NovelToon NovelToon
Benang Merah Yang Patah

Benang Merah Yang Patah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Tamyst G

Dalam dunia bisnis kelas atas, pernikahan bukan tentang cinta, melainkan tentang penaklukan. Maximilian Alfarezel adalah pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan melalui tekanan dan kalkulasi dingin. Namun, Vivien bukan sekadar pion yang mudah digerakkan. Di balik pembawaannya yang tenang dan aristokratis, Vivien menyimpan api dendam atas kematian misterius ayahnya yang ia yakini melibatkan keluarga Maximilian.

Tinggal dalam satu atap sebagai dua musuh, mereka terjebak dalam permainan psikologis yang berbahaya. Maximilian berusaha mematahkan harga diri Vivien dengan dominasi dan obsesi yang menyesakkan, sementara Vivien menggunakan kecerdasan mentalnya untuk memancing sisi kemanusiaan Maximilian yang paling rapuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DI BALIK TIRAI AUDIT

Setelah malam yang melelahkan di dermaga Tanjung Priok, Jakarta tidak memberikan waktu bagi Maximilian untuk sekadar menarik napas panjang. Pagi harinya, Menara Alfarezel yang biasanya angkuh kini berubah menjadi sarang lebah yang gaduh. Puluhan auditor dari firma internasional terkemuka, dikawal oleh penyidik dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Interpol, telah mengambil alih seluruh lantai eksekutif. Maximilian tidak lagi duduk di kursi kebesaran ayahnya; ia duduk di sebuah meja kecil di ruang rapat komunal, dikelilingi oleh tumpukan berkas fisik yang baru saja tiba dari berbagai kantor cabang di seluruh dunia.

Vivien Aksara berada di ruangan sebelah, memimpin tim audit untuk aset keluarga Aksara. Wajahnya yang biasanya cerah kini tampak tegang, matanya merah karena kurang tidur. Namun, ia tidak menyerah. Baginya, setiap angka yang diverifikasi adalah satu langkah menuju pembersihan nama ayahnya. Ia tahu bahwa publik sedang menunggu hasil audit ini dengan penuh rasa lapar, siap untuk menghakimi jika ada satu sen pun yang tidak bisa dijelaskan.

"Tuan Alfarezel, kami menemukan ketidakkonsistenan pada akun derivatif di Singapura yang tercatat atas nama sebuah perusahaan cangkang di Kepulauan Cayman," ucap seorang auditor senior dengan nada datar sambil menyodorkan tablet digital.

Maximilian mengambil tablet itu, matanya dengan cepat memindai angka-angka rumit tersebut. "Itu adalah akun 'transit' yang digunakan Julian Vane untuk menyamarkan aliran dana dari Zurich. Lihatlah pada kode enkripsi di kolom sebelah kanan. Itu adalah kode akses Phoenix. Saya sudah memberikan kunci dekripsinya di dalam file 'BlackBox-01' yang saya serahkan kemarin."

Auditor itu terdiam sejenak, melakukan pengecekan cepat, lalu mengangguk. "Anda benar. Jika data ini diverifikasi, maka aset senilai empat ratus juta dolar ini akan secara otomatis disita oleh negara."

"Ambil saja," jawab Maximilian dingin. "Saya tidak ingin melihat satu pun jejak uang itu di buku besar saya yang baru."

Di tengah kesibukan audit yang menyesakkan itu, Gideon masuk dengan langkah terburu-buru. Ia membisikkan sesuatu yang membuat Maximilian segera berdiri dan mengajak Vivien ke ruangan yang lebih tertutup.

"Apa yang terjadi, Gideon?" tanya Vivien, firasat buruk mulai merayap di hatinya.

"Julian Vane tidak lagi berada di sel penahanan kepolisian," bisik Gideon dengan nada yang sangat rendah. "Dia dipindahkan tadi malam ke rumah sakit tahanan karena alasan 'gangguan jantung', tapi sumber saya di dalam mengatakan bahwa penjagaan di sana sangat lemah. Dan yang lebih mengkhawatirkan, Elena Von Zurich di Swiss baru saja memenangkan banding administratif untuk dipindahkan ke status tahanan rumah di vila pribadinya karena alasan kesehatan."

Maximilian mengepalkan tangannya di atas meja. "Mereka sedang melakukan konsolidasi. Mereka sengaja membiarkan kita sibuk dengan audit dan urusan publik sementara mereka menyiapkan jaring pengaman untuk melarikan diri."

"Bukan hanya itu, Max," lanjut Gideon sambil membuka sebuah dokumen rahasia. "Audit ini... ternyata merupakan pedang bermata dua. Dengan membuka seluruh transaksi masa lalu, kita secara tidak sengaja juga mengungkap lokasi-lokasi gudang penyimpanan fisik dan aset properti Phoenix yang selama ini tidak kita ketahui. Masalahnya, data audit ini bersifat publik bagi dewan direksi yang masih memiliki saham. Artinya, orang-orang Elena bisa melihat di mana saja 'harta' mereka berada yang belum sempat kita amankan."

Vivien menatap peta dunia di layar monitor besar. "Jadi, kita sebenarnya sedang memetakan jalan bagi mereka untuk mengambil kembali aset mereka?"

"Kecuali kita bergerak lebih cepat dari mereka," sahut Maximilian. Ia menoleh ke arah Bara yang baru saja masuk dengan perlengkapan taktis yang disembunyikan di balik jaketnya. "Bara, berapa banyak orang yang bisa kita gerakkan tanpa memancing kecurigaan polisi dan media?"

"Hanya tim inti, Tuan. Sepuluh orang paling banyak. Jika lebih dari itu, kita akan dianggap sedang mencoba menyembunyikan aset," jawab Bara.

"Cukup. Fokus kita adalah 'The Vault' di Singapura dan dermaga logistik di Odessa. Kita harus memastikan kurator internasional sampai ke sana sebelum sel-sel tidur Phoenix mengosongkannya," perintah Maximilian.

Malam itu, Maximilian melakukan tindakan yang sangat berbahaya. Sambil tetap terlihat sibuk dengan auditor di Jakarta, ia memberikan instruksi rahasia kepada tim bayangan di luar negeri untuk melakukan 'operasi penyegelan'. Ia menggunakan sisa-sisa otoritasnya sebagai CEO yang belum secara resmi dicopot untuk memerintahkan penguncian total pada server-server regional.

Namun, Phoenix tidak tinggal diam. Saat jam menunjukkan pukul dua pagi, sistem listrik di Menara Alfarezel tiba-tiba mati total. Seluruh lampu padam, dan sistem cadangan pun gagal berfungsi. Di tengah kegelapan, suara letusan senjata api terdengar di lobi bawah.

"Mereka di sini!" teriak Bara melalui interkom. "Mereka tidak ingin audit ini selesai! Mereka mencoba menghancurkan hard drive pusat!"

Maximilian segera menarik Vivien ke bawah meja kerja yang kokoh. "Tetap di sini, Viv! Jangan bergerak!"

Bara dan tim keamanannya terlibat baku tembak sengit di lorong-lorong gelap Menara Alfarezel. Para penyerang adalah tentara bayaran profesional yang bergerak dengan kacamata night vision. Tujuan mereka jelas: membakar ruang arsip dan menghancurkan peladen utama yang berisi data audit yang belum sempat dikirim ke Interpol secara lengkap.

Maximilian tidak tinggal diam. Ia mengambil sebuah pistol dari laci tersembunyi—senjata terakhir yang ia simpan untuk situasi seperti ini. Ia merangkak di antara bayang-bayang, menggunakan pengetahuannya tentang tata letak gedung untuk mengepung para penyusup.

"Max, di belakangmu!" teriak Vivien saat melihat kilatan cahaya dari senjata musuh.

Maximilian berputar dan melepaskan tembakan presisi yang menjatuhkan salah satu penyerang. Namun, jumlah mereka terus bertambah. Di tengah kekacauan itu, Maximilian menyadari bahwa penyerangan ini hanyalah pengalihan.

"Gideon! Cek ruang peladen lantai 45! Itu target utama mereka!" seru Maximilian.

Ia berlari menuruni tangga darurat, mengabaikan rasa perih di bahunya yang tergores serpihan peluru. Sesampainya di lantai 45, ia menemukan seorang pria sedang mencoba memasang perangkat peledak termit pada rak-rak peladen. Pria itu menoleh, dan Maximilian tertegun. Itu adalah salah satu auditor yang tadi sore membantunya—seorang penyusup yang telah disusupkan Phoenix sejak awal.

"Kau... kau bekerja untuk mereka," desis Maximilian.

"Phoenix memberikan pensiun yang lebih baik daripada integritas, Tuan Alfarezel," jawab auditor itu sambil menarik pelatuk pistolnya.

Maximilian melompat ke balik lemari besi, membalas tembakan dengan cepat. Sebuah peluru mengenai bahu sang pengkhianat, membuatnya menjatuhkan alat peledaknya. Maximilian segera menerjangnya, menggulat pria itu dengan kemarahan yang meluap. Ia tidak hanya bertarung demi data; ia bertarung demi masa depan keluarganya.

Setelah perjuangan singkat yang brutal, Maximilian berhasil melumpuhkan sang pengkhianat. Ia segera mengambil alat peledak itu dan melemparkannya ke area kosong sebelum meledak. Ledakan kecil itu tidak merusak peladen, namun cukup untuk memicu alarm kebakaran dan mengaktifkan sistem gas pemadam yang membuat para penyerang lainnya terpaksa mundur.

Beberapa menit kemudian, pasukan polisi bantuan tiba dan mengamankan gedung. Cahaya senter menyapu ruangan yang berantakan. Maximilian berdiri di tengah kepulan asap, napasnya memburu, wajahnya tercoreng jelaga. Vivien berlari ke arahnya dan langsung memeluknya erat.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Vivien dengan suara bergetar.

"Data audit itu aman," jawab Maximilian sambil menatap peladen yang masih berkedip pelan. "Mereka gagal. Tapi ini membuktikan satu hal: Phoenix tidak akan membiarkan kita menyelesaikan audit ini dengan damai. Mereka akan terus menyerang sampai kita benar-benar hancur."

Audit yang tadinya dianggap sebagai proses administratif biasa, kini telah berubah menjadi garis depan pertempuran hidup dan mati. Setiap angka yang terungkap kini memiliki harga nyawa. Maximilian menyadari bahwa selama Elena dan Julian masih memiliki akses ke dunia luar, ancaman ini tidak akan pernah berhenti.

Malam itu berakhir dengan penjagaan militer di sekitar Menara Alfarezel. Maximilian dan Vivien kembali ke rumah dengan kawalan ketat. Saat mereka melihat Alaric yang masih tertidur lelap, Maximilian tahu bahwa ia harus melakukan langkah terakhir yang paling drastis. Ia tidak bisa hanya menunggu audit selesai; ia harus memburu sisa-sisa Phoenix sampai ke akarnya, sebelum mereka benar-benar bangkit kembali dari abunya.

"Viv," ucap Maximilian saat mereka duduk di tepi tempat tidur. "Kita tidak bisa hanya bertahan di Jakarta. Kita harus mengakhiri ini di tempat asalnya. Kita harus memastikan Elena tidak pernah keluar dari vila itu."

Vivien menatap suaminya, menyadari bahwa perjalanan mereka untuk mencari kedamaian baru saja memasuki babak yang paling berbahaya. Restrukturisasi nurani menuntut pengorbanan yang lebih besar dari yang mereka bayangkan, dan di bawah bayang-bayang audit yang berdarah, Maximilian bersiap untuk serangan terakhirnya.

1
Panda%Sya🐼
Kebayang gimana gantengnya si Maximilian ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!