Iseng mampir ke lapak dukun rongsok di Tanah Abang sepulang kerja adalah keputusan paling sinting yang pernah Sukma buat.
Besoknya, kontrak miliaran gol.
Sehari kemudian, truk kargo menghancurkan mobilnya di tol.
Rahimnya diangkat.
Ruang spasial seluas sepuluh hektar tiba-tiba muncul di kepalanya.
Dan mimpi keparat tentang Malang di era orba mulai menggerogoti tidurnya tiap malam.
Mimpi tentang perempuan bernama Sukma Ayu. Ibu tiri yang mati diseruduk sapi. Suaminya gila. Anak-anaknya hancur. Semua orang bilang itu memang sudah nasibnya.
Sukma tahu ke mana ini mengarah. Ia pembaca novel fantasi. Ia tahu persis apa artinya mimpi seperti ini.
Jadi sebelum berangkat, ia jual rumahnya di Kemang cash keras. Borong seratus karung beras, seratus jerigen minyak, sapi, ayam, obat-obatan, joglo Jepara yang dibongkar utuh, dua puluh drum bensin.
Kalau memang harus masuk ke novel picisan itu, ia tidak mau pergi dengan tangan kosong.
Masalahnya, ia masuk bukan sebagai pahlawan wanita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Buat cadangan
Kertas buram biru itu mendarat mulus di pangkuan Sukma. Nominal lima belas ribu rupiah tertera di bawah stempel pos.
Tanggal pencairannya masih baru. Bukti mutlak kebusukan Lasmi.
Tangan pucat Sukma membelai puncak kepala Sigit sekilas. Bocah itu tersentak mundur bak tersengat aliran listrik tegangan tinggi. Tatapannya liar mengawasi pergerakan ibunya.
"Pinter cah bagus," bisik Sukma parau.
"Simpan di saku celana Mbah Uti. Lekas."
Pintu depan diketuk pelan. Kades Darman dan Carik Tejo melangkah masuk menenteng dipan bambu pinjaman dari poskamling depan.
Warga yang masih berkerumun di halaman otomatis menyingkir, membukakan jalan dengan wajah tegang.
Tubuh Sukma diangkat perlahan ke atas tandu.
Perjalanan membelah kerumunan menuju rumah bata depan itu terasa magis. Persis seperti pawai kemenangan seorang ratu yang baru saja lolos dari tiang gantungan.
Di seberang sana, neraka baru saja berpindah tangan.
Bau apek kotoran tikus langsung menyodok rongga hidung Jamilah.
Barang-barangnya dilempar sembarangan ke atas dipan reyot berdebu oleh Joko. Jendela kayunya keropos dimakan rayap.
Ruangan sempit ini berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dari kamar utama rumah bata yang mulus.
"Aku ndak mau tidur di sini, Mas!" Jamilah menghentakkan kakinya keras-keras ke lantai tanah.
Air matanya tumpah merusak bedak taburnya. "Ini kandang wedus! Bukan rumah manusia!"
Joko memeluk bahu istrinya kikuk. Keringat lengket menetes di pelipisnya.
"Sabar to, Dek. Besok Mas belikan kapur, kita cat dindingnya biar putih bersih. Nanti malam kita ngemper tidur di ruang tengah Ibu dulu wae, ya?"
Jamilah menepis kasar pelukan suaminya. Matanya melotot menantang.
"Ogah! Nanti ibumu malah ngelunjak nyuruh aku nyuci bajunya sekalian! Pokoknya kita tidur di sini! Biar gembel asal ndak diatur-atur mertua!"
Joko mengusap wajah kasarnya frustrasi. Sifat keras kepala istrinya benar-benar meledak di saat yang sama sekali tidak tepat.
Sementara itu, jauh di teras rumah utama yang megah, Lasmi tak bisa memejamkan mata. Tubuh rentanya mondar-mandir menahan panas yang menggelegak di dada.
Selama ini ia sukses bertahta layaknya nyonya besar. Menguasai wesel Sutrisno, mengatur pembagian lumbung beras, dan menindas menantu tanpa perlawanan berarti.
Lalu hari ini, seluruh kekuasaannya diobrak-abrik oleh satu perempuan bodoh yang mendadak mendapat wangsit dari liang kubur.
Awas kowe, Sukma. Tunggu Sutrisno pulang. Bakal ta buat koen ditendang dari desa ini, bawa sekalian anak-anak sialan itu!
Di jalan setapak desa, cahaya rembulan dan kedipan lampu petromaks menuntun langkah dua aparat desa.
Darman mengusap tengkuknya. Hawa dingin malam menembus seragam safarinya.
"Jo," panggil Darman memecah sepi. "Beras telung puluh kilo sama duit sepuluh ribu... ndak kebesaran ta ganti ruginya?"
Carik Tejo mendengus keras. Ujung rokok klobot di bibirnya menyala merah membelah kegelapan malam.
Asap tembakau murahan menguar tebal.
"Sutrisno iku loreng, Kang. Tentara, tugas nang perbatasan. Nek bojone mati gara-gara sapimu, terus keluarganya dibiarin kelaparan... mbesuk kalau dia pulang, iso bedil-bedilan piye?"
Darman menelan ludah paksa.
"Ponakanmu si Ranto arep daftar Bintara juga to bulan depan bareng karo adikku?" kejar Tejo tanpa ampun. "Butuh rekomendasi Sutrisno ndak?"
Seketika langkah Darman terhenti. Bulu kuduknya berdiri tegak meremang hebat.
"Gusti... untung koen ngelingke. Sesuk isuk kirim langsung beras sama duitnya ke rumah bata! Jangan sampai ada potong-potongan sepeser pun!"
Aroma gurih minyak kelapa berpadu rajangan bawang merah menari liar di udara rumah bata.
Panci berdesis nyaring. Marni membanting sutil kayu ke wajan gosong peninggalan Sukma. Telur dadar tebal, oseng kentang, dan sepanci teh kental panas tersaji rapi di atas lincah bambu ruang tengah.
Pintu depan diketuk pelan.
Bu Kades Siti dan Bu Carik Narti melangkah masuk menunduk-nunduk. Tangan mereka menenteng keranjang anyaman bambu. Isinya telur ayam kampung, sebungkus gula batu, dan seikat kacang panjang segar.
"Sukma... ya ampun, Nduk." Bu Siti memegang tepi kasur kapuk. Matanya memancarkan keprihatinan yang terlihat sedikit dipaksakan. "Maafin Bapak e ya. Sapinya kemarin itu kaget denger petasan. Ini Ibu bawa sedikit bekal buat njagong. Ndang waras yo."
Sukma mengerahkan seluruh kemampuan aktingnya. Wajah pias, sudut mata dikerjap agar basah, napas dibuang satu-satu.
"Matur nuwun, Bu Kades, Bu Carik." Jari pucat Sukma membalas genggaman Siti. Sangat lemah. Nyaris tak bertulang. "Tanpa bantuan Bapak-bapak tadi... nyawaku sama anak-anak mungkin wes melayang. Utang budiku sama keluarga desa ini besar banget."
Narti mengelus dada lega. Perempuan di depannya ini sadar posisi dan tahu membalas budi. Sangat aman. Jabatan suami mereka tak akan terancam amukan prajurit perbatasan kelak.
"Wis, ndak usah dipikir abot! Fokus waras badane!" Narti menepuk selimut Sukma lembut sebelum pamit.
Marni sempat heboh menolak keranjang pemberian itu di ambang pintu, formalitas basa-basi ala pedesaan. Tapi dua nyonya pejabat desa itu menolak dan setengah berlari kabur menembus kegelapan malam.
Gelap menyelimuti sudut dapur luar.
Sigit menahan pergelangan tangan adiknya kuat-kuat. Tubuhnya memblokir jalan.
"Jangan ke sana, To. Iku jebakan." Mata Sigit menajam menembus celah bilik bambu. Mengamati asap mengepul dari piring-piring makanan di ruang tengah.
"Habis Mbah Uti sama Mbah Kakung pulang besok, wedokan iku pasti mukul kita pakai gagang sapu gara-gara ngabisin telurnya."
Gito mengibaskan tangan kakaknya berang. Perutnya melilit perih bagai diremas tangan tak kasat mata.
Syaiful di dekapannya sudah lemas merengek sedari tadi.
"Biarin dipukul! Sing penting wetengku wareg sik!"
Gito nekat menerobos bahu kakaknya. Kaki telanjangnya berlari gesit mendekati tikar pandan.
Sigit mengumpat tertahan. Rahangnya terkatup rapat sampai urat lehernya menonjol.
Anak sembilan tahun itu tak punya pilihan. Terpaksa ia menarik pergelangan tangan Sinta, mengekor di belakang adik-adiknya.
Di ruang tengah, tikar pandan sudah digelar. Pak Purnomo tersenyum getir melihat tatapan lapar bercampur teror dari cucu-cucunya.
Dituangkannya teh manis hangat ke deretan gelas seng jompo yang pinggirannya sudah mengelupas.
Gito mencomot sepotong telur dadar tanpa ba-bi-bu. Dikunyahnya cepat seolah takut makanan itu direbut malaikat pencabut nyawa.
Syaiful ikut menggigit ujung telur di tangannya rakus.
Namun, detik berikutnya, tangis balita tiga tahun itu pecah berantakan.
Tangan mungil yang belepotan minyak mencengkeram erat ujung kemeja lusuh Purnomo.
"Mbah Kakung ojo balii... Mbah nang kene wae... Ibu mesti ngamuk... wediii..."
Ratapan Syaiful menohok sisa-sisa pertahanan Purnomo. Dada pria tua itu sesak bukan kepalang.
Diusapnya rambut kotor cucu bungsunya penuh kasih sayang, tak peduli bau debu dan keringat masam.
"Mbah ndak kemana-mana malam ini, Le. Nek ibumu wani nggebug, Mbah sing genti nggebug ibumu pakai kayu. Pokoke kowe mangan sing akeh," hibur Purnomo, suaranya parau menahan tangis.
Di sisi lain tikar, Sigit tak menyentuh makanannya sama sekali. Matanya melirik tajam ke arah pintu kamar ibunya.
Otak kecilnya berputar liar penuh kewaspadaan.
Perempuan itu pasti sedang merencanakan sesuatu yang lebih sadis. Uang, beras, dan rumah bata ini didapat dari hasil sandiwara murahan.
Besok, saat kakek neneknya pulang, neraka sesungguhnya baru akan dimulai.
Sigit menoleh perlahan. Tangannya merogoh setengah potong telur bagiannya, lalu menyusupkannya diam-diam ke dalam kantong celana kumalnya.
Buat cadangan kalau besok mereka tak diberi makan lagi.
Malam larut membawa sunyi yang menyergap desa. Jangkrik mengerik riuh di balik semak.
Di dalam kegelapan kamar, Sukma memejamkan mata. Kesadarannya menyelam ke dalam ruang spasial. Ia tidak lahir dengan anugerah aneh ini. Kemampuan ini baru muncul menyatu dengan raganya tepat setelah benturan keras menghantam kepalanya saat hampir mati pertama kali.
Sebuah gudang tak bertepi berisi rak-rak raksasa menyambutnya. Segala macam persediaan masa depannya utuh di sana.
Sukma membongkar sebuah laci kayu kecil. Tangannya meraih beberapa lembar uang kertas kuno pecahan puluhan ribu yang ia beli dari kolektor di pasar antik waktu itu.
Sempurna. Pecahan sepuluh ribu bergambar R.A Kartini. Masih laku keras di era ini.
Kesadarannya ditarik paksa ke dunia nyata tepat saat engsel pintu kamarnya berderit.
Baskom seng berisi air hangat diletakkan perlahan di lantai. Marni memeras kain lap usang, lalu mengusapkannya ke wajah Sukma. Telaten. Sangat berhati-hati agar tak menekan luka menganga di balik perban.
Usapan itu turun ke leher, membersihkan sisa debu kapur. Turun lagi ke lengan, membasuh sela-sela jari, hingga ke telapak kaki Sukma yang kapalan tebal.
Sukma menahan napas. Sensasi hangat basah ini menjalar menembus pori-porinya, bermuara langsung memeluk dadanya yang mendadak sesak.
Di kehidupan modernnya dulu sebagai yatim piatu, tak ada satu pun manusia yang sudi merawatnya. Terbiasa meriang sendirian di apartemen dingin setelah begadang tiga hari berturut-turut mengejar target.
Usapan tangan keriput Marni adalah manifestasi murni dari wujud kasih sayang seorang ibu.
Sesuatu yang tak pernah berani Sukma impikan seumur hidupnya. Air matanya mengalir turun menembus pelipis.
Aku akan jaga keluarga ini. Pasti. Akan ku pastikan bajingan-bajingan tukang tindas di luar sana bertekuk lutut.
Ayam jago berkokok bersahutan membelah pagi. Sinar matahari keemasan menembus celah jendela rumah bata.
Marni menjemur tumpukan pakaian cucu-cucunya di tali rafia yang membentang di antara dua pohon mangga.
Purnomo asyik membelah kayu bakar hasil memulung Gito dan Sigit di kebon belakang.
Sukma memaksakan diri bangkit. Ia duduk menyandar lemah di ambang pintu kamar. Kepalanya masih sedikit berdenyut, tapi tubuhnya sudah jauh lebih siap diajak bertempur.
"Mak." Panggilan Sukma memecah kesibukan.
Ibunya menoleh, mengusap peluh di dahi dengan punggung tangannya. "Opo, Nduk? Mau teh anget lagi?"
Sukma merogoh saku celana kainnya. Lembaran sepuluh ribu rupiah.
Ditariknya tangan kasar Marni. Lembaran berharga itu dijejalkan paksa ke sana.
"Bawa mulih, Mak. Buat beli lauk Bapak sama emak di rumah."
Mata Marni melotot mau copot. Uang itu langsung dikembalikan ke pangkuan Sukma bak benda terbakar.
"Gendeng koen! Kowe lagi loro, anakmu papat butuh mangan! Simpen iku!" bentak Marni marah.
Sukma ganti mencengkeram erat pergelangan tangan ibunya. Menolak mentah-mentah penolakan itu.
"Bawa, Mak. Kalau Bapak sama Emak ndak mau terima... Ndak bakal aku injak rumah sampeyan lagi! Aku wes janji mau ubah nasibku. Aku ndak mau nyusahin kalian lagi."
Marni tertegun kaku. Bibirnya gemetar. Ia terkunci rapat melihat kilat tekad mematikan di mata putrinya.
Putrinya benar-benar sudah berubah dari Sukma yang cengeng dan malas.
Tepat saat uang itu akhirnya berpindah ke saku daster Marni dengan berat hati, pagar bambu depan rumah berderit nyaring.
Langkah sepatu lars beradu kasar dengan tanah berbatu.
Seorang pria tinggi besar berseragam hijau loreng yang memudar di bagian pundaknya berdiri mematung di ujung halaman.
Darah di sekujur tubuh Sukma berdesir hebat menyapu jantungnya.
Sutrisno pulang.