seorang muda mudi yang lama berteman dan memulai dengan saling ada ikatan cinta Siska namanya paras cantik dan menawan mendapatkan masalah dari keluarganya dia adalah seorang tepandang namun ia harus menikah untuk mewarisi perusahaan keluarganya bertemulah Andi dan menjalin asmara dengan berbagai masalah namun di ujung mereka resmi menjalani pernikahan dengan bahagia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 21
Mahesa meletakkan cangkir kopinya, matanya yang biasa tajam menatap angka-angka kini melunak, menatap ke arah barisan pohon ulin yang berdiri seperti penjaga purba.
"Kalian benar," gumam Mahesa, suaranya hampir tenggelam oleh desau angin. "Mungkin sudah waktunya aku memercayakan sensor-sensor itu pada sistem otomatis yang kubangun sendiri. Terlalu lama menatap layar membuatku lupa bagaimana rasanya silau karena matahari sungguhan."
Siska menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi rotan, kakinya yang masih kotor karena tanah merah dibiarkan selonjoran. "Lalu, apa rencana pertamamu sebagai 'manusia merdeka', Ma? Jangan bilang kau akan membangun laboratorium baru di bawah tanah."
Mahesa terkekeh, menggeleng pelan. "Tidak. Aku terpikir untuk mengajar di sekolah alam itu. Bukan soal kode pemrograman atau struktur data, tapi soal bagaimana mendengarkan suara hutan melalui getaran tanah. Anak-anak desa itu punya intuisi yang tidak bisa ditiru oleh algoritma mana pun. Aku ingin belajar dari mereka, sambil membagikan sedikit apa yang kutahu."
Andi yang sedang asyik mengupas ubi ungu berhenti sejenak, lalu menatap Mahesa dengan binar jenaka. "Seorang jenius teknologi ingin menjadi murid para bocah petualang? Itu akan menjadi pemandangan yang menarik, Ma. Aku bisa membayangkanmu kalah cepat memanjat pohon rambutan dibanding mereka."
"Hei, jangan remehkan staminaku," balas Mahesa sambil pura-pura tersinggung. "Aku masih bisa berjalan sepuluh kilometer tanpa melihat kompas."
Keheningan kembali menyelimuti teras, namun kali ini bukan keheningan yang tegang, melainkan keheningan yang penuh dengan isi. Di kejauhan, suara burung rangkong terdengar bersahut-sahutan, menandai dimulainya aktivitas di kanopi hutan.
"Sis," panggil Andi pelan.
"Hmm?"
"Besok lusa, saat helikopter pasokan datang dari kota, aku sudah meminta mereka membawakan beberapa kotak buku baru. Bukan buku teknik, tapi kumpulan puisi dan novel-novel klasik. Aku pikir, perpustakaan kecil di kamp ini butuh sesuatu yang lebih... bernyawa."
Siska tersenyum, membayangkan rak-rak kayu yang biasanya penuh dengan dokumen AMDAL dan peta topografi akan segera bersanding dengan kisah-kisah fiksi. "Itu ide bagus, Ndi. Dan jangan lupa minta mereka membawakan benih bunga matahari. Aku ingin menanamnya di depan pondok ini. Sedikit warna kuning di antara lautan hijau kita pasti akan terlihat manis."
Andi mengangguk, lalu meraih tangan Siska lagi. Di bawah sinar matahari pagi yang mulai menghangat, ketiga orang itu duduk bersama, merayakan kemenangan kecil mereka: kemenangan atas ambisi, kemenangan atas waktu, dan yang paling penting, kemenangan atas diri mereka sendiri yang akhirnya berani untuk berhenti dan sekadar bernapas.
Hutan di sekeliling mereka seolah ikut mengamini. Daun-daun berbisik, sungai mengalir, dan kehidupan terus berdenyut dalam harmoni yang kini tak lagi mereka coba kendalikan, melainkan mereka syukuri.
Mahesa menyesap kopi jahenya yang mulai mendingin, matanya menerawang ke arah kanopi hutan yang bergoyang pelan. "Kalian tahu? Selama bertahun-tahun aku menganggap hutan ini sebagai variabel. Kumpulan data, sensor suhu, dan algoritma pertumbuhan. Baru tadi malam, saat melihat kalian berdua berjalan ke arah pohon Jaka tanpa lampu, aku sadar..."
"Sadar apa, Ma?" tanya Siska lembut, jemarinya masih melingkar di cangkir hangat.
"Bahwa variabel yang paling sulit dihitung dalam proyek ini bukanlah curah hujan atau keasaman tanah," Mahesa tersenyum tipis, sebuah ekspresi langka yang jarang muncul di wajah kaku sang ahli teknologi itu. "Variabel tersulitnya adalah keras kepala kalian berdua. Tanpa itu, Arlan hanya akan jadi tumpukan kode di serverku, bukan hutan yang bernapas ini."
Andi tertawa, suaranya lepas menyatu dengan kicauan burung di kejauhan. "Keras kepala adalah spesialisasi kami, Ma. Kalau tidak, mana mungkin seorang arsitek beton mau repot-repot belajar cara menanam ulin?"
"Dan mana mungkin seorang CEO mau tidur di atas hammock sambil digigit nyamuk hutan selama berbulan-bulan?" Siska menimpali, membuat mereka bertiga tertawa bersama. Tawa yang terasa ringan, tanpa beban target triwulan atau tekanan investor.
Mahesa kemudian merogoh saku kemeja teknisnya, mengeluarkan sebuah perangkat kecil berbentuk cakram perak yang sudah tidak aktif. "Aku sudah mematikan unit pemantau utama di blok utara pagi ini. Sistemnya sudah stabil. Hutan ini sudah punya sistem pertahanannya sendiri sekarang. Burung-burung sudah kembali membawa benih, dan predator puncak sudah mulai terlihat di kamera inframerah minggu lalu."
Ia meletakkan cakram itu di atas meja kayu, di antara piring ubi ungu dan cangkir kopi. "Artinya, tugasku sebagai pengawas teknis secara teknis... sudah selesai."
Ada keheningan sejenak. Bukan keheningan yang sedih, melainkan keheningan transisi. Seperti sebuah buku yang mencapai halaman terakhir namun menjanjikan sekuel yang lebih damai.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan, Ma? Kembali ke Jakarta? Menjual algoritma ini ke perusahaan multinasional?" tanya Andi dengan nada menyelidik namun hangat.
Mahesa menggeleng. Ia menunjuk ke arah jalan setapak yang menuju ke arah desa. "Aku melihat sekolah alam yang kalian bangun. Mereka butuh seseorang untuk mengajarkan bagaimana teknologi bisa digunakan untuk melindungi, bukan sekadar mengeksploitasi. Aku pikir, aku akan menetap di desa sebentar. Mengajari anak-anak itu cara merawat drone pemantau, atau mungkin... belajar dari mereka bagaimana cara membedakan suara angin yang membawa hujan dan angin yang hanya sekadar lewat."
Siska tersenyum lebar, merasa lingkaran perjuangan mereka benar-benar telah tertutup dengan sempurna. "Jadi, kita semua resmi menjadi warga lokal sekarang?"
"Sepertinya begitu," jawab Mahesa.
Mereka bertiga terdiam, menatap ke arah lembah yang kini sudah terang benderang oleh cahaya matahari. Di kejauhan, terlihat sekawanan burung enggang terbang melintas, sayapnya yang besar membelah udara dengan anggun.
"Besok," Andi memecah kesunyian, "aku ingin mulai memperbaiki jembatan kayu di dekat sungai. Bukan dengan desain arsitektur yang rumit, hanya jembatan sederhana agar anak-anak sekolah tidak basah saat air pasang. Kau mau bantu, Ma?"
Mahesa mengangguk perlahan. "Selama aku tidak perlu menghitung beban strukturalnya di komputer, aku ikut."
"Dan aku yang akan membawakan bekal makan siangnya," sela Siska dengan binar mata yang jenaka. "Tapi jangan protes kalau ubinya sedikit gosong."
Di teras sederhana itu, di bawah perlindungan ribuan pohon yang mereka tanam dengan peluh dan air mata, rencana-rencana besar masa lalu telah berganti menjadi rencana-rencana kecil yang manusiawi. Mereka tidak lagi sedang membangun monumen; mereka sedang menjalani kehidupan.
Mahesa menarik napas panjang, membiarkan oksigen murni itu memenuhi paru-parunya. "Bicara soal ubi gosong, Siska, itu masih jauh lebih baik daripada makan siang yang kita santap di tahun pertama dulu. Ingat saat kita hanya punya mi instan dan air sungai yang disaring manual?"
Siska tertawa, jemarinya mengetuk-ngetuk pinggiran cangkir. "Dan Andi hampir menyerah karena alergi ulat bulu. Siapa sangka sang arsitek visioner ini ternyata takut dengan makhluk kecil berbulu?"
"Hei, itu trauma teknis," bela Andi sambil tertawa kecil. "Tapi serius, Ma, kalau kau benar-benar menetap di desa, sistem keamanan sensor yang kau buat... apa tidak sayang jika dibiarkan berjalan sendiri?"
Mahesa menggeleng mantap. "Teknologi terbaik adalah teknologi yang akhirnya tidak lagi terasa kehadirannya. Seperti udara. Kita tidak perlu memikirkan bagaimana cara bernapas, kita hanya melakukannya. Begitu juga dengan hutan ini. Jika sistemku terus membutuhkan intervensiku, artinya aku gagal menciptakan keseimbangan."
Ia berdiri, berjalan menuju tepian teras, dan menunjuk ke arah rimbunnya pohon ulin di kejauhan. "Kalian lihat itu? Ada pergerakan di dahan bawah. Itu bukan karena angin. Itu monyet ekor panjang yang sudah berani mendekati kamp. Artinya, mereka sudah tidak lagi menganggap kita sebagai ancaman. Itu sensor yang jauh lebih akurat daripada perangkat perak di atas meja ini."
Siska ikut berdiri, menyandarkan lengannya di pagar kayu yang terasa kasar dan kokoh. "Dulu kita datang membawa ambisi untuk 'menyelamatkan'. Sekarang aku merasa justru hutan ini yang menyelamatkan kita. Menyelamatkanmu dari layar monitor, menyelamatkan Andi dari ambisi betonnya, dan menyelamatkanku dari bayang-bayang ayah."
Andi mendekat, merangkul bahu Siska. "Jadi, besok kita mulai jembatan itu?"
"Tentu," jawab Mahesa. "Tapi tanpa sketsa AutoCAD, Andi. Kita pakai cara lama. Kayu tumbang, pasak, dan tenaga manusia. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya membangun sesuatu yang benar-benar menyentuh tanah."
"Setuju," sahut Andi. "Dan mungkin kita bisa mengajak beberapa pemuda desa. Mereka tahu jenis kayu mana yang paling tahan air tanpa perlu kita cari di database."
Siska menoleh ke arah dua pria itu, hatinya merasa penuh. "Dan setelah jembatan itu selesai, aku ingin kita duduk di sana saat senja. Hanya duduk, tanpa bicara soal proyek, tanpa bicara soal masa depan. Hanya melihat air mengalir."
Matahari kini sudah semakin tinggi, menghalau sisa-sisa kabut yang masih bersembunyi di balik batang-batang pohon besar. Di teras pondok itu, ketiga sahabat tersebut terdiam dalam kebersamaan yang jujur. Tak ada lagi rahasia korporat, tak ada lagi beban target. Hanya ada aroma kopi, ubi rebus, dan masa depan yang tak lagi perlu dirancang, karena mereka sedang menjalaninya saat ini juga.
"Ayo," ajak Siska sambil membawa piring kosongnya ke dalam. "Masih ada ubi yang tersisa, dan aku yakin Mahesa masih butuh asupan karbohidrat sebelum dia mulai bertransformasi menjadi guru desa."
Mahesa dan Andi tertawa, lalu menyusul langkah Siska masuk ke dalam pondok kayu yang sederhana namun kini terasa lebih mewah daripada gedung pencakar langit mana pun di Jakarta.