“Eh, Jing! Sini lu!”
“Apaan sih, Sin? Dasar Sinting!”
Di kantor, Jingga dan Sinta adalah musuh bebuyutan yang hobi cakar-cakaran. Namun di balik meja kerja, mereka menyimpan satu rahasia besar: Sebuah Buku Nikah.
Terjebak perjodohan kolot, mereka terpaksa menikah secara rahasia dengan tiga aturan maut:
Tetap jadi musuh di kantor.
Jangan campuri urusan kekasih masing-masing.
Dilarang jatuh cinta!
Sanggupkah mereka menjaga rahasia saat cemburu mulai terasa lebih nyata daripada sekadar kontrak di atas kertas?
"Pernikahan ini cuma bisnis, tapi kok gue pengen pecat pacar lu sekarang juga, ya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TATAPAN ANEH DI KANTOR
Gedung perkantoran Sudirman yang menjulang tinggi itu selalu terasa seperti arena gladiator bagi Sinta. Namun pagi ini, udara di dalam lift terasa jauh lebih menyesakkan. Di sebelahnya, berdiri seorang pria dengan setelan jas abu-abu yang disetrika sangat rapi—hasil jerih payah pria itu sendiri setelah insiden jemuran semalam—yang tak lain adalah Jingga.
Mereka berdiri bersisihan, namun jarak di antara mereka terasa seperti bentangan Samudra Pasifik. Sinta sibuk mematut diri di dinding lift yang mengilap, sementara Jingga berpura-pura sangat sibuk memeriksa jam tangannya setiap lima detik.
Begitu pintu lift terbuka di lantai 15, Sinta melangkah keluar lebih dulu dengan tumit sepatu hak tingginya yang berbunyi klak-klik penuh percaya diri. Jingga menyusul beberapa detik kemudian, memastikan ada jeda waktu yang cukup agar orang-orang tidak mengira mereka berangkat bersama.
“Pagi, Sinta!” sapa sebuah suara bariton yang lembut.
Sinta langsung mengubah raut wajahnya. Wajah ‘garang’ yang tadi dia gunakan untuk menatap Jingga di mobil, kini berubah menjadi senyum manis nan ayu. “Pagi, Mas Adrian,” jawabnya manja.
Adrian, sang manajer divisi sekaligus kekasih Sinta, berdiri di depan meja kerjanya dengan segelas kopi mahal di tangan. Pria itu tampak sempurna dengan kemeja slim-fit putih yang memamerkan tubuh atletisnya.
Jingga, yang baru saja melewati meja mereka, mendengus pelan—suara yang hanya bisa didengar oleh Sinta. Sinta melirik tajam ke arah Jingga lewat ekor matanya, memberi kode ‘Diam lu, Anjing!’ lewat tatapan mata.
Jingga tidak peduli. Dia berjalan menuju kubikelnya sendiri yang hanya berjarak tiga meter dari meja Sinta. Di sana, seorang wanita cantik dengan rambut sebahu yang dicat cokelat madu sudah menunggunya dengan senyum lebar.
“Jingga! Kamu udah datang?” Luna, sahabat sekaligus kekasih Jingga, menyapa dengan riang.
“Hai, Lun. Udah dari tadi?” Jingga meletakkan tasnya dan langsung memberikan senyum terbaiknya—senyum yang menurut Sinta sangat menjijikkan karena terlihat sangat dibuat-buat.
“Baru aja. Oh iya, aku bawain kamu sarapan sandwich buatan Mama. Kamu pasti belum sarapan, kan?” Luna menyodorkan sebuah kotak bekal berwarna biru.
Jingga tertawa kecil, suara tawa yang sengaja dikeraskan agar terdengar sampai ke meja Sinta. “Wah, tahu aja aku lagi laper. Makasih ya, Lun. Kamu emang paling pengertian, nggak kayak... orang lain yang cuma tahu cara bikin keributan pagi-pagi.”
Sinta yang mendengar itu hampir saja mematahkan pulpen di tangannya. Sialan si Jingga! Nyindir gue ya lu?! batinnya berteriak.
“Sinta? Kamu kenapa?” tanya Adrian lembut, menyadari perubahan ekspresi kekasihnya.
“Eh, nggak apa-apa, Mas. Cuma... agak pusing dikit tadi malam kurang tidur,” dusta Sinta sambil memberikan senyum paling lemah lembut yang dia punya.
“Kurang tidur? Kamu ngerjain revisi laporan yang aku kasih kemarin ya? Maaf ya, aku nggak maksud bikin kamu lembur,” ucap Adrian penuh penyesalan. Dia kemudian duduk di pinggir meja Sinta, membuka sebuah kotak plastik berisi potongan buah mangga yang segar. “Nih, makan dulu. Biar seger. Aku suapi ya?”
Sinta terbelalak. Dia melirik ke arah Jingga. Benar saja, Jingga sedang menatap ke arah mereka dengan mata membelalak dan mulut yang sedikit terbuka. Ada rasa puas di hati Sinta melihat wajah kaget musuhnya itu.
“Aaaa...” Adrian menyodorkan sepotong mangga dengan garpu kecil ke arah mulut Sinta.
Sinta dengan sengaja membuka mulutnya lebar-lebar, memakan mangga itu sambil tetap menatap Jingga dengan tatapan kemenangan. Lihat nih, suami kontrak! Gue disuapi bos besar, lu cuma dapet sandwich basi!
Di seberang sana, Jingga merasa dadanya seperti baru saja disiram air mendidih. Dia tidak tahu kenapa dia merasa sangat panas melihat pemandangan itu. Bukannya dia benci Sinta? Bukannya dia ingin Sinta segera pergi dari hidupnya? Tapi melihat Adrian menyuapi istrinya—oke, istri rahasianya—membuat Jingga ingin melempar kotak bekal Luna ke arah kepala manajer itu.
“Jing? Kamu kok bengong?” Luna menyentuh lengan Jingga pelan.
Jingga tersentak. “Hah? Enggak, Lun. Itu... aku cuma heran aja, di kantor kok ada yang pacaran nggak tahu tempat gitu. Nggak profesional banget, kan?”
Luna menoleh ke arah Sinta dan Adrian, lalu tertawa kecil. “Ah, mereka kan emang udah lama pacaran, Jing. Wajar aja sih. Lagian Adrian kan manajernya Sinta, nggak ada yang berani negur juga.”
“Tapi tetep aja, Lun. Itu... itu merusak pemandangan!” gerutu Jingga.
Sepanjang pagi itu, suasana di kantor terasa sangat aneh. Jingga tidak bisa fokus pada pekerjaannya. Setiap kali dia mendengar tawa Sinta atau suara Adrian yang memanggil Sinta dengan sebutan ‘Sayang’, hatinya bergejolak.
Untuk membalas dendam, Jingga sengaja bersikap lebih akrab dengan Luna. Dia tertawa lebih keras, menarik kursi Luna lebih dekat ke arahnya, dan bahkan membiarkan Luna merapikan rambutnya di depan semua orang.
“Lun, nanti makan siang bareng ya? Aku yang traktir,” ucap Jingga dengan volume suara yang cukup untuk didengar sampai ke lantai bawah.
“Tentu! Aku mau makan ramen di tempat baru itu ya?” sahut Luna senang.
Sinta yang sedang mengetik laporan, tanpa sadar menekan tombol backspace berkali-kali sampai satu paragraf tulisannya hilang. Dia merasa telinganya panas. Si Jingga bener-bener ya! Pamer banget sama si Luna. Mentang-mentang Luna cantik dan kalem, dia pikir dia menang?!
Konflik memuncak saat jam istirahat makan siang hampir tiba. Sinta sedang berjalan menuju pantry untuk mengambil air minum ketika dia berpapasan dengan Jingga di lorong sempit dekat ruang fotokopi. Tidak ada orang lain di sana.
“Puas lu pamer kemesraan sama Luna?” desis Sinta saat jarak mereka cukup dekat.
Jingga berhenti melangkah, menyandarkan bahunya ke dinding lorong dengan gaya angkuh. “Puas dong. Daripada lu, disuapi buah kayak monyet di kebun binatang. Lu nggak malu dilihatin anak-anak kantor?”
“Monyet?! Lu bilang gue monyet?!” Sinta maju satu langkah, menatap tajam mata Jingga. “Adrian itu romantis, nggak kayak lu yang cuma tahu cara ngomel soal remah roti!”
“Romantis? Lu yakin dia romantis? Dia cuma kasihan sama lu karena lu kelihatan kayak cewek kurang gizi yang nggak diurus suaminya!”
“Jingga! Jaga mulut lu!” Sinta mengangkat tangannya, ingin mencubit lengan Jingga seperti yang dia lakukan di balkon kemarin.
“Apa?! Mau nyubit lagi? Hati-hati, Sin. Kalau ada yang lewat dan lihat kita begini, mereka bakal mikir kita lagi selingkuh,” bisik Jingga sambil mendekatkan wajahnya ke telinga Sinta. “Atau lebih parah lagi... mereka bakal tahu kalau kita ini suami istri yang hobi berantem.”
Sinta terdiam, napasnya terasa berat. Jarak yang sangat dekat ini membuatnya bisa mencium aroma parfum maskulin Jingga—parfum yang sama yang selalu memenuhi kamar mandi mereka setiap pagi. Aroma itu mendadak membuatnya bingung.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah lift.
“Sinta? Kamu di sana?” Itu suara Adrian.
Sinta langsung mendorong dada Jingga dengan kuat, membuat pria itu hampir terjungkal ke mesin fotokopi. Dia segera merapikan bajunya dan berteriak, “Iya, Mas! Aku lagi... lagi ngecek kertas fotokopi yang macet!”
Jingga hanya bisa mengumpal dalam hati sambil merapikan jasnya yang sedikit kusut. Dia segera meloyor pergi lewat pintu darurat sebelum Adrian melihatnya.
Di dalam tangga darurat, Jingga bersandar di pintu sambil memegangi dadanya. Jantungnya berdegup sangat kencang. Bukan karena takut ketahuan, tapi karena ada sesuatu yang salah dengan perasaannya.
“Sial. Gue kenapa sih?” gumam Jingga pada kegelapan tangga darurat. “Kenapa gue jadi emosian tiap kali lihat si Sinting itu sama bos Adrian? Gue kan sayang sama Luna... iya, gue sayang sama Luna.”
Jingga mencoba meyakinkan dirinya sendiri, namun bayangan Sinta yang sedang tertawa manis bersama Adrian terus menghantui pikirannya.
Sementara itu, di meja kerjanya, Sinta juga tidak tenang. Dia menatap layar komputernya tanpa melihat apa pun. Sentuhan tangan Jingga di bahunya saat di lorong tadi seolah masih tertinggal di sana. Ada perasaan aneh yang bergejolak—perasaan yang tidak pernah dia rasakan saat bersama Adrian.
“Enggak, enggak. Gue cinta sama Adrian. Dia mapan, dia ganteng, dia manajer,” gumam Sinta pelan. “Si Jingga itu cuma musuh. Cuma partner nikah paksa yang menyebalkan.”
Namun, saat matanya kembali bertemu dengan mata Jingga dari kejauhan kubikel, ada tatapan aneh yang saling bertautan selama beberapa detik. Sebuah tatapan yang penuh amarah, namun di dalamnya tersimpan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kebencian.
Sesuatu yang mereka berdua belum berani beri nama.
Hari itu, suasana kantor divisi pemasaran tidak pernah sama lagi. Di permukaan, semuanya terlihat normal: Jingga dengan Luna, Sinta dengan Adrian. Namun di bawah permukaan, ada api kecil yang mulai menyala, siap membakar habis kontrak pernikahan rahasia yang mereka buat.
Dan puncaknya akan terjadi malam ini, saat jemuran di balkon kembali menjadi saksi bisu pertengkaran mereka yang semakin... pribadi.