NovelToon NovelToon
Reverb

Reverb

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Konflik etika / Idol / Tamat
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Lucky Caleb adalah definisi kesempurnaan di Berlin—seorang penyanyi dan aktor papan atas dengan kekayaan melimpah dan popularitas yang menggila.
Namun, di balik kemewahan hidupnya, Lucky adalah pria yang terjebak di masa lalu. Kesuksesan lagu-lagu hitsnya sebenarnya merupakan rahasia yang ia simpan bersama Renata Brox, kekasih masa SMA yang juga merupakan penulis lirik di balik jeniusnya musik Lucky.
Tiga tahun lalu, saat mereka berusia 19 tahun, Renata memilih mundur. Muak dengan tekanan industri dan merasa tidak lagi menjadi prioritas di tengah kesibukan Lucky yang egois, Renata menghilang dan memulai hidup baru sebagai mahasiswi hukum yang cerdas di London.
Di tengah kesepian dan kegagalannya untuk move on, Lucky hanya memiliki Freya, asisten pribadinya yang setia. Freya adalah satu-satunya orang yang mampu menghadapi sisi dingin dan manja Lucky, sosok yang mengatur seluruh hidup sang bintang dan menjadi jangkar di tengah badai ketenaran.

Selamat Bacaaaa 🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#1

Lampu-lampu neon Berlin berpendar di balik kaca jendela penthouse lantai empat puluh di kawasan Potsdamer Platz.

Di dalam ruangan itu, keheningan terasa begitu pekat, kontras dengan keriuhan yang baru saja ditinggalkan Lucky Caleb satu jam lalu. Di atas meja marmer hitam, sebuah piala perak dari ajang penghargaan musik paling bergengsi di Jerman berkilau tertimpa cahaya redup.

Single terbarunya, "Ewig" (Abadi), baru saja memecahkan rekor pemutaran digital terbanyak dalam satu minggu.

Lucky, pemuda berusia 22 tahun dengan rahang tegas dan mata yang selalu tampak menyimpan rahasia, melepas jaket kulit rancangan desainer ternama dan melemparkannya sembarang ke sofa.

Sebagai putra dari seorang diplomat senior dan pemilik galeri seni prestisius di Mitte, dunia melihat Lucky sebagai definisi kesempurnaan. Ia adalah pangeran Berlin modern; kaya, berbakat, dan memiliki pesona yang mampu membuat ribuan siswi SMA & Mahasiswi di seluruh negeri histeris hanya dengan satu unggahan foto di media sosial.

Namun, di balik pintu tertutup ini, Lucky hanyalah seorang pria yang merasa asing di rumahnya sendiri.

Ia melangkah menuju meja kerjanya, bukan untuk memeriksa jadwal tur atau kontrak akting film terbarunya, melainkan untuk membuka laci paling bawah yang selalu terkunci. Dari sana, ia mengeluarkan sebuah bingkai foto kayu yang catnya sudah sedikit mengelupas—benda paling kontras di ruangan serba mewah itu.

Lucky duduk di kursi kebesarannya, jemarinya yang panjang mengusap permukaan kaca foto tersebut. Di dalam foto itu, seorang gadis mengenakan seragam SMA Berlin berdiri menyamping, tertawa ke arah kamera dengan latar belakang pohon Linden yang menguning.

"Renata Brox," bisiknya lirih. Suaranya, yang biasanya dipuja-puja karena tekstur baritone yang halus, kini terdengar pecah.

Ingatannya melompat kembali ke lima tahun lalu. Berlin musim gugur, saat mereka masih berusia 17 tahun.

Kala itu, Lucky bukanlah bintang besar. Ia hanyalah remaja pemberontak yang muak dengan ekspektasi ayahnya untuk masuk ke sekolah hukum. Dan Renata... Renata adalah segalanya yang tidak dimiliki Lucky. Gadis itu adalah badai kreatif yang hidup dalam kesederhanaan di sebuah apartemen kecil di Kreuzberg.

Tempat persembunyian mereka adalah sebuah kafe tua yang nyaris bangkrut di sudut jalan sempit, jauh dari kemegahan Mitte.

Di sana, di atas meja kayu yang lengket oleh tumpahan kopi, mereka menciptakan dunia mereka sendiri.

"Lucky, dengarkan melodi ini," suara Renata seolah terngiang kembali di telinganya. Gadis itu mengetukkan pulpennya ke meja, menciptakan ritme yang tidak biasa. "Kau punya suaranya, aku punya kata-katanya. Kita bisa membuat sesuatu yang abadi."

Malam itu, dengan hanya bermodalkan satu gitar tua milik pemilik kafe dan tumpukan serbet kertas sebagai media tulis, mereka menulis baris demi baris lagu yang kini merajai tangga lagu dunia. Single yang sekarang diteriakkan oleh ribuan remaja itu sebenarnya adalah janji-janji rahasia yang mereka tulis di usia 17 tahun.

Setiap baitnya adalah curhatan tentang ketakutan mereka akan masa depan, tentang mimpi Lucky untuk bebas, dan tentang cinta mereka yang terasa begitu tak terkalahkan di bawah temaram lampu kafe.

"Mereka pikir aku jenius, Renata," ucap Lucky pada foto di tangannya. "Padahal mereka hanya mendengar setengah dari jiwanya. Setengahnya lagi... tertinggal di kafe tua itu bersamamu."

Lucky menatap detail foto itu lebih dalam. Renata dalam balutan seragam SMA, dengan rambut cokelat yang selalu berantakan terkena angin Berlin. Gadis itu adalah orang pertama yang percaya bahwa Lucky bisa menjadi lebih dari sekadar "anak diplomat". Renata yang mendorongnya untuk ikut audisi akting pertama, Renata yang memaksa Lucky merekam demo lagu mereka meski Lucky merasa tidak percaya diri, suaranya tidak cukup bagus.

Namun, kesuksesan memiliki harga yang mahal.

Seiring dengan nama Lucky yang mulai merangkak naik di industri hiburan, tembok di sekelilingnya mulai terbangun.

Ayahnya mulai mencampuri manajemennya, memastikan citra Lucky tetap "bersih" dan "eksklusif". Hubungan dengan gadis dari Kreuzberg yang tidak memiliki latar belakang aristokrat dianggap sebagai gangguan bagi karier yang sedang naik daun.

Lucky ingat malam terakhir mereka di usia 19 tahun, saat tekanan dari agensi dan keluarganya mencapai puncaknya. Ia ingat bagaimana ia memilih untuk diam saat dunianya mulai menjauhkan Renata. Ia berpikir kesuksesan ini akan memberinya kekuatan untuk melindungi Renata, namun yang terjadi justru sebaliknya.

Kesuksesan itu menjadi jurang yang memisahkan mereka hingga akhirnya Renata menghilang—pergi meninggalkan Berlin tanpa meninggalkan jejak, hanya menyisakan tumpukan lirik lagu yang belum sempat mereka selesaikan.

Kini, di usia 22 tahun, Lucky memiliki segalanya. Ia bisa membeli galeri seni ibunya jika ia mau, ia bisa makan di restoran manapun di Berlin tanpa melihat harga. Namun, ia tidak bisa membeli satu jam saja untuk kembali ke meja kayu di kafe tua itu, berdebat tentang rima lagu bersama Renata.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan dari manajernya muncul di layar: "Lucky, label ingin kau membawakan 'Ewig' secara akustik di konser amal besok di Mitte. Ini akan sangat bagus untuk citramu."

Lucky menatap pesan itu dengan tatapan kosong. Ewig. Lagu itu sekarang milik publik. Milik gadis-gadis SMA & Mahasiswi yang menggantung posternya di dinding kamar mereka.

Mereka menganggap lagu itu tentang patah hati remaja yang estetik. Mereka tidak tahu bahwa setiap kali Lucky menyanyikan bagian chorus-nya, jantungnya terasa seperti diremas.

“Du bist der klang, den ich nie verlieren will...” (Kau adalah nada yang tak ingin kuhilangkan...)

Lucky meletakkan kembali bingkai foto itu di atas meja. Ia berdiri dan berjalan menuju balkon luasnya. Angin malam Berlin yang dingin menusuk kulitnya, tapi ia tidak peduli. Ia memandang ke arah distrik Mitte, tempat galeri ibunya berdiri megah, lalu mengalihkan pandangan jauh ke arah Kreuzberg yang redup.

Ia tahu, di suatu tempat di luar sana, atau mungkin di belahan dunia lain, Renata Brox mungkin mendengar suaranya di radio.

Apakah gadis itu membencinya karena menyanyikan lagu mereka sendirian di atas panggung megah? Ataukah Renata juga menyimpan potongan serbet kertas yang sama?

"Kamu menghilang, Ren," gumamnya pelan, hampir tertelan deru angin.

Malam itu, sang bintang populer Berlin tidak tidur. Ia kembali ke mejanya, mengambil sebuah buku catatan kosong, dan mulai menulis. Bukan untuk album berikutnya, bukan untuk tuntutan label, tapi untuk sebuah percakapan yang tertunda selama lima tahun.

Babak baru kehidupannya baru saja dimulai, bukan sebagai Lucky Caleb sang idola, melainkan sebagai Lucky, pemuda 17 tahun yang masih merindukan kekasihnya di sebuah kafe tua.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Ridwani
👍👍
winpar
hujn2 bca cerita sedih ini 😥😥😥😥
smngt Thor ceritanya bgus bgt
ros 🍂: Aaaa ma'aciww udah semangatin 🤭
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍
winpar
pinter bgt kk thornya1 hari bnyk bnget up nya 🥰😍
ros 🍂: Makasih jejak nya kak, kan jadi tambah semangat nulisnya 🥰
total 1 replies
winpar
up lgi kk seru bgt ceritanya🥰😍
ros 🍂: Ma'aciww jejak nya kak🥰🙏
total 1 replies
winpar
sedih banget 😥😥😥😥
ros 🍂: Kita harus bahagia Kak 😭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!