Nomella Kamiyama, mahasiswi pindahan dari New York, tiba di California dengan satu misi: mempertahankan kesempurnaan hidupnya—mulai dari penampilan, kecerdasan, hingga kontrol diri yang absolut.
Namun, panggung sempurnanya terusik oleh kehadiran Zeus Sterling, pria paling populer di kampus yang dikenal sangat hangat, narsis, dan gemar menebar pesona.
Di mata Nomella, Zeus hanyalah gangguan visual yang "sok ganteng," sementara bagi Zeus, Nomella adalah tantangan bagi egonya yang setinggi langit.
Namun, di balik senyum menawan dan keramahan yang luar biasa, Zeus menyimpan rahasia kelam. Ia adalah pria yang aslinya dingin dan hancur, yang kini hidup dalam "identitas" kakaknya, Zayn, yang tewas dalam kecelakaan balap tragis. Zeus menolak semua wanita dan hanya ingin langsung menikah, sebuah bentuk duka ekstrem yang ia jalani demi memenuhi ekspektasi orang tuanya dan dunia.
Ketegangan memuncak saat Nomella mulai membongkar topeng Zeus, memicu sisi gelap sang pria yang berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ambang Batas
Lampu lorong apartemen mewah di Santa Monica itu berpijar temaram, namun suasana di depan pintu unit 12-B terasa seperti medan magnet yang siap meledak.
Saat pintu baja itu berayun terbuka, Zeus Sterling bahkan belum sempat mengeluarkan sindiran tajamnya yang sudah disiapkan di ujung lidah.
Nomella Kamiyama tidak memberinya ruang untuk bernapas.
Dengan gerakan yang didorong oleh amarah murni dan ego yang terluka, Nomella merangsek maju. Ia mencengkeram kerah kemeja mahal Zeus, menarik pria itu menunduk, dan langsung membungkam bibirnya. Ini adalah ciuman pertama Nomella—sebuah pengalaman yang seharusnya sakral dan lembut namun ia melakukannya seperti sebuah deklarasi perang. Ia melumat bibir Zeus dengan insting yang liar, mencoba mendominasi, mencoba membuktikan bahwa ia tidak takut pada pria yang baru saja melecehkannya di telepon.
Zeus tertegun selama satu detik yang fatal. Namun, seorang predator tidak akan membiarkan dirinya ditaklukkan begitu saja. Dengan geraman rendah di tenggorokannya, Zeus membalas. Ia melingkarkan lengannya di pinggang ramping Nomella, mengangkat tubuh gadis itu hingga punggung Nomella menghantam pintu apartemen yang tertutup rapat di belakang mereka.
Ciuman itu berubah menjadi pusaran panas yang menuntut. Zeus membalas setiap lumatan Nomella dengan intensitas yang dua kali lipat lebih besar. Tangan Zeus yang tadinya kasar di toilet, kini bergerak dengan presisi yang mematikan. Ia menyelinap di balik jaket Nomella, menyentuh kulit lembut di area dadanya dengan remasan yang halus, hampir terasa memuja, namun tetap penuh kuasa.
Tidak ada rasa sakit kali ini, hanya sensasi terbakar yang membuat napas Nomella memburu.
Di tengah kabut gairah yang dibuat-buat itu, Zeus melepaskan tautan bibir mereka sejenak. Napasnya terasa panas di ceruk leher Nomella. Dengan gerakan cepat yang menunjukkan dominasi mutlak, Zeus melemparkan kemejanya ke lantai, memamerkan tubuh atletisnya yang terpahat sempurna di bawah cahaya lampu ruang tamu yang minimalis.
"Kau datang ke sini untuk membuktikan keberanianmu, atau untuk menyerahkan dirimu, Mella?" bisik Zeus, suaranya parau dan gelap.
Nomella tidak menjawab. Ia hanya menatap mata Zeus dengan binar tantangan yang belum padam. Ia membiarkan Zeus menuntunnya ke sofa beludru besar di tengah ruangan.
Di sana, Zeus berkuasa. Ia mulai melucuti pertahanan Nomella, membuka satu per satu penghalang yang tersisa dengan kecepatan seorang ahli yang tahu persis apa yang dia lakukan.
Namun, tepat saat Zeus bergerak untuk membuka bagian bawah pakaian Nomella, saat jemarinya menyentuh tepian kain yang menjadi pertahanan terakhir, gerakannya membeku.
Ada sesuatu yang terasa... berbeda. Tekstur yang tidak seharusnya ada di sana.
Zeus mengerutkan kening. Ia meraba area itu sekali lagi melalui kain tipis, memastikan apa yang jemarinya tangkap. Sebuah bantalan yang tebal dan kaku.
Zeus mendongak. Ia menemukan Nomella sedang menatapnya dengan senyum miring yang paling memuaskan yang pernah ia lihat. Gadis itu tidak tampak malu; ia justru tertawa kecil, sebuah tawa kemenangan yang merusak seluruh atmosfer intim di ruangan itu.
"Ya, Zeus," ujar Nomella, suaranya kembali ke nada New York-nya yang angkuh dan terkontrol.
"Aku sedang merasa sangat... istimewa sekarang. Kau tahu, siklus alami wanita? Apa kau ingin tetap lanjut dengan pemandangan darah di seluruh sofamu yang mahal ini?"
Zeus menarik tangannya seolah-olah baru saja menyentuh bara api. Wajahnya yang tadinya dipenuhi gairah langsung berubah menjadi campuran antara jijik, kaget, dan amarah yang meledak.
"Oh, brengsek!" Zeus berdiri dengan sentakan kasar, menyambar kemejanya di lantai untuk menutupi dadanya yang bidang. "Kau mempermainkanku, Nomella? Kau datang ke sini, menciumku seperti orang gila, hanya untuk menunjukkan... pembalutmu?"
Nomella bangkit dari sofa, merapikan pakaiannya yang berantakan dengan ketenangan seorang ratu. "Kau yang bilang tadi di telepon, kan? Tidak sulit membuatku mendesah? Aku hanya ingin melihat seberapa jauh 'Sang Matahari California' yang narsis ini bisa bertahan saat dihadapkan pada realita biologis yang tidak bisa ia kontrol dengan uang atau pengaruh keluarganya."
"Ini menjijikkan," desis Zeus, rahangnya mengeras hebat.
"Kau benar-benar gila. Siapa wanita yang menggunakan masa menstruasinya sebagai senjata untuk memenangkan perdebatan?"
"Wanita yang sudah kau injak-injak harga dirinya di toilet kampus, Zeus!" suara Nomella naik satu oktav. Ia berdiri tegak, menunjuk ke arah sofa.
"Kau pikir kau berkuasa atas tubuhku? Kau pikir kau bisa menyentuhku kapan pun kau mau hanya karena kau merasa 'istimewa'? Sekarang lihat dirimu. Kau bahkan tidak bisa menatapku tanpa rasa jijik hanya karena selembar pembalut."
Zeus mondar-mandir di ruang tamunya, mencoba menormalkan detak jantungnya yang masih liar karena adrenalin dan amarah. "Kau sengaja melakukan ini. Kau tahu kau sedang datang bulan, dan kau tetap memancingku di kantin tadi."
"Tentu saja," balas Nomella tanpa rasa bersalah. "Kau ingin aku berakting sebagai kekasihmu? Inilah realitanya, Zeus. Menstruasi itu sakit, nyeri, dan berdarah. Tidak ada yang indah atau romantis tentang itu, sama seperti hidupmu yang kau tutupi dengan topeng Zayn itu."
Perdebatan itu berubah menjadi medan perang verbal yang aneh. Mereka berdiri di tengah apartemen mewah itu, berdebat tentang menstruasi dan pembalut seolah-olah itu adalah topik paling krusial di dunia.
"Kau pikir aku peduli dengan darah?" Zeus membentak, langkahnya kembali mendekat ke arah Nomella.
"Yang membuatku marah adalah kelicikanmu! Kau menggunakan tubuhmu sendiri sebagai umpan hanya untuk menjebakku dalam situasi konyol ini!"
"Konyol? Kau menyebut harga diriku konyol?" Nomella menantang, matanya berkilat. "Kau melecehkanku di parkiran dan toilet tanpa izin! Aku datang ke sini dengan izin darimu, dan aku memilih untuk berhenti di sini. Itu namanya kontrol, Zeus. Sesuatu yang tidak kau miliki saat kau membunuh kakakmu di arena balap!"
Suasana mendadak hening. Nama Zayn selalu menjadi bom atom dalam percakapan mereka.
Zeus menatap Nomella dengan pandangan yang begitu dingin hingga Nomella merasa seolah es sedang merayap di kulitnya. "Keluar," ucap Zeus.
Suaranya tidak lagi berteriak, melainkan bisikan yang mematikan.
"Dengan senang hati," Nomella meraih tasnya. Ia merasa menang, meski tubuhnya masih gemetar karena sisa-sisa hormon dan adrenalin.
"Jangan pernah berpikir untuk menyentuhku lagi, Zeus. Karena lain kali, aku tidak akan hanya menggunakan pembalut untuk menghentikanmu. Aku akan menggunakan seluruh dunia untuk membongkar siapa kau sebenarnya."
Nomella berjalan menuju pintu. Saat tangannya menyentuh gagang pintu, ia menoleh sedikit. "Omong-omong, Zeus... ciuman pertamaku tadi? Ternyata rasanya biasa saja. Kau tidak sehebat yang kau sombongkan."
Zeus Sterling berdiri sendirian di tengah ruang tamunya yang sunyi. Ia menatap sofa tempat Nomella duduk tadi. Rasa panas di tubuhnya masih tersisa, namun harga dirinya terasa seperti telah dicabik-cabik oleh seorang gadis yang baru saja mengajarinya tentang biologi wanita dengan cara yang paling menghina.
Ia meninju dinding apartemennya dengan keras. "Nomella Kamiyama..." gumamnya dengan penuh kebencian.
Malam itu, Zeus tidak bisa tidur. Bayangan ciuman panas Nomella dan tawa puas gadis itu saat menunjukkan "rahasiat kecilnya" terus berputar di kepalanya.
Di sisi lain kota, Nomella meringkuk di tempat tidurnya, memegang perutnya yang kram, namun dengan senyum kemenangan yang tidak bisa dihapus oleh rasa sakit apa pun.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰