NovelToon NovelToon
Susahnya Jadi Mantan Pacar

Susahnya Jadi Mantan Pacar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / CEO
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Menceritakan tentang Novita gadis berumur 27 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan besar PT Kencana samudra jaya. perusahaan yang sangat bagus untuk memperbaiki kehidupannya. Namun semuanya tidak berjalan sesuai keinginannya saat mantannya dulu muncul sebagai direktur di perusahaan. Andra yang dulu dia kenal sebagai Arya muncul kembali. Dia berusaha keras menghindar dari masa lalunya namun masa lalunya justru datang kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 15

Siang itu suasana kantor terasa sedikit lebih tenang dibanding biasanya. Jam makan siang hampir tiba, dan sebagian karyawan mulai mengurangi aktivitas mereka. Suara keyboard yang sejak pagi terdengar ramai kini mulai jarang terdengar. Beberapa orang sudah berdiri untuk meregangkan badan, sementara yang lain mulai menutup file pekerjaan mereka.

Namun bagi Novita, waktu seperti ini justru sering membuatnya waspada.

Beberapa hari terakhir ia sudah terbiasa dengan satu rutinitas yang agak melelahkan: menerima telepon dari Andra yang memintanya mengambil makan siang. Direktur administrasi itu hampir selalu menelepon tepat sebelum jam istirahat. Permintaannya sebenarnya sederhana, tetapi caranya memerintah membuat Novita selalu merasa tegang.

Sebagai pegawai baru, Novita tidak punya banyak pilihan selain menuruti.

Hari itu pun ia sudah bersiap. Tas kecilnya sudah ia pegang, seolah menunggu kapan saja telepon di mejanya berbunyi.

Namun sebelum hal itu terjadi, seseorang tiba-tiba muncul di depan meja kerjanya.

"Novita?"

Suara wanita itu terdengar hangat.

Novita mendongak. Di depannya berdiri Bu Rika, staf HRD yang selama ini hanya ia lihat sekilas berjalan di koridor kantor.

"Iya, Bu," jawab Novita cepat sambil berdiri.

Bu Rika tersenyum ramah. "Sudah waktunya makan siang. Ayo ikut saya makan."

Novita sedikit terkejut.

"Saya, Bu?"

"Iya, kamu," kata Bu Rika ringan, seolah itu hal paling wajar di dunia.

Novita sebenarnya senang mendengar ajakan itu. Namun dalam hatinya muncul keraguan.

"Tapi... kalau Pak Andra menelepon..." katanya pelan.

Bu Rika hanya mengangkat alisnya sedikit.

"Biarkan saja," jawabnya singkat.

Tanpa memberi kesempatan Novita berpikir lebih lama, Bu Rika langsung menarik tangannya dengan santai.

"Ayo. Kebanyakan mikir malah lapar."

Yanti dan Risa yang duduk tidak jauh dari situ langsung menoleh.

"Kalian juga ikut," kata Bu Rika sambil menunjuk mereka.

Yanti langsung menunjuk dirinya sendiri. "Kami juga, Bu?"

"Tentu saja," jawab Bu Rika sambil tersenyum. "Saya suka makan bersama anak-anak muda. Biar ikut merasa muda juga."

Risa langsung berdiri dengan cepat.

"Kalau begitu kami ikut, Bu!"

Belum sempat mereka benar-benar pergi, telepon di meja Novita tiba-tiba berbunyi nyaring.

Ketiganya langsung saling pandang.

Yanti berbisik pelan, "Itu pasti dia."

Novita menelan ludah dan hendak meraih gagang telepon.

Namun Bu Rika bergerak lebih cepat.

Ia mengambil telepon itu dengan tenang.

"Halo?"

Beberapa detik ia mendengarkan suara dari seberang sana.

"Oh, Pak Andra," katanya santai.

Novita, Yanti, dan Risa langsung menegang.

Bu Rika tetap berbicara dengan nada tenang.

"Novita sedang ikut saya makan siang."

Sejenak ia diam, mendengarkan.

"Untuk makan siang Bapak, saya sudah minta Pak Ali dari OB yang mengambilkan."

Nada bicaranya terdengar tegas namun tetap sopan.

"Baik, Pak."

Klik.

Bu Rika langsung menutup telepon tanpa menambahkan apa pun.

Ruangan itu tiba-tiba terasa sunyi selama beberapa detik.

"Sudah," kata Bu Rika ringan.

Novita masih menatapnya dengan mata sedikit lebar.

"Bu... itu Pak Andra," katanya ragu.

"Iya. Saya tahu," jawab Bu Rika tenang.

Yanti dan Risa saling melirik dengan wajah kagum.

"Wah... berani juga," bisik Risa pelan.

Novita merasa ada beban yang tiba-tiba hilang dari dadanya.

Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, ia tidak perlu berlari keluar kantor hanya untuk mengambil makan siang seseorang.

"Ayo," kata Bu Rika lagi. "Keburu lapar."

Kali ini Novita tersenyum.

Ia mengambil tasnya dan berdiri.

Perasaannya terasa jauh lebih ringan.

Yanti langsung merangkul bahu Novita.

"Akhirnya kamu selamat juga dari cengkeraman direktur kejam itu."

"Pelan-pelan kalau ngomong," kata Novita sambil tertawa kecil.

"Ah, santai saja," jawab Risa. "Sekarang kita di bawah perlindungan Bu Rika."

Bu Rika hanya tertawa mendengar itu.

Beberapa menit kemudian mereka sudah keluar dari kantor dan berjalan menuju sebuah restoran Padang yang tidak terlalu jauh dari gedung perusahaan.

Begitu sampai di sana, aroma masakan langsung menyambut mereka.

"Ini restoran favorit saya," kata Bu Rika.

Mereka duduk di sebuah meja panjang.

Pelayan segera datang dan mulai meletakkan berbagai piring kecil berisi lauk khas Padang di atas meja.

Rendang, ayam pop, gulai tunjang, dan berbagai sambal memenuhi meja mereka.

"Hari ini saya yang traktir," kata Bu Rika santai.

"Serius, Bu?" tanya Yanti dengan mata berbinar.

"Tentu. Silakan makan sepuasnya."

Mata Yanti dan Risa langsung berbinar lebih terang.

"Wah, kalau begitu kami tidak akan sungkan," kata Risa sambil tertawa.

Novita sendiri masih sedikit malu, tetapi perutnya memang sudah sangat lapar.

Mereka mulai mengambil nasi dan berbagai lauk.

Suasana meja makan segera dipenuhi percakapan ringan.

"Bu Rika sebenarnya sudah lama kerja di sini?" tanya Yanti penasaran.

"Lumayan lama," jawab Bu Rika sambil menuangkan kuah gulai ke piringnya.

"Pantas saja kelihatannya tidak takut dengan Pak Andra," kata Risa.

Bu Rika tersenyum kecil.

"Takut sih tidak. Tapi bukan berarti saya sembarangan juga."

Novita yang sejak tadi diam akhirnya ikut bicara.

"Tadi... terima kasih, Bu."

Bu Rika menatapnya.

"Untuk apa?"

"Untuk telepon tadi," jawab Novita pelan.

Bu Rika menghela napas ringan.

"Saya tahu sedikit tentang situasi di kantor akhir-akhir ini," katanya.

Yanti dan Risa langsung memasang wajah serius.

"Pak Andra memang kadang suka berlebihan," lanjut Bu Rika.

"Berlebihan banget malah," gumam Risa.

Bu Rika tersenyum tipis.

"Tapi dia bukan orang yang tidak bisa diingatkan."

"Memangnya Bapak tidak marah, Bu?" tanya Novita.

"Kalau marah juga tidak masalah," jawab Bu Rika santai.

Yanti mengerjapkan mata.

"Serius, Bu?"

Bu Rika mengangguk.

"Saya punya hubungan baik dengan ibunya Andra."

Ketiga gadis itu langsung menatapnya bersamaan.

"Maksudnya... kenal dekat?" tanya Risa.

"Kami sudah bersahabat lama," kata Bu Rika.

Yanti langsung bersandar ke kursinya.

"Wah... pantes saja."

Bu Rika melanjutkan makan sambil berkata santai.

"Jadi kalau Andra macam-macam di kantor, saya tidak segan-segan melaporkannya."

Novita, Yanti, dan Risa langsung tertawa kecil.

Suasana menjadi jauh lebih santai.

Beberapa saat kemudian Bu Rika menoleh kepada Novita.

"Ngomong-ngomong, kamu masih baru di sini, ya?"

Novita mengangguk.

"Iya, Bu. Baru sekitar seminggu."

"Sebelumnya kerja di mana?" tanya Bu Rika penasaran.

Novita tersenyum kecil sebelum menjawab.

"Sebenarnya... ini pertama kalinya saya kerja di kantor seperti ini."

"Oh ya?" kata Yanti tertarik.

Novita mengangguk.

"Dulu saya kerja seadanya saja. Pernah jadi pegawai toko elektronik, toko baju, bahkan di toserba juga pernah."

"Serius?" tanya Risa.

"Iya," jawab Novita sambil tertawa kecil. "Yang paling lama malah jadi pelayan restoran."

"Lalu bisa sampai kerja di sini?" tanya Yanti.

Novita mengangkat bahu sedikit.

"Saya kerja sambil kuliah. Jadi selama kuliah saya ambil pekerjaan apa saja yang bisa membantu bayar biaya hidup."

Bu Rika memperhatikannya dengan ekspresi kagum.

"Berarti kamu cukup pekerja keras," katanya.

Novita hanya tersenyum malu.

"Saya cuma berusaha saja, Bu."

Yanti menepuk bahu Novita.

"Pantas saja kamu cepat belajar di kantor."

Risa ikut mengangguk.

"Iya, benar."

Novita tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, makan siang itu terasa benar-benar menyenangkan bagi Novita.

Tidak ada tekanan.

Tidak ada panggilan mendadak.

Hanya percakapan ringan, tawa, dan rasa lega yang akhirnya bisa ia rasakan kembali.

1
Siti Nugraheni
seneng aja bacanya, kosakatanya rapi, alur ceritanya menarik buat dibaca, dan selalu bikin penasaran lanjutan ceritanya
gaby
Resign dong. Bukannya wkt itu Novita bikin beberapa surat lamaran. Masa iya satu pun ga ada yg manggil. Atau jgn2 othornya lupa sm jalan critanya. Gimana nasib surat lamaran itu smua
Black Rascall: mengingatkan saat itu belum ada 19 JT lapangan pekerjaan jadi susah nyari dan Novita bisa kerja berkat om Danu yang merekomendasikan Novita ke HRD jadi tunggu ya kak 19 JT lapangan pekerjaannya 🙏🙏🙏
total 1 replies
falea sezi
bos kurang ajar mundur aja resain
Black Rascall: tunggu 19 JT lapangan pekerjaan dulu kak baru resain
total 1 replies
falea sezi
moga bagus ampe ending
Black Rascall: gak yakin karena baru pertama kali nulis genre seperti ini jadi mohon maklum
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!