Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.
Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.
Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.
"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mahkota Berduri dan Kesetiaan yang Manis
Udara di lantai bawah tanah markas pegunungan itu terasa lebih berat dari biasanya. Bunyi dentuman logam yang beradu dan bau mesiu yang menyengat menjadi latar belakang latihan Rebecca pagi itu. Di depannya, Vargo berdiri dengan wajah tanpa ekspresi, memegang sebuah senapan serbu taktis—SIG Sauer MCX—yang terlihat terlalu besar untuk tubuh ramping Rebecca.
"Senjata pendek hanya untuk perlindungan jarak dekat, Nona. Tapi jika Anda ingin menghentikan ancaman sebelum mereka menyentuh kulit Anda, Anda harus menguasai ini," suara Vargo parau, bergema di ruangan beton tersebut.
Rebecca menerima senjata itu. Beratnya membuat pergelangan tangannya sedikit pegal. Selama dua jam terakhir, Vargo tidak memberinya ampun. Ia dipaksa melakukan bongkar pasang senjata, mengisi magasin dengan jari-jari yang mulai lecet, dan belajar menahan tendangan recoil yang kuat. Setiap kali bahu Rebecca tersentak ke belakang, Vargo hanya berkata, "Lagi. Tahan dengan otot perut Anda, bukan hanya bahu."
"Aku bukan tentara, Vargo," keluh Rebecca saat keringat menetes dari pelipisnya, membasahi kerah kaus hitamnya.
"Bukan, Nona. Anda adalah seorang Moretti," koreksi Vargo tajam. "Seorang Moretti tidak menunggu untuk diselamatkan. Mereka adalah penyelamat bagi dirinya sendiri."
Kalimat itu memicu sesuatu dalam diri Rebecca. Ia teringat kembali malam di gang gelap itu. Rasa dingin dari kain yang terkoyak, tawa menjijikkan anak buah Valenti, dan ketidakberdayaannya. Dengan geraman kecil, ia menarik tuas pengokang, membidik sasaran sejauh lima puluh meter, dan melepaskan serangkaian tembakan. Rat-tat-tat! Lubang-lubang kecil terbentuk tepat di area dada siluet target.
Vargo mengangguk tipis. "Cukup untuk hari ini. Bersihkan diri Anda. Tuan Maximilian akan kembali sebentar lagi."
Setelah latihan yang melelahkan, Rebecca merendam dirinya di bawah kucuran air hangat, berusaha membilas sisa-sisa bau mesiu dari kulitnya. Namun, pikirannya tidak bisa tenang. Malam ini adalah perjamuan amal Enzo Valenti. Sebuah sarang serigala di mana ia akan dilemparkan sebagai umpan sekaligus pernyataan perang.
Alih-alih beristirahat, Rebecca justru melangkah ke dapur luas di rumah utama. Ada keinginan aneh dalam dirinya untuk melakukan sesuatu bagi Maximilian. Sejak pria itu membawanya ke sini, Max telah memberikan segalanya—identitas, keamanan, bahkan kekuasaan—meskipun semuanya dibayar dengan kebebasan.
Rebecca mulai sibuk. Ia menyiapkan handuk putih bersih yang dipanaskan di lemari penghangat dan mengatur air mandi di kamar utama Maximilian dengan suhu yang tepat, lengkap dengan aroma terapi kayu cendana yang disukai pria itu.
Kemudian, ia beralih ke meja dapur. Rebecca ingat ibunya dulu sering berkata bahwa makanan manis bisa meluluhkan hati yang paling keras sekalipun. Ia mulai mengolah Soufflé Cokelat dengan salted caramel di tengahnya. Ia tahu, dari pengamatannya selama ini, Maximilian hampir tidak pernah menyentuh gula. Pria itu adalah penikmat kopi hitam pekat dan wiski tanpa es. Pahit adalah dunianya.
Saat aroma cokelat panggang yang manis mulai memenuhi ruangan, suara langkah sepatu bot yang berat terdengar di lorong. Maximilian telah pulang.
Rebecca menyambutnya di ruang tengah. Maximilian tampak lelah; ada guratan ketegangan di dahinya dan kemeja birunya sedikit kusut di bagian lengan.
"Air hangat sudah siap, Om. Handuknya juga sudah dipanaskan," ucap Rebecca lembut, sedikit ragu.
Maximilian berhenti melangkah, menatap Rebecca dengan mata elangnya yang dalam. Ia tidak terbiasa dilayani dengan cara yang domestik seperti ini. Biasanya, pelayan atau asistennya melakukan segalanya dengan efisiensi robotik, bukan dengan perhatian yang tulus.
"Dan ini ... aku membuatkan camilan," Rebecca menyodorkan piring kecil berisi soufflé yang masih mengepul. "Mungkin Om butuh tenaga sebelum kita pergi ke acara Valenti."
Maximilian melirik kue manis itu dengan tatapan skeptis. Ia membenci makanan manis. Baginya, gula hanya merusak ketajaman lidahnya. Namun, ia menatap mata Rebecca yang penuh harap—mata yang kini tidak lagi hanya berisi ketakutan, tapi juga semacam pengabdian yang rapuh.
Tanpa berkata-kata, Maximilian mengambil sendok kecil. Ia menyuapkan kue itu ke mulutnya. Rasa manis yang intens dan gurihnya karamel meledak di lidahnya. Ia sebenarnya ingin mengernyit, tapi melihat bagaimana Rebecca memperhatikan setiap gerakannya, ia justru menyendoknya lagi. Dan lagi. Sampai piring itu bersih tanpa sisa.
"Terlalu manis," gumam Maximilian datar, namun ia meletakkan piring itu dengan cara yang tidak kasar. Di dalam hatinya, ia merasakan kehangatan yang jauh lebih nyaman daripada air mandi mana pun. Ia senang, meskipun wajahnya tetap membeku seperti es di kutub.
"Maaf, lain kali aku akan mengurangi gulanya," sahut Rebecca, merasa sedikit gagal.
"Kemari," perintah Maximilian.
Ia merobek saku dalamnya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil. Di dalamnya terdapat sebuah pin perak berbentuk logo perusahaan induk Moretti—sebuah jangkar yang terlilit ular emas dengan detail yang sangat halus.
"Pakai ini di blazermu malam ini," Max menyematkan pin itu di kerah pakaian Rebecca.
Rebecca menatap pin itu. Ia tidak tahu bahwa benda kecil ini adalah tanda anggota VVIP di seluruh jaringan pelabuhan internasional milik Moretti. Siapa pun yang melihat pin ini, dari buruh pelabuhan hingga pejabat bea cukai, akan tahu bahwa orang yang memakainya membawa otoritas penuh dari Maximilian Moretti. Itu bukan sekadar perhiasan; itu adalah tongkat komando.
"Ini terasa ... berat," bisik Rebecca, menyentuh logam dingin itu.
"Tentu saja berat. Itu adalah beban kekuasaan," sahut Maximilian. Ia lalu duduk di sofa besar dan menarik pinggang Rebecca, memintanya duduk di pangkuannya.
Rebecca sempat membeku sejenak. Namun, saat lengan kokoh Maximilian melingkar di pinggangnya, ia tidak melawan. Ia justru menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. Aroma tubuh Max—campuran parfum mahal, tembakau, dan sedikit aroma kue yang tadi ia makan—memberikan rasa aman yang tidak biasa. Di pelukan pria paling berbahaya di kota ini, Rebecca justru merasa paling terlindungi.
Maximilian membelai rambut Rebecca dengan jemarinya yang kasar, sebuah gerakan yang sangat posesif namun penuh kelembutan yang tersembunyi.
"Dengarkan aku, Rebecca," bisik Max, suaranya menggetarkan dada Rebecca. "Pin itu akan membuat orang tunduk padamu, tapi senjata di tanganmu adalah yang akan membuat mereka tetap berlutut. Kau harus tumbuh lebih kuat. Lebih dingin. Aku tidak akan selalu ada di sampingmu setiap detik."
Cengkeraman Max di pinggang Rebecca sedikit mengerat, seolah teringat kejadian traumatis beberapa waktu lalu.
"Kau harus bisa membela dirimu sendiri. Jika tidak, dunia ini akan memangsamu hidup-hidup, persis seperti malam itu saat bajingan-bajingan itu mencoba mengoyak pakaianmu. Aku menyelamatkanmu sekali agar kau bisa belajar bagaimana caranya tidak perlu diselamatkan lagi. Mengerti?"
Rebecca memejamkan mata, meresapi setiap kata-kata keras itu. Ia tahu Maximilian tidak sedang mengancamnya, melainkan sedang mempersiapkannya untuk sebuah kehidupan di mana kelemahan adalah dosa yang mematikan.
"Aku mengerti, Om," bisik Rebecca. Ia mengeratkan pelukannya pada leher Maximilian, merasa bahwa di tengah badai yang akan datang di perjamuan Valenti, satu-satunya tempat yang paling stabil adalah di dalam pelukan pria dingin yang baru saja menghabiskan kue manis buatannya demi menyenangkan hatinya.
Maximilian tidak membalas dengan kata-kata manis. Ia hanya mencium puncak kepala Rebecca dengan lama, sebuah segel tak kasat mata bahwa gadis ini adalah miliknya, dan siapa pun yang mencoba menyentuhnya malam ini harus melewati mayat Maximilian terlebih dahulu.
"Sekarang, bersiaplah," ucap Max sambil melepaskan pelukannya, kembali ke mode pemimpin mafia yang dingin. "Kita punya kerajaan yang harus kita guncang malam ini."
𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩 𝐬𝐝𝐡 𝐬𝐥𝐡 𝐩𝐡𝐦 𝐢𝐧𝐢 🤣🤣🤣