Rian, cowok populer ber-skill indigo, effort banget ngejagain Arini yang amat dicintainya lewat penglihatan masa depan yang nggak pernah fail.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Sat Set Sang Sad Boy
Langit di atas kampus siang itu sebenarnya lagi cakep-cakepnya—tipe biru aesthetic yang sering lewat di feed Pinterest. Tapi buat Rian, dunianya berasa lagi pakai filter abu-abu.
Cowok itu duduk menyendiri di bangku taman favoritnya, tepat di bawah pohon mahoni yang rindang. Bukannya sibuk ngerjain tugas jempolnya malah sibuk zoom-in zoom-out foto Arini di layar ponselnya.
Arini, pacarnya yang sekarang lagi kuliah di luar negeri, kelihatan makin cantik di foto itu. Dia pakai long coat krem dengan latar belakang jalanan kota yang lagi musim gugur. Rian menghela napas berat. Jarak ribuan kilometer itu beneran bukan main-main. Rasa kangennya sudah di tahap overthinking tingkat dewa.
"POV: Jadi orang paling galau se-universitas," celetuk sebuah suara cempreng yang tiba-tiba memecah keheningan.
Puk!
Bahu Rian disenggol cukup keras, bikin ponselnya hampir saja terjun bebas ke tanah. Rian mendongak dengan wajah bete maksimal. Di depannya, Siska sudah berdiri sambil berkacak pinggang, lengkap dengan cengiran tanpa dosanya. Di belakang Siska, ada Gery yang lagi asyik ngunyah cilok dengan ekspresi wajah yang seolah bilang, 'Bukan gue ya yang ganggu lo, gue cuma penonton.'
"Hayo, peramal kampus kok malah ngelamun sendirian? Lo kenapa sih, Yan? Mikirin Arini ya? Haha, emang nggak enak ya LDR, vibes-nya kayak lagi simulasi jomblo," goda Siska sambil duduk tanpa diundang di sebelah Rian.
Rian mendengus, berusaha menormalkan raut wajahnya yang sempat salting. "Apaan sih lu, Sis? Ngagetin aja. Bisa nggak sih dateng tuh pakai salam, minimal nggak usah pake acara nyenggol?"
"Ya habisnya lo bengongnya dalem banget, Yan. Gue panggilin dari jauh juga lo nggak nengok-nengok. Kayaknya kalau ada pesawat jatuh di depan lo pun, lo bakal tetep fokus ke layar HP," sahut Siska sambil tertawa kecil. "Spill dong, Arini kabarnya gimana di sana? Masih aman kan? Atau lo lagi takut dia ketemu bule-bule ganteng di sana?"
Gery ikut nimbrung sambil menelan ciloknya. "Iya, Yan. Lo jangan terlalu low vibration gitu dong. Arini kan di sana belajar, bukan mau ikutan dating show."
Rian kembali menatap layar ponselnya, lalu mengunci layarnya. Dia terdiam sejenak, memikirkan sesuatu yang selama beberapa hari ini sudah mengendap di kepalanya. Keputusan yang mungkin terdengar gila bagi anak kuliahan semester pertama kayak mereka.
"Sis, Ger," suara Rian merendah, ekspresinya berubah serius. "Kalau nanti Arini sama gue udah lulus kuliah... gue mau langsung nikahin dia aja."
Siska yang tadinya mau curhat soal dosen killer, langsung tersedak ludahnya sendiri. Matanya membelalak lebar,"What?! Nikah? Lulus kuliah langsung mau nikahin anak orang lo, Yan? Are you for real? Baru juga lulus, belum dapet kerja yang settle, udah mau main sat set aja!"
Gery bahkan sampai berhenti mengunyah. "Wah, ini sih plot twist paling gila sepanjang semester. Lo nggak lagi prank kita kan?"
Rian menggeleng mantap. "Gue serius. Gue nggak mau kehilangan dia lagi. LDR ini bener-bener nyiksa, Sis. Gue mau dia selalu ada di deket gue, jadi bagian dari hidup gue tiap hari. Gue pengen dia nggak bisa jauh lagi dari gue."
Siska menggeleng-gelengkan kepala, masih berusaha mencerna keberanian temannya itu. "Emang kacau lu, Yan! satset banget. Tapi ya... back to you sih, terserah lu berdua gimana nantinya. Kan kalian yang bakal jalanin. Pokoknya kalau itu emang udah keputusan lo, gue dukung hubungan kalian seratus persen. Semoga Arini juga satu server ya sama rencana lo."
Siska melirik jam di pergelangan tangannya. "Aduh, udah mau masuk jamnya Pak Bambang! Gue masuk kelas dulu deh. Inget ya Yan, jangan galau mulu, ntar aura lo jadi makin redup. Bye, Yan! Bye, Ger!"
Siska berlari kecil meninggalkan taman, disusul Gery yang memberikan jempol ke arah Rian sebelum ikut menyusul. Rian kembali sendiri. Suasana taman kembali tenang. Rian merogoh ponselnya lagi saat merasakan getaran. Ada notifikasi video call masuk.
Arini 🤍 calling...
Wajah Rian yang tadi tegang langsung berubah cerah. Dia segera menggeser tombol hijau.
"Halo, Sayang," sapa Rian dengan suara lembut, kontras banget sama cara bicaranya ke Siska tadi.
Di layar, wajah Arini muncul dengan latar belakang perpustakaan kampusnya. Dia tersenyum manis, meski terlihat ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya karena kurang tidur.
"Halo, Rian. Kamu lagi apa? Kok mukanya kelihatan capek banget?" tanya Arini di seberang sana.
"Aku cuma lagi di taman kampus, kok. Baru selesai ngobrol sama Siska dan Gery. Kamu sendiri kenapa belum tidur? Di sana bukannya sudah malam banget ya?" jawab Rian penuh perhatian.
Arini menghela napas, menyandarkan kepalanya ke tangan. "Aku baru selesai ngerjain tugas kelompok, Rian. Capek banget, rasanya pengen cepat pulang. Aku kangen banget sama kamu. Kadang aku merasa waktu berjalan lambat banget di sini."
Hati Rian mencelos mendengarnya. Keinginan untuk segera meminang gadis itu makin kuat.
"Sabar ya, Sayang. Aku di sini juga selalu nungguin kamu. Aku janji, setelah kamu lulus nanti, aku nggak akan biarin kamu pergi jauh-jauh lagi dari aku. Aku ingin kita selalu bareng-bareng terus," ucap Rian sungguh-sungguh.
Arini tersipu, wajahnya sedikit merona di layar ponsel. "Kamu gombal banget sih siang-siang begini. Tapi terima kasih ya, itu beneran bikin mood aku naik lagi. Kamu jaga kesehatan ya di sana, jangan telat makan."
"Iya, Arini. Kamu juga ya. Jangan terlalu diforsir belajarnya. Kalau kamu sakit, aku yang paling sedih karena nggak bisa ada di samping kamu buat jagain."
"Iya, Rian. Ya sudah, aku mau beresin buku-buku dulu terus balik ke apartemen. Nanti aku kabari lagi kalau sudah sampai ya."
"Oke, Sayang. Love you."
"Love you too, Rian."
Panggilan terputus. Rian menatap layar yang sudah gelap itu dengan senyum kecil. Meskipun Siska menganggap rencananya gila, bagi Rian, itu adalah satu-satunya cara untuk mengakhiri kegalauan abadi ini. Dia harus segera upgrade dirinya, mulai dari finansial sampai mental, karena dia nggak main-main soal niatnya.
Gue bakal buktiin kalau rencana sat set ini bukan cuma omong kosong," gumam Rian penuh tekad.
Dia bangkit dari kursi taman, berjalan menuju kelasnya dengan langkah yang jauh lebih ringan dari sebelumnya. Hari ini, kegalauan itu berubah jadi motivasi. Karena bagi Rian, Arini adalah tujuan akhirnya, dan dia nggak akan membiarkan jarak menang kali ini.
Selanjutnya, apakah Rian bisa konsisten dengan rencananya? Ataukah akan ada cobaan baru yang menguji kesetiaan mereka?