NovelToon NovelToon
RATU X PEMUDA MISKIN JADI KAYA

RATU X PEMUDA MISKIN JADI KAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / CEO / Anak Genius
Popularitas:337
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

lanjutkan Jek adalah seorang yang terlahir di keluarga
kurang mampu namun ia memiliki kecerdasan dan kejeniusan tentang dunia apa saja karena ia memiliki
sistem yang dapat membuat ia kaya mendadak dalam percintaan ia menemukan ratu yang mencintainya dengan tidak kenal kondisi suka maupun duka bagaimana kelanjutan langsung ajaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 12

"Air asin adalah penghantar listrik yang buruk bagi frekuensi halus mereka," Jek menarik napas pendek, mencoba mengabaikan denyut di pergelangan kakinya. "Maya, bisakah kau menahan mereka sebentar saja?"

Maya melihat ke telapak tangannya yang kini berpendar lebih terang dari lampu jalanan yang mati. Luka parut kodenya bergetar hebat. "Aku bisa mencoba membanjiri jaringan saraf di sekitar sini dengan data sampah, tapi itu akan membakar sarafku, Jek."

"Hanya lima menit. Berikan kami waktu untuk mencapai dermaga kecil di ujung jalan ini!"

Maya mengangguk. Ia berlutut di aspal, menempelkan kedua telapak tangannya ke tanah yang kini tertutup lumut ungu. Seketika, tubuhnya melengkung, dan matanya memutih. Dari titik sentuhannya, gelombang kejut berwarna jingga meledak keluar, bertabrakan dengan pendar ungu dari akar-akar yang merayap.

Kaisar... Kesalahan... Error... Hentikan...

Suara-suara dari alam seolah mengerang kesakitan. Macan dahan di atas kap mobil tadi jatuh tersungkur, lensa matanya retak karena kelebihan beban informasi yang dikirimkan Maya secara paksa.

"Lari, Ra!" Jek menarik Rara menembus rumput setinggi pinggang yang kini mulai layu dan menghitam akibat serangan Maya.

Mereka berlari sekuat tenaga. Bau laut mulai tercium, bercampur dengan bau kabel terbakar. Di belakang mereka, suara jeritan organik terdengar memilukan—pohon-pohon beringin itu meliuk-liuk seperti cacing yang kepanasan.

Namun, saat mereka hampir mencapai tepi dermaga, tanah di depan mereka meledak. Bukan oleh bom, tapi oleh pertumbuhan masif bunga-bunga raksasa yang mekar dalam hitungan detik. Di tengah kelopak bunga itu, muncul proyeksi wajah yang sangat akrab di ingatan Jek.

Wajah Sang Arsitek.

"Jek, anakku yang keras kepala," proyeksi itu berbicara melalui getaran kelopak bunga. "Kamu pikir ini adalah invasi? Bukan. Ini adalah pembersihan. Bumi sedang mengunduh versi terbaiknya, dan manusia adalah data yang terlalu korup untuk dipertahankan, kecuali... jika kau menjadi kodenya."

"Kau sudah mati!" teriak Jek.

"Kematian hanyalah penghapusan hardware," balas proyeksi itu dengan nada dingin. "Sekarang, aku adalah bagian dari hutan ini. Aku adalah setiap akar, setiap daun. Bergabunglah, Jek. Lihatlah Rara, dia sudah mulai terhubung."

Jek menoleh dengan horor. Di lengan Rara, bintik-bintik cahaya hijau mulai muncul, seolah kulitnya sedang berubah menjadi klorofil.

"Jek... rasanya... hangat," bisik Rara, tatapannya mulai kosong. "Aku bisa merasakan... setiap tarikan napas hutan ini..."

"Tidak, Ra! Jangan dengarkan dia!" Jek mengguncang bahu Rara, tapi tangan Rara terasa dingin dan kaku seperti batang kayu.

Jek berbalik ke arah laut. Di sana, sebuah perahu nelayan tua berbahan fiber—bukan kayu yang bisa diinfeksi—terapung di dekat tangga dermaga. Ia harus membuat pilihan instan.

Jika ia membawa Rara ke laut, apakah air asin akan menyembuhkannya atau justru membunuh proses "evolusi" yang sudah mulai berjalan di tubuhnya?

"Maya! Cukup!" Jek berteriak ke arah belakang.

Maya merangkak mendekat, wajahnya penuh peluh darah. "Jek, aku tidak bisa menahan mereka lebih lama lagi. Seluruh Jakarta sudah sinkron. Kita... kita terkepung."

Dari arah daratan, ribuan hewan dan tumbuhan yang terinfeksi bergerak maju secara perlahan, membentuk lingkaran yang mengepung mereka di ujung dermaga. Mereka tidak menyerang dengan taring, tapi dengan pendar cahaya yang menghipnotis.

Jek memeluk Rara erat, merasakan kulit istrinya yang kian mengeras. Di telinga Jek, sistem yang seharusnya sudah mati itu membisikkan satu perintah terakhir yang tidak berasal dari kode, tapi dari insting purba yang tertanam di situs Jawa Timur:

"Hancurkan wadahnya, selamatkan jiwanya."

Jek menatap mata Rara yang mulai kehilangan kedalamannya, digantikan oleh pendar cahaya yang statis dan dingin. Ia tahu, menyerahkan diri berarti membiarkan kesadaran mereka berdua terlarut dalam lautan data organik yang tidak berujung. Itu bukan keselamatan; itu adalah penghapusan.

"Maafkan aku, Ra. Kita harus bertaruh," bisik Jek.

Tanpa menunggu jawaban, Jek menyambar pinggang Rara dengan satu tangan dan menarik Maya yang lemas dengan tangan lainnya. Dengan satu hentakan kuat, ia melompat dari ujung dermaga.

BYUUR!

Air asin yang dingin menyentuh kulit mereka seperti ribuan jarum. Seketika, reaksi berantai terjadi. Saat air laut yang kaya akan elektrolit menyentuh bintik-bintik cahaya hijau di lengan Rara, terdengar suara desis halus—seperti besi panas yang dicelupkan ke dalam air.

Rara menjerit pelan, tubuhnya mengejang hebat di dalam air. Cahaya hijau itu meledak kecil, lalu pudar, terlarut ke dalam kegelapan air asin. Jek merasakan sengatan listrik yang menyakitkan merambat ke seluruh tubuhnya saat air laut memutus paksa sinkronisasi organik yang sedang berjalan.

Jek berjuang menarik mereka berdua menuju perahu fiber yang terapung beberapa meter dari sana. Tangannya mencengkeram pinggiran perahu, otot-ototnya memprotes karena kelelahan yang luar biasa.

"Naik... cepat!" Jek mendorong Maya, lalu membantu Rara yang masih terengah-engah dan menggigil hebat.

Saat mereka berhasil naik ke atas perahu, Jek menoleh ke arah dermaga. Pemandangan itu mengerikan sekaligus menakjubkan. Akar-akar ungu yang tadi mengejar mereka berhenti tepat di bibir pantai. Mereka tidak berani menyentuh air laut. Setiap kali ombak kecil menerjang ujung akar, cahaya ungu itu berkedip panik dan menarik diri.

"Air laut... benar-benar racun bagi mereka," gumam Maya, sambil memegangi kepalanya yang masih terasa seperti dihantam palu godam.

Rara terbatuk, memuntahkan air asin. Ia menatap lengannya; bintik-bintik cahaya itu hilang, meninggalkan bekas kemerahan seperti luka bakar ringan. "Jek... aku bisa merasakannya lagi. Perasaan 'kosong' yang indah. Aku tidak lagi mendengar suara hutan itu."

Jek mengambil dayung kayu tua yang ada di dasar perahu. Ia tidak berani menggunakan motor mesin, takut getarannya akan menarik perhatian predator air yang mungkin sudah terinfeksi.

"Kita belum aman," Jek mulai mendayung menjauh dari daratan Jakarta yang kini bersinar terang seperti lampu neon raksasa di tengah kegelapan. "Jika daratan sudah jatuh, mereka akan mencari cara untuk menyeberang. Kita harus menuju pulau yang memiliki kadar salinitas tinggi, tempat di mana tanahnya terlalu asin untuk mereka tumbuh."

Di kejauhan, gedung J-Group yang telah menjadi "bunga bangkai" raksasa itu memancarkan denyut cahaya yang sangat kuat ke langit. Awan-awan di atasnya mulai membentuk pola sirkuit yang aneh.

"Jek, lihat ke langit," Maya menunjuk ke atas dengan jari gemetar.

Bukan hanya Jakarta. Di ufuk utara dan selatan, pendar ungu yang sama mulai terlihat di garis pantai kota-kota lain. Dunia bukan lagi sedang diunduh; dunia sedang diinstal ulang secara keseluruhan.

"Mereka sedang mengubah atmosfer," bisik Jek. "Jika mereka berhasil mengubah komposisi udara agar bisa menghantarkan data mereka, laut pun tidak akan bisa melindungi kita lagi."

Jek terus mendayung, membelah ombak malam. Di tengah laut yang gelap, ia menyadari bahwa mereka bukan lagi pejuang teknologi atau penyelamat ekonomi. Mereka adalah sisa-sisa terakhir dari sebuah spesies yang kini dianggap sebagai "bug" oleh planetnya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!