NovelToon NovelToon
Sahabat Jadi Suamiku.

Sahabat Jadi Suamiku.

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: erinaCalistaAzahra

Raia dan Arlan adalah dua kutub yang tak terpisahkan sejak kecil. Tumbuh besar berdampingan, rahasia mereka tersimpan di bawah pohon mangga belakang rumah dan di dalam kotak bekal yang selalu mereka bagi. Bagi Raia, Arlan adalah pelindung sekaligus pengganggu nomor satu. Namun, bagi Arlan, Raia adalah satu-satunya alasan ia selalu ingin pulang.
Garis persahabatan mulai kabur saat kedewasaan menyapa. Ketakutan akan merusak kenyamanan membuat keduanya memilih bungkam, menyimpan perasaan masing-masing di balik candaan kasar dan perhatian kecil yang tersirat.
Puncaknya, sebuah perpisahan besar harus terjadi. Arlan memutuskan mengejar mimpi dan kariernya ke Jerman, meninggalkan Raia dengan sebuah kalung perak dan janji yang menggantung di bandara. Jarak sepuluh ribu kilometer dan perbedaan zona waktu menjadi ujian sesungguhnya. Di Jakarta, Raia harus belajar berdiri sendiri sambil menepis godaan pria lain yang menawarkan kepastian, sementara di Munich, Arlan berjuang keras demi masa depan y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tanpa kabar

Satu tahun pertama, ponsel Raia selalu ramai. Foto-foto Arlan di depan Gerbang Brandenburg atau cerita tentang dinginnya musim salju di Berlin mengisi hari-hari Raia. Mereka masih tertawa lewat panggilan video, seolah jarak ribuan kilometer hanyalah angka.

Namun, memasuki tahun kedua, balasan Arlan mulai melambat. Dari hitungan jam menjadi hari, lalu minggu, hingga akhirnya... sunyi.

Raia menatap gantungan kunci bola dunia pemberian Arlan yang kini sudah sedikit lecet. "Sibuk banget ya, Lan?" bisiknya pada ruang hampa. Ia mencoba berpikiran positif; mungkin tugas kuliah yang menumpuk atau kerja paruh waktu telah menyita seluruh waktu sahabatnya itu.

Bulan berganti tahun. Pesan terakhir Raia yang dikirim enam bulan lalu masih menyisakan tanda centang abu-abu—tak terbaca, apalagi terbalas. Arlan seolah ditelan bumi. Media sosialnya pun membeku; tidak ada unggahan baru, tidak ada tanda-tanda kehidupan.

Raia merasa kehilangan, bukan karena jarak, tapi karena ketidaktahuan. Apakah Arlan baik-baik saja? Apakah ia sudah menemukan lingkungan baru yang membuatnya lupa pada masa kecil mereka di gang sempit desa?

Suatu sore, saat Raia sedang merapikan gudang, ia menemukan sebuah kotak sepatu tua berisi koleksi kelereng dan pesawat kertas yang pernah mereka buat. Di sana, ia sadar: persahabatan terkadang seperti layang-layang. Ada saatnya benang itu terputus bukan karena keinginan kita, tapi karena angin yang terlalu kencang.

Raia menghela napas, menutup kotak itu, dan berbisik pelan, "Ke mana pun kamu pergi, Arlan, semoga diammu itu karena kamu sedang bahagia."

******

Kesibukan kuliah di negeri orang ternyata menjadi tembok yang lebih tinggi dari yang Raia bayangkan. Setiap kali Raia bertanya pada ibunda Arlan di desa, jawabannya selalu sama: "Arlan sedang fokus, Raia. Katanya proyek akhirnya sangat berat, dia jarang pegang ponsel."

Hanya Kabar Angin

Alasan "sibuk kuliah" itu awalnya bisa Raia terima. Ia membayangkan Arlan yang sedang berkutat dengan buku-buku tebal atau lembur di laboratorium hingga larut malam. Namun, seiring berjalannya waktu, alasan itu terasa makin tawar.

"Sesibuk itukah sampai tidak bisa mengirim satu baris pesan?" gumam Raia sambil menatap layar ponselnya yang redup.

Raia mulai terbiasa melewati hari tanpa notifikasi dari Arlan. Ia mencoba menyibukkan diri dengan pekerjaannya sendiri, namun bayangan sahabat kecilnya itu selalu muncul saat ia melihat penjual buah seri atau pesawat terbang di langit.

Pernah suatu kali, Raia nekat mengirim pesan panjang: "Lan, sesukses apa pun kamu di sana, aku cuma ingin tahu kamu sehat. Itu saja."

Pesan itu tetap tak berbalas. Arlan seolah-olah sedang membangun dunianya sendiri yang tidak lagi menyisakan ruang untuk Raia. Kesibukan Arlan telah menjadi jarak yang lebih nyata daripada ribuan kilometer antara Indonesia dan luar negeri. Raia pun mulai belajar untuk berdamai dengan sunyi, meski jauh di lubuk hatinya, ia masih menyimpan tanya yang belum terjawab.

Hingga musim berganti berkali-kali, kabar dari Arlan tetap menjadi teka-teki yang tak kunjung terpecahkan. Alasan "sibuk kuliah" yang awalnya terdengar masuk akal, kini terasa seperti dinding beton yang memisahkan dunia mereka.

Raia mulai berhenti memeriksa ponselnya setiap bangun tidur. Harapan yang dulu meluap-luap kini mengendap menjadi tumpukan kekecewaan yang tenang. Ia tidak lagi bertanya pada ibu Arlan, karena ia tahu jawabannya akan tetap sama—sebuah ketidaktahuan yang dibungkus kata "sibuk".

Suatu sore, Raia duduk di kafe favorit mereka dulu. Ia melihat sekelompok mahasiswa yang tertawa sambil mengerjakan tugas. Ia membayangkan Arlan di sana, di sebuah perpustakaan megah di luar negeri, mungkin sedang tertawa dengan teman-teman barunya, atau mungkin sedang tenggelam dalam tumpukan cetak biru arsitektur hingga lupa waktu, lupa rumah, dan lupa pada Raia.

"Mungkin dunianya sudah terlalu luas untuk sekadar menyapa teman kecilnya," gumam Raia pelan.

Raia tidak lagi merasa marah, hanya ada rasa hampa yang aneh. Ia mulai menyadari bahwa dalam pendewasaan, ada orang-orang yang memilih untuk memutus tali masa lalu agar bisa berlari lebih kencang ke masa depan. Arlan memilih jalan itu, dan Raia dipaksa untuk menerimanya tanpa sepatah kata pamit yang layak.

Gantungan kunci bola dunia itu kini tersimpan rapat di dalam laci paling bawah. Raia memutuskan untuk berhenti mengirim pesan. Baginya, diamnya Arlan adalah sebuah jawaban—bahwa bab cerita mereka telah selesai, bahkan sebelum Arlan sempat mengucapkan selamat tinggal secara resmi.

*****"

Karena rasa penasaran yang sudah di ujung tanduk, Raia akhirnya memberanikan diri untuk datang langsung ke rumah ibu Arlan. Ia membawa sekotak martabak manis kesukaan Arlan dulu, berharap suasana akan lebih cair.

Ibu Arlan menyambut Raia dengan senyum yang sedikit layu. Mereka duduk di teras, tempat yang dulu sering menjadi saksi bisu Raia dan Arlan mengerjakan tugas kelompok.

"Bu, Arlan... apa benar-benar tidak ada kabar terbaru? Pesan saya sudah berbulan-bulan tidak dibaca," tanya Raia pelan, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar.

Ibu Arlan menghela napas panjang, tatapannya kosong menatap jalanan depan rumah. "Tadi malam dia telepon sebentar sekali, Ra. Katanya dia sedang fokus untuk ujian akhirnya. Dia bilang, 'Bu, sampaikan maaf ke teman-teman, Arlan harus putus kontak dulu supaya tidak terganggu pikirannya'."

"Cuma itu, Bu?" Raia mendesak. "Tidak ada pesan khusus buat saya?"

Ibu Arlan menggeleng lemah sambil mengusap bahu Raia. "Dia cuma bilang dia sibuk sekali, Ra. Ibu sendiri saja kadang hanya bicara dua menit. Dia seperti... seperti orang yang sedang dikejar sesuatu. Katanya, kalau sudah sukses nanti, baru dia akan bicara lagi."

Raia terdiam. Jawaban itu terasa seperti tamparan halus. "Sibuk kuliah" ternyata menjadi alasan yang sangat efektif untuk membangun tembok. Raia merasa seolah-olah ia adalah gangguan, sebuah distraksi dari masa lalu yang harus Arlan singkirkan demi masa depan yang gemilang di luar negeri.

Raia pamit pulang dengan perasaan yang lebih berat dari saat ia datang. Di perjalanan, ia menyadari satu hal: Arlan tidak hilang, dia hanya memilih untuk tidak ditemukan.

Dia , Arlan , bisa mengirimkan pesan untuk ibunya , walaupun hanya satu kata , sedangkan Aku ? , tidak sama sekali, padahal aku juga ingin di berikan kabar olehnya , sekarang waktunya aku harus benar-benar bisa berjalan sendiri tanpa Arlan Lagi , Toh , dia saja tidak peduli kepadaku lagi , jadi buat apa Aku perdulikan dia lihat saja , jika dia kembali , aku tidak akan pernah mau melihat wajahnya ataupun mengobrol dengannya , enak saja dia mengabaikanku begitu saja.

" kenapa mukamu begitu sedih , Ra ,? Tanya ibuku.

" Tadi aku habis ke rumah Arlan Bu , untuk menanyakan kepada ibu Arlan , jika Arlan ada kabar " jawabku.

" terus , apa yang di katakan ibu Arlan , Ra " kata ibuku .

" katanya dia sibuk kuliah , cuma itu saja Bu " lirihku.

" yasudah, sekarang kamu sudah tahukan dia sibuk kuliah " gumang ibuku.

rasanya begini jalani hari hari tanpa seseorang yang kamu sudah anggap rumah/ Kakak.

1
Tamirah Spd
Kenapa Arlan menyalahkan Raia dgn laki laki lain selama diluar negeri gak ada komunikasi dgn alasan sibuk kuliah.Tiba tiba jadi atasan dan tiba tiba dia bantu kesembuhan Ayah Raia dan Pendidikan, dimana alur cerita nya Thor....????
Heni Ratna
Hubungan Raia dan Bagus,apa kabar?semakin penasaran dengan konfliknya
Tamirah Spd
Cerita nya masih datar belummm ada konflik lanjut Thor.
Tamirah Spd
Sahabat tapi mesra lanjut Thor belum tahu alur cerita nya masih mukadimah.
Ganendra Dimitri
kok q jadi tambah bingung ma ceritanya thor
Heni Ratna: anda tidak sendirian,,,sy jg demikian lini masa nya yg agak bias,,,tapi tetap penasaran dengan kelanjutan konfliknya
total 3 replies
Alfina Rosa
Seperti.a cerita.a bagus, aku terusin baca.a ea thour...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!