persahabatan sederhana dari anak SMA ,yang mulai menumbuhkan benih cinta tapi ego masa muda mereka lebih tinggi dari pada rasa cintanya.ada hal yang ingin di sampaikan tapi tak mungkin Untuk di utarakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Tentang Hujan yang Salah Masuk ke Kamar dan Rahasia di Balik Jaket
Selasa pagi ini, sekolah terasa seperti sebuah panggung sandiwara yang lampunya mulai redup. Saya berjalan masuk lewat gerbang belakang, menghindari lobi utama yang biasanya menjadi tempat pamer senyum Arkan. Di tangan saya ada sebuah buku tulis kumal yang sampulnya sudah mengelupas, isinya adalah coretan-coretan tidak penting tentang teori gravitasi dan kenapa rindu itu lebih berat daripada massa bumi.
Saat saya sampai di kelas, suasananya mendadak senyap. Kayla sedang berdiri di depan meja saya, tangannya memegang jaket biru saya yang tertinggal di sandaran kursi kemarin sore. Wajahnya tampak pucat, matanya sembap seperti orang yang habis maraton menonton film sedih semalaman.
"Bumi, panggilnya lirih saat melihat saya masuk."
Saya tidak menjawab. Saya berjalan menuju meja, mengambil jaket itu dari tangannya dengan gerakan yang sangat pelan tapi tegas. "Terima kasih sudah dijagain, Kay. Saya lupa bawa pulang karena kemarin buru-buru mau ke bengkel sama Bangka."
Kayla menahan ujung jaket saya. "Bumi, kamu beneran mau begini terus? Nongkrong sama anak-anak belakang sekolah, bolos jam pelajaran, dan mengabaikan aku seolah-olah aku ini cuma pajangan dinding?"
Saya menatap matanya. Di sana ada kilat kemarahan, tapi lebih banyak rasa kehilangan. "Saya tidak mengabaikan kamu, Kay. Saya cuma sedang memberi kamu apa yang kamu minta: ruang. Bukankah kamu bilang Arkan lebih mengerti konsep mading dan masa depan daripada saya?"
"Aku gak pernah bilang begitu! Arkan itu cuma teman organisasi, Bumi. Kenapa kamu jadi kekanak-kanakan begini?" suara Kayla mulai naik satu oktav.
Arkan, yang duduk di samping kursi kosong saya (yang sekarang sudah sah jadi miliknya), berdehem pelan. "Sudahlah Kay, mungkin Bumi memang sedang dalam fase pencarian jati diri. Beberapa orang memang butuh lingkungan yang... sedikit berantakan untuk merasa hidup."
Saya menoleh ke arah Arkan. Senyumnya masih sama, bersih dan penuh kemenangan. "Berantakan itu jujur, Kan. Tidak seperti kerapian kamu yang rasanya seperti plastik kemasan. Mengkilap tapi isinya angin semua."
Dara masuk ke kelas, dia melihat ketegangan itu dan langsung duduk di samping saya tanpa ekspresi. "Matahari sedang terlalu terik pagi ini, Bumi. Hati-hati, nanti pori-porimu terbakar ego orang lain," gumamnya datar sambil membuka buku Astronomi terbaru miliknya.
Pelajaran Biologi dimulai. Pak Darwin sibuk menjelaskan tentang rantai makanan. Saya melihat ke arah papan tulis, tapi pikiran saya melayang ke arah Senja. Kemarin sore, setelah kejadian di belakang sekolah, Senja mengirimkan pesan singkat: "Bumi, jangan marah ya sama Kayla. Dia mungkin cuma takut kehilangan kamu, tapi caranya saja yang salah."
Senja itu aneh. Dia disakiti oleh kata-kata Kayla, tapi dia masih bisa membela Kayla di depan saya. Mungkin itu bedanya orang yang tulus dengan orang yang hanya ingin memiliki.
Saat istirahat tiba, hujan turun lagi. Bandung sepertinya sedang hobi menangis minggu ini. Saya tidak pergi ke kantin. Saya memilih duduk di pojok perpustakaan, tempat yang paling sepi. Namun, saat saya baru saja mau memejamkan mata, seseorang duduk di depan saya.
Bukan Senja. Bukan Dara. Tapi Kayla.
Dia membawa sekotak susu cokelat dan roti isi keju favorit saya. "Makan dulu. Aku tahu kamu tadi pagi belum sarapan karena Si Kumbang mogok lagi di depan gang, kan?"
Saya menatap kotak susu itu. "Tahu dari mana motor saya mogok?"
"Aku lewat tadi pagi bareng Arkan. Aku mau minta dia berhenti buat bantuin kamu, tapi dia bilang kita telat rapat OSIS," jawab Kayla sambil menunduk. "Maaf ya, Mi."
"Tidak apa-apa. Arkan benar, rapat itu penting. Motor mogok itu masalah rakyat kecil, tidak level buat ketua mading," kata saya sambil mendorong susu cokelat itu kembali ke arahnya. "Simpan saja buat Arkan. Dia pasti butuh tenaga buat jadi sempurna sepanjang hari."
Kayla memukul meja perpustakaan dengan pelan, tapi suaranya cukup keras untuk membuat petugas perpus melotot. "Bumi Aksara! Berhenti bicara soal Arkan! Aku ke sini mau bicara sama kamu, sahabat aku!"
"Sahabat yang mana, Kay? Sahabat yang kamu tinggalkan kehujanan? Atau sahabat yang kamu permalukan di depan anak-anak organisasi cuma karena dia tidak punya motor merah?" tanya saya, suara saya rendah tapi tajam.
Kayla terdiam. Air matanya jatuh satu per satu ke atas meja kayu yang berdebu. "Aku salah, Mi. Aku tahu aku salah. Tapi bisakah kita kembali seperti dulu? Aku kangen kita yang lama. Aku kangen dibonceng Si Kumbang sambil dengerin kamu cerita soal rasi bintang yang gak jelas itu."
Saya merasa ada yang retak di dalam dada saya melihat Kayla menangis. Ingin rasanya saya menghapus air matanya dan bilang kalau semuanya baik-baik saja. Tapi kemudian saya teringat sketsa Senja. Saya teringat kata-kata Dara tentang poros.
"Dunia terus berputar, Kay. Tidak ada jalan kembali ke masa lalu. Kamu sudah memilih untuk terbang tinggi bersama Arkan, dan saya memilih untuk tetap membumi bersama Si Kumbang dan teman-teman di belakang sekolah. Kita tidak lagi berada di orbit yang sama," kata saya sambil berdiri.
Saya meninggalkan perpustakaan tanpa menoleh lagi. Di koridor, saya berpapasan dengan Arkan. Dia menatap saya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kamu membuatnya menangis, Bumi," kata Arkan pelan saat kami berpapasan.
"Dia menangis karena kenyataan, Kan. Bukan karena saya. Dan kenyataan itu biasanya memang perih buat orang-orang yang terlalu lama hidup di dalam mimpi," jawab saya sambil terus berjalan menembus hujan menuju parkiran.
Nama saya Bumi. Dan hari ini, saya belajar bahwa memaafkan itu mudah, tapi mempercayai kembali itu seperti mencoba menyatukan kembali cermin yang sudah jadi debu. Kayla mungkin masih punya tempat di ingatan saya, tapi dia sudah tidak punya kunci untuk masuk ke dalam ruang rahasia di hati saya lagi.
saya yang memacu Si Kumbang di bawah guyuran hujan, merasakan air dingin membasuh luka-luka tak terlihat di permukaan saya, menyadari bahwa terkadang, kehilangan seseorang adalah cara terbaik untuk menemukan kembali diri kita yang sebenarnya.