AK 47, senjata laras panjang yang kini diarahkannya pada leher suaminya.
"Tambah satu wanita lagi, bangunlah Harem hingga kamu kenyang oleh darah." Sebuah sindiran dari wanita yang tersenyum menyeringai.
Dirinya bereinkarnasi sebagai istri jahat dalam novel pria bertema sistem dan kiamat. Dengan ending kematian tragis.
Sedangkan suaminya hidup bahagia dengan 9 wanita cantik di haremnya.
Berusaha bersikap baik, tidak seperti dalam alur cerita novel. Berharap suaminya tidak akan membangun harem seperti dalam cerita novel.
Tapi tetap saja susu besar membuat pria ini tertarik, paha mulus menggetarkan hatinya.
Daripada menunggu kematian, lebih baik, dirinya menggunakan rudal balistik untuk menghancurkan suaminya.
Dalam dunia kiamat diantara hidup dan mati, dimana makanan adalah lebih berharga daripada emas. Hukum tidak berlaku lagi.
Dunia dimana dirinya dapat membantai pria ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Mereka masih tetap mengikuti langkah Kelvin, memijak tanah berwarna kehitaman, rerumputan benar-benar kering di tempat ini.
Kelvin melirik ke arah orang-orang yang ada di belakangnya. Mereka tidak berpencar atau mencari jalan lain.
Hingga tiba-tiba layar sistem terbuka secara otomatis.
"Peringatan! mendeteksi keberadaan monster, host akan mendapatkan 540 poin, jika dapat mengalahkannya."
Kelvin terdiam sejenak, penghalang napas kasar."Monster dengan tipe seperti apa?"
"Monster Egro, merupakan jenis monster yang berasal dari domba bermutasi. Mutasi genetik yang benar-benar parah, hingga memiliki tubuh dan kecerdasan seperti manusia."
Dirinya menghalangi nafas, kemungkinan besar monster level A atau S mengingat banyaknya poin yang didapatkan jika berhasil. Matanya melirik ke arah belakang, dirinya dapat memanfaatkan mereka untuk mendapatkan poin.
Suara hewan terdengar dari semak-semak yang telah mengering. Langkah mereka semua terhenti.
Keempat wanita yang dibawa oleh Kelvin menyiapkan persenjataan mereka. Hanya berupa senjata api berukuran kecil dan pisau.
"Zero ada monster..." kalimat yang diucapkan oleh Fred, walaupun sosok monster belum menampakkan diri.
"Aku tahu..." Zero menyeringai."Atur posisi, aku dan Ren akan berada paling belakang. Jika terjadi sesuatu, Aku akan menyelamatkan kalian."
"Mengerti!" tegas Fred, segera setelah mendapatkan instruksi.
"Ren, kamu harus tetap berada di belakang. Apapun yang terjadi, jangan ikut bertarung, jika situasi genting kamu harus melarikan diri." Sarah memberikan senjata api padanya, mata wanita itu melirik pada lengan Ren.
Terakhir kali, walaupun tidak memiliki kemampuan bertarung, Ren mengorbankan dirinya sendiri untuk menyelamatkan Sarah. Sarah mengepalkan tangannya, tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada Ren lagi.
Pemuda itu mengangguk pertanda paham. Tapi tidak benar-benar paham sejatinya.
"Miau..." kucing putih kecil itu berkeliling di kaki Ren.
"Miau-miau...jaga Ren ya?" pesan yang diucapkan oleh Sarah. Kemudian beralih hendak maju untuk bertarung. Mata semua orang sekarang benar-benar memulai waspada dengan keadaan sekitarnya.
"Tuan, monster kali ini tidak begitu kuat, tapi ada dalam jumlah yang besar. Apa Tuan tidak akan menolong mereka?" Pertanyaan yang diucapkan oleh sang kucing.
"Tergantung situasi nanti." jawaban tenang dari Ren.
"Miau..." sang kucing menjilat bulunya sendiri."Omong-ngomong, kapan tuan akan mengakhiri ini. Aku hanya cemas betina itu akan mengawini tuan. Mengingat Tuan terlalu baik hati dan tidak tegaan."
Kucing yang benar-benar cari mati, Ren mengangkat bagian punggung kucing, wajahnya masih tersenyum. Bersiap-siap untuk melemparkannya.
"Tua...tuan! Aku masih berguna disini! Masih berguna!" teriak sang kucing, meronta-ronta.
"Berguna?" Tanya Ren.
"Berguna sebagai komentator." Benar-benar Sebuah jawaban yang tidak memuaskan. Pada akhirnya, Miau-miau benar-benar terbang melayang, entah berapa puluh kilometer jarak lemparannya.
"Miau...." suara yang perlahan hilang.
***
Kita kembali fokus pada pertarungan, tidak fokus kepada kucing dan majikan gilanya.
Sarah menatap ke arah sekitarnya, rasa tegang menyelimutinya. Di sini yang daya tarungnya paling dapat diandalkan adalah Zero... sepertinya?
Karena pada dasarnya, sebagian besar pemimpin kelompok adalah yang terkuat.
Tapi dirinya sama sekali tidak pernah mengetahui apa kemampuan Zero. Seberapa hebat sebenarnya orang ini.
Sudah ada Kelvin di tempat ini, lebih baik Zero sama sekali tidak bertarung. Hanya fokus untuk mengamati tingkat kekuatan Kelvin.
Dan benar saja, beberapa mata merah menyala terlihat dari sekitar area tempat ini. Musuh tidak satu, tapi terdapat banyak.
Kala mereka mengamati, suara domba terdengar. Tidak sesepi sebelumnya, sekarang terdengar benar-benar ramai.
Jika sebelumnya semakin sepi semakin mengerikan, maka saat ini semakin ramai semakin mengerikan.
Salah satu domba bahkan memiliki tinggi 4 meter, domba yang berdiri bagaikan manusia. Ada sekitar lima domba yang memiliki kemampuan serupa, ya itu tubuh seperti tubuh manusia.
Sedangkan puluhan domba lainnya, Masih berdiri dengan 4 kakinya, tapi tetap saja, mungkin mutasi genetik yang menyebabkan, para domba ini memiliki ratusan gigi yang begitu runcing dan panjang, hingga mulut mereka terlihat begitu lebar.
"Sebanyak ini?" Gilbert yang sudah bersiap dengan persenjataannya menelan ludah. Matanya melirik ke arah Zero."Apa tidak sebaiknya mundur saja?" tanyanya.
"Tugas kalian seperti biasanya sebagai pendukung. Louis dan Fred akan melindungi kalian, kalian bantu menghadapinya dengan menggunakan persenjataan. Kalian berdua adalah penembak jitu, bidik bagian jantungnya!" perintah dari Zero tidak dapat terbantahkan.
Walaupun gemetar, mereka mencoba untuk bertahan. Jujur saja ini lebih buruk daripada situasi perang. Pasalnya, jika perang yang dihadapinya adalah manusia biasa yang takut mati.
Tapi kali ini yang mereka hadapi adalah monster, memiliki insting tidak takut akan kematian sama sekali.
"Aaaghhh!" pada awalnya suara domba yang terdengar berubah, menjadi suara petikan dari seluruh penjuru.
Kelvin sudah bersiap dengan pedang petirnya. Ternyata dugaan yang salah, bukan dari level monsternya tapi dari begitu banyaknya monster yang ada di tempat ini. Karena itulah poin yang didapatkannya jika berhasil menjalankan misi cukup besar.
"Kelvin aku takut..." seru Cherry gemetar.
"Kelvin, Apa tidak sebaiknya memasang pelindungmu untuk kami?" Sofia memberikan saran.
"Benar kami hanya akan menjadi beban saat kamu bertarung." kalimat yang diucapkan oleh Rani.
Sedangkan Ayu juga sepertinya sepakat dengan mereka.
Kelvin menghela napas, dulu saat Sarah kekuatannya belum meningkat sekalipun, selalu membantunya dalam pertarungan. Setidaknya menggunakan senjata api atau granat. Tapi memang di antara wanita-wanita ini tidak ada yang dapat diandalkan untuk bertarung.
Dirinya hanya kembali menghela napas.
Menukarkan poin, mendapatkan pelindung dari sistem.
Sebuah pelindung yang berupa benda berbentuk segi enam seukuran telapak tangan. Sebuah tombol berada di tengahnya.
"Tekan tombol yang berada di tengah, kalian harus berkumpul bersama dalam jarak 2 meter dari pusat benda tersebut. Benda ini akan memberikan pelindung transparan selama 1 jam." Itulah hal yang dijelaskan oleh Kelvin.
Sofia segera mengangguk."Kelvin berjuanglah, kami selalu mendukungmu dari belakang." Kalimat yang diucapkan oleh Sofia, hanya dapat membuat pemuda itu menghela napas.
Mendung dari belakang, jika mendukung dari samping akan lebih berguna. Sofia dan keempat wanita lainnya, kini sudah mencari posisi lain untuk bersembunyi.
Para monster mulai bergerak, pertarungan akan benar-benar terjadi. Tentu saja dirinya berada paling depan untuk menyerang.
Kilatan petir menyambar dari pedangnya, menebas belasan domba.
Tapi.
Tiba-tiba terasa basah, cipratan darah mengotori pakaiannya. Menatap ke arah sumber cipratan darah.
Sarah tengah bertarung, menebas monster domba yang memiliki bentuk tubuh bagaikan manusia.
Srash!
Tebasan yang tepat mengenai di bagian dada monster, wanita itu tersenyum dengan rambut merahnya. Cipratan darah yang sedikit mengotori pipi putihnya.
Kala monster itu roboh, Sarah kembali bergerak membunuh monster lainnya.
Terlihat cantik, pintar, dan berbahaya. Apa yang terjadi pada hatinya yang kembali berdebar? Seperti kembali jatuh cinta pada mantan istrinya.
Hayu Miau...terus provokasi Ren biar panas
up nya udah ada aja nih,thor.
Kamu kalau menilai suka sesukamu aja sih,Miau
Lempar nih...