NovelToon NovelToon
SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT

SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Lelaki/Pria Miskin / Trauma masa lalu / Romantis / Slice of Life
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Di antara gemuruh kereta dan debu kehidupan yang keras, Siman hanyalah seorang pemuda yang tak pernah dianggap.

Dihina. Ditolak. Dilupakan.

Hingga suatu senja, seorang nenek misterius meninggalkan sebuah warisan di tangannya—akik biru laut yang memancarkan cahaya tak biasa… dan mengubah segalanya.

Keberuntungan mulai datang tanpa diminta.
Pintu-pintu yang dulu tertutup kini terbuka.
Dunia yang pernah merendahkannya mulai berbalik memandang.

Namun semakin tinggi Siman melangkah, semakin besar pula harga yang harus dibayar.

Apakah semua ini benar-benar takdir?
Ataukah hanya ilusi dari kekuatan yang belum ia pahami?

Ketika masa lalu kembali menghantui, dan kepercayaan dirinya runtuh tanpa akik itu di tangannya, Siman dihadapkan pada satu pilihan:

Terus bergantung pada keajaiban… atau menjadi penakluk sejati atas hidupnya sendiri.

Sebuah kisah tentang luka, harapan, cinta, dan keberanian untuk bangkit.

SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT
Jejak takdir tidak pernah salah memilih pemiliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Detak Kereta Siman

Deru gerbong yang menghunjam pagi memecah keheningan sebelum waktunya. Bising kereta api itu tak sekadar menggeram di udara; ia menggetarkan rumah papan reyot yang menjadi satu-satunya tempat Siman bersandar dari kerasnya dunia. Sebuah sensasi menggigil menyertai getaran lantaran kusen jendela tua ikut bergetar seirama dengan detak jantung Siman yang baru saja terbangun.

Asap diesel menyusup lewat celah-celah dinding kayu, meninggalkan residu hitam dan bau menyengat yang terasa akrab. Aroma debu yang tercampur embun pagi menyapu indra penciumannya, memadukan bau arang, sampah, dan sedikit bensin bekas. Selimut lusuh yang membalut tubuh Siman terasa pengap, dan peluh mulai menetes di pelipisnya meski sang mentari belum sepenuhnya bangkit.

Ia menyibak tirai usang yang berfungsi sebagai pembatas antara ruang tidur dan ruang tengah yang tak seberapa. Bapak dan Ibu Siman sudah terlihat bersiap di dapur mungil, dikelilingi perabotan seadanya yang sudah reot. Lampu teplok di tengah ruangan berkelip lemah, memancarkan cahaya kekuningan yang menambah kesan suram pada pagi hari itu.

"Siman sudah bangun, Nak?" Suara ibunya terdengar parau, sarat dengan kelelahan yang tak kunjung padam. Wanita itu masih sibuk menghidupkan kompor dengan sumbu yang berkedip-kedip, berusaha menggoreng tempe untuk sarapan sekaligus dijajakan. Minyak jelantah di wajan sudah terlihat pekat.

Siman mengangguk sembari menuang air dari bak kecil di pojok kamar mandi seadanya, membasuh wajahnya yang sembab. "Sudah, Bu. Suara kereta barusan kencang sekali. Apalagi, tadi aku mimpi naik kereta api yang kencang, takut." Ia memaksakan sebuah senyum kecil, mencoba meringankan beban pikiran ibunya.

Bapak Siman, dengan rambutnya yang mulai memutih dan punggung sedikit membungkuk, menoleh sejenak. "Ah, kereta mah begitu setiap hari, Man. Kamu sudah biasa harusnya. Atau kupingmu belum kotor?" Nada suaranya terdengar datar, penuh dengan kepasrahan pada realita yang tak berdaya diubah.

"Iya, Bu, Pak. Biasa. Hanya... terasa aneh saja pagi ini," balas Siman sambil menggaruk tengkuknya. Ia menarik sebuah bangku kayu yang hampir reyot, duduk di depan meja kecil yang selalu penuh dengan rempah dan sisa-sisa adonan gorengan. Ada gumpalan ambisi yang berputar di dadanya, seperti gulungan benang kusut yang terus berusaha mengurai diri.

"Kamu tuh aneh-aneh saja." Ibu Siman menghela napas panjang, tatapannya menyiratkan beban yang jauh lebih berat dari gorengan yang ia pangku setiap hari. "Yang tidak aneh itu kalau kamu cari uang. Kita hari ini belum tahu mau makan apa siang nanti, Man."

"Ya, Allah, Bu, Siman 'kan juga berusaha. Kemarin aku sudah keliling, tanya-tanya di proyek bangunan, di bengkel juga. Tapi belum ada yang pas." Raut Siman berubah muram. Setiap penolakan adalah tusukan baru pada harga dirinya yang sudah luruh.

Ia memikirkan mimpi semalam, sebuah gambaran kota megah yang disinari lampu-lampu. Di sana, Siman berdiri tegak, mengenakan pakaian rapi, dan bukan lagi orang yang kotor penuh debu. Mungkinkah itu sebuah pertanda? Atau sekadar angan kosong dari pikiran yang terlalu lelah berjuang?

"Ngapain juga mikir yang tinggi-tinggi, Man. Wong kamu lulus SMP saja untung-untungan," ucap Bapak Siman sambil memungut beberapa helai benang kusut di lantai. Tangannya berlumuran arang dan oli, tanda pengabdian seumur hidupnya sebagai kuli serabutan yang kini lebih sering tidak ada kerja.

Siman menunduk, hatinya pedih mendengar kalimat bapaknya yang memang adalah fakta yang menyakitkan. Kata-kata itu lebih tajam daripada bising rel, lebih pengap daripada asap diesel. Ia ingin membalas, menjelaskan, namun tahu tak ada gunanya. Realita hidup mereka tak mempan dibantah dengan ilusi mimpi. Lagipula, bapaknya juga benar. Masa SMP-nya penuh ejekan, tidak ada yang ingin berteman, bahkan saat itu Dina adalah penyebab utama dirinya selalu dijadikan bahan ejekan oleh teman-temannya.

Namun, di dasar hatinya, ia menyimpan kerinduan. Kerinduan untuk sekadar tidak malu disebut nama, untuk bisa menatap orang lain tanpa rasa ciut. Dulu ia ingin sekali punya cita-cita jadi sarjana. Mimpi yang begitu utopis bagi seorang Siman yang terhimpit oleh kemiskinan dan bayangan penggusuran.

"Sudahlah, sana. Bantu ibu goreng tempe." Ibu Siman memotong lamunan Siman dengan suara yang lebih lembut. Wanita itu mengusap puncak kepala Siman, sentuhan yang tak selalu Siman rasakan, yang menandakan perhatian meskipun dengan bahasa yang keras. "Nanti sekalian keliling bawa jualannya. Jangan pulang sebelum habis."

"Iya, Bu." Siman segera mengambil alih wajan dari ibunya, api di kompor gas sederhana yang sering sekali ngadat membuat ibunya sedikit kewalahan. Kehidupan sehari-hari mereka memang adalah pertarungan. Untuk sebungkus nasi, untuk sekeping uang receh, mereka harus bertarung di jalanan yang berdebu.

Usai menuntaskan gorengan, Siman meraih wadah berisi dagangan. Udara pagi terasa semakin berat, digelung oleh polusi kota dan desah keluh kehidupan di permukiman kumuh. Sebuah mobil angkot melintas pelan di jalan tanah di depan rumah mereka, mengepulkan debu yang menyelimuti segala yang ada. Beberapa anak tetangga sudah mulai berlarian, sementara para orang dewasa tampak sudah pasrah menatap hari. Tak ada yang luput dari lingkaran kemiskinan.

"Hati-hati, Nak. Jaga baik-baik itu daganganmu." Ibu Siman berdiri di ambang pintu, matanya mengikuti langkah kaki Siman. Raut wajahnya penuh kecemasan. Mungkin khawatir jualannya tidak laku, atau anaknya ditipu. Apalagi wajah Siman gampang dibohongi. Mungkin ibunya tahu ada trauma itu.

Siman mengangguk tanpa menoleh, rasa pedih di dadanya kini berganti dengan determinasi tipis. Ia akan menjual semua gorengan ini. Lalu apa? Ia tidak tahu. Satu hal yang Siman yakini, takdir tidak akan menguntungkan orang sepertinya.

Ketika ia berbelok di tikungan rel yang memanjang, langkah Siman tiba-tiba terhenti. Sebuah truk besar terparkir tak jauh dari rumahnya, dikelilingi oleh beberapa pria berseragam berwarna abu-abu yang mirip petugas PJKA yang pernah berkeliling beberapa waktu lalu. Tangan mereka memegang alat ukur, mata mereka menelusuri setiap petak tanah di dekat rel. Seorang dari mereka memegang kertas, berbicara dengan intonasi tinggi yang sarat kekuasaan.

Jantung Siman berdegup kencang, perasaannya tiba-tiba dicekam ketakutan. Mereka, para petugas itu, kembali lagi. Apakah ancaman penggusuran itu sekarang benar-benar akan terealisasi?

Salah satu petugas berambut klimis dan berkacamata hitam tebal itu menatap ke arahnya. Bukan Siman, melainkan arah rel yang terbentang lurus di samping rumahnya, menunjuk sebuah titik. Dengan nada datar yang menusuk ke tulang sumsum, pria itu berseru, "Tandai daerah ini. Besok atau lusa, daerah sini harus segera dibersihkan dari apa pun yang mengganggu pemandangan, apalagi penghuni ilegal seperti mereka."

Kecemasan Siman mendidih dalam dadanya, rasa perih akibat kalimat si petugas melesak masuk ke lubuk hatinya. Suara-suara yang baru saja ia dengar bergaung seperti petir di pagi buta. Ancaman penggusuran. Mereka kembali datang. Keringat dingin membasahi pelipisnya, meski udara masih sejuk, bahkan menusuk kulit. Sekujur tubuhnya terasa kaku, terpaku menatap mobil truk dan para petugas yang bergerak seolah dunia akan berakhir dalam hitungan detik. Benaknya membayangkan puing-puing rumah mereka, impian kecil yang mungkin tak sempat tumbuh, dan air mata ibunya. Sebuah gambaran yang membuatnya ingin berteriak, namun suaranya tak kuasa keluar.

***

1
Roynaldi Ananda
gak jadi nerusin bacanya kurang sip kelihatannya
Roynaldi Ananda
kok seperti pemaksaan alur cerita ini thor? gak wajib murni menanyakan soal cincin itu kecuali mc nya bawa motor atau mobil baru bisa ditanyakan dari mana asalnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!