NovelToon NovelToon
TINDER LOVE

TINDER LOVE

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Kontras Takdir / Fantasi Wanita
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Apung Cegak

Swipe kanan, lalu berharap. Begitu sederhana, tapi selalu berakhir rumit. Dari sekian banyak pertemuan di Tinder, aku belajar satu hal: cinta digital bisa terasa nyata, tapi tak selalu bertahan. Aku jatuh, aku percaya, aku terluka-berulang kali, seakan ini adalah pola yang tak pernah selesai.

Tulisan ini bukan sekadar kisah tentang aplikasi kencan, melainkan tentang perjalanan hatiku sendiri. Tentang bagaimana aku terus mencari seseorang yang benar-benar tinggal, di antara banyak yang hanya singgah. Dan tentang keberanian untuk tetap membuka hati, meski patah hati selalu menunggu di ujung swipe.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apung Cegak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batas yang Datang Tanpa Bicara

Perlahan, aku mulai merasakan ada sesuatu yang berubah. Bukan perubahan besar yang langsung terasa mencolok, melainkan pergeseran kecil yang muncul diam-diam. Cara Yeye berbicara tidak lagi sama seperti sebelumnya. Nadanya kadang terdengar lebih kaku, jawabannya lebih singkat, dan perhatian yang dulu mengalir begitu saja kini terasa lebih berhati-hati. Aku mencoba tidak langsung menyimpulkan apa pun. Aku meyakinkan diriku bahwa mungkin dia hanya lelah, atau masih berusaha menyesuaikan diri dengan rutinitas barunya di sana.

Aku tetap bersikap seperti biasa. Mendengarkan ceritanya, menanyakan kabarnya, dan berbagi hal-hal kecil tentang hariku. Namun, di balik semua itu, ada perasaan samar yang mulai tumbuh. Seperti ada jarak yang perlahan terbentuk, bukan karena kami berhenti berbicara, tetapi karena nada dan sikap yang tidak lagi sama.

Suatu hari, percakapan kami berbelok ke arah yang tidak kuduga. Aku bercerita bahwa aku ingin pergi ke klub bersama teman-temanku. Aku mengatakannya dengan santai, tanpa maksud tersembunyi. Bagiku, itu hanyalah bagian dari kehidupan sosial yang biasa kulakukan sejak lama. Namun reaksinya jauh berbeda dari yang kubayangkan.

Nada suaranya berubah. Ada ketegangan yang tiba-tiba hadir dalam suaranya. Dia mengatakan bahwa dia tidak suka aku pergi ke klub. Kalimat itu saja sudah cukup membuatku terdiam sejenak, tapi yang datang setelahnya membuatku benar-benar kehilangan kata-kata.

“If you go to the club, I won’t talk to you anymore.”

Kalimat itu diucapkan tanpa bercanda, tanpa senyum, dan tanpa penjelasan lanjutan. Aku terdiam, mencoba memahami apa yang baru saja kudengar. Selama ini, kami tidak pernah membicarakan batasan seperti itu. Tidak ada aturan yang kami sepakati bersama. Hubungan kami berjalan dengan rasa percaya dan kebebasan yang terasa alami.

Aku merasa bingung dan sedikit terpukul. Bukan karena aku tidak bisa menerima perasaan cemburu atau kekhawatiran, tetapi karena cara dia menyampaikannya terasa sepihak. Seolah-olah aku harus memilih antara hidupku sendiri dan keberadaannya. Aku tidak pernah berniat menyakiti atau membuatnya merasa tidak aman, tapi aku juga tidak ingin kehilangan diriku sendiri.

Aku mencoba memahami dari sudut pandangnya. Mungkin jarak membuatnya lebih sensitif. Mungkin rasa takut kehilangan berubah menjadi keinginan untuk mengontrol. Aku tidak tahu pasti. Yang aku tahu, kalimat itu meninggalkan rasa tidak nyaman yang sulit diabaikan.

Untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa kedekatan yang terasa hangat juga bisa menyimpan sisi lain yang tidak pernah kubayangkan. Ada batas yang ditarik tanpa aku ikut terlibat dalam penentuannya. Ada tuntutan yang muncul tanpa pernah dibicarakan sebelumnya.

Aku tidak langsung menanggapi. Aku memilih menyimpan perasaanku sendiri. Bukan karena aku tidak peduli, melainkan karena aku perlu waktu untuk memahami apa yang sebenarnya kurasakan. Sejak percakapan itu, aku tahu bahwa hubungan kami tidak lagi berjalan dengan cara yang sama.

Dan di titik itulah, aku mulai bersiap untuk diam.

Setelah percakapan kami berakhir, aku duduk cukup lama tanpa melakukan apa pun. Ponselku tergeletak di samping, layar sudah gelap, tapi pikiranku masih penuh. Aku memutar ulang kata-katanya, mencoba mencari nada lain, makna lain, atau celah yang bisa membuat kalimat itu terdengar lebih bisa diterima. Namun, semakin kupikirkan, semakin jelas rasa tidak nyamannya.

Aku menyadari bahwa untuk pertama kalinya sejak kami dekat, aku merasa harus berhati-hati menjadi diriku sendiri. Ada ketakutan kecil yang muncul—bukan takut kehilangan dia, tetapi takut kehilangan kebebasan yang selama ini kupunya. Aku tidak ingin hidup dengan rasa bersalah hanya karena memilih bersenang-senang dengan caraku sendiri.

Saat itulah aku mengerti, aku membutuhkan jarak sejenak. Bukan untuk menjauh, melainkan untuk mendengarkan diriku sendiri. Aku perlu memahami batasanku, perasaanku, dan apa yang benar-benar kuinginkan. Dari sanalah, tanpa banyak pertimbangan, aku tahu satu hal: sebelum berbicara lebih jauh, aku harus diam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!