerangkan
bukan hanya tidak sopan, tapi juga
mengganggu teman-teman kalian
yang ingin belajar."
"Mengobrol itu ada waktunya.
Setelah ini juga kalian ada istirahat
jam pertama. Kalian bebas mau
ngobrol apa aja nanti."
"Kalian di sini sekolah gak
murah, apa gak kasian sama orang
tua kalian yang sudah susah payah
mencari uang untuk biaya sekolah
kalian?"
Rafa kembali menghembuskan
napas berat dia kembali ke kursinya
lalu duduk. "Lain kali, kalau ada
yang ketahuan sedang mengobrol di
kelas saya, saya gak akan ngasih
keringanan seperti barusan!"
ucapnya.
Teng! Teng! Teng!
Bel tanda istirahat kedua
berbunyi. Hampir semua murid di
kelas berbondong-bondong keluar
untuk pergi ke kantin.
Termasuk Renita yang
tersenyum miring saat melewati
Bebi. Dia yakin kalau saudara
tirinya itu tidak akan bisa jajan
karena uangnya sudah dia ambil
semua tadi.
"Kantin yuk! Laper banget."
Dara mengusap perutnya yang
memang terasa perih. Tadi istirahat
pertama dia gak jajan karena masih
belum lapar.
Bebi menggeleng. "Emm ...
enggak deh. Gue di kelas aja," tolak
Bebi.
Dara mengernyitkan keningnya
bingung. "Emang lo gak laper?"
tanyanya heran.
Bebi kembali menggeleng.
"Uang jajan gue diambil semua
sama Renita tadi pagi."
Dara mengepalkan tangannya.
Bener-bener kesal sama si Renita
itu.
"Gue traktir. Ayo!" ajak Dara.
Bebi yang sejak tadi menunduk
pun mengangkat kepalanya
seketika. "Tapi...."
"Gak ada tapi-tapian. Gue gak
mau temenan sama lo, kalau lo jadi
kurus kerempeng nanti," ujar Dara.
"Tenaang, uang jajan gue
banyak!" Dara menepuk saku
seragamnya.
Jelas banyak, kartu ATM yang
diberikan oleh Rafa saja isinya
masih banyak.
Sudah di kantin, sudah pesan
juga, mereka langsung duduk
menunggu pesanan datang. Untung
masih ada bangku yang kosong,
karena sebagian murid juga ada
yang suka jajan ke warung belakang
gedung sekolah. Belum lagi katanya
anggota OSIS sedang rapat, jadi
sedikitnya populasi murid di kantin
sedikit berkurang.
"Dara, gue penasaran tapi lupa
dari tadi mau nanya sama lo," ucap
Bebi.
Dara yang sedang berbalas
pesan dengan suaminya pun
menatap bingung ke arah Bebi.
"Apaan?"
"Tadi pagi, kamu manggil Pak
Rafa pake sebutan 'Mas'. Kalian
emang deket banget ya?" tanya Bebi.
Deg!
Gerakan jari Dara yang sedang
mengetik balasan itu pun terhenti
seketika. Dia diam mencari alasan
yang tepat.
"Ya... iya. Kan Pak Rafa saudara
sepupu gue. Kalau di rumah
manggilnya emang 'Mas Rafa',"
jawabnya.
"Di rumah? Kalian tinggal
serumah?" tanya Bebi lagi.
Dara merutuki kebodohannya.
Selama ini dia bilang pada Bebi
kalau rumah mereka deketan,
bahkan kelewat kalau Rafa mau
pergi ke sekolah, jadi suka sekali
ikut berangkat bareng.
"Maksudnya kalau lagi
ngumpul."
Bebi membulatkan mulutnya
dan mengangguk. Dia tidak
bertanya lagi karena makanan yang
mereka pesan sudah datang.
Di ruang guru, Rafa pun sedang
makan bersama dengan guru lain.
Ada salah satu guru yang sedang
berulang tahun dan mentraktir
makan siang.
"Pak Rafa, ayo ambil yang
banyak," ujar Bu Nindi yang ikutan
makan siang bersama.
Rafa mengangguk. "Terima
kasih, tapi saya sudah kenyang,"
tolaknya.
Setelah selesai, dia kembali ke
mejanya, mengambil ponsel dan
mengirim pesan kepada Dara.
[Fotoin makan sama apa!] send
Mylove.
Dara yang baru selesai
menuang sambal ke bakso nya pun
menghela napas pelan kala melihat
tanda seru diakhir kalimat pesan
yang dikirimkan oleh Rafa. Tanda
kalau dia tidak bisa menolak dan
harus menuruti keinginan
suaminya itu.
Dara memfoto semangkuk
bakso dengan taburan sambal
merah agak banyak itu lalu
mengirimkannya kepada sang
suami.
Rafa sampai men-zoom foto
yang dikirimkan oleh Dara. Dia
mendesis dan buru-buru mengirim
balasan.
"Dia itu makan bakso pake
sambel atau sambel pake bakso?"
batinnya kesal.
[Kamu mau ma-ti muda dan
ninggalin aku? Buang itu sambelnya
atau pesen yang baru!]
Dara melotot dan hampir
tersedak membaca balasan pesan
dari Rafa.
[Mas Rafa nyumpahin aku biar
cepet ma-ti muda?]
Dara juga mengirimkan stiker
marah dan nangis.
"Ck. Dasar!" ucap Rafa tanpa
sadar. Dia melirik ke arah para guru
yang memperhatikannya.
"Maaf, saya lagi balas pesan,"
ucapnya tersenyum kikuk.
Berasa tidak leluasa berada di
sana, Rafa pun pamit keluar dulu.
Dia kini berdiri di depan ruang
guru, bersandar pada tiang tembok.
[Bukan gitu maksudku. Kamu
kebanyakan sambelnya, nanti sakit
perut gimana?]
Satu menit, dua menit, Dara
tidak ada lagi membalas pesannya.
Istri kecilnya itu pun tertera sudah
tidak online lagi. Rafa berdecak
dalam hati dan akhirnya
memutuskan untuk menyusul ke
kantin saja.
"Ra ih, Lo itu bibir sampe
merah begitu. Sambelnya gak kira-
kira," omel Bebi.
Dara mengusap kening dan
hidungnya yang berkeringat lalu
minum jus mangga miliknya.
"Biasanya gak pedes kayak gini lho,"
ucapnya lalu mengipasi bibirnya
yang teras panas.
Saat sedang kembali meminum
jus nya, Dara tersedak kala melihat
Rafa yang berdiri di depan lemari
pendingin dan menatap ke arahnya.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
"Kaan. Ih dibilangin juga!" Bebi
kembali mengomel, dia
memberikan beberapa lembar
tissue kepada Dara.
"Dia ke sini? Ngapain?" batin
Dara.
Kedua matanya membola
dibarengi kepala yang menggeleng
saat melihat Rafa yang berjalan ke
arahnya.
Duk!
Rafa menyimpan botol air
mineral dingin ke atas meja. Dia
menatap tajam pada Dara juga
kepada semangkuk bakso yang sisa
setengahnya lagi. Kuahnya merah
merona dan itu membuat Rafa
sedikit begidik melihatnya.
"Pak Rafa," sapa Bebi.
"Ayah kamu lagi dirawat, kamu
mau ibu kamu nanti ikut repot
ngurus kamu yang sakit perut?"
tanya Rafa dengan nada judes.
Dara menunduk. "Ya maaf.
Biasanya juga segitu gak terlalu
pedes."
Bibir merah Dara yang bukan
karena lipstik itu manyun. Rafa
yang melihatnya pun langsung
melirik sekitar yang untungnya
murid pria hanya ada beberapa dan
itu pun duduk di belakang Dara.
"Bandel!" ucap Rafa kemudian
pergi.
Dara menghembuskan napas
lega. Dia kembali makan bakso itu
sampai habis dan minum air
mineral pemberian Rafa.
"Pak Rafa orangnya kayak cuek
tapi ternyata perhatian sama lo,"
ucap Bebi.
"Ya iya lah! Orang gue is-" Dara
tersadar dan tidak melanjutkan
ucapannya.
"Is apa?" tanya Bebi.
"Hah? Em... Maksud gue, ya
orang gue sodaranya. Dia emang
kelihatan jutek sama cuek ke orang
lain. Tapi kalau ke keluarga,
enggak," jawab Dara. Dia berdoa
dalam hati supaya Bebi gak banyak
nanya lagi.
"Ooooh. Iya." Bebi menyimpan
garpu dan sendok ke mangkuk yang
sudah kosong dan membersihkan
mulutnya menggunakan tissue.
Dara kembali menghembuskan
napas lega. Hampir saja dia
keceplosan mengatakan kalau dia
adalah istrinya Rafa.
Dara melirik ke ponselnya yang
bergetar lalu mengambilnya.
Membuka pesan yang dikirimkan
oleh Rafa. Ada dua pesan dan yang
satunya pesan yang udah dikirim
beberapa menit yang lalu.
[Sekali lagi kamu manyun di
tempat ramai kayak barusan, aku
bakal cium kamu di sana saat itu
juga!]
"Astaga!" gumam Dara. Gadis
cantik itu tersenyum tipis. Dia
kembali manyun menghadap
kamera dan memfotinya lalu
mengirimkannya pada Rafa.
Dara tertawa pelan setelahnya.
Dia sedang membayangkan reaksi
Rafa setelah melihat fotonya.
"Kenapa sih? Lo dari tadi
chattingan sama siapa?" tanya Bebi
yang sejak tadi kepo.
"Sama ibu. Nanti gue mau ke
rumah sakit, soalnya ibu mau
pulang dulu ke rumah," jawab Dara
bohong.
"Ya ampun, maaf ya. Gue belum jenguk bokap lo," ucap Bebi dengan
wajah menyesal.
"Gak apa-apa. Paling dua hari
lagi juga pulang kok," sahut Dara.
Rafa sendiri sudah kembali ke
ruang guru, dia sedang menyiapkan
buku materi yang akan dia bawa
mengajar sebentar lagi. Kebetulan
sekarang jadwalnya di kelas Dara.
Dia mengajar di kelas XII IPA
empat kali dalam seminggu. Senin,
selasa, kamis dan jum'at.
Ponselnya bergetar dan dia
langsung mengambilnya dengan
cepat. Rafa langsung memegangi
dadanya yang berdebar cepat saat
melihat kiriman foto dari Dara.
Sudut bibirnya terangkat
membentuk senyuman.
Rafa menyimpan kembali
ponselnya ke atas meja. Dia
menunduk dan kedua tangannya
berada di tengkuknya. Diam-diam
tersenyum lebar tanpa ada orang
lain yang tahu.
Rafa merasa dirinya benar-
benar sudah gila. Dia gila karena
cinta. Hihi.
Gemas, dia sungguh gemas
kepada istri kecilnya itu. "Awas aja
kamu. Habis nanti di rumah
olehku!" batinnya.
Rafa sudah masuk ke dalam
kelas. Pandangannya langsung
tertuju pada sosok Dara yang
wajahnya nampak seperti sedang
cekikikan.
Rafa melengos, dia tahu kalau
istri kecilnya itu sedang meledek
dirinya.
Selama proses mengajar, Rafa
terus berusaha untuk tidak
menatap istrinya. Apalagi Dara
malah dengan sengaja sesekali
memanyunkan bibirnya.
Rafa mencoba berkonsentrasi
pada materi pelajaran yang sedang
diajarkannya. Namun, sulit baginya
untuk tidak terganggu oleh
keusilan Dara.
"Astaga. Dia ini benar-benar!"
geram Rafa campur gemes.
Teng! Teng! Teng!
Hingga akhirnya bel tanda
pelajaran usai pun berbunyi. Rafa
menghembuskan napas lega.
Sungguh, proses mengajarnya
barusan sangat penuh dengan
godaan.
"Tugas barusan harus sudah
ada di meja saya besok pagi!" ujar
Rafa sebelum keluar dari kelas. Dia
melirik sebentar ke arah Dara yang
mengedipkan sebelah matanya.
Rafa menggelengkan
kepalanya, barulah saat sudah
sampai di luar kelas, dia senyum-
senyum sendiri.
"Mau pulang bareng?" tawar
Dara saat mereka sedang berjalan
menuju gerbang. Dia khawatir
kalau Bebi nantinya akan kembali
diturunkan di tengah jalan oleh ibu
tirinya.
Bebi menggeleng. "Enggak,
usah. Gue gak apa-apa, kok. Lagian
lo kan harus buru-buru ke rumah
sakit. Kasian nyokap lo udah
nungguin," tolaknya.
"Inget, pas masuk ke mobil
nanti, lo cepet-cepet aktifin aplikasi
perekamnya. Biar ke rekam juga
nanti kalo ibu tiri lo yang jahat itu
nurunin lo di tengah jalan," ucap
Dara mengingatkan.
Dara mengeluarkan uang dari
saku seragamnya. Dia
memasukkannya ke saku seragam
Bebi. "Buat jaga-jaga."
Kedua mata Bebi berkaca-kaca.
Dia memeluk Dara merasa sangat
bersyukur di saat dia punya
masalah kayak gini, ada Dara yang
jadi sahabatnya.
"Makasih banyak. Gue gak tau
kalau gak ada lo bakal kayak
gimana," ucap Bebi.
Dara mengusap punggung Bebi
dengan lembut. Mereka kemudian
pamit dan Bebi pergi lebih dulu ke
gerbang sekolah karena mobil
hitam milik ibu tirinya sudah
terlihat.
Dara menghembuskan napas
berat, dia lalu berjalan ke arah
parkiran di mana Rafa sudah
menunggunya.
Saat masuk, Rafa tidak ada
bicara sama sekali. Pria tampan itu
langsung menyalakan mesin dan
mengemudikan mobilnya keluar
dari pelataran sekolah.
Dara diam-diam melirik ke
arah suaminya. Dia jadi berpikir
kalau Rafa sedang marah padanya
karena tadi dia mengusili suaminya
itu pas sedang mengajar di
kelasnya.
"Mas Rafa kenapa?" tanya Dara.
"Gak apa-apa," jawab Rafa tanpa
menoleh.
Bibir Dara mengerucut. Dia
memilin ujung rok yang
dipakainya. Hingga akhirnya heran
saat mobil berhenti padahal jarak
ke rumah sakit masih lumayan
jauh.
"Kenapa ber-hmmp." Dara
langsung menutup mulutnya saat
wajah Rafa sangat dekat dengan
wajahnya.
Dia melirik sekitar, mereka ada
di bahu jalan yang agak sepi.
"Kamu tau tadi itu gak adil buat
aku, Dara. Aku tetap harus
profesional saat mengajar tapi
kamu terus mengganggu
konsentrasiku," ujar Rafa.
Dara perlahan menurunkan
telapak tangan yang dia gunakan
untuk menutup mulutnya. Matanya
mengerjap pelan dan itu membuat
Rafa tambah gemas saja.
"Ya, maaf. Habisnya Mas Rafa
serius banget wajahnya tadi. Aku
cuman pengen liat Mas Rafa
senyum dikit kalau lagi ngajar,"
sahut Dara.
Dara mengulum bibirnya saat
Rafa terus menatap ke arahnya.
"A-aku..."
Cup!
Kedua mata Dara melotot saat
bibir Rafa mendarat di bibirnya.
Hanya menempel tapi agak lama.
Dara meneguk ludah dengan
keadaan wajah yang bersemu
merah saat Rafa kembali
menjauhkan wajahnya. Tidak ada
kalimat yang terucap dari Dara, dia
diam melihat manik mata Rafa
yang juga terus menatapnya.
"Jangan sekali-sekali manyun
lagi di tempat ramai kayak tadi,"
ucap Rafa.
"Kamu juga harus bisa jaga pola
makan kamu, Dara. Aku gak mau
kamu sampai sakit," sambungnya.
Dara mengangguk patuh.
Bibirnya seakan kesulitan terbuka
untuk sekedar berkata 'iya'.
Sepertinya ciuman Rafa tadi
mengandung lem.
Setelahnya, Rafa kembali
menyalakan mesin mobilnya dan
tersenyum tipis saat melihat Dara
yang mengusap bibirnya sendiri.
Malamnya, Bebi yang hendak mengambil air minum ke dapur tiba-tiba penasaran saat melihat pintu ruang kerja papa nya yang sedikit terbuka.
Bebi melihat keadaan sekitar, sepi karena dia dengar Renita ada di kamarnya sedang mendengarkan musik barusan.
Beruntung tadi dia tidak diturunkan di tengah jalan. Karena saat naik, sang papa menelepon dan mengobrol dengannya sampai dia tiba di rumah.
Dengan langkah pelan, Bebi berjalan menuju ruang kerja sang papa dan membuka pintunya sedikit lebih lebar.
Kedua matanya melebar saat melihat Rere sedang jongkok di repan brankas milik sang papa.
"Tante Rere ngapain di sana?!" tegur Bebi.