lanjutkan seorang gadis cantik baru lulus dan sedang mencari kerja dan menemukan masalah karena orangtuanya berhutang dengan lintah darat namun ada bos muda yang membantunya namun bos itu jatuh hati kepadanya gadis cantik itu bernama Mira dan bos besar grup Nusantara itu Romano Kusuma dan ia menginginkan gadis cantik itu dan mengejaran dimulai ...... lanjutkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 1
Ketegangan mulai memuncak saat Romano Kusuma, pria yang biasanya hanya muncul di sampul majalah bisnis dengan tatapan dinginnya, kini berdiri tepat di depan teras rumah Mira yang sederhana.
Berikut adalah kelanjutan kisahnya:
Pengejaran Sang Penguasa Nusantara
Mira baru saja selesai menangis setelah lintah darat menggedor pintunya pagi tadi, mengancam akan menyita rumah satu-satunya peninggalan orang tuanya. Hutang yang awalnya hanya belasan juta, membengkak menjadi ratusan juta karena bunga yang mencekik.
Tiba-tiba, sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti. Romano Kusuma turun dengan setelan jas seharga ratusan juta rupiah yang tampak kontras dengan lingkungan kumuh tersebut.
Penyelamatan yang Berbayar
Tanpa banyak bicara, Romano memberikan isyarat kepada asistennya untuk melunasi seluruh hutang orang tua Mira di depan mata sang lintah darat.
> "Mulai detik ini, keluarga ini tidak berhutang satu rupiah pun padamu," suara Romano berat dan penuh otoritas. "Mereka berhutang padaku."
>
Mira terpaku. Ia merasa lega, namun bulu kuduknya meremang. Ia tahu tidak ada makan siang gratis dari pria sekelas Romano.
Tawaran yang Tidak Bisa Ditolak
"Aku tidak butuh uangmu, Mira," ucap Romano sambil melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Mira bisa mencium aroma parfum maskulin yang mahal. "Aku butuh asisten pribadi yang bisa siaga 24 jam di sampingku. Dan aku hanya menginginkanmu."
Mira, yang baru saja lulus kuliah dan belum memiliki pengalaman kerja, merasa terjebak. Ia tahu posisi "Asisten Pribadi" bagi Romano mungkin berarti jauh lebih banyak dari sekadar mengatur jadwal rapat.
Dimulainya Permainan Kucing dan Tikus
Pengejaran pun dimulai. Romano tidak menggunakan kekerasan, melainkan pesona dan kekuasaannya:
* Kejutan di Kantor: Setiap pagi, meja kerja Mira di kantor pusat Grup Nusantara dipenuhi bunga lili putih favoritnya.
* Perlindungan Berlebih: Romano memastikan tidak ada pria lain di kantor yang berani mendekati atau bahkan menatap Mira terlalu lama.
* Intimidasi Lembut: Romano sering memanggil Mira ke ruangannya hanya untuk menemaninya minum kopi, sambil menatapnya dengan intensitas yang membuat jantung Mira berdebar tak karuan.
Konflik Batin Mira
Mira terjepit di antara rasa syukur karena Romano telah menyelamatkan keluarganya, dan rasa takut akan intensitas perasaan pria itu. Romano adalah sosok yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan, dan sekarang, target utamanya adalah hati (dan hidup) Mira.
> "Kau bisa lari ke mana saja, Mira. Tapi ingat, seluruh gedung di kota ini seolah punya mata yang melapor padaku," bisik Romano suatu malam saat mengantar Mira pulang.
>
"Duduklah, Mira. Aku tidak menggigit, kecuali jika kau memintanya," ucap Romano sambil menyesap kopi hitamnya tanpa melepas pandangan dari gadis di depannya.
Mira meremas ujung rok kerjanya, berusaha menjaga jarak aman dari meja jati besar milik sang CEO. "Pak Romano, saya sudah menandatangani kontrak kerja. Saya akan bekerja keras untuk melunasi hutang itu. Tapi, apa harus ada pengawal yang mengikuti saya sampai ke toilet?"
Romano terkekeh pelan, sebuah suara bariton yang terdengar berbahaya sekaligus seksi. Ia berdiri, berjalan perlahan mengitari mejanya hingga kini ia bersandar di depan Mira.
"Dunia ini tidak aman untuk aset berharga milik Nusantara, terutama aset yang sangat cantik sepertimu. Lintah darat itu mungkin sudah pergi, tapi banyak serigala lain yang mengincarmu."
"Saya bukan aset, Pak. Saya karyawan," koreksi Mira dengan sisa keberaniannya.
"Di mataku, kau adalah segalanya yang ingin kumiliki sejak pertama kali aku melihatmu di acara wisuda itu. Kau pikir aku kebetulan lewat di depan rumahmu saat penagih hutang itu datang?" Romano memajukan wajahnya, membuat Mira bisa merasakan deru napas pria itu di keningnya.
Mira terbelalak. "Jadi... Anda sudah mengawasi saya sejak lama?"
"Pengejaran yang sukses membutuhkan persiapan yang matang, sayangku," bisik Romano lembut, jemarinya kini berani menyentuh sehelai rambut Mira yang terjatuh. "Sekarang, kau punya dua pilihan untuk makan malam ini. Ikut denganku ke restoran favoritku, atau aku yang akan memesan makanan dan kita makan berdua saja di dalam ruangan ini. Terkunci. Hanya kita."
Mira menelan ludah. Ia tahu, ke mana pun ia melangkah, bayangan Romano Kusuma sudah lebih dulu sampai di sana. "Apakah saya punya pilihan ketiga?"
"Ada," jawab Romano dengan senyum miring yang penuh kemenangan. "Pilihan ketiga adalah kau berhenti memanggilku 'Pak' dan mulai membiasakan diri dengan panggilanku yang sebenarnya saat kita sedang berdua."
"Pilihan ketiga adalah kau berhenti memanggilku 'Pak' dan mulai membiasakan diri dengan panggilanku yang sebenarnya saat kita sedang berdua."
Mira terdiam sejenak, mencoba mengatur napasnya yang mulai tidak beraturan. "Jika saya melakukannya, apakah pengawasan di depan rumah saya akan ditarik? Saya merasa seperti tahanan, bukan karyawan."
Romano justru tertawa pelan, suara yang rendah dan penuh kepuasan. Ia bergerak satu langkah lebih dekat, hingga ujung sepatu kulitnya yang mengkilap bersentuhan dengan sepatu hak tinggi milik Mira. "Keamananmu adalah prioritas utama Grup Nusantara sekarang. Jadi, jawabannya adalah tidak. Pengawalan itu tetap ada, tapi aku bisa memerintahkan mereka untuk lebih... tidak terlihat."
"Itu sama saja," gumam Mira, memalingkan wajahnya.
Jari telunjuk Romano bergerak pelan, menyentuh dagu Mira dan memaksanya untuk kembali menatap mata tajam pria itu. "Jangan keras kepala, Mira. Kau baru saja lulus, dunia kerja itu kejam, dan dunia utang piutang jauh lebih kejam. Aku hanya ingin memastikan tidak ada yang menyentuh apa yang sudah menjadi milikku."
"Saya belum menjadi milik siapa pun," tegas Mira, meski suaranya sedikit bergetar.
"Belum," Romano mengulang kata itu dengan nada provokatif. "Tapi lihatlah dirimu. Kau berada di kantorku, ayahmu bebas dari ancaman penjara karena uangku, dan kau sedang terjebak di antara meja ini dan tubuhku. Seberapa jauh kau pikir kau bisa lari?"
Mira mengepalkan tangannya di samping tubuh. "Apa yang sebenarnya Anda inginkan? Jika ini hanya tentang uang, saya akan mencicilnya setiap bulan dari gaji saya. Saya tidak butuh perlakuan khusus seperti ini."
"Uang hanyalah alat, Mira. Yang kuinginkan adalah kepatuhanmu... dan mungkin, sedikit kasih sayang yang tulus," Romano berbisik tepat di telinga Mira, membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Sekarang, ganti pakaianmu. Gaun yang kukirim ke ruanganmu pagi tadi sudah menunggumu. Kita akan makan malam di luar, dan aku tidak menerima penolakan."
Romano melangkah mundur, memberinya ruang untuk bernapas, namun tatapannya tetap mengunci Mira dengan posesif. "Satu hal lagi. Panggil namaku. Sekali saja, sebelum kau keluar dari pintu itu."
Mira menggigit bibir bawahnya, ragu sejenak sebelum akhirnya bersuara sangat pelan. "Baik... Romano."
"Pintar," ucap Romano dengan senyum kemenangan yang membuat Mira sadar bahwa pengejaran ini baru saja dimulai.