NovelToon NovelToon
Kuroda-san No Himitsu

Kuroda-san No Himitsu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:89
Nilai: 5
Nama Author: virgilius theodoro

menceritakan dua orang yang ingin bebas dari takdir mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon virgilius theodoro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 12

BAB 12: Barter Kehormatan dan Janji di Balik Helm Hitam

Pagi di Tokyo masih diselimuti kabut tipis saat Aurelius terbangun. Ia menatap Hana yang meringkuk di balik selimut sutra, wajahnya tampak jauh lebih tenang dibandingkan semalam, meski sisa sembap di matanya masih terlihat jelas. Aurelius tidak ingin membangunkan kedamaian itu. Dengan gerakan seringan kucing, ia bangkit dari ranjang.

Hari ini, ia tidak akan menjadi Aurelius sang pewaris takhta yang dibalut setelan jas bespoke seharga ribuan dolar. Jiwa "Ren" sedang mengambil alih. Ia menarik celana jeans hitam pudar dan kaos polos berwarna abu-abu gelap yang melekat pas di tubuhnya, menonjolkan otot-otot yang terbentuk dari tahun-tahun ia mengutak-atik mesin jet dan motor. Jaket kulit hitam yang penuh goresan—jaket favoritnya dari bengkel Ota—menjadi lapisan terakhir.

Ia mengambil kunci motor dari meja granit. Di garasi bawah tanah yang dingin, sebuah Kawasaki Ninja H2R berwarna hitam karbon mengkilap sudah menunggunya. Motor itu adalah monster sirkuit yang tidak legal di jalan raya, namun bagi seorang Hohenzollern, hukum jalanan hanyalah saran.

Vroom!

Raungan mesin supercharged itu memecah kesunyian pagi saat Aurelius melesat keluar. Ia tidak menuju gedung perkantoran mewah. Tujuannya adalah sebuah kafe biasa yang terletak di sudut jalan yang tidak mencolok di pinggiran Shibuya. Tempat di mana Kaito Shimada tidak akan menyangka akan bertemu dengan pria paling berkuasa di dunia.

Kaito sudah duduk di sana, tampak berantakan. Lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan bahwa jatuhnya saham Shimada Global telah merenggut waktu tidurnya. Saat ia mendengar raungan motor yang memekakkan telinga berhenti di depan kafe, dan melihat seorang pria berjaket kulit masuk sambil menenteng helm full-face hitam, Kaito hampir tidak mengenali Aurelius.

Aurelius menarik kursi di depan Kaito tanpa permintaan maaf. Ia meletakkan helmnya di atas meja kayu yang sedikit lengket, suaranya rendah dan tajam.

"Aku tidak punya banyak waktu, Kaito," ucap Aurelius, mengabaikan kopi yang ditawarkan pelayan.

Kaito menelan ludah, suaranya serak. "Tuan... Aurelius. Anda terlihat... berbeda."

"Mari kita langsung ke intinya," Aurelius mencondongkan tubuh, matanya yang sedingin es mengunci pandangan Kaito. "Lepaskan Hana Asuka. Aku menginginkannya. Secara resmi, sepenuhnya, dan permanen."

Kaito tersentak, matanya membelalak tak percaya. "Anda... Anda ingin Hana? Tapi Tuan, dia hanya... maksud saya, jika Anda menginginkan hiburan, saya bisa mencarikan wanita lain. Model papan atas, aktris yang lebih cantik, lebih seksi, dan lebih berpengalaman dalam melayani pria seperti Anda. Hana terlalu kaku, dia tidak akan cocok untuk gaya hidup Anda yang megah."

Rahang Aurelius mengeras. Ia merasakan dorongan kuat untuk menghantamkan helmnya ke wajah Kaito saat mendengar pria itu membicarakan Hana seperti barang dagangan.

"Aku tidak meminta saran darimu tentang seleraku," desis Aurelius, suaranya bergetar dengan kemarahan yang ditekan. "Aku meminta Hana. Dan aku tidak meminta, aku memberitahumu."

Kaito gemetar, namun insting oportunisnya tetap menyala di tengah ketakutan. Ia tahu ini adalah satu-satunya kartu as yang ia miliki untuk menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan total.

"Baiklah," Kaito berbisik, mencoba menegakkan punggungnya. "Saya akan melepaskan pertunangan itu. Saya akan menyerahkan Hana kepada Anda. Tapi... saya punya satu syarat. Bantu Shimada Global. Pulihkan saham kami yang Anda hancurkan dua hari lalu. Suntikkan modal melalui Hohenzollern Group agar kami bisa bangkit kembali."

Aurelius menatap Kaito dengan jijik yang mendalam. Seorang pria yang menukarkan tunangannya demi angka-angka di bursa saham benar-benar adalah kotoran di mata Aurelius.

"Setuju," jawab Aurelius tanpa keraguan. Baginya, uang sebesar itu hanyalah recehan dibandingkan dengan satu senyum tulus dari Hana. "Sahammu akan mulai merangkak naik pukul satu siang ini. Tapi dengarkan aku baik-baik, Kaito Shimada..."

Aurelius berdiri, mengenakan helmnya kembali, suaranya bergema dari balik kaca visor yang gelap. "Setelah detik ini, kau dilarang menyentuh Hana. Kau dilarang menemuinya, meneleponnya, bahkan menyebut namanya di depan umum. Jika aku mendengar kau mengganggunya lagi, aku tidak akan hanya menghancurkan sahammu. Aku akan memastikan kau lenyap dari muka bumi ini."

Tanpa menunggu jawaban, Aurelius berjalan keluar. Suara mesin H2R yang meraung meninggalkan Kaito yang terpaku di kursinya, antara lega karena selamat dan terhina karena baru saja menjual kehormatannya.

Sebelum kembali ke apartemen, Aurelius berhenti di sebuah toko kue kecil yang terkenal di Ginza. Ia melihat sebuah Strawberry Shortcake yang tampak cantik—sesuatu yang manis untuk menghapus kepahitan yang dialami Hana semalam. Ia membawa kotak kue itu dengan hati-hati di dalam ranselnya, berkendara lebih lambat agar kue itu tidak hancur.

Saat ia memasuki apartemen, suasana sangat sunyi. Ia berjalan menuju ruang tengah dan mendapati Hana sudah bangun. Wanita itu duduk diam di sofa panjang, masih mengenakan jubah mandi putih semalam. Rambutnya sedikit berantakan, dan ia menatap kosong ke arah jendela kaca besar yang menampilkan kesibukan Tokyo.

"Hana?" panggil Aurelius lembut.

Hana tersentak dan menoleh. Melihat Aurelius yang berpakaian kasual dengan jaket kulit, ia tampak sedikit bingung. "Ren-san... kau dari mana?"

Aurelius meletakkan kotak kue di meja marmer di depan Hana. Ia duduk di sampingnya, melepaskan jaket kulitnya dan membuangnya ke kursi lain. "Aku baru saja menyelesaikan urusan yang seharusnya sudah kuselesaikan sejak lama."

Hana menatap kotak kue itu, lalu menatap Aurelius. "Urusan apa?"

Aurelius meraih tangan Hana, menggenggamnya erat. "Kau bebas, Hana. Kaito sudah setuju untuk membatalkan pertunangan kalian. Dia tidak akan pernah mengganggumu lagi."

Mata Hana membelalak. "Bagaimana... bagaimana kau melakukannya?"

"Aku membeli kebebasanmu dengan saham perusahaan yang dia cintai," Aurelius tersenyum pahit. "Ternyata harga seorang Hana Asuka di mata Kaito Shimada hanya setara dengan beberapa poin persentase di bursa efek."

Air mata mulai menggenang di mata Hana, namun kali ini bukan air mata kesedihan. Itu adalah rasa lega yang luar biasa. Beban yang menghimpit pundaknya selama berbulan-bulan seolah diangkat secara paksa oleh pria di depannya ini.

"Dan ini," Aurelius membuka kotak kue tersebut, "sebagai perayaan kecil untuk kehidupan barumu. Aku tahu kau belum sarapan dengan benar."

Hana tertawa kecil di sela isak tangisnya. "Kau pergi menemui Kaito Shimada hanya untuk kembali membawakanku kue?"

"Aku menemui Kaito untuk urusan sampah. Aku kembali padamu untuk urusan hati," balas Aurelius dengan gombalan tipis yang membuat pipi Hana merona.

Aurelius mengambil garpu kecil dan menyuapkan sepotong kue ke mulut Hana. Adegan itu begitu kontras dengan citra Aurelius yang kejam di pesta semalam. Di sini, di ruang pribadinya, ia hanyalah seorang pria yang mencoba menghibur wanita yang ia cintai.

Setelah menghabiskan kue tersebut, Aurelius menarik Hana ke dalam pelukannya. Mereka duduk diam selama beberapa menit, menikmati keheningan yang kini tidak lagi terasa mencekik.

"Ren-san," bisik Hana di dada Aurelius. "Apa yang akan terjadi sekarang? Ayahku pasti akan murka jika tahu pertunangan ini batal tanpa seizinnya."

Aurelius mengelus rambut Hana, matanya menatap tajam ke depan. "Biarkan ayahmu berteriak sesukanya. Besok, aku akan mengirimkan surat resmi dari firma hukum Hohenzollern. Aku akan mengambil alih seluruh hutang Asuka Group dan menjadikannya anak perusahaan di bawah kendaliku langsung. Ayahmu tidak akan punya kekuatan untuk menentangku jika dia ingin perusahaannya tetap berdiri."

Hana mendongak, menatap Aurelius dengan rasa kagum yang bercampur dengan rasa takut akan kekuatan pria ini. "Kau benar-benar tidak memberikan mereka pilihan, bukan?"

Aurelius menunduk, mencium hidung Hana dengan gemas. "Dalam bisnis, aku tidak memberikan pilihan. Tapi dalam hal ini, aku memberikanmu satu-satunya pilihan yang paling penting: memilih untuk tetap bersamaku."

Aurelius kemudian bangkit dan menarik tangan Hana. "Ayo. Kau tidak bisa terus-terusan memakai jubah mandi ini. Aku sudah menyuruh Yoto membelikan beberapa pakaian baru untukmu. Kita akan pergi ke suatu tempat malam ini."

"Ke mana?" tanya Hana penasaran.

"Ke bengkel Ota," jawab Aurelius dengan seringai nakal. "Aku rindu menjadi mekanik biasa, dan kurasa kau rindu minum teh di cangkir retakku."

Sore itu, untuk pertama kalinya setelah badai rahasia terungkap, mereka kembali ke tempat semuanya dimulai. Bugatti itu tersembunyi di balik gang, dan di dalam bengkel yang remang-remang, mereka tertawa bersama—bukan sebagai bangsawan dan putri, tapi sebagai dua manusia yang akhirnya menemukan kebebasan di balik deru mesin dan tumpukan ban bekas.

Namun, di balik kegelapan di luar bengkel, sebuah mobil hitam memantau mereka dari kejauhan. Maximilian von Hohenzollern belum selesai dengan putranya, dan berita tentang "barter" Hana Asuka telah sampai ke telinganya. Badai yang lebih besar dari sekadar urusan bisnis kini mulai berkumpul di cakrawala.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!