Kisah tentang cinta yang tak memandang usia, tentang keberanian menerima masa lalu seseorang, dan tentang dua hati yang memilih bersama meski dunia sempat meragukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Sudah hampir tujuh tahun Nadira Ayunika bernaung di sebuah kamar kos sederhana di sudut kota Jakarta. Kamar itu tak luas, hanya cukup untuk satu ranjang kecil, meja belajar yang mulai rapuh, dan lemari besi yang catnya mengelupas. Tapi di sanalah Nadira belajar menjadi kuat.
Sejak pergi dari rumah, ia hanya pulang setahun sekali. Bukan karena tak rindu, tapi karena ia tak ingin terlihat lemah.
Padahal, Mama Ayunika Sasmita dan Abah Adi Pratama termasuk orang yang berkecukupan di kampung. Mereka tak pernah keberatan membiayai hidup Nadira sepenuhnya. Namun Nadira keras kepala ia tak mau merepotkan. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya bisa berdiri di atas kaki sendiri.
Sambil kuliah dulu, ia bekerja paruh waktu. Setelah lulus tiga tahun lalu, ia tetap bertahan di Jakarta. Bekerja dari pagi sampai malam. Kadang lelah, kadang ingin menyerah, tapi gengsi dan tekadnya lebih besar dari rasa itu.
Malam itu, di dalam kamar kos yang sunyi, ponsel Nadira tiba-tiba berbunyi.
Mama Bawel
Nama itu muncul di layar. Nadira tersenyum kecil. Sejak dulu ia memang menyimpan kontak mamanya dengan nama itu karena Mama selalu cerewet menyuruhnya pulang.
Ia mengangkat telepon
“Halo, Ma…”
Suara di seberang langsung terdengar, sedikit kesal tapi penuh rindu.
“Kamu ini, Dira punya anak satu-satunya, tapi nggak sayang orang tua. Disuruh pulang susah sekali”
Nadira tertawa kecil, menahan haru yang tiba-tiba menyeruak
“Sayang, Ma… Nadira cuma lagi kerja”
“Kapan terakhir pulang? Mama sampai lupa wajah anak Mama sendiri”
Ucapan itu seperti panah kecil yang menancap pelan di hati Nadira
Ia terdiam... tujuh tahun di Jakarta, pulang hanya sekali dalam setahun. Kadang bahkan tak sampai seminggu. Selalu ada alasan pekerjaan. Selalu ada alasan tanggung jawab.
Padahal yang paling berat sebenarnya bukan pekerjaan melainkan rindu yang tak pernah benar-benar ia beri waktu.
Di ujung telepon, Mama kembali berkata lembut,
“Pulanglah, Nak Abah sama Mama kangen. Rumah ini sepi setelah kamu di Jakarta”
Nadira menatap langit-langit kamarnya yang kusam. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, hatinya goyah.
Telepon yang Mengusik Hati
“Iya, Mah… nanti Nadira pulang” jawab Nadira pelan.
“Nanti kapan?” suara Mama Ayu langsung menyahut. Nada bicaranya seperti biasa sedikit bawel, sedikit memaksa, tapi penuh cinta.
“Kamu itu sudah bertahun-tahun di Jakarta. Apa nggak pengin pulang selain lebaran?”
Nadira terdiam. Tatapannya kosong menembus dinding kamar kos yang kusam.
“Pengin, Mah…” lirihnya.
“Terus kenapa susah sekali pulang? Rezeki kamu itu bukan cuma kerja, Nak. Umur kamu juga sudah nggak muda lagi. Ingat nikah”
Kata terakhir itu membuat Nadira menarik napas panjang.
“Mah…” Nadira tersenyum tipis walau tak terlihat. “Nadira masih fokus kerja”
Di seberang sana terdengar helaan napas panjang
“Fokus kerja boleh tapi hidup itu bukan cuma soal kerja. Mama sama Abah nggak selamanya ada”
Kalimat itu seperti petir di malam yang tenang.
Nadira menggigit bibirnya. Ia tahu maksud Mama baik. Ia tahu usia orang tuanya terus berjalan tapi setiap kali pulang, selalu ada pembicaraan tentang jodoh tentang calon suami, tentang masa depan yang menurut mereka harus segera diputuskan.
“Abah juga sering bilang” lanjut Mama pelan “rumah ini sepi tanpa kamu. Kami ini cuma punya kamu satu-satunya”
Nadira menutup matanya. Rasa bersalah merayap pelan.
Tujuh tahun ia bertahan sendiri. Ia bangga bisa berdiri tanpa meminta uang dari orang tuanya. Ia bangga bisa membuktikan bahwa dirinya mampu tapi di sisi lain… ia lupa bahwa ada dua hati yang selalu menunggunya pulang.
“Baiklah, Mah” akhirnya Nadira berkata lebih tegas. “Bulan depan Nadira ambil cuti. Nadira pulang”
Benar-benar pulang.
Telepon belum juga benar-benar selesai ketika suara Mama Ayunika Sasmita kembali terdengar tegas.
“Pokoknya Mama nggak mau kamu cuma cuti!”
Nadira yang tadi sudah mulai lega langsung terdiam.
“Lho, Mah?”
“Kamu itu sudah tujuh tahun di Jakarta. Cuti cuma sebentar, habis itu balik lagi. Mama nggak mau begitu. Mama maunya kamu resign kerja. Pulang biar Mama sama Abah yang tanggung uang jajan kamu tiap bulan”
Nadira memijat pelipisnya pelan.
“Mah… Nadira nggak enak. Nadira sudah biasa cari uang sendiri”
“Mama nggak peduli! Kamu itu anak satu-satunya. Buat apa Mama dan Abah kerja keras di kampung kalau bukan buat kamu?” suara Mama mulai meninggi, tapi jelas terselip getar haru
Nadira tersenyum tipis, walau matanya mulai berkaca-kaca.
“Kalau kamu nggak pulang” lanjut Mama dengan nada setengah mengancam “Mama seret kamu dari sana. Kalau perlu bawa polisi sekalian biar kamu mau!”
Nadira hampir tertawa di tengah harunya
“Ya ampun, Mah…”
“Iya! Biar tahu rasa Mama ini kangen apa lagi Abah juga kangen sama anak perempuan satu-satunya. Masa anak sendiri lebih betah di kota daripada sama orang tua?”
Di ruang kos yang sunyi itu, Nadira hanya bisa menghela napas panjang.
Ia tahu Mama tak benar-benar akan membawa polisi. Itu hanya cara Mama menutupi rindunya yang terlalu besar.
“Mah…” suara Nadira kini lebih lembut “Nadira bukan nggak mau pulang. Nadira cuma… takut”
“Takut apa?”
“Takut kalau Nadira pulang, Nadira nggak bisa kembali lagi. Takut mimpi Nadira berhenti di situ”
Di ujung telepon, Mama terdiam beberapa detik.
Kemudian suaranya berubah lebih pelan.
“Kalau memang itu mimpimu, Mama nggak akan larang tapi jangan jadikan mimpi alasan untuk menjauh dari rumah”
Kalimat itu membuat dada Nadira terasa sesak.
Ia sadar, selama ini ia berlindung di balik kata mandiri. Padahal ada bagian dari dirinya yang takut menghadapi pembicaraan tentang masa depan
tentang pernikahan, tentang tanggung jawab sebagai anak tunggal.
“Nadira pikirkan lagi ya, Mah”
“Pikirkan tapi jangan lama-lama. Umur itu nggak nunggu”
Telepon akhirnya benar-benar ditutup.
Nadira atau Dira, seperti Mama sering memanggilnya sejak kecil hanya bisa menghela napas panjang.
Nadira duduk memeluk lututnya di atas ranjang. Kata resign terus terngiang di kepalanya.
Resign berarti menyerah.
Resign berarti pulang.
Resign berarti menghadapi kenyataan yang selama ini ia hindari.
Ponselnya kembali bergetar.
Kali ini bukan Mama
“Abah ❤️”
Nadira langsung mengangkatnya.
“Assalamu’alaikum, Bah.”
“Wa’alaikumussalam, Dira” Suara Abah Adi terdengar lebih berat dari biasanya “Mama kamu marah lagi, ya?”
Nadira tersenyum kecil “Biasa, Bah.”
Abah terkekeh pelan “Mama cuma kangen. Dia itu kalau rindu, jadi galak”
Nadira terdiam. Ia tahu itu.
“Bah…” suaranya mulai melembut “kalau Nadira pulang… Abah kecewa nggak? Soal kerja Nadira di Jakarta ini?”
Di seberang sana hening beberapa detik
“Dira,
” jawab Abah pelan “Abah bangga sama kamu. Kamu kerja sendiri, kuliah sendiri, nggak pernah minta tapi Abah lebih bangga kalau kamu bahagia”
Kata-kata itu membuat mata Nadira panas.
“Rumah ini besar, Nak” lanjut Abah “Tapi rasanya kosong”
Nadira menunduk. Selama ini ia pikir ia sedang berjuang demi masa depan. Tapi mungkin, tanpa sadar, ia juga sedang menjauh.
“Abah nggak paksa kamu resign” ujar Abah lagi.“Tapi jangan lupa, kampung ini tetap rumahmu”
Setelah telepon ditutup, Nadira menangis pelan.
Pagi harinya, di kantor, pikirannya tak fokus. Rapat berjalan, laptop menyala, tapi hatinya kosong.
Tiba-tiba manajernya memanggil.
“Dira, proyek baru akan dimulai bulan depan. Kamu saya rekomendasikan jadi penanggung jawab”
Semua orang di ruangan menoleh padanya.
Itu kesempatan besar. Promosi. Gaji naik. Posisi lebih tinggi.
Tapi anehnya, yang terlintas di pikirannya bukan angka melainkan suara Mama semalam.
"Kalau nggak pulang, Mama seret kamu. Kamu apa gak kasian sama Mama sama Abah sendirian"
Dan suara Abah.
"Abah lebih bangga kalau kamu bahagia"
Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, Nadira tak langsung merasa bangga atas tawaran itu.