Di SMA Bhakti Nusantara, dua nama selalu jadi pembicaraan—Reina dan Kenzo. Reina adalah ketua OSIS yang disiplin, teliti, dan selalu mengutamakan aturan. Sedangkan Kenzo adalah kapten tim sepak bola sekolah yang populer, tapi sering mengabaikan peraturan dan membuat masalah.
Mereka saling membenci sejak awal tahun ajaran, ketika Kenzo sengaja merusak dekorasi acara pembukaan yang sudah Reina susun dengan teliti. Sejak itu, setiap pertemuan mereka selalu berujung pada argumen dan perselisihan. Reina menganggap Kenzo sombong dan tidak bertanggung jawab, sementara Kenzo menyebut Reina pelit dan terlalu serius.
Namun, takdir membawa mereka bersama ketika sekolah mengadakan program "Pasangan Tugas" untuk lomba ilmiah tingkat nasional. Mereka terpaksa bekerja sama, dan perlahan-lahan menemukan sisi lain satu sama lain. Reina melihat bahwa Kenzo sebenarnya memiliki hati yang baik dan selalu siap membantu teman, sedangkan Kenzo menyadari bahwa ketegasan Reina datang dari rasa peduli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Rahasia di Pasar Barang Antik
Reina keluar dengan kemeja flanel kebesaran dan celana jins, rambutnya dikuncir kuda. Ia terpaku melihat Kenzo yang bersandar di motornya, helm full-face tersampir di tangannya.
"Kenapa bawa motor? Aku sudah bilang kita naik taksi online saja supaya bisa fokus baca proposal," protes Reina sambil menyesuaikan tas ranselnya.
Kenzo memutar kunci motornya. "Taksi online nggak bisa masuk ke gang-gang kecil Pasar Triwindu, Sayang. Dan aku nggak mau telat cuma gara-gara macet. Naik, atau aku tinggal?"
Reina mendengus. "Jangan panggil aku 'Sayang'. Geli."
Dengan ragu, Reina naik ke jok belakang yang tinggi. Saat Kenzo menarik gas dengan sengaja, Reina terlonjak dan refleks mencengkeram jaket kulit Kenzo. Ia bisa merasakan punggung tegap Kenzo yang mengeras.
"Pegangan yang benar, Bu Ketua. Aku nggak mau dituduh mencelakai aset sekolah," goda Kenzo dari balik helm.
Pasar Barang Antik - Pukul 11.00 WIB
Pasar itu padat, panas, dan berdebu. Reina sibuk mencatat daftar barang dekorasi yang mereka butuhkan, sementara Kenzo berjalan di sampingnya, sesekali menghalau orang-orang yang hampir menabrak Reina.
"Kita butuh lampion kuno sepuluh buah. Tapi harganya jangan sampai lewat dari anggaran," gumam Reina serius.
"Sini, biar aku yang tawar. Wajah kaku seperti kamu itu makanan empuk buat pedagang sini," Kenzo menarik ujung tas Reina, membawanya ke sebuah kios di pojok.
Reina hanya bisa melongo saat melihat Kenzo. Pria yang biasanya menyebalkan itu tiba-tiba berubah menjadi sangat ramah. Ia tertawa bersama penjual, bercanda tentang bola, dan dalam lima menit, mereka mendapatkan lampion dengan harga setengah dari yang diminta.
"Gimana? Masih mau bilang otakku cuma isinya basket?" Kenzo mengangkat lampion-lampion itu dengan bangga.
Reina terdiam sejenak. "Oke, poin untukmu. Kamu... ternyata cukup berguna."
"Cuma 'cukup berguna'?" Kenzo mendekat, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Reina. "Aku ini multitalenta, Reina. Kamu saja yang terlalu sibuk membenciku sampai nggak lihat kelebihanku."
Reina memalingkan wajah, menyembunyikan rona merah yang tiba-tiba muncul di pipinya karena cuaca yang panas—atau mungkin karena hal lain.
Insiden Tak Terduga
Saat mereka hendak pulang, hujan deras tiba-tiba mengguyur. Mereka terpaksa berteduh di sebuah kedai kopi tua yang sempit. Karena tempatnya penuh, mereka harus duduk di satu meja kecil yang membuat lutut mereka bersentuhan.
Hening. Hanya suara hujan yang menghantam atap seng.
"Rein," panggil Kenzo pelan. Nada bicaranya tidak lagi mengejek.
"Ya?"
"Kenapa kamu ambisius banget? Sampai nggak punya waktu buat main, atau sekadar... senyum?"
Reina menatap cangkir tehnya. "Karena aku nggak punya pilihan lain, Ken. Aku harus masuk universitas negeri lewat jalur prestasi. Ayahku... dia nggak seberuntung keluargamu yang bisa membiayai apa saja."
Kenzo tertegun. Ia baru menyadari bahwa di balik sikap kaku Reina, ada beban besar yang dipikul gadis itu sendirian. Ia mengulurkan tangannya, ragu sejenak, lalu menepuk pelan puncak kepala Reina.
"Nggak semua hal di dunia ini harus sempurna, Rein. Kadang, cacat sedikit itu yang bikin sesuatu jadi indah."
Reina menatap Kenzo, dan untuk pertama kalinya, ia melihat sisi lembut dari cowok yang selama ini ia anggap musuh bebuyutan. Di bawah rintik hujan dan temaram lampu kedai, tembok pertahanan Reina mulai retak sedikit demi sedikit.
Namun, suasana berubah saat ponsel Kenzo berdering. Sebuah nama muncul di layar: "Gisel ❤️".
Reina melihat nama itu dan tiba-tiba merasa ada sesuatu yang pahit menyelinap di hatinya. Ia segera menarik diri dan kembali bersikap dingin.
"Hujannya sudah reda. Ayo pulang," ujar Reina ketus.
Kenzo mengernyit bingung. Baru saja suasananya enak, kenapa dia marah lagi?
Suasana yang sempat mencair di kedai kopi itu mendadak membeku. Nama "Gisel" dengan emoji hati di layar ponsel Kenzo seolah menjadi tamparan keras bagi Reina. Ia merasa bodoh karena sempat merasa "nyaman" di dekat cowok ini.