NovelToon NovelToon
Huang Shen: Penguasa Seratus Alam

Huang Shen: Penguasa Seratus Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Action / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Di Alam Bawah Sembilan Langit, hanya satu hukum yang berlaku, yaitu yang kuat berkuasa, sedangkan yang lemah akan mati.

Seorang pemuda enam belas tahun membuktikannya setiap hari. Yatim piatu sejak Sekte Iblis membantai desanya empat tahun lalu, hidupnya kini hanya memungut ampas pil di selokan dan tidur di kolong jembatan. Setiap hari direndahkan, dipukuli, dianggap sampah oleh para kultivator.

Sampai suatu malam, ketika sekarat di selokan setelah dipukuli hampir mati, sebuah warisan kuno terbangun di dadanya.

Gerbang Iblis dalam Darah. Peninggalan dari 66.000 tahun lalu yang memberinya kemampuan mengerikan untuk menyerap darah musuh demi memulihkan luka dan menaikkan level kultivasi.

Dari pemulung jadi pemburu. Dari korban jadi ancaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Yang Tertinggal di Pagi Hari

Kabut hitam itu bergerak seperti sesuatu yang tahu bahwa hidupnya berakhir dan tidak rela menerimanya.

Keluar dari luka di dada bocah itu, berputar di atas tubuh yang sudah tidak bergerak, mencoba membentuk dirinya menjadi sesuatu yang cukup padat untuk melarikan diri. Ke kanan, lalu ke kiri, lalu naik ke atas seolah mengira langit adalah jalan keluarnya.

Huang Shen hanya cukup mengangkat tangannya.

Gerbang di dadanya sudah terbuka sejak Transformasi Darah Iblis aktif, tapi kali ini yang diminta darinya berbeda. Bukan darah manusia atau Qi dari udara. Ini lebih tua dari keduanya, dan Gerbang meresponnya dengan cara yang berbeda dari biasanya, seperti sesuatu yang sudah lama menunggu jenis makanan ini.

Alhasil kabut hitam itu tertarik.

Tidak seperti darah yang mengalir perlahan meresap ke pori-pori. Ini lebih seperti benang yang ditarik dari kain yang masih bergerak, satu helai lalu dua lalu semuanya sekaligus. Kabut itu berteriak, tapi suaranya tidak punya medium untuk bergerak karena bukan suara fisik. Yang Huang Shen dengar adalah getaran di dalam Gerbang, sesuatu yang bergumam dan menolak sampai tidak ada lagi yang bisa ditolak.

Sampai akhirnya habis.

“Darah iblis,” tukas suara dari dalam Gerbang, “Akan bermanfaat untuk pemulihanmu.”

Adapun tubuh bocah itu terbaring dengan satu tangannya menjulur ke samping, telapaknya menghadap ke atas. Rambutnya awut-awutan seperti ciri khasnya.

Adapun yang paling membuat Huang Shen berdiri diam selama beberapa detik adalah sudut bibir kiri bocah itu yang masih terangkat sedikit. Senyuman yang pertama kali muncul di balik pagar saat tangannya melambai ke arah Mu Qingxue.

Seolah yang terakhir tertinggal dari bocah itu setelah semua yang lain sudah pergi adalah senyumannya.

Huang Shen memalingkan pandangannya. Efek samping dari kekuatannya datang tidak terlalu lama setelah Gerbang menutup kembali.

Parahnya itu datang sekaligus seperti seseorang membuka pintu air yang sudah ditahan terlalu lama. Urat-urat merah di kulitnya yang tadi menyala pekat mulai meredup. Setiap pembuluh yang kembali ke warna normal membawa serta rasa panas yang berbeda dari panas kultivasi biasa karena ini lebih dalam, sampai ke lapisan di bawah kulit, di bawah otot, di suatu tempat yang tidak punya nama anatomi yang tepat.

Kemudian darah mulai mengalir dari hidungnya.

Huang Shen merasakannya sebelum melihatnya. Hangat di atas bibir atas, lalu turun ke dagu. Dia tidak mengusapnya. Tenaganya sedang dipakai untuk hal yang lebih mendasar dari menjaga penampilan.

Seperti berdiri.

Lututnya melemah satu per satu, dan sebelum dia memutuskan apakah akan melawannya atau tidak, tubuhnya sudah di tanah. Berlutut di samping tubuh bocah itu, tangan kirinya menekan tanah untuk menopang, kepalanya menunduk karena otot lehernya sedang bernegosiasi ulang dengan gravitasi.

Sampai akhirnya dia berdiri juga.

Tangannya turun ke bawah bahu bocah itu, yang lain ke bawah lututnya. Tubuh empat belas tahun yang sudah tidak punya isi di dalamnya terasa lebih ringan dari yang seharusnya.

Tatkala langkah pertamanya keluar dari kebun jagung, batang-batang yang patah di sekitar tempat pertarungan tadi berderak di bawah kakinya. Langkah kedua lebih stabil dari pertama. Langkah ketiga masih terasa seperti membawa beban dua kali bobot normal meski tubuh bocah itu ringan.

Harga dari Transformasi Darah Iblis bukan hanya rasa sakit. Ini juga kelelahan yang turun sampai ke lapisan terdalam, seperti sesuatu yang diambil dari cadangan yang seharusnya tidak boleh disentuh.

Kendati demikian, dia terus berjalan, sampai rumah kayu itu terlihat dari ujung kebun jagung. Penerangannya masih menyala di dalam, cahayanya kuning hangat yang menembus jendela dan pintu yang terbuka sedikit. Di ambang pintu, siluet seseorang berdiri.

Mu Qingxue tidak masuk ke dalam meski malam sudah hampir habis. Dia berdiri di sana dengan selimut yang masih menggantung di bahunya, matanya merah di tepinya, wajahnya pucat dengan cara yang tidak bisa disembunyikan di bawah cahaya yang bocor dari dalam.

Manakala Huang Shen memasuki halaman depan, dia tidak bergerak. Matanya mengikuti langkahnya, lalu turun ke tubuh yang ada di pelukannya.

Tidak ada teriakan, apalagi gerakan mundur. Qingxue hanya memandanginya, lalu matanya kembali ke wajah Huang Shen.

“Apa kau terluka?” tanya Mu Qingxue.

“Tidak lama lagi akan pulih,” jawab Huang Shen. “Aku hanya perlu beristirahat sebentar.”

Dia melangkah ke beranda, membawa tubuh bocah itu ke kursi kayu di sudut teras, dan meletakkannya dengan hati-hati. Senyum kecil di sudut bibir bocah itu masih ada, menghadap ke langit yang mulai memperlihatkan garis jingga di timur.

“Kubur dia besok,” tutur Huang Shen. “Di bawah pohon persik. Dia suka di sana.”

Mu Qingxue tidak menjawab dan Huang Shen berbalik untuk masuk ke rumah, tapi langkah pertamanya tidak sekokoh yang dia inginkan. Tangannya menyentuh kusen pintu untuk menopang.

Beruntung Mu Qingxue berdiri di sampingnya tanpa dia dengar langkahnya mendekat. Kedua tangannya menggenggam tangan kanannya, jari-jarinya yang hangat melingkari kulit Huang Shen yang masih belum kembali ke suhu normalnya.

“Kau dingin sekali,” gumamnya sambil menuntun Huang Shen masuk.

1
black_rose
Thor mau nanya levelnya kok gk ditampil?
black_rose: makasih Thor
total 2 replies
Tonton Sitohang
lanjutkan updet terus mase. mantap jiwa
DanaBrekker: Terima kasih atas dukungannya 👍
total 1 replies
Kecoa Laut
apakah ini tipe cerita yang mc-nya langsung op?
DanaBrekker: tipe Xianxia gelap dan tokoh utamanya memang op sejak awal, kelanjutannya belum tentu 😄
total 1 replies
Bg Gofar
manteb gan
DanaBrekker: Terima kasih 👍
total 1 replies
MuhFaza
menariknya novel ini sejauh yang aku baca ada sisi gelap dari fantasi timur, malah lebih mirip genre horor menurutku
Kecoa Laut: horor dengan bumbu ehem2 lebih tepatnya 🤭
total 2 replies
YunArdiYasha
coba baca karya bru. semangat
DanaBrekker: Terima kasih semoga menghibur 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!