Axlyn mengira ia akan selamanya menjadi sosok yang terlupakan oleh seorang Kayvaran Cano Xavier sejak kejadian 5 tahun yang lalu di Kota Xennor. Namun, siapa sangka takdir malah mempertemukan mereka kembali hingga tanpa sengaja bibit kembar Kay kini tumbuh di dalam perutnya.
Dimana Axlyn malah terjebak menjadi pengawal pribadi dari gadis kecil yang ia kira sebagai putri kandung Kay. Axlyn dituntut untuk melindungi anak dari pria yang menjadi ayah dari dua janin yang tengah dikandungnya.
“Kay, apa yang harus aku lakukan dengan dua janin yang tidak berdosa ini? Haruskah aku kembali memasuki hidupmu demi anak kita atau tetap menjadi yang terlupakan?”
Akankah Axlyn memberitahukan tentang kehamilannya? Ataukah Kau yang lebih dulu mengingat kembali tentang Axlyn? Atau mungkin takdir kembali mempermainkan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
“Maka kami juga tidak akan segan mengambil tindakan tegas,” balas Erick seolah tak gentar sedikitpun berhadapan dengan pria yang terkenal dengan julukan bocah psikopat itu di dunia bawah.
“Berani sekali kau…”
Ucapan Levi tak berlanjut karena Regis menahannya. Kemudian Regis menatap langsung pada mata Erick seraya berkata, “Apa yang bisa kami lakukan untuk mendapatkan data wanita itu selain menunggu sampai misinya selesai?”
Erick menghela napas, “Anda bisa meminta ijin dari klien lebih dulu yang mengambil wanita itu sebagai pengawalnya.”
“Kalau begitu berikan kontaknya. Kami akan meminta ijinnya saat ini juga,” ujar Regis.
Erick lantas membuka brankas rahasianya, dimana semua data kerjasama dengan kliennya ia simpan dengan aman. Erick tampak mencari di antara tumpukan berkas yang ada di sana. Sampai akhirnya ia mengambil sebuah berkas yang berada di tengah.
Erick kemudian menyerahkan data atau lebih tepatnya hanya kontak yang bisa menghubungi kliennya. “Aku hanya bisa memberikan kontak teleponnya saja, selebihnya itu adalah rahasia perusahaan.”
Baik Levi maupun Regis tidak menjawab, mereka hanya menerima nomor kontak telepon itu. Regis dengan cepat mencatat nomor kontak telepon itu di ponselnya. Namun, baru setengah angka yang ia masukan nomor itu menunjuk pada satu nama yang tertera di daftar kontaknya.
“Spencer! Ini nomor telepon Spencer,” gumam Regis sedikit tidak percaya dengan apa yang terjadi. Ia berulang kali memastikan setiap digit angka yang tertera… tetapi nomor itu memang milik Spencer.
Levi menelan ludah. “Jadi… selama ini identitas wanita itu—”
“—sudah ada di tangan Spencer,” potong Regis pelan.
Hening untuk beberapa saat tercipta diantara keduanya. Kemudian mereka berdua berbicara bersamaan. “Bocah itu lagi?!”
“Bukankah saat ini mereka bertiga sedang berkumpul di Negara B?”
Regis memastikan informasi yang ia dapat sebelumnya dari Papahnya yang mengatakan bahwa Kay dan Noah sedang membantu Spencer yang sedang dalam masalah.
Mereka saling menatap tak percaya seolah merasa dejavu seperti kejadian di Kota Xennor lima tahun yang lalu. Sedangkan Erick hanya menatap bingung Levi dan Regis yang menunjukkan ekspresi aneh saat mengetahui siapa klien yang menugaskan wanita yang sedang kedua cari.
“Ketiga bocah sialan itu… memang tukang pembuat masalah.” kata Levi geram sendiri setelah mengetahuinya.
“Namun, apakah mereka tahu bahwa wanita yang di cari Kay dan keluarga Xavier selama ini ada di sisinya sekarang?” Satu dugaan terlintas dibenak Regis.
“Jika mereka sudah tahu, seharusnya kita tidak perlu mencarinya lagi, bukan?” sahut Levi. “Jadi, kesimpulannya mereka belum mengetahuinya. Lalu apa tujuan wanita itu? Kenapa tidak memberitahu Kay yang sebenarnya?” Levi menatap Regis seolah bertanya padanya.
“Kau bertanya padaku? Lalu aku harus bertanya pada siapa untuk menemukan jawabannya?” Regis jelas tidak bisa menjawabnya.
Keduanya kembali saling melempar pandangan satu sama lain. Dan serentak berkata, “Kita harus memastikannya sendiri.”
Tanpa mengucapkan terima kasih atau berpamitan, Levi dan Regis langsung pergi begitu saja dari perusahaan tersebut. Dengan cepat, Regis memberitahukan pilot pesawat pribadinya untuk mempersiapkan penerbangan menuju Negara B secepatnya. Mereka kembali menuju hotel untuk mengambil barang-barang mereka yang masih berada di sana.
Regis sudah selesai membereskan barang-barangnya. “Pesawat akan siap setengah jam lagi.”
Levi yang sedang bersantai di sofa hanya berkedip teka percaya. “Kita langsung berangkat?”
“Kau ingin buang waktu di sini?”
“Tanpa mandi lebih dulu? Kau tidak merasa tubuhmu lengket karena keringat?”
“Ck, memangnya kau sering mandi? Setahu aku, Kak Lucia sering bilang kalau kau jarang sekali mandi dan karena itu dia sering mengusir….”
“Eits… cukup! Jangan dibahas lagi, sebaiknya kita memang berangkat sekarang.”
Levi langsung menyela dan menyeret Regis keluar dari kamar tersebut tanpa memperdulikan barangnya yang masih belum dibereskan. Biar saja, anak buahnya yang akan membereskan untuknya.
...****************...
Di Markas klan Dark Lion. Hujan turun tipis di luar jendela bar kecil itu yang ada di sana. Lampu-lampu redup memantul di genangan air jalanan, membuat malam terasa lebih sunyi dari biasanya. Di dalam, suara gelas yang saling beradu terdengar pelan.
Sejak datang Kay terus meneguk habis isi gelasnya dalam sekali teguk. Cairan pahit itu membakar tenggorokannya, tapi anehnya tidak cukup untuk memadamkan kekacauan di kepalanya. Noah sudah berusaha menghentikannya, tetapi Kay sama sekali tidak memperdulikan. Untuk kesekian kalinya Kay menghela napas panjang.
"Tuang lagi."
Noah menatap botol di tangan bartender lalu kembali pada Kay dengan alis terangkat.
"Kay… ini sudah gelas keempat. Kau bisa benar-benar mabuk jika terus minum seperti ini."
"Kelima," ralat Spencer datar.
Noah hanya meliriknya sekilas yang duduk di seberang meja. Lalu setelahnya menghela napas panjang, lelah menghadapi sikap Kay yang sudah diluar kendali seperti ini. Spencer hanya mengangkat bahu santai seolah apa yang Kay lakukan sekarang bukan masalah besar.
"Tuang saja," kata Spencer ringan. "Jarang-jarang kita lihat dia bertingkah seperti ini. Apakah telah terjadi sesuatu padanya? Apa masalah di perusahaan sangat sulit, hingga dia sefrustasi ini?"
Gelas kembali terisi, tetapi sebelum Kay mengambilnya Noah lebih dulu merebutnya dan meneguk habis isi minuman tersebut. Kay sontak menatapnya tak suka, sampai akhirnya pelayan kembali menuangkan minumannya. Kau memutarnya sebentar sebelum meneguknya setengah. Ia kemudian bersandar ke kursi, menatap langit-langit dengan mata sedikit merah.
"Aku seharusnya datang ke sini untuk membantumu."
Spencer terkekeh pelan, rupanya Kay masih ingat dengan tujuan pertemuan mereka di sini. "Memang seharusnya begitu. Lalu apa yang bisa kau bantu dengan keadaanmu yang seperti ini sekarang?"
"Masalah klan milik Papah Leon," lanjut Kay, suaranya mulai berat bersamaan kesadarannya yang hilang oleh alcohol yang diminumnya. "Harusnya aku yang menyelesaikan semuanya."
"Harusnya tapi—"
"Tapi kenapa malah hidupku yang jadi kacau di sini?" potong Kay.
Spencer mengerutkan keningnya bingung dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Kay. Ia beralih menatap Noah yang sedikit tersenyum dengan tingkah Kay kali ini yang tanpa sadar malah curhat akan masalah pribadinya yang baru saja ia ketahui.
"Karena hidupmu memang suka penuh drama, Kay. Jika tidak… kau tidak akan sefrustasi ini, bukan?" celetuk Noah.
Kay menatapnya tajam. "Leluconmu sangat jelek. Kau pikir aku ingin terjebak di situasi seperti ini, Hah?"
Bersambung….
Aku masih nungguin loh 🤭☺
Dan tanpa Kay sadari, kedua perempuan itu adalah orang yang sama 😝
Wah, seru ini 🤭
Eh, maksudnya mantan bocah psikopat.. Kan Levi udah bukan bocah lagi... ☺✌