NovelToon NovelToon
Pucuk Indah Harapan

Pucuk Indah Harapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Karir
Popularitas:878
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Cinta tidak selalu datang dengan gemuruh.
Kadang ia tumbuh perlahan—seperti pucuk kecil yang bertahan di antara badai.
Arga adalah pria yang belajar mencintai melalui tanggung jawab. Ia percaya pernikahan bukan tentang romantika yang riuh, melainkan komitmen yang dijaga diam-diam, hari demi hari. Sementara Nara adalah perempuan yang membawa harapan di balik luka masa lalu—ia ingin dicintai sepenuhnya, tanpa ragu dan tanpa setengah hati.
Pertemuan mereka sederhana, namun keputusan untuk menikah mengubah segalanya. Di balik janji suci, ada perbedaan cara berpikir, ketakutan yang tak terucap, dan realitas hidup yang tak selalu sejalan dengan harapan. Mereka belajar bahwa cinta setelah pernikahan bukan hanya tentang saling memiliki, tetapi tentang saling memahami—bahkan ketika kecewa, bahkan ketika lelah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Terakhir Jadi Orang Asing

Suasana di ruang tamu rumah Arga malam itu terasa begitu mencekam bagi penghuninya, namun sangat kontras dengan wajah Widya dan Tante Sarah yang tampak berseri-seri. Di atas meja marmer, tumpukan katalog undangan dan contoh suvenir tersebar, tapi tak satu pun menarik perhatian Arga maupun Nara.

Mereka duduk bersisian di sofa panjang. Jarak di antara mereka mungkin hanya sepuluh sentimeter, tapi bagi Arga dan Nara, itu terasa seperti jurang yang sangat dalam.

"Arga, Nara," Widya memulai dengan nada yang lebih serius dari biasanya. Ia meletakkan cangkir tehnya perlahan. "Ibu dan Tante Sarah sudah berdiskusi panjang lebar dengan pihak keluarga besar dan juga penghulu."

Arga merasakan firasat buruk. Ia melirik Nara, yang juga tampak menegang di sampingnya.

"Kita tidak perlu menunggu bulan depan. Semuanya sudah siap. Berkas administrasi di KUA sudah selesai, dan acara sederhana untuk keluarga inti sudah diatur," Tante Sarah menyambung dengan suara yang bergetar karena haru. "Besok pagi, kalian akan melangsungkan akad nikah."

"Besok?!" Arga dan Nara berseru hampir bersamaan.

Arga langsung berdiri, suaranya naik satu oktav. "Bu, ini gila. Besok? Kita bahkan belum melakukan pre-wedding, belum ada persiapan mental, dan kantor lagi sibuk-sibuknya!"

"Persiapan mental apa lagi, Arga? Kamu sudah setuju, Nara sudah setuju. Kertas kesepakatan kalian—maksud Ibu, kesepakatan untuk mencoba—sudah dibuat, kan?" Widya menatap Arga tajam. "Urusan kantor bisa didelegasikan. Ini soal memulai hidup baru."

Nara hanya bisa terdiam, tangannya yang dingin meremas ujung blusnya. Besok. Kata itu bergema di kepalanya seperti lonceng kematian bagi masa lajangnya. Ia menatap ibunya yang tampak begitu berharap. Di sana, ia melihat gurat kelelahan dan harapan agar putrinya segera ada yang menjaga. Nara menelan semua protes yang sudah sampai di ujung lidahnya.

"Ma... apa nggak terlalu cepat?" tanya Nara lirih.

"Lebih cepat lebih baik, Sayang. Biar hati Mama tenang," jawab Tante Sarah sambil mengusap tangan Nara.

Arga menatap Nara, mencari dukungan untuk menolak, namun ia hanya menemukan kepasrahan di mata cokelat itu. Arga mengepalkan tangannya di samping paha. Logikanya berteriak bahwa ini salah, ini terlalu terburu-buru. Tapi di atas semua itu, ia adalah pria yang memegang janji. Jika ia menolak sekarang, ia akan menghancurkan hati dua ibu yang sudah sangat bahagia.

"Baik," ucap Arga akhirnya dengan suara berat. "Besok pagi."

Malam itu menjadi malam terakhir mereka sebagai orang asing. Setelah kepulangan Nara, Arga berdiri di balkon rumahnya, menatap langit hitam tanpa bintang. Besok, hidupnya tidak akan lagi tentang dirinya sendiri. Akan ada nama Nara di dalam setiap kartu keluarga dan setiap rencana masa depannya.

Sementara itu, di kamarnya, Nara mulai mengepak tas kecil berisi barang-barang pribadinya. Ia melihat pantulan dirinya di cermin—seorang perempuan yang besok akan menyandang status istri dari pria paling kaku yang pernah ia kenal.

"Hari terakhir," bisik Nara pada bayangannya. "Besok, kesepakatan di atas kertas itu akan benar-benar diuji."

Mereka berdua menghabiskan malam dalam kesunyian yang sama, di tempat yang berbeda, menyadari bahwa fajar besok bukan hanya membawa matahari, tapi juga beban janji suci yang akan mengubah segalanya.

---

Arga kembali ke apartemennya malam itu dengan perasaan yang sulit digambarkan. Apartemen yang biasanya menjadi tempat perlindungan paling tenang, kini terasa seperti ruang tunggu sebelum eksekusi. Ia meletakkan kunci mobilnya di atas meja makan dengan denting yang terasa lebih keras dari biasanya.

Besok.

Logika Arga terus berputar. Bagaimana mungkin sebuah institusi sakral seperti pernikahan bisa diputuskan secepat kilat ini? Ia teringat laci di kantornya yang terkunci rapat. Kesepakatan di atas kertas yang ia buat dengan Nara kini terasa seperti sebuah tameng plastik yang rapuh menghadapi badai yang sesungguhnya.

"Besok bukan lagi tentang poin-poin kontrak," gumam Arga sambil melonggarkan dasinya hingga terlepas.

Ia mengambil ponselnya, jarinya berhenti di atas kontak nama Nara. Ia ingin mengetik sesuatu—mungkin kata penyemangat, atau sekadar memastikan perempuan itu baik-baik saja. Namun, jarinya kembali ragu. Bagaimana cara memulai percakapan dengan orang yang akan menjadi istrimu dalam waktu kurang dari dua belas jam, sementara kalian masih merasa seperti musuh di meja negosiasi?

Akhirnya, ia hanya mengirimkan pesan singkat:

“Istirahatlah. Besok akan jadi hari yang panjang.”

Di sudut kota yang lain, Nara baru saja selesai melipat pakaian terakhirnya ke dalam koper kecil. Getaran ponsel di atas kasur membuatnya menoleh. Ia membaca pesan dari Arga, dan sebuah senyum getir muncul di bibirnya.

"Hari yang panjang... benar-benar gaya bicara seorang CEO," bisik Nara.

Nara berjalan menuju jendela kamarnya, menatap gerimis yang kembali membasahi kaca. Ia teringat pertemuan pertama mereka di teras kafe, saat ia terjebak hujan dan Arga hanya melintas dengan mobil mewahnya. Siapa sangka, pria yang tidak mau berhenti untuk memberi tumpangan itu, besok akan menjadi tempatnya berpulang?

Nara tahu, besok ia tidak hanya menikahi Arga, tapi ia menikahi ketidakpastian. Ia menikahi pria yang belum tentu mencintainya, namun pria yang ia yakini tidak akan pernah mengkhianati janji.

Malam semakin larut. Di dua tempat yang berbeda, Arga dan Nara sama-sama tidak bisa memejamkan mata. Mereka mendengarkan detak jam dinding yang seolah berpacu menuju angka yang akan mengubah status mereka selamanya.

Arga melihat jas akadnya yang tergantung di balik pintu—warna putih bersih yang terlihat sangat asing di antara pakaian-pakaian kantornya yang berwarna gelap. Ia sadar, mulai besok, ia tidak bisa lagi hanya memikirkan grafik keuntungan atau ekspansi perusahaan. Ada satu nyawa lagi yang harus ia pertimbangkan dalam setiap tarikan napasnya.

Inilah malam terakhir mereka menjadi orang asing yang hanya terikat oleh kesepakatan rahasia. Besok, saat saksi mengucap kata 'sah', mereka akan dipaksa untuk mulai belajar memahami, bahkan ketika mereka sedang merasa lelah.

---

Arga berjalan menuju meja kerjanya di apartemen, menyalakan lampu temaram yang hanya menyinari sudut ruangan. Ia mengambil sebuah buku catatan kecil, tempat ia sering menuliskan strategi bisnis yang terlalu personal untuk dibagikan kepada asistennya. Di halaman kosong paling belakang, ia menuliskan satu baris kalimat: 13 Maret 2026. Babak baru.

Ia menatap tulisan itu lama sekali. Bagi Arga, menulis adalah cara dia mengakui realitas. Dan realitas besok pagi adalah sesuatu yang tidak bisa ia delegasikan kepada siapa pun. Ia harus hadir sepenuhnya—bukan sebagai CEO, tapi sebagai seorang pria yang menyerahkan kebebasannya demi sebuah komitmen yang belum ia pahami ujungnya.

"Aku harap kamu siap, Nara," bisiknya pelan pada keheningan ruangan.

Sementara itu, Nara duduk di tepi tempat tidurnya, memegang sebuah foto lama di tangannya. Foto masa kecilnya bersama ibunya. Ia tahu, keputusannya untuk tidak menolak permintaan mendadak ini adalah hadiah terakhir yang bisa ia berikan untuk ketenangan hati sang ibu. Namun, ada bagian dari dirinya yang berteriak takut. Takut jika ia hanya akan menjadi bayangan di dalam rumah besar Arga nanti. Takut jika kesepakatan di atas kertas itu benar-benar menjadi tembok yang tak tertembus.

Nara mematikan lampu kamarnya, namun matanya tetap terbuka lebar menatap langit-langit. Di kepalanya, ia mencoba membayangkan bagaimana rasanya terbangun di rumah yang sama dengan Arga. Bagaimana rasanya berbagi meja makan yang bukan untuk rapat, tapi untuk sarapan.

Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang tak beraturan.

Malam semakin larut, dan Jakarta di luar sana perlahan mulai sunyi. Dua jiwa yang sama-sama keras kepala ini akhirnya dipaksa oleh keadaan untuk meletakkan senjata mereka sejenak. Besok bukan lagi tentang siapa yang paling benar atau siapa yang memegang aturan. Besok adalah tentang langkah pertama di atas jembatan yang mereka bangun dari rasa terpaksa, namun siapa tahu, akan berujung pada sesuatu yang indah.

Hari terakhir menjadi orang asing hampir berakhir. Saat fajar menyingsing nanti, mereka akan bangun dengan identitas yang berbeda, terikat oleh sumpah yang lebih kuat dari tinta mana pun di atas kertas.

1
Rayyan Fahlevy
semangat kak
Rayyan Fahlevy
Lanjut kak🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!