Entah sejak kapan Alessia tumbuh menjadi gadis cantik mempesona. Sepuluh tahun menjaganya sebagai adik, ia baru menyadari debaran jantungnya yang tak karuan. Nathaniel sang anak angkat mulai mendambakan adik angkatnya. Adik yang keluarganya telah menyelamatkan Nathaniel dari jurang keterpurukan. Pantaskah Nathaniel bersanding dengan adiknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Truth or Dare
Halaman vila di pinggir pantai itu kini berubah menjadi lautan tawa dan aroma menggoda dari panggangan. Api unggun besar di tengah-tengah meletup-letup kecil, mengirimkan percikan api ke udara malam Busan yang dingin, menciptakan suasana yang sangat akrab. Berlembar-lembar daging sapi kualitas prime yang juicy telah berpindah ke piring-piring staf, ditemani kaleng-kaleng bir yang mulai bertumpuk di sudut meja.
Nathaniel duduk agak menjauh dari pusat keramaian, namun posisinya tepat berseberangan dengan Alessia. Gadis itu tidak duduk di kursi khusus atau menjauhkan diri; ia justru membaur di antara para staf pemasaran dan operasional, tertawa lepas menanggapi cerita lucu salah satu manajer senior.
Dari balik gelas minumannya, Nathaniel memperhatikan Alessia dalam diam. Cahaya api unggun yang menari-nari memberikan semburat keemasan di wajah gadis itu, membuatnya tampak jauh lebih bersinar malam ini.
Namun, bukan hanya kecantikan fisik Alessia yang membuat Nathaniel tak bisa memalingkan wajah. Ia mengagumi bagaimana cara Alessia memperlakukan orang-orang di sekitarnya. Sebagai putri tunggal keluarga Sinclair, ia sama sekali tidak menunjukkan batasan status sosial. Ia dermawan, ramah, dan mendengarkan keluh kesah stafnya dengan ketulusan yang jarang ditemukan di dunia bisnis yang kaku.
Tanpa disadari oleh Nathaniel sendiri, setiap kali Alessia tertawa lebar hingga matanya menyipit, sudut bibirnya ikut terangkat membentuk senyum tipis yang tulus. Dinginnya sikap "Direktur Utama" yang biasanya ia tunjukkan di kantor seolah mencair habis malam ini.
"Pak Nathan, dagingnya sudah matang sempurna. Mau saya ambilkan lagi?" tanya seorang staf pria, membuyarkan lamunan Nathaniel.
Nathaniel tersentak kecil, kembali ke ekspresi datarnya yang berwibawa. "Tidak, terima kasih. Saya sudah cukup."
Ia kembali melirik ke arah Alessia. Gadis itu tiba-tiba menoleh, seolah merasakan ada sepasang mata yang sejak tadi mengawasinya. Mata mereka bertemu di antara kepulan asap barbekyu dan pendar api unggun. Alessia memberikan senyum termanisnya dan mengangkat gelas jusnya ke arah Nathaniel sebagai tanda "bersulang" dari kejauhan.
Suasana di sekitar api unggun semakin memanas seiring malam yang kian larut. Tawa para staf pecah berkali-kali saat permainan "Jujur atau Tantangan" mulai masuk ke pertanyaan-pertanyaan yang lebih berani. Kaleng-kaleng bir yang kosong sudah menumpuk, dan keberanian para staf mulai muncul akibat pengaruh alkohol yang tipis-tipis.
Hingga tibalah giliran seorang staf pria dari bagian operasional untuk menjawab pertanyaan dari rekan-rekannya.
"Ayo jawab jujur! Siapakah wanita paling cantik di kantor kita?" tanya salah satu rekan staf dengan nada menggoda, membuat semua orang bersorak "Woooo!" serempak.
Staf pria yang mendapat giliran itu tertawa canggung, wajahnya sudah agak memerah karena mabuk. Ia melirik ke arah Alessia, lalu beralih menatap Nathaniel yang duduk tenang di sisi lain api unggun dengan tatapan tajamnya yang tak pernah lepas.
"Tentu saja! Nona Alessia Seraphine Sinclair!" ucapnya dengan lantang, disambut tepuk tangan meriah dari staf lainnya.
Namun, ia tidak berhenti di situ. Sambil sedikit sempoyongan, ia mengangkat kaleng birnya ke arah Alessia. "Nona... dengarkan aku. Hanya karena aku sedang mabuk hari ini, aku berani memujimu secara langsung. Sebab..." Ia menjeda kalimatnya sambil melirik ngeri ke arah Nathaniel. "...sebab ada singa jantan yang selalu berada di sisimu, menjaga setiap langkahmu dengan tatapan yang bisa membekukan darah!"
Semua staf tertawa terpingkal-pingkal mendengar istilah "singa jantan" yang dialamatkan kepada Nathaniel. Mereka semua tahu betul betapa protektifnya sang Direktur Utama jika ada pria yang mencoba mendekati Alessia lebih dari batas profesional.
Alessia ikut tertawa, wajahnya merona merah, entah karena hawa api unggun atau karena istilah "singa jantan" itu. Ia mencuri pandang ke arah Nathaniel.
Nathaniel sendiri hanya mendengus pelan, mencoba mempertahankan ekspresi datarnya meski sudut matanya sedikit berkedut menahan senyum. Ia menyesap minumannya dengan tenang, seolah tidak terganggu dengan julukan itu, namun tangannya yang mencengkeram gelas justru menunjukkan kewaspadaan yang tidak pernah luntur.
"Singa jantan, ya?" gumam Nathaniel pelan, hampir tak terdengar di tengah keriuhan. Matanya bertemu dengan mata Alessia, memberikan tatapan yang seolah berkata, 'Mereka benar, dan mereka harus tahu itu.'
Kehangatan di halaman vila itu bukan lagi berasal dari api unggun, melainkan dari pengakuan publik yang jujur, meski lewat candaan mabuk, bahwa posisi Nathaniel di samping Alessia tidak akan pernah bisa digantikan oleh siapa pun.
———
Satu per satu staf mulai membubarkan diri. Suara tawa yang tadinya riuh kini berganti dengan kesunyian malam Busan yang hanya ditemani deru ombak sayup-sayup dari kejauhan. Udara semakin menggigit, namun Alessia enggan untuk segera masuk ke dalam kehangatan kamarnya.
Ia duduk di kursi rotan balkon vilanya, memeluk lutut sambil menatap hamparan langit Busan yang bertabur bintang. Di bahunya masih tersampir jaket tebal milik Nathaniel yang aromanya belum juga memudar, aroma maskulin bercampur wangi sabun yang selalu membuatnya merasa aman.
Namun malam ini, rasa aman itu terusik oleh sebuah kegelisahan baru.
"Singa jantan," gumam Alessia pelan, mengingat candaan staf tadi.
Baru kali ini, setelah sepuluh tahun berlalu, Alessia benar-benar mempertanyakan hakikat kehadiran Nathaniel dalam hidupnya. Selama ini, ia menerima perhatian Nathaniel sebagai sesuatu yang mutlak, seperti udara yang ia hirup. Nathaniel adalah pelindungnya, kakaknya, dunianya.
Namun, debaran jantung yang menggila saat ia terjatuh di pelukan Nathaniel di pantai tadi... apakah itu masih bisa disebut rasa sayang seorang adik?
Apakah aku mencintainya karena dia Nathaniel, atau aku hanya takut kehilangan kenyamanan yang dia berikan selama sepuluh tahun ini? batin Alessia bertanya-tanya.
Ia memejamkan mata, mencoba membedakan antara cinta yang membakar dan kebiasaan yang membelenggu. Jika itu hanya kebiasaan, mengapa ia merasa sangat sesak saat membayangkan Nathaniel memberikan perhatian yang sama kepada Lady? Dan jika itu cinta, sejak kapan perasaan itu tumbuh tanpa ia sadari? Di titik mana garis "Kakak-Adik" itu melandai dan berubah menjadi jurang yang dalam?
Alessia bertekad, liburan di Busan ini tidak boleh berakhir begitu saja tanpa jawaban. Ia harus mencari tahu kebenarannya, sebelum ayahnya benar-benar menjodohkannya dengan pria lain, atau sebelum Nathaniel memutuskan untuk melangkah mundur dan membiarkannya "berdiri sendiri".
Tiba-tiba, suara pintu geser di belakangnya terbuka pelan. Tanpa menoleh pun, Alessia tahu siapa yang datang. Langkah kaki itu terlalu familiar baginya.
"Belum tidur? Udara di luar bisa membuatmu sakit, Al," suara berat Nathaniel memecah lamunan Alessia.
Alessia menoleh perlahan, menatap sosok yang selama sepuluh tahun ini selalu ada di sisinya. Malam ini, ia tidak melihat Nathaniel sebagai kakaknya. Ia melihatnya sebagai seorang pria yang ingin ia miliki sepenuhnya.
Suasana malam di balkon itu mendadak terasa lebih berat, seolah oksigen di sekitar mereka menipis. Alessia memutar tubuhnya, menatap lurus ke arah Nathaniel dengan binar mata yang menuntut kejujuran lebih dari sekadar basa-basi protokol kantor.
"Kak... aku mau tanya," ucap Alessia, suaranya pelan namun tegas, membelah kesunyian malam Busan.
Nathaniel menghentikan langkahnya sejenak, lalu ikut duduk di kursi kayu di sebelah Alessia. Ia bisa merasakan kegelisahan yang memancar dari gadis di sampingnya. "Hm? Tanya apa? Sepertinya serius sekali," jawab Nathaniel, mencoba menjaga nadanya tetap santai meski instingnya sudah menangkap sinyal bahaya.
"Apa arti aku di hidup Kakak?" tanya Alessia tanpa basa-basi.
Pertanyaan itu menghujam tepat di jantung pertahanan Nathaniel. Ia terdiam. Untuk sesaat, hanya suara deburan ombak di kejauhan yang mengisi ruang di antara mereka. Di dalam kepalanya, Nathaniel sedang berperang hebat. Ia ingin meneriakkan bahwa Alessia adalah pusat gravitasinya, alasan mengapa ia masih bertahan di dunia yang keras ini. Namun, ia tahu posisinya. Ia tahu batas transparan yang dibangun oleh rasa utang budi pada keluarga Sinclair.
Nathaniel menyusun kata-kata "aman" di otaknya, sebuah perisai yang selama sepuluh tahun ini ia gunakan untuk menutupi perasaannya sendiri.
"Kamu segalanya bagiku, Al," jawab Nathaniel akhirnya, suaranya rendah dan stabil. Ia menoleh, menatap Alessia dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Sama seperti Ayah dan Ibu. Kamu adalah tanggung jawab terbesarku, sekaligus orang yang paling ingin aku lindungi di dunia ini."
Jawaban itu keluar begitu lancar, namun ada getir yang tertinggal di lidah Nathaniel. Ia menyebut nama William dan Rosetta sebagai tameng, sengaja menyamakan posisi Alessia dengan kedua orang tua angkatnya agar garis "keluarga" itu tidak retak.
Alessia tertegun. Jawaban itu benar, namun terasa sangat tidak cukup. "Segalanya" yang dikatakan Nathaniel terasa seperti sebuah kewajiban, bukan sebuah keinginan.
"Hanya sebatas itu? Sama seperti Ayah dan Ibu?" desak Alessia lagi, matanya mulai berkaca-kaca karena rasa kecewa yang mulai merayap.
Nathaniel mengepalkan tangannya di bawah meja, menyembunyikan getaran halus di jemarinya.
"Bukankah itu tempat yang paling terhormat, Al? Menjadi bagian dari keluarga yang paling kucintai?"
Nathaniel berbohong demi kebaikan, atau setidaknya itulah yang ia yakini. Ia tidak sadar bahwa dengan membangun dinding "aman" itu, ia justru sedang menanam duri di hati Alessia yang malam ini baru saja mulai mekar untuknya.